29 March 2017

Pengertian Aurat dan Batasan Aurat

Pengertian Aurat dan Batasan Aurat. Pengertian Aurat, Batasan-Batasan Aurat, yang termasuk Aurat untuk Seorang Pria, dan yang termasuk Aurat untuk Seorang Wanita. Dan pembahasan Aurat menurut Agama.

Pengertian Aurat 

Sumber: ahliahisham.blogspot.co.id
Aurat secara bahasa datang dari kata ‘araa, dari kata itu keluar derivasi kata bentukan baru dan arti baru juga.

Bentuk ‘awira (menjadikan buta bagian mata), ‘awwara (menyimpangkan, membelokkan dan memalingkan), a’wara (tampak lahir atau auratnya), al-‘awaar (cela atau aib), al-‘wwar (yang lemah, penakut), al-‘aura’ (kalimat dan perbuatan tidak baik, keji serta kotor), sedangkan al-‘aurat yakni seluruh perkara yang di rasa malu atau memalukan.

Pendapat senada juga dinyatakan bila aurat yakni sebuah hal yang terbuka, tidak tertutup, kemaluan, telanjang, aib dan cacat. Artinya aurat dipahami sebagai sebuah hal yang ditutupi oleh seseorang karena terasa memalukan atau merendahkan diri apabila hal semacam itu tampak atau dilihat orang lain.

Bersumber pada pada arti kata aurat yakni yang mempunyai arti segala suatu hal yang dapat menjadikan seseorang malu atau mendapat aib (cacat), entah pengucapan, sikap ataupun tindakan, aurat sebagai bentuk dari satu kekurangan yang telah semestinya ditutupi dan tidak untuk dibuka atau dipertontonkan di depan umum.
Q.S. Al A'raf: 26
"…Dan kaum wanita yang berpakaian tetapi telanjang (karena pakaiannya tipis dan tembus pandang), menyimpang (dari kehormatannya) dan mengajak wanita lain untuk berbuat seperti dirinya, kepala mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk syurga dan tidak akan mendapati aromanya, padahal aromanya bisa didapat dari jarak perjalanan sekian dan sekian. ” (HR. Muslim)

Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda: 

"Tidak diterima shalat seorang perempuan yang telah haidh (maksudnya telah baligh) terkecuali dengan memakai khimar (kerudung yang menutup kepala)." (HR. Hadits shahih, diriwayatkan oleh imam Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Ayat dan kedua hadits di atas memerlihatkan wajibnya seorang muslim maupun muslimah untuk menutup auratnya, dan sebenarnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengancam beberapa wanita yang membuka auratnya dengan ancaman neraka.

Dan seperti telah kita pahami bersama, sebenarnya tidak syari'at ini memerintahkan sebuah hal kecuali di sana ada maslahat, dan tidaklah melarang dari sebuah hal kecuali karena di sana ada mafsadat (bahaya).

Batasan Aurat 

Sumber: yesmuslim.blogspot.co.id
Islam mengajarkan bila pakaian yakni penutup aurat, tidak cuma perhiasan. Islam mewajibkan setiap wanita dan pria untuk menutupi anggota tubuhnya yang menarik perhatian lawan jenisnya. Bertelanjang yakni satu perbuatan yang tidak beradab dan tidak layak.

Langkah pertama yang diambil Islam dalam usaha mengokohkan bangunan orang-orangnya, yakni melarang bertelanjang dan meyakinkan aurat lelaki dan perempuan. Inilah mengapa fiqh mengartikan bila aurat yakni segi tubuh seseorang yang perlu ditutup atau dilindungi dari pandangan.

Islam dengan ajarannya memberi batasan aurat lelaki dan perempuan, seperti yang di berikan Muhammad Ibnu Muhammad Ali bila:

Aurat lelaki 

Aurat lelaki pada saat shalat, juga saat di antara lelaki dan perempuan yang mahramnya, yaitu segi tubuh pada pusar dan lutut. Pusar dan lutut bukanlah aurat, tetapi dianjurkan supaya ditutup juga karena sepadan dengan aurat.

Ini bersumber pada aturan kaidah ushul fiqh: Ma la yatimmu al-wajib illa bihi fahuwa wajib (Apa yang tidak sempurna yang wajib namun dengannya, ia yakni wajib).
  1. Aurat lelaki pada perempuan yang ajnabiyah, yakni yang bukanlah mahramnya yaitu sekaligus badannya. 
  2. Aurat lelaki pada saat khalwah, yakni ketika bersunyi-sunyi seorang diri, yaitu dua kemaluannya. 
Aurat wanita sahaya 

Aurat wanita sahaya atau hamba wanita yaitu segi antara pusar dan lutut.

Aurat wanita merdeka 

Aurat wanita yang merdeka di dalam shalat yaitu sisi yang lain dari muka dan dua telapak tangannya yang lahir dan batin hingga pergelangan tangannya, bukanlah aurat dalam shalat dan selebihnya yakni aurat yang wajib tertutup.

Aurat wanita yang merdeka di luar shalat. 

Di hadapan lelaki yang ajnabi atau yang bukanlah mahramnya, auratnya yakni seluruh tubuh. Artinya termasuk juga muka dan rambut serta kedua telapak tangannya, lahir-batin dan termasuk kedua telapak kakinya, lahir- batin.

Sampai seluruh badannya wajib ditutup atau dilindungi dari pandangan lelaki yang ajnabi, muka dan kedua telapak tangannya tidak mesti di buka saat untuk jadi saksi semacamnya, kecuali lantaran darurat.

Di hadapan perempuan kafir, auratnya yaitu anggota tubuh tidak cuma anggota tubuh yang lahir ketika ia bekerja di rumah. Sisi yang lahir ketika ia aktif di rumah yaitu kepala, muka, leher, dua telapak tangan sampai kedua sikunya dan dua telapak kakinya.

Demikian juga auratnya ketika di hadapan perempuan yang tidak jelas pribadi atau wataknya atau perempuan yang rusak akhlaknya.

Di dalam khalwah, di hadapan muslimah, dan pada lelaki sebagai mahramnya, auratnya yaitu anggota tubuh pada pusar dan lutut, seperti aurat lelaki dalam shalat.

Aurat walaupun begitu, untuk melindungi adab dan untuk memelihara timbulnya fitnah, yang perlu ditutup tidak hanya yang antara pusar dan kedua lutut. Tutup aurat karena fitnah, yaitu yang memungkinkan tergiurnya nafsu yakni satu kewajiban.

Perihal ini juga yang menjadi perhatian Islam sebagai agama yang berusaha mengangkat martabat manusia di hadapan manusia yang lain dengan mempertinggi akhlak dan menutup aurat yakni salah satunya:

Pendapat Ulama Tentang Menutup Aurat 

Sumber: merlianamyisallam.blogspot.co.id
Secara normatif ketetapan hukum baku sehubungan dengan perintah berpakaian dan menutup aurat bersama batasan-batasannya diungkapkan secara eskplisit dalam al-Qur’an. Beberapa ayat yang terkait dengan hal semacam itu memberi rambu-rambu untuk beberapa wanita mukallaf untuk memenuhi batasan yang didapatkan dari kitab yang diturunkan pada Nabi akhir zaman.

Menurut syariat Islam menutup aurat hukumnya wajib untuk setiap orang mukmin baik lelaki maupun perempuan terutama yang udah dewasa dan dilarang memperlihatkannya pada orang lain dengan sengaja tanpa ada alasan yang dibenarkan syariat.

Demikian juga syariat Islam pada dasarnya memerintahkan pada setiap mukmin, terlebih yang telah memiliki nafsu birahi untuk tidak melihat dan tidak memperlihatkan auratnya pada orang lain terutama yang berlainan jenis.

Tentang melihat aurat orang lain atau memperlihatkan aurat pada orang lain yang dibenarkan syariat seperti sesama mahram serta terutama suami atau istri, hukumnya dapat seperti ada pada surah an-Nur ayat 30-31.

Demikian pula orang muslim dapat lihat aurat orang lain atau memperlihatkan auratnya pada orang lain (walaupun bukan mahram) apabila ada alasan yang dibenarkan syariat seperti ketika berobat atau mengobati penyakit yang pengobatannya perlu melihat atau memperlihatkan aurat karena darurat.
Q. S. An-Nur: 30
Surah al-Nur ayat 30 memerintahkan pada kelompok mukmin untuk menundukkan pandangannya dari perkara yang diharamkan dan melindungi kemaluannya. Karena hal semacam itu dapat menyebabkan perantara penyakit hati dan menyebabkan seseorang terperosok dalam perbuatan tercela. Dan menundukkan pandangan adalah cara menyelamatkan diri dari hal semacam itu.

Ayat itu juga mengandung perintah wajib untuk ditaati berupa larangan melihat wanita asing atau pria asing, yaitu satu larangan mutlak yang diharamkan, tanpa adanya satu kebutuhan yang dibenarkan oleh syara'.

Pandangan yang bisa menyebabkan rangsangan pria, sampai mengakibatkan sikap menyepelekan nilai moral dan penyimpangan perilaku individu dalam masyarakat.

Sampai Allah memerintahkan pada kaum wanita menggunakan hijab untuk menjaga terlepasnya kobaran nafsu seksual, sampai pria dan wanita yang dekat dan yang jauh tidak akan sama-sama menarik karena secara fitrah wanita dan pria selalu tarik menarik dan ini yaitu sunnah kehidupan atau hukum alam.

Karena itu Allah melarang bila dua orang yang berbeda jenis menyepi karena telah jelas syaitan akan jadi yang ketiga di antara mereka dan mengganggunya, lalu mereka berbuat tidak layak seperti firman Allah dalam surah Yusuf ayat 53 yang berisi bila “sesungguhnya nafsu itu senantiasa menyuruh pada kejahatan terkecuali nafsu yang sudah diberkahi oleh Allah”.

Beberapa ahli hukum Islam berbeda pendapat dalam memastikan batas-batas aurat itu, baik aurat lelaki maupun perempuan.

Menurut rata-rata ulama’ batas aurat orang lelaki yaitu anggota-anggota tubuh yang ada antara pusat dan lutut, terutama alat kelamin dan dubur di samping juga paha.

Sedangkan menurut beberapa ulama’ yang lain, aurat orang lelaki cuma alat vital dan dubur, sedangkan paha tidak termasuk dalam kelompok aurat yang harus ditutup.

Jumhur ulama’ berpendapat bila aurat lelaki yang tidak dapat ditampilkan pada orang lain terutama pada kaum wanita, yaitu anggota-anggota tubuh yang berkisar antara pusar dan lutut.

Lalu sebagian kecil ulama’ yang gagasannya dianggap lemah oleh rata-rata ulama’, mengatakan bila aurat lelaki di hadapan kaum wanita yang bukanlah mahramnya yakni seluruh anggota badannya.

Tentang aurat kaum wanita, menurut rata-rata ulama’ yaitu seluruh anggota tubuhnya tidak hanya muka dan kedua telapak tangan, kedua telapak kaki menurut beberapa ulama’ seperti Imam Abu Hanifah juga yaitu aurat.

Tidak hanya itu ada beberapa ulama’, satu diantaranya Imam Ahmad bin Hanbal yang melihat seluruh anggota tubuh wanita (termasuk muka dan kedua telapak tangan) yakni aurat.

Beberapa ulama’ membedakan antara aurat kaum wanita di hadapan kelompok pria dengan aurat kaum wanita di hadapan sesama wanita. Aurat wanita seperti itu di atas, sama seperti perbedaan pendapat beberapa ulama’ tidak diperbolehkan dipertunjukkan pada kelompok lelaki selain suami dan mahramnya atau orang lain yang oleh syariat diijinkan memandangnya.

Tentang aurat wanita pada sesama wanita yang tidak dapat dilihat atau ditampilkan yaitu sama saja dengan aurat lelaki yakni anggota-anggota tubuh yang berkisar antara pusar dan lutut.

Persoalan aurat sangat erat dengan permasalahan pakaian, karena aurat mesti ditutup dan alat penutupnya yakni pakaian. Pakaian setiap muslim yakni harus menutup batas-batas aurat seperti yang dikemukakan di atas.

Namun karena beberapa ulama’ tidak sama pendapatnya mengenai batas-batas aurat terutama aurat untuk wanita, perbedaan pendapat juga keluar dalam persoalan pakaian kaum wanita. Beberapa mengharuskan menutup seluruh anggota tubuh tidak hanya mata, sedangkan beberapa yang lain memberikan selain muka, yaitu kedua telapak tangan dan kaki.

Untuk menghindari dari beberapa hal yang tidak diinginkan dan melindungi kesucian, seorang wanita diharuskan untuk berhijab dan anggota tubuh yang dapat ditampilkan yakni muka dan kedua telapak tangan.

Penggunaan hijab antara pria dan wanita mengandung hikmah bahwa sesungguhnya Allah punya maksud menata hubungan interpersonal dalam masyarakat dan melindungi kesucian pria dan wanita agar dapat mencapai kesempurnaannya untuk terwujudnya masyarakat yang sehat dan dibangun atas akhlak mulia serta nilai-nilai moralitas yang tinggi.

Di antara beberapa ulama’ yang masih tetap memperdebatkan persoalan tentang aurat yang harus ditutupi oleh kaum wanita ketika mereka bersua dan berhubungan dengan kelompok pria yaitu:

Pendapat Al-Ahnaf (pengikut Hanafi) berpendapat bila wanita dapat membuka muka dan kedua telapak tangan namun pria tetap haram melihat kepadanya dengan pandangan syahwat.
Sumber: akuislam.com
Dalam madzhab Maliki ada tiga pendapat 
  1. Mengemukakan mesti menutup muka dan kedua telapak tangan. 
  2. Tidak mesti menutup muka dan kedua telapak tangan tetapi pria harus menundukkan pandangannya. 
  3. Perbedaan cantik dan tidak cantiknya seorang wanita, apabila ia cantik ia mesti menutup muka dan kedua telapak tangan sedangkan wanita yang tidak cantik tidak harus menutupnya atau disunahkan. 
Jumhur (kelompok terbesar): 
  1. Madzhab Syafi’i mengemukakan tidak harus menutup muka dan kedua telapak tangan walaupun mereka berfatwa untuk menutupinya. 
  2. Madzhab Hambali: mengemukakan mesti menutup keduanya. 
Jumhur Fuqaha (kelompok terbesar beberapa ahli fiqh) berpendapat bila muka dan dua telapak tangan bukanlah aurat karena itu tidak mesti menutupnya tetapi mesti ditutup apabila di rasa tidak aman.

Sebab ketidaksamaan pendapat itu bersumber dari ketidaksamaan dalam menafsirkan al-Qur’an Surat an-Nûr ayat 31. Seorang wanita yang akan keluar dari rumahnya dan berhubungan dengan pria bukanlah mahram, ia harus memperhatikan sopan santun dan tata cara berpakaian yang digunakan baiknya memenuhi beberapa syarat:
  1. Menutupi semua tubuh kecuali yang diperbolehkan yaitu muka dan kedua telapak tangan. 
  2. Bukanlah berperan sebagai perhiasan 
  3. Tebal tidak tipis. 
  4. Longgar tidak ketat. 
  5. Tidak diberi wangi-wangian atau parfum. 
  6. Tidak serupa pakaian lelaki. 
  7. Tidak serupa pakaian wanita kafir. 
  8. Bukanlah pakaian untuk mencari popularitas. 

Hikmah Menutup Aurat 

Sumber: syfart.deviantart.com
Berikut ini yakni beberapa manfaat, kelebihan, fungsi, kebaikan, hikmah yang bisa didapat dari menutup aurat:

Menghindari diri dari dosa akibat mengumbar aurat 
Satu diantara yang menyebabkan beberapa wanita masuk neraka yakni karena mereka tidak menutup aurat mereka di mata beberapa orang yang bukanlah mahramnya. Dari demikian besarnya mudharat yang dapat diperoleh dari membuka aurat, Tuhan melarang kita membuka aurat.

Menjauhi fitnah, tuduhan atau pandangan negative 
Beberapa orang yang gemar membuka auratnya secara terang-terangan mungkin saja dituduh sebagai wanita nakal, pelacur, cewek penggoda, wanita murahan, tukang rebut suami orang, perempuan percobaan, dan sebagainya. Karena itu jauhi memakai pakaian minim yang memperlihatkan segi tubuh yang dapat merangsang lawan jenis untuk meredam berbagai fitnah.

Menghindari timbulnya hawa nafsu lawan jenis maupun sesama jenis 
Secara umum lelaki normal akan terangsang jika melihat wanita yang memakai pakaian ketat, modis, celana pendek atau rok mini ketat, rambut disalon, muka di make up seksi, dan lain sebagainya. Banyak lelaki yang ingin menzinahi perempuan yang seperti itu baik secara paksa maupun tanpa paksaan.
Sumber: markazahbabulmusthofa.org
Memperlihatkan diri sebagai bukan perempuan/lelaki murahan 
Menutup aurat yakni sebuah jati diri beberapa orang yang baik. Ditambah lagi dengan perilaku yang baik dan sopan tidak mungkin saja ada orang yang menyebut kita sebagai perempuan murahan atau pria murahan.

Melindungi tubuh dan kulit dari lingkungan 
Dengan pakaian yang menutupi tubuh secara prima kita tidak akan merasakan kepanasan saat mentari bersinar terik, tidak merasakan kedinginan saat suhu tengah dingin. Demikian juga dengan debu dan kotoran akan terhalang mengenai kulit kita langsung sampai kebersihan tubuh dapat tetap terjaga dengan baik.

Menghindari rasa cemburu pasangan hidup kita 
Apabila suami atau istri gemar terlihat seksi pasangannya mungkin saja merasa cemburu apabila ada orang yang menggoda atau bahkan hanya melihat dengan pandangan penuh nafsu syahwat. Jangan biarkan rasa cemburu keluar dalam kehidupan rumah tangga kita, karena hal semacam itu merupakan awal dari kehancuran satu keluarga yang bahagia.

Menghindari terserang penyakit dan permasalahan kesehatan 
Penyakit-penyakit yang dapat keluar apabila kita tampak terbuka auratnya di ruang terbuka yakni bisa seperti kanker kulit, kulit terbakar, kulit jadi hitam, noda flek di kulit, dan lain sebagainya. Hindari penyakit serta permasalahan kesehatan itu dengan memakai pakaian yang tertutup yang dapat melindungi tubuh dari beberapa faktor penyebab penyakit atau permasalahan kesehatan itu.
Sumber: benazirtanjungfrahman.wordpress.com
Memberikan suatu hal yang spesial untuk suami atau istri kita 
Buka-bukaanlah pada saat di depan suami atau istri kita saja. Orang yang kita sayangi akan amat merasa dihargai dan disayangi oleh pasangan hidupnya. Ditambah lagi bisa melindungi kesucian dirinya hingga adanya pernikahan. Di depan orang lain yang bukanlah mahram, aurat selalu terjaga dengan baik.

Melindungi diri kita dari berbagai tindak kejahatan 
Biasanya wanita yang auratnya terbuka yakni yang kerapkali jadi korban tindak kriminil seperti perampokan, penjambretan, hipnotis, dan lain sebagainya. Bandingkan dengan wanita bercadar yang terlihat tidak menarik di mata penjahat karena penampilannya yang misterius, membuat pelaku kejahatan malas menjahatinya.

Menutupi aib rahasia yang ada pada diri kita 
Apabila ada cacat pada tubuh maupun kulit kita bisa kita tutupi dengan menggunakan pakaian yang tertutup hingga tidak ada seorang pun yang tahu kecacatan yang terjadi pada diri kita. Apabila diumbar di depan orang banyak ya udah jelas banyak orang yang akan tahu cacat yang kita miliki.

Dan itulah pembahasan kami mengenai Pengertian Aurat dan Batasan Aurat, untuk berbagai informasi yang kami sajikan pada kesempatan ini, harapannya semoga Postingan kali ini mengenai Aurat dan Batasannya di atas sedikitnya dapat menambah pengetahuan tersendiri bagi anda para pembaca.

Khususnya bagi anda yang saat ini sedang mencari sumber pengetahuan untuk lebih memahami Segala Hal tentang Aurat. Terima kasih atas kunjungannya dan salam sukses untuk sahabat semuanya.

Referensi:
  1. softilmu.com 
Back To Top