09 February 2017

Pengertian Hadits: Struktur, Klasifikasi, dan Jenis Hadits

Pengertian Hadits: Struktur, Klasifikasi, dan Jenis Hadits. Assalamu’alaikum, Wr. Wb.
Pada kesempatan kali ini, kami akan membahas mengenai Pengertian Hadits: Struktur, Klasifikasi, dan Jenis Hadits. Langsung saja kita masuk ke dalam pembahasan kali ini, ya.

Pengertian Hadits

Sumber: hadits-albukhari.blogspot.co.id/
Hadits secara harfiah memiliki arti "bicara", "perkataan" atau "percakapan". Dalam terminologi Islam arti hadits memiliki arti melaporkan, mencatat satu pernyataan serta perilaku dari Nabi Muhammad S.A.W.

Menurut istilah ulama ahli hadits, hadits yakni apa yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad S.A.W, baik berbentuk perkataan, perbuatan, ketetapannya (Arab:taqrîr), pembawaan jasmani atau pembawaan akhlak, perjalanan setelah diangkat sebagai Nabi (Arab:bi'tsah) serta terkadang juga sebelumnya, hingga arti hadits di sini semakna dengan sunnah.

Kata hadits yang mengalami perluasan arti hingga disinonimkan dengan sunnah, pada saat ini dapat memiliki arti semua perkataan (sabda), perbuatan, ketentuan ataupun persetujuan dari Nabi Muhammad S.A.W yang dijadikan ketentuan maupun hukum. Kata hadits tersebut yaitu bukanlah kata infinitif, kata itu yaitu kata benda.

Struktur hadits 

Secara struktur hadits terdiri atas dua komponen paling utama yaitu sanad/isnad (rantai penutur) serta matan (redaksi).

Contoh: Musaddad mengabari kalau Yahya mengemukakan sebagaimana dikabarkan oleh Syu'bah, dari Qatadah dari Anas dari Rasulullah S.A.W kalau dia bersabda: "Tidak sempurna iman seseorang diantara kalian sehingga ia cinta untuk saudaranya apa yang ia cinta untuk dirinya sendiri" (hadits riwayat Bukhari)

Sanad 

Sanad adalah rantai penutur/rawi (periwayat) hadits. Rawi yaitu masing-masing orang yang mengemukakan hadits itu (dalam contoh diatas: Bukhari, Musaddad, Yahya, Syu'bah, Qatadah serta Anas).

Awal sanad adalah orang yang mencatat hadits itu dalam bukunya (kitab hadits); orang ini disebut dengan mudawwin atau mukharrij. Sanad adalah rangkaian seluruh penutur itu dari mulai mudawwin sampai mencapai Rasulullah.

Sanad memberikan deskripsi keaslian sebuah riwayat. Bila di ambil dari contoh sebelumnya sanad hadits bersangkutan adalah:

Al-Bukhari -- Musaddad -- Yahya -- Syu’bah -- Qatadah -- Anas -- Nabi Muhammad S.A.W 

Satu hadits bisa mempunyai beberapa sanad dengan jumlah penutur/rawi yang beragam dalam susunan sanadnya; susunan dalam sanad disebut juga thabaqah.

Signifikansi jumlah sanad serta penutur dalam setiap thabaqah sanad bakal menentukan derajat hadits itu, hal semacam ini dijelaskan lebih jauh pada klasifikasi hadits.

Jadi yang butuh diamati dalam memahami hadits berkaitan dengan sanadnya adalah: 
  1. Keutuhan sanadnya 
  2. Jumlahnya 
  3. Perawi akhirnya 
Sesungguhnya, pemakaian sanad udah di kenal mulai sejak sebelum datangnya Islam. Hal semacam ini diaplikasikan didalam mengutip berbagai buku serta ilmu dan pengetahuan yang lain. Akan tetapi sebagian besar penerapan sanad dipakai dalam mengutip hadits-hadits nabawi.

Rawi 

Rawi yaitu beberapa orang yang mengemukakan sebuah hadits. Sifat-sifat rawi yang ideal yaitu:
  1. Bukanlah pendusta atau tidak dituduh sebagai pendusta 
  2. Tidak banyak salahnya 
  3. Teliti 
  4. Tidak fasik 
  5. Tidak di kenal sebagai orang yang beberapa ragu (peragu) 
  6. Bukanlah pakar bid'ah 
  7. Kuat ingatannya (hafalannya) 
  8. Tidak sering bertentangan dengan rawi-rawi yang kuat 
  9. Sekurangnya di kenal oleh dua orang ahli hadits pada zamannya. 
Sifat-sifat beberapa rawi ini sudah dicatat dari jaman ke jaman oleh bebrapa ahli hadits yang semasa, serta disalin serta dipelajari oleh bebrapa ahli hadits pada beberapa masa yang selanjutnya sampai ke masa-masa saat ini.

Rawi yang tidak ada catatannya diberi nama maj'hul, serta hadits yang diriwayatkannya tidak bisa di terima.

Matan 

Matan adalah redaksi dari hadits, dari contoh sebelumnya matan hadits bersangkutan adalah:

"Tidak sempurna iman seseorang diantara kalian sehingga ia cinta untuk saudaranya apa yang ia cinta untuk dirinya sendiri"

Berkaitan dengan matan atau redaksi, yang butuh diamati dalam mamahami hadits adalah:

Ujung sanad sebagai sumber redaksi, apakah berujung pada Nabi Muhammad atau bukan,
Matan hadits tersebut dalam hubungannya dengan hadits lain yang lebih kuat sanadnya (adakah yang melemahkan atau memperkuat) serta selanjutnya dengan ayat dalam Al Quran (adakah yang bertolak belakang).

Klasifikasi hadits 

Hadits bisa diklasifikasikan berdasarkan beberapa persyaratan yaitu berawalnya ujung sanad, keutuhan rantai sanad, jumlah penutur (rawi) dan tingkat keaslian hadits (bisa di terima atau tidaknya hadits bersangkutan).

Bersumber pada ujung sanad 

Bersumber pada klasifikasi ini hadits dibagi jadi 3 kelompok yaitu marfu’ (terangkat), mauquf (terhenti) serta maqthu’:
  1. Hadits Marfu’ yaitu hadits yang sanadnya berujung langsung pada Nabi Muhammad S.A.W (contoh: hadits diatas) 
  2. Hadits Mauquf yaitu hadits yang sanadnya terhenti pada beberapa sahabat nabi tanpa ada tanda tanda baik secara perkataan ataupun perbuatan yang memperlihatkan derajat marfu'. Contoh: Al Bukhari dalam kitab Al-Fara'id (hukum waris) mengemukakan kalau Abu Bakar, Ibnu Abbas serta Ibnu Al-Zubair menyampaikan: "Kakek yaitu (diperlakukan seperti) ayah". Pernyataan dalam contoh itu tidak jelas, apakah datang dari Nabi atau sebatas pendapat beberapa sahabat. Tetapi bila ekspresi yang dipakai sahabat yaitu seperti "Kami diperintahkan..", "Kami dilarang untuk...", "Kami terbiasa... bila sedang bersama Rasulullah", derajat hadits itu tidak lagi mauquf tetapi setara dengan marfu'. 
  3. Hadits Maqthu’ yaitu hadits yang sanadnya berujung pada para tabi'in (penerus) atau sebawahnya. Contoh hadits ini yaitu: Imam Muslim meriwayatkan dalam pembukaan sahihnya kalau Ibnu Sirin menyampaikan: "Pengetahuan ini (hadits) yaitu agama, berhati-hatilah kamu dari mana kamu mengambil agamamu". 
Keaslian hadits yang terbagi atas kelompok ini amat tergantung pada beberapa aspek lain seperti kondisi rantai sanad ataupun penuturnya.

Tetapi klasifikasi ini tetap amat penting mengingat klasifikasi ini membedakan perkataan serta tindakan Rasulullah S.A.W dari perkataan beberapa sahabat ataupun tabi'in dimana hal semacam ini amat membantu dalam daerah perkembangan dalam fikih (Suhaib Hasan, Science of Hadits).

Bersumber pada keutuhan rantai/lapisan sanad 

Bersumber pada klasifikasi ini hadits terbagi jadi beberapa kelompok yaitu Musnad, Mursal, Munqathi’, Mu’allaq, Mu’dlal serta Mudallas. Keutuhan rantai sanad tujuannya adalah tiap penutur pada setiap tingkatan dimungkinkan secara waktu serta keadaan untuk mendengar dari penutur di atasnya.

Ilustrasi sanad: Pencatat hadits Penutur 5 Penutur 4 Penutur 3 (tabi'ut tabi'in) Penutur 2 (tabi'in) Penutur 1 (para shahabi) Rasulullah Hadits Musnad.

Satu hadits termasuk musnad jika urutan sanad yang dipunyai hadits itu tidak terpotong di bagian spesifik.

Urut-urutan penutur memungkinkan terjadinya penyampaian hadits bersumber pada waktu serta keadaan, yaitu rawi-rawi itu memanglah dipercaya sudah saling bertemu serta menyampaikan hadits. Hadits ini dapat diberi nama muttashilus sanad atau maushul.
  1. Hadits Mursal, apabila penutur 1 tidak dijumpai atau mungkin dengan kata lain seseorang tabi'in menisbatkan langsung pada Rasulullah S.A.W (contoh: seseorang tabi'in (penutur 2) menyampaikan "Rasulullah berkata..." tanpa ia menerangkan adanya sahabat yang menjelaskan padanya). 
  2. Hadits Munqathi’, apabila sanad putus pada satu diantara penutur, atau pada dua penutur yang tidak berturutan, selain shahabi. 
  3. Hadits Mu’dlal, apabila sanad terputus pada dua generasi penutur berturut-turut.
  4. Hadits Mu’allaq, apabila sanad terputus pada penutur 5 sampai penutur 1, dengan kata lain tidak ada sanadnya. Contoh: "Seseorang pencatat hadits menyampaikan, telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah menyampaikan...." tanpa ia menerangkan sanad antara dirinya hingga Rasulullah.   
  5. Hadits Mudallas, apabila satu diantara rawi menyampaikan ".. si A berkata.." atau "Hadits ini dari si A.." tanpa ada kejelasan ".. pada saya.."; yaitu tidak tegas memperlihatkan kalau hadits itu di sampaikan padanya secara langsung. Mungkin saja antara rawi itu dengan si A ada rawi lain yang tidak terkenal, yang tidak dijelaskan dalam sanad. Hadits ini disebut juga dengan hadits yang disembunyikan cacatnya lantaran diriwayatkan lewat sanad yang memberikan kesan seolah-olah tidak ada cacatnya, walau sebenarnya ada, atau hadits yang ditutup-tutupi kekurangan sanadnya. 

Bersumber pada jumlah penutur 

Jumlah penutur yang dimaksud yaitu jumlah penutur dalam setiap tingkatan dari sanad, atau ketersediaan beberapa jalur berbeda yang menjadi sanad hadits itu. Bersumber pada klasifikasi ini hadits dibagi atas hadits mutawatir serta hadits ahad.

Hadits Mutawatir, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh sekumpulan orang dari beberapa sanad serta tidak ada peluang kalau mereka semua setuju untuk berdusta bersama akan hal semacam itu.

Jadi hadits mutawatir mempunyai beberapa sanad serta jumlah penutur pada setiap lapisan generasi (thaqabah) berimbang.

Beberapa ulama berbeda pendapat tentang jumlah sanad minimal hadits mutawatir (beberapa menentukan 20 serta 40 orang pada setiap lapisan sanad).

Hadits mutawatir sendiri bisa dibedakan antara dua bentuk yaitu mutawatir lafzhy (lafaz redaksional sama pada setiap riwayat) serta ma’nawy (pada redaksional terdapat ketidaksamaan tetapi makna sama pada setiap riwayat)

Hadits Ahad, hadits yang diriwayatkan oleh sekumpulan orang tetapi tidak meraih tingkatan mutawatir. Hadits ahad lantas dibedakan atas tiga bentuk diantaranya: 
  1. Gharib, apabila cuma ada satu jalur sanad (pada satu diantara lapisan ada hanya satu penutur, walaupun pada lapisan lain mungkin saja ada banyak penutur) 
  2. Aziz, apabila ada dua jalur sanad (dua penutur pada satu diantara lapisan, pada lapisan lain lebih banyak) 
  3. Masyhur, apabila ada lebih dari dua jalur sanad (tiga atau lebih penutur pada satu diantara lapisan, serta pada lapisan lain lebih banyak) tetapi tidak mencapai derajat mutawatir. Dinamakan juga hadits mustafidl. 
Bersumber pada tingkat keaslian hadits
Kategorisasi tingkat keaslian hadits yaitu klasifikasi yang paling penting serta merupakan rangkuman pada tingkat penerimaan atau penolakan pada hadits itu.

Tingkatan hadits pada klasifikasi ini terbagi jadi 4 tingkat yaitu shahih, hasan, dla'if serta maudlu'.

Hadits Sahih, yaitu tingkatan paling tinggi penerimaan pada sebuah hadits. Hadits shahih memenuhi kriteria sebagai berikut ini: 
  1. Sanadnya bersambung; 
  2. Diriwayatkan oleh para penutur/rawi yang adil, mempunyai pembawaan istiqomah, berakhlak baik, tidak fasik, terjaga muruah (kehormatan) -nya, serta kuat ingatannya. 
  3. Pada saat menerima hadits, masing-masing rawi sudah cukup usia (baligh) serta beragama Islam. 
  4. Matannya tidak mengandung kejanggalan/bertentangan (syadz) dan tidak ada sebab tersembunyi atau tidak nyata yang mencacatkan hadits (’illat). 
  5. Hadits Hasan, apabila hadits yang itu sanadnya bersambung, tetapi ada sedikit kekurangan pada rawi (-rawi) nya; contohnya diriwayatkan oleh rawi yang adil tetapi tidak sempurna ingatannya. Tetapi matannya tidak syadz atau cacat. 
  6. Hadits Dhaif (lemah), adalah hadits yang sanadnya tidak bersambung (bisa berwujud hadits mauquf, maqthu’, mursal, mu’allaq, mudallas, munqathi’ atau mu’dlal), atau diriwayatkan oleh orang yang tidak adil atau tidak kuat ingatannya, atau mengandung kejanggalan atau cacat. 
  7. Hadits Maudlu’, apabila hadits dicurigai palsu atau buatan lantaran dalam rantai sanadnya didapati penutur yang di kenal sebagai pendusta. 

Jenis-jenis lain 

Adapun beberapa bentuk hadits yang lain yang tidak dijelaskan dari klasifikasi diatas diantaranya: 
  1. Hadits Matruk, yang memiliki arti hadits yang ditinggalkan yakni hadits yang cuma diriwayatkan oleh seorang rawi saja serta rawi itu dituduh berdusta. 
  2. Hadits Mungkar, yakni hadits yang cuma diriwayatkan oleh seorang rawi yang lemah yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang tepercaya/jujur. 
  3. Hadits Mu'allal, artinya hadits yang dinilai sakit atau cacat yakni hadits yang di dalamnya ada cacat yang tersembunyi (’illat). Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani kalau hadits Mu'allal adalah hadits yang kelihatannya baik namun setelah diselidiki nyatanya ada cacatnya. Hadits ini umum juga disebut dengan hadits Ma'lul (yang dicacati) serta disebut dengan hadits Mu'tal (hadits sakit atau cacat). 
  4. Hadits Mudlthorib, artinya hadits yang kacau yakni hadits yang diriwayatkan oleh seorang rawi lewat beberapa sanad dengan matan (isi) kacau atau tidak sama atau bahkan juga kontradiksi dengan yang dikompromikan 
  5. Hadits Maqlub, yaitu hadits yang terbalik yakni hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang dalamnya tertukar dengan mendahulukan yang belakang atau demikian sebaliknya, baik dalam soal matan (isi) atau sanad (silsilah) 
  6. Hadits Gholia, yakni hadits yang terbalik beberapa lafalnya sampai pengertiannya berubah 
  7. Hadits Mudraj, yakni hadits yang mengalami penambahan isi oleh rawi, contohnya sebagian keterangan yang bukanlah datang dari Nabi S.A.W 
  8. Hadits Syadz, hadits yang jarang yakni hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang tepercaya tetapi bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari rawi-rawi yang lain. Hadits syadz mungkin saja berderajat shahih, akan tetapi berlawanan isi dengan hadits shahih yang lebih kuat sanadnya. Hadits yang lebih kuat sanadnya ini diberi nama Hadits Mahfuzh. 
  9. Hadits Qudsi 
  10. Hadits qudsi adalah hadits yang berisi perkataan Rasulullah S.A.W tentang firman Allah yang diwahyukan secara langsung. Arti hadits ini datang dari Allah, akan tetapi—berbeda dengan Alquran--, kata-katanya yaitu kata-kata Rasulullah. Hadits qudsi ini, beberapa, kemudian di sampaikan pada beberapa sahabat Rasul yang spesifik. Karena itu, tingkat kesahihan hadits qudsi ini sama dengan hadits yang lain-lain, serta diukur lewat cara yang sama juga di atas. 

Penulis hadits 

Sumber: elmuntaqa.wordpress.com
Yaitu beberapa pakar hadits yang menyatukan, mendaftar, menyeleksi serta menuliskan hadits-hadits dalam sebuah kitab hadits. Di kenal sebagai mudawwin atau mukharrij.

Periwayat umat Syi'ah 

Umat Syi'ah cuma mempercayai hadits yang diriwayatkan oleh keturunan Muhammad S. A. W, melalui Fatimah az-Zahra, atau oleh pemeluk Islam awal yang memihak Ali bin Abi Thalib.

Syi'ah tidak memakai hadits yang berasal atau diriwayatkan oleh mereka yang menurut golongan Syi'ah diklaim memusuhi Ali, seperti Aisyah, yang melawan Ali pada Perang Jamal.

Ada beberapa sekte dalam Syi'ah, namun beberapa memakai: 
  1. Ushul al-Kafi 
  2. Al-Istibshar 
  3. Al-Tahdzib 
  4. Man La Yahduruhu al-Faqih 
Rata-rata hadits-hadits itu meriwayatkan perkataan Ja'far ash-Shadiq dengan pentahrifan sanad. Kitab-kitab hadits Syiah tidak beredar secara umum di Indonesia.

Beberapa istilah dalam pengetahuan hadits 

Bersumber pada siapa yang meriwayatkan, ada beberapa istilah yang didapati pada pengetahuan hadits diantaranya:
  1. Muttafaq Alaih (disepakati atasnya) yakni hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari serta Imam Muslim dari sumber sahabat yang sama, di kenal dengan hadits Bukhari serta Muslim
  2. As-Sab'ah memiliki arti tujuh perawi yakni: Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Turmudzi, Imam Nasa'i serta Imam Ibnu Majah 
  3. As-Sittah tujuannya enam perawi yaitu mereka yang tersebut diatas tidak hanya Ahmad bin Hambal (Imam Ibnu Majah) 
  4. Al-Khamsah tujuannya lima perawi yakni mereka yang tersebut diatas tidak hanya Imam Bukhari serta Imam Muslim 
  5. Al-Arba'ah tujuannya empat perawi yakni mereka yang tersebut diatas tidak hanya Ahmad, Imam Bukhari serta Imam Muslim 
  6. Ats-Tsalatsah tujuannya tiga perawi yakni mereka yang tersebut diatas tidak hanya Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim serta Ibnu Majah. 

Pembentukan serta Sejarahnya 

Hadits sebagai kitab berisi berita mengenai sabda, perbuatan serta sikap Nabi Muhammad sebagai Rasul. Berita itu didapat dari beberapa sahabat pada ketika bergaul dengan Nabi.

Berita itu berikutnya di sampaikan pada sahabat lain yang tidak mengetahui berita itu, atau di sampaikan pada murid-muridnya serta diteruskan pada murid-murid berikutnya lagi hingga sampai pada pembuku hadits. Itulah pembentukan hadits.

Masa-masa pembentukan hadits 

Masa-masa pembentukan hadits tidak ada lain masa-masa kerasulan Nabi Muhammad itu sendiri, adalah kurang lebih 23 tahun. Pada masa-masa ini hadits belum ditulis, serta cuma ada dalam benak atau hafalan beberapa sahabat saja.

Periode ini disebut dengan al wahyu wa at takwin. Pada saat ini Nabi Muhammad pernah melarang penulisan hadits supaya tidak tercampur dengan periwayatan Al Qur'an, tetapi setelah beberapa waktu.

Dia Shalallahu alaihi wassallam membolehkan penulisan hadits dari beberapa orang sahabat yang mulia, seperti Abdullah bin Mas'ud, Abu Bakar, Umar, Abu Hurairah, Zaid bin Tsabit, dllnya. Periode ini diawali mulai sejak Muhammad diangkat sebagai nabi serta rasul sampai wafatnya (610M-632M)

Masa-masa Penggalian 

Masa-masa ini yaitu masa-masa pada sahabat besar serta tabi'in, diawali sejak wafatnya Nabi Muhammad pada tahun 11 H atau 632 M.

Pada masa-masa ini hadits belum ditulis maupun dibukukan, terkecuali yang dikerjakan oleh beberapa sahabat seperti Abu Hurairah, Abu Bakar, Umar bin Khattab, Abdullah bin Mas'ud, dllnya.

Bersamaan dengan perkembangan dakwah, mulailah bermunculan masalah baru umat Islam yang mendorong beberapa sahabat saling bertukar hadits serta menggali dari sumber-sumber utamanya.

Masa-masa penghimpunan 

Masa-masa ini ditandai dengan sikap beberapa sahabat serta tabi'in yang mulai menampik menerima hadits baru, seiring terjadinya tragedi perebutan kedudukan kekhalifahan yang berubah ke bagian syari'at serta 'aqidah dengan timbulnya hadits palsu.

Beberapa sahabat serta tabi'in ini amat mengenal betul pihak-pihak yang melibatkan diri serta yang ikut serta dalam permusuhan itu, hingga bila ada hadits baru yang belum pernah dimiliki sebelumnya di teliti secermat-cermatnya siapa-siapa yang menjadi sumber serta pembawa hadits itu.

Pada masa-masa pemerintahan Khalifah 'Umar bin 'Abdul 'Aziz sekaligus sebagai salah seorang tabi'in memerintahkan penghimpunan hadits. Masa-masa ini terjadi pada abad 2 H, serta hadits yang terhimpun belum dipisahkan mana yang merupakan hadits marfu' serta mana yang mauquf serta mana yang maqthu'.

Masa-masa pendiwanan serta penyusunan 

Abad 3 H adalah masa-masa pendiwanan (pembukuan) serta penyusunan hadits. Guna menghindari salah paham untuk umat Islam dalam memahami hadits sebagai perilaku Nabi Muhammad, beberapa ulama mulai mengelompokkan hadits serta memisahkan kumpulan hadits yang termasuk juga marfu' (yang berisi tingkah laku Nabi Muhammad)

Mana yang mauquf (berisi perilaku sahabat) serta mana yang maqthu' (berisi perilaku tabi'in). Usaha pembukuan hadits pada masa-masa ini tidak hanya sudah digolongkan (sebagaimana disebut diatas) juga dilakukan riset Sanad serta Rawi-rawi pembawa beritanya sebagai bentuk tash-hih (koreksi/verifikasi) atas hadits yang ada ataupun yang dihafal.

Berikutnya pada abad 4 H, usaha pembukuan hadits terus dilanjutkan sampai dinyatakannya kalau pada masa-masa ini sudah selesai melakukan pembinaan maghligai hadits.

Sedangkan abad 5 hijriyah dan seterusnya yaitu masa-masa memperbaiki susunan kitab hadits seperti mengumpulkan yang terserakan atau mengumpulkan untuk memudahkan mempelajarinya dengan sumber utamanya kitab-kitab hadits abad ke-4 Hijriyah.

Alhamdulillah, sampailah kita di akhir pembahasan kali ini, yang mengupas tuntas mengenai Pengertian Hadits: Struktur, Klasifikasi, dan Jenis Hadits, insya Allah ilmu yang kami bagikan, dapat bermanfaat untuk sahabat yang telah meluangkan waktu untuk membaca.

Terima kasih, dan jangan pernah berhenti membaca, sebab dengan membaca, yang samar akan menjadi jelas, dan tak lagi perlu untuk diterka.

Wassalamu’alaikum. Wr. Wb.

Referensi:
  1. wikipedia.org
Back To Top