08 February 2017

Teori, Prinsip, Metode, dan Pengertian Pembelajaran

Teori, Prinsip, Metode, dan Pengertian Pembelajaran. Hai sahabat, berjumpa lagi dengan kami yang kali ini akan mengupas tuntas mengenai Penjelasan Lengkap Mengenai Pengertian Pembelajaran.

Dan gak cuma satu dua paragraph, tapi kami akan sajikan pengertian penjelasan secara luas dan mendalam, tanpa perlu berlama-lama lagi, langsung saja kita mulai pembahasan kali ini, ya.

Kota Nagasaki 1945 sebelum serta setelah di jatuhkan bom atom, adalah bentuk pembelajaran akibat dari Perang Dunia.

Pembelajaran yaitu proses, langkah, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Pengertian di awal menyebutkan kalau seseorang manusia bisa melihat dalam perubahan yang terjadi, namun tidak dengan pembelajaran itu sendiri.

Ide konsep itu merupakan teoretis, dan oleh sebab itu tidak secara langsung bisa dilihat:

“Anda sudah melihat individu mengalami pembelajaran, melihat individu berperilaku dalam langkah tertentu sebagai hasil dari pembelajaran, serta beberapa dari Anda (bahkan juga saya rasa sebagian besar dari Anda) sudah "belajar" sebuah step dalam kehidupan Anda.

Dengan kata lain, kita bisa menyimpulkan kalau pembelajaran sudah terjadi saat seorang individu berperilaku, bereaksi, serta merespon sebagai hasil dari pengalaman dengan satu langkah yang berbeda dari caranya berperilaku sebelumnya.”

Pembelajaran dalam dunia pendidikan

Sumber: belajarpsikologi.com
Pembelajaran yaitu proses hubungan peserta didik dengan pendidik serta sumber belajar pada sebuah lingkungan belajar.

Pembelajaran adalah dukungan yang diberikan pendidik supaya bisa terjadi proses perolehan ilmu serta pengetahuan, penguasaan kemahiran serta perilaku, dan pembentukan sikap serta keyakinan pada peserta didik.

Dengan kata lain, pembelajaran yaitu proses untuk membantu peserta didik supaya bisa belajar dengan baik.

Di sisi lain pembelajaran memiliki pengertian yang serupa dengan pengajaran, namun sesungguhnya memiliki konotasi yang tidak sama. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar supaya peserta didik bisa belajar serta menguasai isi pelajaran sampai menggapai sesuatu objektif yang ditetapkan (faktor kognitif).

Dapat juga mempengaruhi perubahan sikap (faktor afektif), dan ketrampilan (faktor psikomotor) seorang peserta didik, tetapi proses pengajaran ini memberi kesan cuma untuk pekerjaan satu pihak, yakni pekerjaan pengajar saja. Sedangkan pembelajaran menunjukkan adanya hubungan antara pengajar dengan peserta didik.

Pembelajaran yang bermutu sangat bergantung dari motivasi pelajar serta kreatifitas pengajar. Pembelajar yang mempunyai motivasi tinggi ditunjang dengan pengajar yang dapat memfasilitasi motivasi itu akan membawa pada kesuksesan pencapaian tujuan belajar.

Tujuan belajar bisa diukur lewat perubahan sikap serta kapabilitas siswa lewat proses belajar. Design pembelajaran yang baik, ditunjang sarana yang memadai, ditambah dengan kreatifitas guru bakal membuat peserta didik lebih gampang menggapai tujuan belajar.

Teori pembelajaran 

Sumber: rhayukarmla.blogspot.co.id
Tiga teori sudah ditawarkan untuk memaparkan proses di mana seseorang mendapatkan pola tingkah laku, yakni teori pengkondisian classic, pengkondisian operan, serta pembelajaran sosial.

Pengondisian klasik 

Ivan Pavlov, pakar fisiolog dari Rusia yang mengenalkan Teori Pengkondisian Klasik
Pengkondisian classic yaitu bentuk pengkondisian di mana individu merespon beberapa stimulus yang tidak umum serta menghasilkan tanggapan baru.

Teori ini tumbuh bersumber pada uji coba untuk mengajari anjing mengeluarkan air liur sebagai tanggapan pada bel yang berdering, dilakukan pada awal tahun 1900-an oleh seorang pakar fisolog Rusia bernama Ivan Pavlov.

Pengondisian operant 

Pengkondisian operan yaitu bentuk pengkondisian di mana tingkah laku suka-rela yang diinginkan menghasilkan penghargaan atau menghindari satu hukuman.

Kecenderungan untuk mengulang tingkah laku seperti ini di pengaruhi oleh ada atau tidaknya penegasan dari konsekuensi-konsekuensi yang dihasilkan oleh tingkah laku. Dengan hal tersebut, penegasan bakal menguatkan satu tingkah laku serta meningkatkan peluang tingkah laku itu diulangi.

Apa yang dikerjakan Pavlov untuk pengkondisian classic, oleh psikolog Harvard, B. F. Skinner, dilakukan pengkondisian operan. Skinner menyampaikan kalau menciptakan konsekuensi yang mengasyikkan untuk mengikuti bentuk tingkah laku tertentu bakal meningkatkan frekuensi tingkah laku itu.

Pembelajaran sosial 

Pembelajaran sosial yaitu pandangan kalau beberapa orang bisa belajar lewat penilaian serta pengalaman langsung. Walaupun teori pembelajaran sosial yaitu perluasan dari pengkondisian operan, teori ini beranggapan kalau tingkah laku yaitu satu manfaat dari konsekuensi.

Teori ini dapat mengakui kehadiran pembelajaran lewat penilaian serta pentingnya persepsi dalam pembelajaran.

Prinsip-prinsip pembelajaran 

Bagian ini tidak mempunyai rujukan atau sumber tepercaya hingga isinya tidak dapat di pastikan. Bantu perbaiki artikel ini dengan memberikan rujukan yang layak. Materi yang tidak mempunyai sumber bisa dipertanyakan serta dihapus kapan saja oleh Pengurus.

Perhatian serta Motivasi 

Perhatian memiliki fungsi yang penting dalam aktivitas belajar. Dari kajian teori belajar pengolahan informasi tersingkap kalau tanpa adanya perhatian tidak mungkin saja terjadi belajar. Perhatian pada pelajaran bakal muncul pada siswa jika bahan pelajaran sesuai sama kebutuhannya.

Jika bahan pelajaran itu dirasakan sebagai suatu hal yang diperlukan, dibutuhkan untuk belajar lebih lanjut atau dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, bakal membangkitkan perhatian serta motivasi untuk mendalaminya.

Jika dalam diri siswa tidak ada perhatian pada pelajaran yang dipelajari, siswa itu butuh dibangkitkan perhatiannya.

Dalam proses pembelajaran, perhatian adalah aspek yang besar pengaruhnya, bila peserta didik memiliki perhatian yang besar tentang apa yang dipelajari peserta didik bisa menerima serta memilih stimuli yang relevan untuk diolah lebih lanjut di antara demikian banyak stimuli yang datang dari luar.

Perhatian bisa bikin peserta didik untuk mengarahkan diri pada tugas yang bakal diberikan; melihat beberapa masalah yang bakal diberikan; memilih serta memberikan fokus pada permasalahan yang perlu diselesaikan.

Di samping perhatian, motivasi memiliki fungsi penting dalam aktivitas belajar. Motivasi yaitu tenaga yang menggerakkan serta mengarahkan aktivitas seseorang. Motivasi memiliki kaitan yang erat dengan ketertarikan.

Siswa yang mempunyai ketertarikan pada suatu bidang studi tertentu cenderung tertarik perhatiannya dan dengan hal tersebut muncul motivasi untuk mendalaminya.

Contohnya, siswa yang suka pada pelajaran matematika akan terasa bahagia belajar matematika serta terdorong untuk belajar lebih giat, karena itu merupakan keharusan bagi guru untuk dapat menanamkan sikap positif pada diri siswa pada mata pelajaran sebagai tanggung jawabnya.

Motivasi bisa disimpulkan sebagai tenaga pendorong yang mengakibatkan adanya perilaku ke arah sebuah tujuan spesifik. Adanya tidaknya motivasi dalam diri peserta didik bisa dilihat dari observasi tingkah lakunya.

Jika peserta didik memiliki motivasi, ia bakal bersungguh-sungguh memperlihatkan ketertarikan, memiliki perhatian, serta rasa ingin tahu yang kuat untuk turut serta dalam aktivitas belajar;

Berupaya keras serta memberikan waktu yang cukup untuk melakukan aktivitas itu. Selalu bekerja hingga beberapa tugas itu terselesaikan.

Motivasi bisa bersifat internal, yakni motivasi yang datang dari dalam diri peserta didik serta eksternal baik dari guru, orang tua, rekan dan sebagainya.

Sehubungan dengan prinsip motivasi ini ada beberapa hal yang butuh di perhatikan dalam meningkatkan aktivitas pembelajaran, yakni: memberikan dorongan, memberikan insentif serta motivasi berprestasi.

Keaktifan 

Menurut pandangan psikologi anak yaitu makhluk yang aktif. Anak memiliki dorongan untuk berbuat suatu hal, memiliki tekad serta aspirasinya sendiri.

Belajar tidak dapat dipaksakan oleh orang lain serta tidak dapat dilimpahkan pada orang lain. Belajar cuma mungkin terjadi jika anak mengalami sendiri.

John Dewey menyampaikan kalau belajar yaitu menyangkut apa yang perlu dijalankan siswa untuk dirinya sendiri, inisiatif mesti datang dari dirinya sendiri, guru hanya sebagai pembimbing serta pengarah.

Menurut teori kognitif, belajar memperlihatkan adanya jiwa yang aktif, jiwa mengolah informasi yang kita terima, tidak cuma menyimpan saja tanpa mengadakan tansformasi.

Menurut teori ini anak mempunyai karakter aktif, konstruktif, serta dapat merencanakan suatu hal. Anak dapat mencari, menemukan serta memakai pengetahuan yang sudah diperolehnya.

Thordike menyampaikan keaktifan siswa dalam belajar dengan hukum " law of exercise " -nya yang menyebutkan kalau belajar membutuhkan adanya latihan-latihan.

Hubungan stimulus serta tanggapan bakal bertambah erat bila kerap digunakan serta bakal berkurang bahkan juga lenyap bila tidak pernah dipakai. Artinya dalam aktivitas belajar dibutuhkan adanya latihan-latihan serta pembiasaan supaya apa yang dipelajari bisa diingat lebih lama.

Semakin sering berlatih bakal makin memahami. Hal ini juga seperti yang dikemukakan oleh Mc. Keachie kalau individu adalah "manusia belajar yang aktif senantiasa ingin tahu". Dalam proses belajar, siswa mesti memperlihatkan keaktifan.

Keaktifan itu bisa berbentuk aktivitas fisik yang gampang dilihat ataupun aktivitas psikis yang sukar dilihat. Aktivitas fisik dapat berbentuk membaca, mendengar, menulis, berlatih sebagian ketrampilan serta sebaginya.

Aktivitas psikis contohnya memakai pengetahuan yang dipunyai dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi, membandingkan sebuah ide konsep dengan yang lain, menyimpulkan hasil percobaan serta lain sebagainya.

Keterlibatan Langsung/Pengalaman 

Belajar sebaiknya dilakukan sendiri oleh siswa, belajar yaitu mengalami serta tidak dapat dilimpahkan pada orang lain. Edgar Dale dalam penggolongan pengalaman belajar menyampaikan kalau belajar yang terbaik yaitu belajar lewat pengalaman langsung.

Dalam belajar lewat pengalaman langsung siswa tidak cuma mencermati, namun ia mesti menghayati, ikut serta langsung dalam perbuatan serta bertanggung jawab pada hasil.

Sebagai contoh seorang yang belajar bikin tempe yang paling baik jika ia ikut serta secara langsung dalam pembuatan, tidak cuma lihat bagaimana orang bikin tempe, terlebih cuma mendengar cerita bagaimana caranya pembuatan tempe.

Pembelajaran yang efisien yaitu pembelajaran yang menyediakan peluang belajar sendiri atau beraktivitas sendiri.

Dalam konteks ini, siswa belajar sembari bekerja, lantaran dengan bekerja mereka memperoleh pengetahuan, pemahaman, pengalaman dan bisa meningkatkan ketrampilan yang berarti untuk hidup di masyarakat.

Hal ini juga seperti yang di ungkapkan Jean Jacques Rousseau kalau anak mempunyai potensi-potensi yang masih tetap terpendam, lewat belajar anak mesti di beri peluang meningkatkan atau mengaktualkan potensi-potensi itu.

Sebenarnya anak memiliki kemampuan sendiri untuk mencari, mencoba, menemukan serta mengembangkan dirinya sendiri.

Dengan hal tersebut, semua pengetahuan itu mesti didapat dengan pengamatan sendiri, pengalaman sendiri, penyelidikan sendiri, bekerja sendiri, dengan sarana yang di ciptakan sendiri.

Pembelajaran itu akan tambah bermakna bila siswa "mengalami sendiri apa yang dipelajarinya" bukanlah "tahu" dari informasi yang di sampaikan guru.

Seperti yang dikemukakan Nurhadi kalau siswa bakal belajar dngan baik jika yang mereka tekuni terkait dengan apa yang sudah mereka pahami, dan proses belajar bakal produktif bila siswa ikut serta aktif dalam proses belajar di sekolah.

Dari beragam pandangan beberapa pakar itu memperlihatkan berapa pentingnya keterlibatan siswa secara langsung dalam proses pembelajaran.

Pentingnya keterlibatan langsung dalam belajar dikemukakan oleh John Dewey dengan " learning by doing " -nya. Belajar baiknya dihadapi lewat perbuatan langsung serta mesti dilakukan oleh siswa secara aktif.

Prinsip ini didasarkan pada anggapan kalau beberapa siswa bisa memperoleh semakin banyak pengalaman lewat cara keterlibatan secara aktif dan seimbang, dibandingkan dengan apabila mereka cuma melihat materi/ide konsep. Modus Pengalaman belajar yaitu sebagai berikut ini:
  1. Kita belajar 10% dari apa yang kita baca,
  2. 20% dari apa yang kita dengar,
  3. 30% dari apa yang kita saksikan,
  4. 50% dari apa yang kita saksikan serta dengar,
  5. 70% dari apa yang kita katakan, serta
  6. 90% dari apa yang kita katakan serta lakukan.
Hal semacam ini menunjukkan kalau seandainya guru mengajar dengan banyak ceramah, peserta didik bakal mengingat cuma 20% lantaran mereka cuma mendengarkan.

Demikian sebaliknya, bila guru meminta peserta didik untuk melakukan suatu hal dan melaporkan nya, mereka bakal mengingat sebanyak 90%. Hal semacam ini ada hubungannya dengan pendapat yang dikemukakan oleh seorang filsof Cina Confocius, kalau:

“Apa yang saya dengar, saya lupa; apa yang saya saksikan, saya ingat; serta apa yang saya lakukan saya memahami. Dari kalimat bijak ini kita bisa tahu begitu pentingnya keterlibatan langsung dalam pembelajaran.”

Pengulangan 

Prinsip belajar yang mengutamakan pentingnya pengulangan yaitu teori psikologi daya. Menurut teori ini belajar yaitu melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas daya mencermati, menanggap, mengingat, mengkhayal, merasakan, memikirkan dan sebagainya.

Dengan mengadakan pengulangan daya-daya itu bakal berkembang, seperti pisau yang senantiasa diasah bakal jadi tajam, daya yang dilatih dengan pengadaan pengulangan-pengulangan bakal sempurna.

Dalam proses belajar, makin sering materi pelajaran diulangi makin ingat serta menempel pelajaran itu dalam diri seseorang. Mengulang besar pengaruhnya dalam belajar, lantaran oleh karena adanya pengulangan "bahan yang belum begitu dikuasai dan gampang terlupakan" bakal tetap tertanam dalam otak seseorang.

Mengulang bisa secara langsung setelah membaca, namun juga bahkan lebih penting yaitu mendalami kembali bahan pelajaran yang udah dipelajari contohnya dengan bikin ringkasan. Teori lain yang mengutamakan prinsip pengulangan yaitu teori koneksionisme-nya Thordike.

Dalam teori koneksionisme, ia menyampaikan kalau belajar adalah pembentukan hubungan antara stimulus serta respon, serta pengulangan pada pengalaman-pengalaman itu memperbesar kesempatan munculnya respon benar.
Tantangan

Teori medan (Field Theory) dari Kurt Lewin menyampaikan kalau siswa dalam belajar ada dalam suatu medan.

Dalam kondisi belajar siswa menghadapi sebuah tujuan yang ingin diraih, namun senantiasa ada kendala dalam mempelajari bahan belajar, timbullah motif untuk menangani kendala itu dengan mempelajari bahan belajar itu.

Jika kendala itu sudah diatasi, artinya tujuan belajar sudah tercapai, ia bakal dalam medan baru serta tujuan baru, demikian seterusnya. Menurut teori ini belajar yaitu berupaya menangani beberapa kendala untuk mencapai tujuan.

Supaya pada diri anak muncul motif yang kuat untuk menangani kendala dengan baik, bahan pelajaran mesti menantang. Tantangan yang dihadapi dalam bahan belajar bikin siswa semangat untuk mengatasinya.

Bahan pelajaran yang baru yang banyak mengandung permasalahan yang butuh dipecahkan bikin siswa tertantang untuk mendalaminya. Pemakaian metode uji coba, inquiri, discovery juga memberikan tantangan bagi siswa untuk belajar secara lebih giat serta sungguh-sungguh.

Penguatan positif serta negatif juga akan menantang siswa serta menyebabkan motif untuk memperoleh ganjaran atau terlepas dari hukuman yang tidak menyenangkan.

Balikan serta Penguatan 

Prinsip belajar yang berkaitan dengan balikan serta penguatan yaitu teori belajar operant conditioning dari B. F. Skinner.

Kunci dari teori ini yaitu hukum effeknya Thordike, hubungan stimulus serta tanggapan bakal bertambah erat, bila dibarengi perasaan senang atau puas serta demikian sebaliknya dapat lenyap bila dibarengi perasaan tidak senang.

Artinya bila sebuah perbuatan itu mengakibatkan dampak baik, perbuatan itu cenderung diulangi. Demikian sebaliknya bila perbuatan itu mengakibatkan dampak negatif, cenderung untuk ditinggalkan atau tidak diulangi lagi.

Siswa bakal belajar lebih semangat jika memahami serta memperoleh hasil yang baik. Jika hasil baik akan jadi balikan yang menyenangkan serta punya pengaruh baik untuk usaha belajar berikutnya.

Tetapi dorongan belajar itu tidak saja dari penguatan yang menyenangkan namun juga yang tidak menyenangkan, atau mungkin dengan kata lain adanya penguatan positif ataupun negatif bisa memperkuat belajar.

Siswa yang belajar sungguh-sungguh bakal memperoleh nilai yang baik dalam ulangan. Nilai yang baik itu mendorong anak untuk belajar lebih giat lagi. Nilai yang baik bisa adalah operan conditioning atau penguatan positif.

Demikian sebaliknya, anak yang memperoleh nilai yang buruk pada saat ulangan bakal merasa takut tidak naik kelas, lantaran takut tidak naik kelas ia terdorong untuk belajar yang lebih giat.

Di sini nilai buruk serta takut tidak naik kelas dapat juga mendorong anak untuk belajar lebih giat, inilah yang disebut dengan penguatan negatif.

Perbedaan Individual 

Siswa adalah makhluk individu yang unik yang mana masing-masing memiliki perbedaan yang khas, seperti perbedaan intelegensi, ketertarikan bakat, hoby, perilaku ataupun sikap, mereka berbeda juga dalam soal latar belakang kebudayaan, sosial, ekonomi serta kondisi orang tuanya.

Guru mesti mengerti perbedaan siswa secara individu, supaya bisa melayani pendidikan yang sesuai sama perbedaannya itu. Siswa bakal berkembang sesuai sama kemampuannya masing-masing.

Tiap siswa juga mempunyai tempo perkembangan sendiri-sendiri, guru bisa memberi pelajaran sesuai sama temponya masing-masing. Perbedaan perorangan ini punya pengaruh pada cara serta hasil belajar siswa. Maka itu, perbedaan individu butuh di perhatikan oleh guru dalam upaya pembelajaran.

System pendidikan kalsik yang dilakukan di sekolah kita kurang mencermati permasalahan perbedaan perorangan, biasanya proses pembelajaran di kelas dengan melihat siswa sebagai individu dengan kapabilitas rata-rata, rutinitas yang lebih kurang sama, demikian juga dengan pengetahuannya.

Metode pembentukan perilaku 

Sumber: kubuskecil.blogspot.co.id
Saat seseorang berusaha untuk membentuk individu dengan menuntunnya sepanjang pembelajaran yang dilakukan secara bertahap, orang itu tengah melakukan pembentukan tingkah laku.

Pembentukan tingkah laku yaitu secara sistematis menyatakan tiap urutan langkah yang menggerakkan seorang individu lebih dekat pada respons yang diinginkan.

Ada empat langkah pembentukan tingkah laku: lewat penegasan positif, penegasan negatif, hukuman, serta peniadaan.

Yay! Akhirnya kita sampai di akhir pembahasan kali ini, sahabat. Gimana? Masih ada yang bingung gak sama apa yang kita bahas kali ini? Intinya, Pembelajaran itu kalau aja kita mau terus belajar, tentang apa pun yang baik, nantinya akan berdampak baik untuk kehidupan kita.

Jangan berhenti belajar ya sahabat, sampai jumpa lagi di lain kesempatan, see yaa.

Refernsi:

  1. wikipedia.org
Back To Top