05 November 2016

Pengertian Iman : Manfaat Dan Tujuan Iman

Pengertian Iman

Iman secara bahasa berarti kepercayaan.Sedangkan secara istilah,iman adalah suatu keadaan yang didasarkan pada keyakinan dan mencakup segi-segi perkataan dan perbuatan. Yaitu perkataan hati dan lisan,serta perbuatan hati dan anggota badan.Perkataan hati adalah ilmu yang diyakini.Perbuatan hati,seperti niat ikhlas,kecintaan kepada Allah Subhana wa Ta’ala takut kepada-Nya,tawakkal dan lainnya. Perkataan lisan seperti dua kalimat syahadat,tasbih dan istighfar,perbuatan anggota badan seperti sholat,haji dan lainnya.

Iman secara syar’i adalah membenarkan dan mengakui secara sempurna akan wujud kebenaran Allah Subhana wa Ta’ala dan Rububiyahnya,Uluhiyahnya, dan mengakui/mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah Subahna wa Ta’ala

Apabila kata-kata “Iman” disebutkan secara mutlak,yaitu sendirian,tanpa digabungkan dengan kata-kata lainnya,seperti kata kata amal sesudahnya,maka yang dimaksud adalah arti “iman” yang sempurna,yang mencakup perkataan dan perbuatan (hati,anggota badan dan lisan) seperti yang telah dijelaskan.

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُم

“Dan Allah tidak akan menyiakan-nyiakan iman kalian”
(QS.Al-Baqoroh : 143)

Tafsir ayat diatas ,bahwa “Ketika kiblat kaum Muslimin dirubah dari arah Baitul Maqdis ke arah Makkah (Ka’bah),mereka bertanya-tanya tentang status sholat mereka selama ini.Maka pertanyaan tersebut dijawab oleh ayat di atas. Al-Iman dalam ayat ini berarti Ash-Sholat. Sholat adalah suatu amal yang terdiri dari perbuatan dan perkataan hati,serta anggota badan dan lisan.”

Imam al-Hulaini rahimahullah berkata :
“Para ahli tafsir telah ijma’ bahwa yang dimaksud dengan ungkapan IMANAKUM pada ayat tersebut adalah sholat kalian yang berkiblat kearah Baitul Maqdis. Disini terbukti bahwa sholat dinamakan dengan iman.Jika demikian halnya,maka semua amal ketaatan adalah iman,karena tidak ada bedanya antara sholat dengan amal ibadah lainnya dalam penamaannya (sebagian bagian iman).”

Dalam shohih Bukhori no 4020,Muslim no 23,Sunan Abu Dawud no 3692,Tirmidzi no 1525 dan Nasa’i no 4945 ada sebuah hadits yang diriwayatkam oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shollahu ‘alaihi wa Salam bahwa beliau bersabda kepada utusan Bani ‘Abdul Qois :

آمُرُكُمْ بِأَرْبَعٍ وَأَنْهَاكُمْ عَنْ أَرْبَعٍ الْإِيمَانِ بِاللَّهِ هَلْ تَدْرُونَ مَا الْإِيمَانُ بِاللَّهِ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَإِقَامُ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ وَأَنْ تُعْطُوا مِنْ الْمَغَانِمِ الْخُمُسَ وَأَنْهَاكُمْ عَنْ أَرْبَعٍ مَا انْتُبِذَ فِي الدُّبَّاءِ وَالنَّقِيرِ وَالْحَنْتَمِ وَالْمُزَفَّت

“Aku memerintahkan kalian untuk beriman kepada Allah Yang Maha Esa.Tahukah kalian apa arti beriman kepada Allah Yang Maha Esa?Yaitu syahdat La Ilaha Illallah,tiada Ilah yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah,mendirikan shoalt,membayar zakat,puasa ramadhan dan membayar seperlima ghanimah (harta rampasan perang”).

Dalam hadits diatas dengan tegas dijelaskan bahwa perkataan lisan dan perbuatan anggota badan adalah iman atau bagian dari iman.Sudah tentu perkataan dan perbuatan badan tersebut harus disertai iman yang ada dalam hati,karena apabila tidak,maka keadaan seperti ini tidaklah dapat disebut sebagai iman.

Demikian juga hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi ni 2539,Nasa’i no 4919,Ibnu Majah no 560,serta diriwayatkan pula oleh Bukhori no 8 dan Muslim no 50 dengan lafadz yang berbunyi :

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً أَفْضَلُهَا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَوْضَعُهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَان

“Iman itu ada tujuh puluh sekian cabang yang paling utama adalah persaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang dari keimanan.”

Ucapan “Laa Ilaha Illallah” adalah perkataan lisan,menyingkirkan ganguan adalah perbuatan anggota badan dan rasa malu adalah perbuatan hati.

Apabila kata-kata “iman” tidak berdiri sendiri (yaitu digabungkan atau didahului oleh kata-kata “Islam” atau “amal sholeh”),maka yang dimaksud iman berati perkataan dan perbuatan hati saja,dan tidak mencakup perbuatan dan perkataan anggota badan.

Ketika Rasulullah Shollahu ‘alaihi wa salam ditanya oleh malaikat jibril ‘alaihi salam tentang arti Islam dan Iman,maka beliau menjawab bahwa arti Islam adalah rukun Islam yang lima (yaitu amal serta perkataan anggota tubuh dan lisan) dan arti iman adalah rukun iman yang enam (yaitu amal dan perkataan hati),yaitu :

  1. Iman kepada Allah
  2. Iman kepada para malaikat
  3. Iman kepada kitab-kitab
  4. Iman kepada para Rasul
  5. Iman kepada hari akhir
  6. Iman kepada Al-Qodar,baik dan buruknya dari Allah

Rasulullah Shollahu ‘alaihi wa Salam bersabda:

الْإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Iman itu adalah engkau beriman kepada Allah,malaikat-Nya,kitab-kitab-Nya,para Rasul-Nya

Fungsi Beriman Kepada Allah 

  • Sebagai Penyelamat

Dalam Al-Qur’an Surah Al-Mukminin, Allah SWT berfirman yang artinya:

“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).”

Sehingga, dengan beriman kepada Allah SWT, dapat menyelamatkan manusia baik dalam kehidupan di dunia, maupun kehidupan di akhirat kelak, karena Allah SWT hanya akan menolong hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Sebagaimana yang telah ada pada rukun islam untuk terus meneggakkan agama syahadat hanya untuk Allah. Syahadat yang akan menyelamatkan manusia di hari akhir, syahadat yang dijalankan dengan baik selama di dunia sebagai amal ibadah yang telah Allah perintahkan dan telah Rasulullah ajarkan.

  • Menjadikan Manusia yang Berakhlak Baik

Dengan beriman kepada Allah SWT akan menumbuhkan dalam diri seseorang itu sifat dan sikap yang baik; perkataan jujur, dapat dipercaya, tidak sombong, tidak fitnah, tidak mengadu domba, dan lain sebagainya. Mereka yang benar-benar beriman kepada Allah SWT menyadari bahwa dirinya lemah tidak ada daya upaya kecuali atas kehendak Allah SWT. Oleh karenanya ia tidak akan pernah berbuat yang melanggar larangan Allah. Justru, imannya akan semakin menguat sehingga dirinya pun terbentengi dan terkendali daripada berbuat yang maksiat, serta termotivasi untuk selalu mengerjakan amal ibadah yang benar.

  • Sebagai Pedoman Hidup

Iman merupakan pedoman, penuntun, dan kompas dalam kehidupan kita. Tiada manusia yang berada di jalan benar jika ia tidak beriman kepada Allah SWT. Maka, mereka yang beriman akan memiliki tujuan hidup yang jelas serta tidak mudah berputus asa. Sebab, bagaimana sikap seseorang akan terlihat jelas jika ia sedang ditimpa musibah. Mereka yang beriman akan selalu berpikiran positif kepada Allah atas segala yang mereka hadapi. Sementara tanpa iman, itulah yang menyebabkan seseorang mudah berputus asa dan tak jarang memilih melakukan tindakan yang merugikan.

Dengan beriman kepada Allah, kita tahu jelas batasan dalam perbuatan yang baik dan yang buruk sehingga kita tidak akan mengerjakan sesuatu yang telah nyata dilarang oleh Allah. Maka, kehidupan kita pun akan terasa lebih aman dan bahagia jiwa raga. (baca juga: manfaat membaca al-quran)

  • Menumbuhkan Rasa Rendah Diri

Iman kepada Allah, berarti kita percaya baik dari hati, lisan, maupun perbuatan akan Dzat Allah SWT dengan segala Keagungan dan Kesempurnaan-Nya. Karenanya, sebagai manusia yang merupakan salah satu dari makhluk ciptaan Allah, kita sadar bahwa diri kita ini bukanlah apa-apa jika bukan karena Kuasa Allah SWT. Dengan menyadari hal tersebut, kita tidak akan bersikap sombong, tidak akan memandang rendah orang lain, sehingga kita pun bisa lebih toleran terhadap sesama dan saling menyayangi satu sama lain untuk menciptakan kehidupan yang damai. (baca juga: manfaat toleransi antar umat beragama)

  • Menumbuhkan  Sikap Qanaa’ah

Dengan beriman kepada Allah, kita menyadari bahwa segala yang kita nikmati di dunia (maupun di akhirat nanti) adalah berasal dari Allah SWT. Maka, tidak ada celah bagi kita untuk merengek apalagi protes jika sesuatu yang kita dapatkan tidak sesuai keinginan. Allah lebih mengetahui apa yang tidak hamba-Nya ketahui. Maka, kita pun menjadi sadar untuk senantiasa bersyukur atas segala berkah yang Allah berikan serta berusaha memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.

  • Ingat Akan Kematian

Tidak ada makhluk yang kekal karena Kekal adalah Sifat milik Allah SWT. Maka, dengan menyadari dan mengingat bahwa kehidupan hanyalah masalah waktu sampal ajal menjemput, kita akan lebih berhati-hati dalam menggunakan umur yang Allah berikan karena kepada-Nya jualah kita akan memepertanggungjawabkan segalanya nanti. Dengan begitu, kita harusnya semakin dan semakin memperkuat iman kita kepada Allah SWT. (baca juga: tanda-tanda kiamat)

  • Allah Selalu Mengawasi

Allah SWT adalah satu-satunya yang pantas dan wajib untuk disembah. Maka, dengan segala kesempurnaan yang dimiliki-Nya, manusia sadar bahwa ia hanyalah makhluk lemah tak berdaya tanpa kuasa Tuhan. Bahkan untuk bernapas saja, jika bukan karena izin Allah, tidak akan bisa bernapas. Karenanya, iman menjadikan kita sadar bahwa segala sesuatu adalah Allah yang mengaturnya. Allah lah yang menentukan apa-apa saja yang terjadi maupun yang tidak terjadi karena Allah mengetahui apa-apa saja yang makhluknya tidak ketahui.

Menyadari bahwa Allah lah yang mengatur segalanya, Allah mengetahui apa-apa saja yang diperbuat makhluk-Nya. Maka, dengan sebenar-benarnya kesadaran tersebut, kita sebagai manusia yang beriman kepada Allah SWT pasti akan malu jika berbuat maksiat. Malu sekali rasanya jika melakukan perbuatan yang jelas-jelas melanggar apa yang telah dilarang oleh Allah, karena Allah Maha Mengetahui atas segala yang kita perbuat.

Karena sadar bahwa Allah mengawasi, maka hendaknya ketika berbuat kesalahan agar bersegera bertaubat kepada Allah SWT, baik itu kesalahan karena khilaf (tidak disengaja), terlebih yang memang disengaja. Karena Allah SWT ialah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an yang artinya;

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Q.S An-Nisa : 135).

  • Menentramkan Hati

Diantara salah satu fungsi iman kepada Allah, sebagaimana yang tertera di dalam Al-Qur’an surah Ar-Ra’ad ayat 28, dijelaskan bahwa orang-orang yang beriman, yang mana mereka senantiasa mengingat Allah SWT, maka hal tersebut membuat hati mereka menajdi tentram. Jadi, jika ingin memperbaiki maupun mendapatkan suasana hati yang damai, aman, dan nyaman, maka banyak-banyaklah mengingat Allah SWT.

Contoh Perilaku Iman Kepada Allah

Ada banyak sekali contoh perilaku iman kepada Allah yang bisa kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti :

  1. Mendirikan Sholat
  2. Menafkahkan sebagian rezeki
  3. Beriman Kepada Kita Allah
  4. Menafkan sebagian hartanya baik disaat waktu lapang ataupun sempit
  5. Selalu berbuat kebajikan
  6. Mampu menahan amarah
  7. Mampu memaafkan kesalahan orang lain
  8. Melaksanakan perintah Allah dari segi ibadah
  9. Berhenti dari perbatan keji dan tidak mengulanginya lagi
  10. Mempercayai dengan benar rukum iman
Back To Top