07 February 2017

Pengertian Tauhid: Ilmu dan Macam Tauhid


Pengertian Tauhid: Ilmu dan Macam Tauhid. Assalamu’alaikum, Wr. Wb. Pada kesempatan kali ini, kami akan membahas mengenai Pengertian Tauhid, lengkap dengan ilmu dan macam – macam Tauhid itu sendiri. Langsung saja kita masuk ke dalam pembahasan kali ini, ya.

Pengertian Tauhid

sumber: slideshare.net
Dalam bahasa Arab tauhid adalah mashdar yang merupakan kata benda yang datang dari kata wahdana. Jika yang dimaksud yaitu Wahdana Syai’a mempunyai arti sesuatu itu satu. Sedangkan bila dikaji menurut pengetahuan syariat, Tauhid mempunyai arti mempercayai ke-Esa-an Allah.

Yang disebut sebagai pengetahuan Tauhid yaitu pengetahuan yang di dalamnya mengulas perihal akidah atau keyakinan pada Allah dengan didasarkan pada dalil-dalil yang benar. Berikut ini adalah dalil yang terkait dengan pengetahuan tauhid.

“Dia yaitu Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan, dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan pula, dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu.

Tidak ada sesuatu yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS 42: 11)

Dari arti ayat di atas, dapat dikatakan kalau seluruh alam semesta ini diciptkan oleh Allah, serta tidak ada pelaku yang bertindak sendiri serta merdeka seutuhnya selain Allah. Jadi sangat tidak mungkin bila ada yang menyamakan ke-Esa-an-Nya.

Tauhid adalah satu kata yang ada dalam beberapa hadist Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti yang ada di dalam hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu,

“Kamu akan datangi suatu kaum ahli kitab, jadikanlah materi dalam dakwah yang akan kamu sampaikan pertama kali yaitu agar mereka mentauhidkan terhadap Allah”.

Demikian halnya dalam perkataan beberapa sahabat Nabi yang mengatakan, “Rasulullah membaca tahlil dengan tauhid”. Dalam pengucapan beliau labbaika Allahumma labbaika, labbaika laa syariika laka labbaika, ucapan talbiyah yang dilantunkan ketika mengawali ibadah haji. “

Beberapa ulama membagi pemaham tauhid jadi 3 sisi, yakni tauhid berupa rububiyah, uluhiyah, serta asma’ wa shifat. Pembagian itu terkumpul dalam firman atau sabda Allah di dalam Al Qur’an: QS. Maryam ayat 65, yang artinya:

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيّاً

“Rabb (Penguasa) langit dan bumi serta segala sesuatu yang berada di antara keduanya, maka sembahlah dia dan teguhkan hati dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu tahu bahwa ada seorang yang sama dengan Dia (yang berhak disembah)?" (Maryam: 65)

Berikut adalah pemahaman dari ayat di atas:
  1. Dalam firman-Nya (رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ) (Rabb yang menguasai langit dan bumi) merupakan ketetapan tauhid rububiyah.
  2. Dalam firman-Nya (فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ) (maka sembahlah Dia serta berteguh hatilah ketika dalam beribadah kepada-Nya) merupakan ketetapan tauhid uluhiyah.
  3. Dan dalam firman-Nya (هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيّاً) (Apakah kamu mengetahuinya bahwa ada seorang yang sama dengan Dia?) merupakan ketetapan tauhid asma’ wa shifat. 

Tauhid Rububiyah. 

sumber: muttaqi89.com
Tauhid Rububiyah yakni mengesakan Allah dalam semua perbuatan-Nya, dengan mempercayai kalau Dia sendiri yang menciptakan seluruh makhluk-Nya. Serta alam semesta ini diatur oleh Mudabbir (Pengelola), Pengendali Tunggal, Tidak disekutui oleh siapa dan apa pun dalam pengelolaan-Nya.

Allah menciptakan seluruh makhluk-Nya diatas fitrah pengakuan pada rububiyah-Nya. Bahkan juga orang-orang musrik yang menyekutukan Allah dalam ibadahnya juga mengakui keesaan rububiyah-Nya.

Jadi bentuk tauhid ini diakui semua orang. Bahkan juga hati manusia udah difitrahkan untuk mengakui-Nya, melebihi fitrah pengakuan pada yang lainnya. Adapun orang yang paling di kenal pengingkarannya yaitu Fir’aun. Akan tetapi di hatinya masihlah tetap meyakini-Nya.

Alam semesta serta fitrahnya tunduk serta taat pada Allah. Sebenarnya alam semesta ini (langit, bumi, planet, bintang, hewan, pohon-pohon, daratan, lautan, malaikat, dan manusia) semuanya tunduk serta taat akan kekuasaan Allah.

Tidak satupun makhluk yang memungkiri-Nya. Semua menjalani pekerjaan serta perannya masing-masing, dan berjalan menurut ketentuan yang amat sempurna. Penciptanya sekalipun tidak memiliki sifat kurang, lemah, serta cacat.

Tidak satupun dari makhluk ini yang keluar dari kehendak, takdir, serta qadha’-Nya. Tidak ada daya serta upaya terkecuali atas izin Allah. Dia yaitu Pencipta serta Penguasa alam, semua adalah milik-Nya. Semua adalah ciptaan-Nya, diatur, diciptakan, diberi fitrah, membutuhkan, serta dikendalikan-Nya.

Allah Ta’ala berfirman

“Segala puji untuk Allah, Rabb semesta alam” (Q. S. Al-Fatihah: 1)

Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Engkau adalah Rabb di langit dan di bumi” (Mutafaqqun ‘Alaih)

Tauhid Rububiyah mengharuskan adanya Tauhid Uluhiyah. Hal semacam ini memiliki arti siapa yang mengakui tauhid rububiyah untuk Allah, dengan mengimani tidak ada pencipta, pemberi rizki, serta pengatur alam terkecuali Allah.

Ia mesti mengakui kalau tidak ada yang memiliki hak menerima ibadah dengan segala jenisnya terkecuali Allah.

Dan itulah yang disebut dengan Tauhid Uluhiyah.

Jadi tauhid rububiyah yaitu bukti wajibnya tauhid uluhiyah. Jalan fitri untuk menetapkan tauhid uluhiyah yaitu berdasarkan tauhid rububiyah. tauhid rububiyah yaitu pintu gerbang dari tauhid uluhiyah.

Tauhid Uluhiyah. 

sumber: alqudus.wordpress.com
Tauhid Uluhiyah yakni ibadah. Tauhid Uluhiyah yaitu mengesakan Allah dengan perbuatan para hamba berdasarkan niat taqarrub yang disyariatkan seperti doa, nadzar, kurban, raja’ (pengharapan), takut, tawakal, raghbah (senang), rahbah (takut), serta inabah (kembali atau taubat).

Dan bentuk tauhid ini yaitu inti dakwah para rasul.

Disebut dengan demikian, lantaran tauhid uluhiyah yaitu sifat Allah yang diperlihatkan oleh nama-Nya, “Allah” yang artinya dzul uluhiyah (yang memiliki uluhiyah), dan juga lantaran tauhid uluhiyah adalah pondasi serta azas tempat dibangunnya semua amal.

Juga disebut sebagai tauhid ibadah lantaran ubudiyah yaitu sifat ‘abd (makhluknya) yang wajib menyembah Allah secara ikhlas, lantaran ketergantungan mereka kepada-Nya.

Allah Ta’ala berfirman

“Dan Tuhanmu yaitu Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (Q. S. Al-Baqarah: 163)

Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Maka hendaklah apa yang kamu dakwahkan kepada mereka pertama kali adalah syahadat bahwa tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah” (Mutafaqqun ‘Alaih). Dalam riwayat Imam Bukhari, “Sampai mereka mentauhidkan Allah”.

Manusia ditetapkan oleh tingkatan din. Din sendiri memiliki arti ketaatan. Berikut ini yaitu tingkatan din: 

  • Islam 

Islam menurut bahasa yaitu masuk dalam kedamaian. Sedangkan menurut syara’, Islam memiliki arti pasrah pada Allah, bertauhid serta tunduk kepada-Nya, patuh, serta membebaskan diri dari syirik serta pengikutnya.
  • Iman 
Iman menurut bahasa memiliki arti membenarkan disertai percaya serta amanah. Sedangkan menurut syara’, iman memiliki arti pernyataan dengan lisan, kepercayaan dalam hati, serta perbuatan dengan anggota tubuh.
  • Ihsan 
Ihsan menurut bahasa memiliki arti kebaikan, yaitu segala suatu hal yang menyenangkan serta terpuji. Sedangkan menurut syara’ yaitu sebagaimana yang dijelaskan oleh baginda Nabi yang artinya “Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya.

Jika engkau tidak bisa melihat-Nya sesungguhnya Dia melihatmu”. Syaikh Ibnu Taimiyah berkata “Ihsan itu mengandung kesempurnaan ikhlas pada Allah serta perbuatan baik yang dicintai oleh Allah”.

Rasulullah menjadikan din itu adalah Islam, Iman, serta Ihsan. jelaslah kalau din itu bertingkat, serta beberapa tingkatannya lebih tinggi dari yang lain. Tingkatan yang pertama yaitu Islam, tingkatan yang kedua yaitu Iman, serta tingkatan yang paling tinggi yaitu Ihsan.

Tauhid Asma’ Wa Sifat. 

sumber: beranidakwah.com
Tauhid Asma’ Wa Sifat yakni beriman pada nama-nama Allah serta sifat-sifat-Nya, sebagaimana yang diterangkan dalam Al Qur’an serta Sunah Rasul-Nya.

Barang siapa yang mengingkari nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya atau menamai Allah dan menyifati-Nya dengan nama-nama dan beberapa sifat makhluk-Nya atau menakwilkan dari maknanya yang benar, dia telah berbicara tentang Allah tanpa ilmu dan berdusta terhadap Allah dan Rasulnya.

Allah Ta’ala berfirman

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Q. S. Asy-Syuura: 11)

Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Allah tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia pada setiap malam” (Mutafaqqun ‘Alaih). Di sini turunnya Allah tidak sama dengan turunnya makhluk-Nya, namun turunnya Allah sesuai dengan kebesaran dan keagungan dzat Allah.

Sifat-sifat Allah dibagi jadi dua sisi, yakni: 

  • Sifat Dzatiyah 
Sifat Dzatiyah yakni sifat yang selalu melekat dengan-Nya. Sifat ini berpisah dengan dzat-Nya. Seperti berilmu, kuasa atau mampu, mendengar, bijaksana, melihat, dan lain-lain.
  • Sifat Fi’liyah 
Sifat Fi’liyah yaitu sifat yang Dia perbuat bila berkehendak. Seperti bersemayam di atas ‘Arasy, turun ke langit dunia saat tinggal sepertiga akhir malam, serta datang pada Hari Kiamat.

Tauhid asma’ wa sifat ini juga punya pengaruh dalam bermuamalah dengan Allah. Berikut ini contoh-contohnya:

  • Bila seseorang memahami asma’ serta sifat-Nya, juga memahami arti serta tujuannya secara benar yang demikian itu bakal memperkenalkannya dengan Rabbnya beserta keagungan-Nya. Hingga ia tunduk, taat, serta khusyu’ kepada-Nya, takut serta mengharapkan-Nya, dan bertawassul kepada-Nya. 
  • Bila ia memahami jika Rabbnya amat dahsyat azab-Nya hal semacam itu bakal membuatnya merasa senantiasa diawasi Allah, takut, serta menjauhi maksiat terhadap-Nya. 
  • Bila ia memahami bahwa Allah Maha Pengampun, Penyayang, serta Bijaksana hal semacam itu bakal membawanya pada taubat dan istighfar, juga membuatnya berprasangka baik pada Rabbnya serta tidak bakal berputus asa dari rahmat-Nya. 
  • Manusia bakal mencari apa yang ada di sisi-Nya serta bakal berbuat baik pada sesamanya. 

Keterkaitan antara Tauhid Rubbiyah dan Tauhid Uluhiyah 

Antara Tauhid Rubbiyah dan Tauhid Uluhiyah mempunyai hubungan yang tidak bisa dipisahkan, lantaran pada Tauhid Rububiyah adalah mengkonsekuensikan tauhid Uluhiyah. Yang artinya pengakuan seseorang pada tauhid Rububiyah yang mengharuskan pengakuannya pada tauhid uluhiyah.

Jadi, bila seseorang udah memahami kalau Allah yaitu Tuhan yang menciptakan Alam Semesta serta mengatur semua urusannya, ia juga wajib untuk beribadah hanya pada Allah serta tidak ada sekutu bagi-Nya.

Sedangkan pada Tauhid Uluhiyah mengandung sisi dari Tauhid Rububiyah, yakni barang siapa yang melakukan ibadah kepada Allah serta tidak menyekutukan-Nya ia meyakini kalau Allah lah Tuhan serta pencipta Alam Semesta. Seperti yang pernah di katakan oleh Nabi Ibrahi a. s dalam QS. Asy- Syu’araa ayat 75-82.

قَالَ أَفَرَءَيْتُم مَّاكُنتُمْ تَعْبُدُونَ {75} أَنتُمْ وَءَابَآؤُكُمُ اْلأَقْدَمُونَ {76} فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِّي إِلاَّرَبَّ الْعَالَمِينَ {77} الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ {78} وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ {79} وَإِذَامَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ {80} وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ {81} وَالَّذِي أَطْمَعُ أَن يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ {82}

“Ibrahim Berkata: “Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah (75), kamu dan nenek moyang kamu yang terdahulu? (76), karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu ialah musuhku, kecuali Tuhan Semesta Alam (77),

(Yaitu Tuhan) yang telah menciptakan aku, maka dialah yang memberikan petunjuk kepadaku (78), dan Tuhanku, dia yang memberi makanan dan minuman kepadaku (79), dan apabila aku sedang sakit, Dialah yang dapat menyembuhkanku (80),

dan yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali) (81), dan yang amat aku inginkan akan mengampuni kesalahanku di hari kiamat (82)” (Asy – Syu’Araa’: 75-82)”.

Lantaran itulah antara keduanya mempunyai keterkaitan dan terkadang dalam ayat maupun hadis artinya dijelaskan secara bersamaan.

Kalau ada orang tidak meyakini ke-Esa-an Allah atau memungkiri perkara-perkara yang menjadi dasar pengetahuan tauhid, orang itu dikatagorikan bukanlah muslim serta digelari kafir. Demikian juga halnya, kalau seorang muslim menukar kepercayaannya dari meyakini ke-Esa-an Allah, kedudukannya juga sama yaitu kafir.

Perkara dasar yang harus dipercayai dalam pengetahuan tauhid adalah perkara yang dalilnya atau buktinya cukup jelas serta kuat yang ada di dalam Al Quran atau Hadis yang shahih. Perkara ini tidak bisa dita’wil atau diganti maknanya yang asli dengan makna yang lain.

Mengenai perkara yang dibicarakan dalam pengetahuan tauhid yaitu dzat Allah diliat dari sisi apa yang wajib (harus) bagi Allah serta Rasul Nya, apa yang mustahil serta apa yang jaiz (boleh atau tidak boleh).

Jelasnya, pengetahuan Tauhid terdiri dari tiga sisi: 

  • Wajib 
  • Mustahil
  • Jaiz (Mungkin) 

Wajib 

Wajib dalam ilmu Tauhid memiliki arti menentukan sebuah hukum dengan mempergunakan akal kalau suatu hal itu wajib (mutlak) atau tidak boleh tidak harus demikian hukumnya. Hukum wajib dalam pengetahuan tauhid ini ditetapkan oleh akal tanpa lebih dulu membutuhkan penyelidikan atau memakai dalil.

Contoh yang ringan, duit seribu 1000 rupiah yaitu lebih banyak dari 500 rupiah. Artinya akal atau logika kita bisa memahami atau menghukum kalau 1000 rupiah itu lebih banyak dari 500 rupiah.

Tidak boleh tidak, mesti demikian hukumnya. Contoh yang lain, seseorang bapak usianya mesti lebih tua dari umur anaknya.

Artinya secara akal kalau si bapak wajib atau mesti lebih tua dari si anak
Ada lagi hukum wajib yang bisa ditetapkan bukanlah dengan akal tapi harus membutuhkan penyelidikan yang rapi serta cukup teliti.

Misalnya, Bumi itu bulat. Saat sebelum akal bisa memastikan kalau bumi itu bulat, wajib atau mesti diadakan dulu penyelidikan serta mencari bukti kalau bumi itu betul betul bulat. Jadi akal tidak dapat menerima begitu saja tanpa penyelidikan lebih dulu.

Mustahil 

Mustahil dalam pengetahuan tauhid yaitu kebalikan dari wajib. Mustahil dalam pengetahuan tauhid memiliki arti akal mustahil dapat menentukan serta mustahil dapat menghukum kalau suatu hal itu mesti demikian.

Hukum mustahil dalam pengetahuan tauhid ini dapat ditetapkan oleh akal tanpa lebih dulu membutuhkan penyelidikan atau memakai dalil.

Misalnya, duit 500 rupiah mustahil lebih banyak dari 1000 rupiah. Artinya akal atau logika kita bisa memahami atau menghukum kalau 500 rupiah itu mustahil akan lebih banyak dari1000 rupiah.

Contoh yang lain, umur seseorang anak mustahil lebih tua dari ayahnya. Artinya secara akal kalau seseorang anak mustahil lebih tua dari ayahnya.

Seperti hukum wajib dalam Pengetahuan Tauhid, hukum mustahil ada juga yang ditetapkan dengan membutuhkan penyelidikan yang rapi serta cukup teliti.

Misalnya: Mustahil bumi ini berupa tiga sisi. Jadi saat sebelum akal bisa menghukum kalau mustahil bumi ini berupa sisi tiga, perkara itu mesti diselidik dengan teliti yang bersenderkan pada dalil kuat.

Jaiz (Mungkin)

Apa arti Jaiz (mungkin) dalam pengetahuan Tauhid? Jaiz (mungkin) dalam pengetahuan tauhid adalah akal kita bisa memastikan atau menghukum kalau sesuatu benda atau sesuatu dzat itu bisa demikian kondisinya atau bisa juga tidak demikian. Atau dalam arti lainnya mungkin demikian atau mungkin tidak.

Misalnya: penyakit seseorang itu mungkin dapat pulih atau barangkali saja tidak dapat pulih. Seseorang yaitu dzat dan pulih atau tidaknya yaitu hukum jaiz (mungkin). Hukum jaiz (Mungkin) di sini, tidak membutuhkan hujjah atau dalil.

Contoh lainya: apabila langit mendung, mungkin saja bakal turun hujan lebat, mungkin saja turun hujan rintik rintik, atau mungkin saja tidak turun hujan sekalipun. Langit mendung serta hujan yaitu dzat, sementara lebat, rintik rintik atau tidak turun hujan yaitu Hukum jaiz (Mungkin).

Seperti hukum wajib serta mustahil, hukum jaiz (mungkin) juga terkadang membutuhkan bukti atau dalil. Misalnya manusia mungkin saja dapat hidup beberapa ratus tahun tanpa makan serta minum seperti terjadi pada cerita Ashabul Kahfi yang tertera dalam surat al-Kahfi.

Peristiwa manusia dapat hidup beberapa ratus tahun tanpa makan serta minum mungkin saja terjadi namun kita membutuhkan dalil yang kuat di ambil dari al-Qur’an.

Sifat - Sifat Allah 

Wajib untuk tiap muslim mukallaf yakni yang mempunyai akal yang sehat serta udah masuk usia dewasa untuk meyakini kalau ada beberapa sifat kesempurnaan yang tidak terhingga bagi Allah. Sifat-sifat Allah itu sangat banyak serta tidak terhitung.

Kalau air laut dijadikan tinta untuk untuk menulis sifat sifat Allah jelas kita tidak bakal dapat mencatatnya. Maka dari itu Abu Manshur Al-Maturidi membatasi 20 sifat yang wajib (artinya mesti ada) pada Allah.

Bila tidak mempunyai sifat itu, berarti dia bukanlah Allah.

Jadi, minimum kita mesti mengerti serta mempercayai 20 sifat itu supaya tidak tersesat. Kemudian kita dapat mempelajari sifat Allah lainnya yang banyak.

Seperti wajib dipercayai akan sifat Allah yang dua puluh butuh diketahui juga sifat yang mustahil bagi Allah. Sifat yang mustahil bagi Allah adalah lawan dari sifat wajib.

20 Sifat-sifat Allah yang wajib di ketahui oleh seorang muslim mukallaf (akil baligh) yang terdapat di dalam al-Quran juga termasuk beberapa sifat Mustahil yang wajib diketahui. Untuk memudahkan mempelajarinya terlampir berikut ini ringkasan sifat sifat Allah yang wajib serta mustahil.

Sifat-sifat itu adalah sebagai berikut: 

Wujud 

Wujud (ada) yaitu sifat Nafsiyyah artinya sesungguhnya Allah itu ada serta kehadiran Nya itu pasti tidak diragukan lagi. Sifat ini dapat menyatakan di mana Allah jadi tidak ada tanpa adanya sifat itu.
Wujud artinya ada serta sifat mustahilnya ‘Adam artinya tidak ada.

Untuk menunjukkan kalau Allah itu ada bukan hal yang gampang, terkecuali untuk beberapa orang yang mempunyai keimanan yang mulia. Memanglah kita tidak bisa melihat wujud Allah secara langsung, namun dengan memakai akal, kita bisa melihat ciptaan-Nya.

Dari mana alam semesta ini berasal? Pastinya ada yang menciptakannya. Tidak mungkin saja alam semesta ini jadi dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan.

Contoh, pernah seorang Badui (Arab dari pegunungan) ditanya, ”Dari mana kau mengetahui kalau Allah itu ada?”. Kebetulan di muka orang Badui tadi ada kotoran unta. Ia menjawab ”Apakah kau lihat kotoran unta ini? Tiap ada kotoran unta pasti ada untanya. Tidak mungkin saja kotoran unta itu ada dengan sendirinya”

Sedangkan untuk kita yang hidup di era serba mutakhir dan modern cara membuktikannya juga berbeda. Jelas kita lihat pesawat terbang, kereta api, mobil, computer dan lain-lainnya, suatu hal yang tidak masuk akal bila semua itu terjadi dengan sendirinya.

Ya udah pasti ada pembuatnya. Bahkan juga hingga benda-benda yang sederhana saja seperti jarum ada yang membuatnya, tidak mungkin saja jarum itu jadi dengan sendirinya.

Meskipun kita tidak dapat melihat Allah, bukanlah berarti Allah itu tidak ada. Allah ada. Mesikpun kita tidak dapat melihat-Nya, namun kita dapat merasakan ciptaannya.

Pernyataan kalau Allah itu tidak ada cuma karena panca indera manusia yang amat terbatas, lantaran Dia tidak dapat diraba serta tidak dapat dipandang, maka dari itu kita tidak dapat mengetahui keberadaan Allah terkecuali dengan bukti - bukti ciptaan Nya.

إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَمَاوَاتِ وَٱلأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ يُغْشِي ٱلْلَّيْلَ ٱلنَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثاً وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلاَ لَهُ ٱلْخَلْقُ وَٱلأَمْرُ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy.

Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”. (Al-A’râf: 54).

Qidam

القدم : هو صفة سلبية لأنها سلبت و نفت أولية الوجود ، و معناه في حقه سبحانه و تعالى انه قديم لا أول لوجوده قال الله تعالى هُوَ ٱلأَوَّلُ وَٱلآخِرُ وَٱلظَّاهِرُ وَٱلْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ } والدليل العقلي على ذلك انه لو لم يكن قديما لكان حادثا و لو كان حادثا لافتقر الى محدث و يفتقر محدثه الى محدث ايضا و لوكان كذلك للزم الدور أو التسلسل و كل واحد منهما مستحيل فالله سبحانه و تعالى قديم لا أول لوجوده و يستحيل عليه الحدوث

Allah itu berada tanpa adanya permulaan. Sebagai Dzat yang menciptakan seluruh alam, Allah pasti lebih dulu sebelum ciptaan-Nya. Kebalikannya adalah huduts (Baru) yaitu mustahil Allah itu baru dan memiliki permulaan. Allah itu dahulu tanpa awal, tidak berasal dari ”tidak ada” kemudian menjadi ”ada”.

هُوَ ٱلأَوَّلُ وَٱلآخِرُ وَٱلظَّاهِرُ وَٱلْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Allah berfirman: “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (Al Hadiid: 3)

Allah yaitu Pencipta segala suatu hal. Allah yang menciptakan langit, bumi, dan semua isinya termasuk juga tumbuhan, binatang, serta manusia.

Allah adalah awal. Dia udah ada saat sebelum langit, bumi, tumbuhan, binatang, serta manusia yang lain ada. Tidak mungkin saja Allah itu baru ada atau lahir setelah makhluk yang lain ada.

Hikmah & Atsar: 

Seorang Atheist (kafir) datang pada Imam Abu Hanifah lantas menanyakan: “Tahun berapa Allah itu ada? 
Abu Hanifah menjawab: “Allah ada saat sebelum adanya tahun, tidak berawal dalam wujud-Nya. ”
Orang kafir itu menanyakan lagi: “Berikan pada kami contoh” 
Beliau menjawab: “Angka berapakah sebelum empat?


Ia berkata: “Tiga”
 Abu Hanifah menanyakan lagi : “Angka berapakah sebelum tiga? ”
Ia menjawab : “Dua”
 Abu Hanifah menanyakan lagi: “Angka berapakah sebelum dua? ”
Ia menjawab: “Satu”
 Abu Hanifah bertanya lagi: “Angka berapakah sebelum satu?”


Ia berkata: “Tidak ada suatu hal sebelum angka satu”
 Lalu Abu Hanifah berkata: “Kalau tidak ada suatu hal sebelum satu. Allah itu Esa tidak ada yg mengawali dalam wujudnya.”

Lantas orang kafir itu menanyakan lagi pertanyaan kedua: “Ke mana Allah itu berpaling?” 
Abu Hanifah menjawab: “Kalau anda menyalahkan pelita di tempat yang gelap, kemana sinar pelita itu berpaling? 
Ia menjawab: “Ke tiap penjuru”


Abu Hanifah berkata: “Kalau sinar pelita berpaling ke tiap penjuru, bagaimana perihalnya dengan cahaya Allah, pencipta langit serta bumi.”

Lantas orang kafir itu menanyakan lagi dengan pertanyaan ketiga: “Terangkan pada kami mengenai dzat Allah. Apakah Ia jamad seperti batu, atau cair seperti air, atau Ia berbentuk gas?”
 Abu Hanifah menjawab: “Apakah anda pernah duduk di muka orang yang tengah sakarat?”


Ia menjawab: “Pernah” Abu Hanifah menanyakan: “Apakah ia dapat bercakap sesudah mati?” Ia menjawab: “Tidak bisa” 
Lalu beliau menanyakan lagi: “Apakah ia dapat bicara saat sebelum mati?” Ia menjawab: “Bisa”


Lalu abu Hanifah menanyakan lagi: “Apa yang dapat merobahnya hingga ia mati? ” Ia menjawab: “Keluarnya ruh dari jasadnya” Abu Hanifah mejelaskan: “Oh bila demikian keluarnya ruh dari jasadnya membuatnya ia tidak dapat bicara? 
Ia menjawab: “Betul”


Abu Hanifah menanyakan: “Sekarang, terangkan pada saya bagaimana sifatya ruh, apakah ia jamad seperti batu, atau cair seperti air, atau ia seperti gas? 
Ia menjawab: “Kami tidak tahu sama sekali”


Abu Hanifah menjawab: “Jika ruh sebagai makhluk kamu tidak dapat mensifatkanya, bagaimana kamu mau aku mensifatkan pada kamu zdatnya Allah.

Baqa

البقاء : صفة سلبية لأنها سلبت و نفت الفناء و معناه عدم الآخرية للوجود و معناه في حقه تعالى أنه موجود وجودا مستمرا لا آخر له ، قال الله تعالى { كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلاَّ وَجْهَهُ } و الديل العقلي على ذلك انه لو لم يكن باقيا لجاز عليه العدم و لو جاز عليه العدم لكان حادثا و كونه حادثا محال لأنه قديم و ما ثبت قدمه استحال عدمه فيستحيل عليه ضده و هو الفناء

Baqa’ (kekal) adalah sifat Salbiyah artinya sifat yang mencabut atau menolak adanya kebinasaan wujud Allah. Dalam arti lain bahwa keberadaan Allah itu kekal, berlanjut tidak binasa atau rusak.
Allah adalah Dzat yang Maha Mengatur alam semesta.

Dia selalu ada selama-lamanya dan tidak akan binasa untuk mengatur ciptaan-Nya itu. Hanya kepada-Nya seluruh kehidupan ini akan kembali.

Firman Allah:

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلاَّ وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Al-Qashash: 88).

Adapun sifat mustahilnya Fana, artinya rusak. Seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini, baik itu manusia, binatang, tumbuhan, matahari, bulan, bintang, dan lain-lain, suatu ketika bakal mengalami kerusakan serta kehancuran.

Manusia, betapa pun gagahnya, suatu ketika tentu mati. Tiap orang pastinya akan mati serta hancur dimakan tanah. Hukum kehancuran berlaku cuma untuk manusia, benda serta meteri. Sedangkan Allah bukanlah manusia, benda atau materi.

Dia yaitu Dzat yang tidak terkena hukum kehancuran atau kerusakan. Dia abadi kekal untuk selama lamanya, tidak dapat meninggal dunia atau dibunuh. Bila ada Allah yang dapat meninggal dunia atau dibunuh, itu bukanlah Allah namun manusia biasa.

Sungguh, betapa hina serta lemahnya manusia ini di hadapan Allah. Maka dari itu tidak layak bila ia berbangga diri atau sombong dengan kehebatannya, lantaran segala kehebatan itu pada akhirnya bakal berlalu, yang tersisa hanya amal kebaikan. Sebab segalanya hanyalah titipan.

Alhamdulillah, sampailah kita di akhir pembahasan kali ini, yang mengupas tuntas mengenai Pengertian Tauhid, lengkap dengan ilmu dan macam – macamnya, insya Allah ilmu yang kami bagikan, dapat bermanfaat untuk sahabat yang telah meluangkan waktu untuk membaca.

Terima kasih, dan jangan pernah berhenti membaca, sebab dengan membaca, yang samar akan menjadi jelas, dan tak lagi perlu untuk diterka.

Wassalamu’alaikum. Wr. Wb.

Referensi:
  1. ayundi1456.wordpress.com
  2. pelajaransekolahonline.com
  3. gusdayat.com
Back To Top