Pengertian Ijtihad: Fungsi, Contoh serta Manfaatnya

Pengertian Ijtihad: Fungsi, Contoh serta Manfaatnya. Assalamu’alaikum, Wr. Wb.
Pada kesempatan kali ini, kami akan membahas mengenai Pengertian Ijtihad: Fungsi, Contoh serta Manfaatnya. Jadi, tanpa perlu buang waktu, langsung saja kita masuk ke dalam pembahasan kali ini, ya.

Sumber: generasisalaf.wordpress.com
Al Quran sebagai dasar hidup para muslim, tidak menjelaskan secara detail beragam faktor kehidupan. Hal semacam ini lantas dijelaskan lebih lanjut oleh hadis.

Tetapi, nyatanya ada beberapa hal yang dapat ditafsirkan berbagai macam, bahkan juga sampai saat ini masih tetap ada beberapa hal yang tidak dijelaskan secara tegas oleh kedua sumber hukum Islam itu sendiri (Al Quran serta hadis) hingga menyebabkan ketidaksamaan pendapat di antara para muslim.

Sesungguhnya, ketidaksamaan pendapat yang muncul di antara para muslim merupakan hal lumrah serta menjadi sunatullah, bahkan juga ketidaksamaan pendapat adalah rahmat lantaran dari ketidaksamaan itu tiap para muslim diberikan kesempatan untuk berpikir memakai akalnya hingga mendapatkan kebenaran.

Memakai pertimbangan akal dalam hukum agama atau undang-undang memegang fungsi penting dalam ajaran Islam. Al Quran menyerukan supaya umat manusia memakai akal fikirannya lantaran karenanya ada akal pikiran manusia akan mendekatkan diri pada Allah swt.

Orang yang tidak memakai akal pikirannya dalam Al Quran di umpamakan sebagai binatang yang bisu, tuli, serta tidak memahami.

Firman Allah swt. Dalam surah A’raf: 179, menjelaskan sebagai berikut ini:
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat- ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tiada dipergunakannya untuk melihat (tanda tanda kekuasaan Allah)

Dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (QS Al A’raf: 179).

Al Quran mencemooh orang yang tidak memakai akalnya seperti yang digambarkan dalam surah Ali Imran Ayat 190 – 191 sebagai berikut ini:
190“Sesungguhnya dalam penciptaan lahgit serta bumi serta silih bergantinya malam serta siang ada tanda tanda untuk orang-orang yang berakal.

191 (yakni) orang-orang yang mengingat Allah sembari berdiri atau duduk atau dalam kondisi berbaring serta mereka pikirkan mengenai penciptaan langit serta bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali Imran: 190-191).

Pengertian Ijtihad

Sumber: pelajaransekolahonline.com
Ijtihad datang dari kata ijtahada yajtahidu ijtihadan artinya mengerahkan kekuatan dalam memikul beban. Pengertian Ijtihad terbagi atas 2 yakni pengertian ijtihad menurut bahasa serta pengertian ijtihad menurut istilah.

Pengertian ijtihad menurut bahasa yaitu bersungguh-sungguh dalam mencurahkan pikiran. sedangkan pengertian ijtihad menurut istilah yaitu mencurahkan semua tenaga serta pikiran dengan sungguh-sungguh dalam menentukan hukum syariat.

Jadi, Ijtihad bisa terjadi bila pekerjaan yang dikerjakan terdapat unsur-unsur kesusahan.

Pengertian Ijtihad secara termologis yaitu mencurahkan semua kekuatan dalam mencari syariat dengan cara-cara spesifik.

Ijtihad termasuk juga sebagai sumber-sumber hukum islam yang ketiga sesudah Al-Qu'an, Hadist, yang mempunyai manfaat dalam menentukan sebuah hukum dalam islam. Orang yang menjalankan ijtihad disebut juga mujtahid.

Pengertian Ijtihad secara umum yaitu satu usaha yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh untuk menentukan sebuah perkara yang tidak dikaji dalam Al-Qur'an serta Hadist dengan ketentuan memakai akal sehat serta pertimbangan yang matang.

Tujuan Ijtihad yaitu memenuhi kepentingan umat manusia dalam melaksanakan ibadah pada Allah di tempat serta waktu spesifik. sedangkan Peranan Ijtihad yaitu untuk mendapatkan pemecahan hukum, bila ada sebuah permasalahan yang perlu diterapkan hukumnya, tetapi tidak ditemui pada Al-Qur'an serta Hadist.

Peranan Ijtihad amat penting lantaran sudah diakui kedudukan serta legalitasnya dalam islam, tetapi tidak semua orang bisa menjalankan ijtihad, cuma dengan orang-orang spesifik yang bisa memenuhi kriteria jadi mujtahid seperti yang ada berikut ini:

Sebagian Syarat Jadi Ijtihad (Mujtahid) 

Sumber: cinta-islam.com
Dalam berijtihad tidak sembarangan orang dapat mengerjakannya. Tidak juga langsung di ambil berijtihad dalam menentukan hukum tanpa melihat dahulu dalam Al Qur'an atapun hadist.

Ingat hukum paling utama yaitu Al qur'an lantas hadist, bila sebuah hukum udah ada pada Al qur'an serta hadist tidak ada ijtihad dalam hukum itu.  Adapun syarat – syarat untuk menjadi Ijtihad (Mujtahid) adalah sebagai berikut:
  1. Memahami ayat serta sunnah yang terkait dengan hukum. 
  2. Memahami beberapa masalah yang sudah di ijma’kan oleh para ahlinya 
  3. Memahami Nasikh serta Mansukh. 
  4. Memahami bahasa arab serta ilmu-ilmunya dengan sempurna. 
  5. Memahami ushul fiqh 
  6. Memahami dengan jelas rahasia-rahasia tasyrie’ (Asrarusyayari’ah). 
  7. Memahami beberapa aturan ushul fiqh 
  8. Memahami seluk beluk qiyas. 

Syarat - Syarat lainnya untuk menjadi ijtihad (Mujtahid) 

  • Adil serta taqwa dan Menguasai bahasa Arab 
Ulama Ushul sudah setuju, kalau mujtahid disyaratkan mesti menguasai bahasa Arab, lantaran al-Quran di turunkan – sebagai sumber syari’at – dalam bahasa Arab. Demikian juga dengan Sunnah yang berperan sebagai penjelas dari al-Quran, juga tersusun dengan bahasa Arab.

Imam Ghazali memberikan kriteri penguasaan bahasa Arab oleh seorang mujtahid, dengan menyampaikan: seorang mujtahid mesti dapat mengerti perkataan orang Arab serta beberapa tradisi yang berlaku dalam penggunaan bahasa Arab di kelompok mereka.

Hingga ia dapat membedakan antara perkataan yang sharih, zhahir, serta mujmal; hakekat serta majaz; yang umum yang khusus; muhkam serta mutasyabih; muthlaq serta muqayad, nash dan mudah atau tidaknya dalam pemahaman.
  • Memahami nasakh serta mansukh 
Syarat ini sudah ditetapkan oleh imam Syafi’i dalam kitabnya ar-Risalah, seperti ia mensyaratkan kekuatan berbahasa Arab. Persyaratan ini didasarkan pada kedudukan serta nilai al-Quran sebagai dasar serta sumber paling utama syari’at yang miliki sifat kekal hingga hari qiamat.

Lantaran pengetahuan yang terdapat di dalamnya demikian luas, beberapa hingga Ibnu Umar menyampaikan kalau “Barang siapa menguasai al-Quran, sebenarnya ia sudah membawa missi kenabian (nubuwwah).

Beberapa ulama memiliki pendapat kalau seorang mujtahid mesti memahami secara mendalam ayat-ayat yang mengulas mengenai hukum yang ada dalam al-Quran yang jumlahnya kurang lebih ada 500 ayat.

Pengetahuannya pada ayat-ayat itu mesti mendalam hingga pada yang khas serta ‘am dan takhshish yang datang dari as-Sunah. Demikian pula mesti memahami ayat-ayat yang dinasakh hukumnya bersumber pada teori kalau pada ayat-ayat al-Quran itu ada ayat yang menasakh serta yang dinasakh.

Dengan menguasai ayat-ayat hukum itu, seorang mujtahid harus juga memahami walaupun secara global isi ayat-ayat yang lain adalah sebuah kesatuan yang utuh yang tidak dapat dipisah-pisahkan satu begaian dengan sisi yang lain. Seperti ditegaskan oleh Imam Asnawi:

Sebenarnya untun memahami ketidaksamaan antara ayat-ayat hukum dengan ayat yang lain mesti memahami keseluruhannya.”
  • Memahami Sunnah (Hadits) 
Syarat ini sudah disetujui secara bulat oleh beberapa ulama, kalau seorang mujtahid mesti paham benar mengenai sunnah, baik qauliyah (pengucapan), fi’liyah (perbuatan), ataupun taqririyah (ketentuan), minimal pada tiap pokok permasalahan (bagian) menurut pendapat kalau ijtihad itu dapat dibagi pembidangannya.

Menurut pendapat yang menampik adanya pembidangan dalam ijtihad, seorang mujtahid mesti menguasai semua Sunnah yang mengandung hukum taklifi, dengan mengerti isinya dan menangkap maksud hadits serta keadaan yang melatar belakangi datangnya sebuah hadits.

Mujtahid harus juga memahami nasakh serta mansukh dalam Sunnah, ‘am serta khasnya, muthlaq serta muqayadnya, takhshish serta yang umum. Demikian pula mesti memahami alur kisah serta sanad hadits, kemampuan perawi Hadits, dalam arti memahami sifat serta kondisi perawi Hadits yang mengemukakan Hadits-hadits Rasulullah s. a. w.
  • Memahami letak ijma’ serta khilaf 
Dengan memahami letak ijma’ yang sudah disetujui para ulama salaf, seorang mujtahid diwajibkan juga memahami ikhtilaf (ketidaksamaan pendapat) yang terjadi di antara fuqaha, contohnya ketidaksamaan pendapat dan sistem antara ulama Fiqh di Madinah serta Ulama Fiqh di Irak.

Dengan hal tersebut, mujtahid secara rasional bakal mampu membeda-bedakan antara pendapat yang shahih dengan yang tidak shahih, kaitan dekat atau jauhnya dengan sumber al-Quran serta hadits. Imam Syafi’i mewajibkan seorang mujtahid mempunyai kekuatan demikian, seperti dijelaskan dalam kitabnya ar-Risalah.
  • Memahami Qiyas 
Imam syafi’i menyampaikan, kalau ijtihad itu sebenarnya yaitu memahami jalan-jalan qiyas. Bahkan juga, dia juga menyampaikan kalau ijtihad itu yaitu qiyas itu sendiri. Oleh karena itu, seorang mujtahid mesti memahami tentang qiyas yang benar.

Maka dari itu, dia mesti mengatahui hukum-hukum asal yang ditetapkan berdasarkan nash-nash sebagai sumber hukum itu, yang memungkinkan seorang mujtahid menentukan hukum asal yang lebih dekat dengan obyek yang menjadi tujuan ijtihadnya.

Pengetahuan mengenai qiyas demikian membutuhkan mujtahid memahami tiga hal, yakni:
  1. Memahami semua nash sebagai dasar hukum asal beserta ‘illatnya agar bisa menghubungkan dengan hukum furu’ (Cabang). 
  2. Memahami ketentuan – ketentuan qiyas serta batas-batasnya, seperti tidak bisa mengqiyaskan dengan suatu hal yang tidak dapat meluas hukumnya, dan beberapa sifat ‘illatnya sebagai dasar qiyas serta aspek yang menghubungkan dengan furu’. 
  3. Memahami cara yang digunakan oleh ulama salaf yang shalih dalam memahami ‘illat-‘illat hukum serta beberapa sifat yang dilihat sebagai prinsip penetapan serta penggalian hukum fiqh. 

Beberapa Jenis Ijtihad 

  • Ijma' (kesepakatan):
Pengertian ijma yaitu kesepakatan para ulama untuk menentukan hukum agama bersumber pada Al-Qur'an serta Hadist dalam perkara yang terjadi. Hasil dari Ijma berbentuk Fatwa artinya keputuan yang di ambil secara bersama para ulama serta pakar agama yang berwenang untuk diikuti oleh semua umat.

Contoh ijma: beberapa sahabat yaitu menyatukan lembaran - lembaran ayat Al qur'an hingga jadi satu kitab suci Al qur'an yang dapat kita miliki pada jaman sekarang.
  • Qiyas:
Pengertian qiyas yaitu memadukan atau menyamakan artinya mengambil keputusan hukum dalam sebuah perkara baru yang belum pernah dilakukan di masa-masa sebelumnya tetapi mempunyai persamaan seperti sebab, manfaat, bahaya serta berbagai faktor dalam perkara sebelumnya hingga dihukumi sama.

Ijma serta Qiyas yaitu sifat darurat di mana ada yang belum diputuskan sebelumnya.
Contoh Qiyas yaitu haramnya minuman keras yang memabukan, narkoba. Hal itu sama juga dengan hukum khamr dalam Al qur'an.

Allah berfirman:
Terjemahannya:

Wahai orang - orang yang beriman! sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala yaitu perbuatan keji dan termasuk perbuatan syetan jauhilah (perbuatan - perbuatan) itu agar kamu beruntung. (Q. S Al Maidah ayat 90).
  • Maslahah Mursalah:
Maslahah mursalah yaitu sebuah ijtihad yang mengambil keputusan hukum berdasarkan memprioritaskan pada kemanfaatan sebuah perbuatan serta maksud hakiki universal terhadap syariat islam.

Contohnya: Keharusan menggati rugi barang yang rusak di antara konsumen serta penjual yang sebelumnya di luar kesepakatan.
  • Sududz Dzariah:
Pengertian sududz dzariah yaitu mengambil keputusan suatu yang mubah makruh atau haram untuk kebutuhan umat.
  • Istishab:
Pengertian istishab yaitu tindakan dalam mengambil keputusan sebuah ketentuan hingga ada argumen yang mengubahnya.
  • Urf:
Pengertian urf yaitu tindakan dalam menentukan masih tetap bolehkah adat-istiadat serta kebebasan orang-orang setempat bisa berjalan sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan prinsipal Al-Qur'an serta Hadist.
  • Istihsan:
Pengertian istihsan yaitu tindakan dengan meninggalkan satu hukum pada hukum yang lain dikarenakan adanya sebuah dalil syara’ yang mengharuskan untuk meninggalkannya.
  • Zara’i 
Zara’i menurut lugat (bahasa) memiliki arti wasilah, yakni pekerjaan-pekerjaan sebagai jalan untuk mencapai maslahah atau jalan untuk menyingkirkan mudarat.

Ijtihad itu udah diawali mulai sejak zaman Rasulullah lantaran orang tidak mungkin saja menyerahkan masing-masing perkara pada Rasulullah saw.

Sesudah Rasulullah meninggal dunia, ijtihad iebih luas lagi pengaruhnva. Pada jaman kekhalifahan, iibentuk dewan penasihat ang tugasnya mengurus semua masalah penting di mana keputusannya di ambil dengan suara paling banyak serta di terima oleh khalifah dan para muslim.

Contoh Ijtihad 

Penentuan I Syawal, Beberapa ulama berkumpul untuk berdiskusi mengeluarkan alasannya untuk menentukan 1 Syawal, juga penentuan awal Ramadhan. Tiap ulama mempunyai dasar hukum serta langkah dalam penghitungannya, bila sudah ketemu muncullah perjanjian dalam penentuan 1 Syawal.

Kedudukan serta Peranan Ijtihad 

Muhammad Ma’ruf Ad Dawalibi menyimpulkan Rasulullah saw. meletakkan ijtihad sebagai sumber hukum ketiga dalam ajaran Islam setelah Al Quran serta sunah.

Kedudukan ijtihad demikian penting dalam ajaran Islam lantaran ijtihad sudah bisa dibuktikan kemampuannya dalam merampungkan semua masalah yang dihadapi umat Islam dari mulai jaman Nabi Muhammad saw. hingga saat ini.

Lewat ijtihad, beberapa masalah baru yang tidak diterangkan oleh Al Quran ataupun sunah bisa dipecahkan. Lewat ijtihad, ajaran Islam sudah berkembang sedemikian rupal menuju kesempurnaannya, bahkan juga ijtihad adalah daya gerak perkembangan umat Islam. Artinya ijtihad adalah kunci dinamika ajaran Islam.

Saat ijtihad itu udah ada, ijtihad ini seperti di katakan sebelumnya di atas berpungsi sebagai landasan hukum yang ketiga sesudah Al Qur'an serta Hadist.

Hal semacam ini sebagai mana sabda Nabi Muhammad SAW berikut ini:
Terjemahannya:

"Dari Mu'az, bahwa nabi Muhammad SAW, ketika mengutus ke Yaman ia bersabda: " Bagaimana engkau memutuskan suatu perkara yang di bawa orang kepadamu?"

Muaz berkata: "Saya akan memutuskan berdsarkan kitabulloh (al qur'an)."

Lalau nabi berkata: "Dan jika di dalam kitabulloh engkau tidak menemukan masalah perkara tersebut?"

Muaz menjawab: "Jika begitu saya akan memutuskan berdasarkan sunnah Rosululloh saw."

Lantas nabi bertanya lagi: "Dan jika engkau tidak menemukan perkara tersebut dalam sunnah?"

Muaz menjawab: "Saya akan mempergunakan pertimbangan akal pikiran sendiri (ijtihada bi ra'yi) tanpa bimbang sedikitpun."

Lantas nabi bersabda: "Maha Suci Alloh swt yang telah memberikan bimbingan kepada utusan RosulNya dengan suatu sikap yang disetujui Rosul-Nya." (HR Dharami).

Begitulah kedudukan serta urutan pemanfaatan ijtihad dalam hukum islam. Adapun ijtihad mempunyai beberapa manfaat salah satunya sebagai berikut ini:
  1. Ijtihad adalah sumber hukum Islam yang ketiga sesudah Al Quran serta hadis. 
  2. Ijtihad adalah fasilitas untuk merampungkan beberapa masalah baru yang muncul dengan tetap berpedoman pada Al Quran serta sunah. 
  3. Ijtihad bermanfaat sebagai sebuah langkah yang disyariatkan untuk menyesuaikan perubahan - perubahan sosial dengan ajaran-ajaran Islam. 
  4. Ijtihad bermanfaat sebagai wadah pencurahan pemikiran para muslim dalam mencari jawaban dari beberapa masalah seperti berikut ini: 
  5. Permasalahan asasi yakni beberapa hal yang terkait dengan ajaran Islam seperti beberapa masalah di bagian akidah serta muamalat. 
  6. Permasalahan esensial contohnya tentang program pembangunan negara serta bangsa. 
  7. Permasalahan insidental contohnya mengenai beberapa isu yang berkembang dalam masyarakat. 

Pahala Orang yang Ber-Ijtihad 

Sumber: infoyunik.com
Rosululloh selalin menyampaikan susunan pemakaian ijtihad dalam hukum Rosululloh pun menyampaikan orang yang menjalankan ijtihad sesuai sama kemampuan serta ilmunya,

bila ijtihadnya itu benar mendapatkan dua pahala apabila ijtihadnya salah mendapatkan satu pahala.
Hal itu sebagai mana sabda Nabi sebagai berikut ini:
Terjemahannya:

Dari Amr bi As, sesungguhnya Rosululloh SAW bersabda, apabila seorang hakim ber ijtihad dalam memutuskan suatu persoalan, ternyata ijtihadnya benar, ia mendapatkan dua pahala, dan apabila dia ber ijtihad kemudian ijtihadnya salah, ia mendapat satu pahala (HR Bukhari dan Muslim).

Alhamdulillah, sampailah kita di akhir pembahasan kali ini, yang mengupas tuntas mengenai Pengertian Ijtihad: Fungsi, Contoh serta Manfaatnya, insya Allah ilmu yang kami bagikan, dapat bermanfaat untuk sahabat yang telah meluangkan waktu untuk membaca.

Terima kasih, dan jangan pernah berhenti membaca, sebab dengan membaca, yang samar akan menjadi jelas, dan tak lagi perlu untuk diterka.

Wassalamu’alaikum. Wr. Wb.

Referensi:

  1. artikelsiana.com 
  2. pelajaransekolahonline.com 
  3. masrozak.com 
  4. fathimatuzzuhria 

Related Posts

Pengertian Ijtihad: Fungsi, Contoh serta Manfaatnya
4/ 5
Oleh