16 May 2017

Perkembangan Islam di Indonesia

Perkembangan Islam di Indonesia. Proses Masuknya Agama Islam di Indonesia, Perkembangan Agama Islam di Indonesia, dan Sejarah Islam di Indonesia.

Perkembangan Islam di Indonesia

Sumber: mybooksanddreams.blogspot.co.id
Sejak dulu bangsa Indonesia terkenal sebagai bangsa yang ramah serta gemar bergaul dengan bangsa lain. Oleh sebab itu, banyak bangsa lain yang datang ke wilayah Nusantara untuk merajut hubungan dagang.

Ramainya perdagangan di Nusantara yang melibatkan beberapa pedagang dari berbagai negara dikarenakan melimpahnya hasil bumi serta letak Indonesia pada jalur pelayaran serta perdagangan dunia.

Pada sekitar era ketujuh, Selat Malaka sudah dilewati oleh pedagang Islam dari India, Persia, serta Arab dalam pelayarannya menuju negara-negara di Asia Tenggara serta Cina.

Lewat hubungan perdagangan itu, agama serta kebudayaan Islam masuk ke wilayah Indonesia. Pada era kesembilan, beberapa orang Islam mulai bergerak membangun perkampungan Islam di Kedah (Malaka), Aceh, serta Palembang.

Saat kehadiran Islam di Indonesia, masih tetap ada perbedaan pendapat. Beberapa pakar menyebutkan kalau agama Islam itu masuk ke Indonesia mulai sejak era ke-7 sampai dengan era ke-8 Masehi.

Pendapat itu didasarkan pada berita dari Cina jaman Dinasti T’ang yang mengatakan adanya beberapa orang Ta Shih (Arab serta Persia) yang mengurungkan niatnya untuk menyerang Ho Ling di bawah pemerintahan Ratu Sima (674).

Beberapa pakar yang lain menyebutkan kalau Islam masuk ke Indonesia baru pada era ke-13. Pernyataan ini didasarkan pada masa-masa robohnya Dinasti Abbassiah di Bagdad (1258). Hal semacam itu juga didasarkan pada berita dari Marco Polo (1292), berita dari Ibnu Batuttah (era ke-14), serta Nisan Kubur Sultan Malik al Saleh (1297) di Samudera Pasai.

Pendapat itu diperkuat dengan masa-masa penyebaran ajaran tasawuf. Sesungguhnya kita perlu memisahkan pengertian proses masuk dengan mengembangnya agama Islam di Indonesia, seperti berikut ini:
  • Masa-masa kedatangan Islam (kemungkinan udah terjadi mulai sejak era ke-7 sampai dengan era ke-8 Masehi);
  • Masa-masa penyebaran Islam (mulai era ke-13 sampai dengan era ke-16 Masehi, Islam menyebar ke berbagai penjuru pulau di Nusantara) ; 
  • Masa-masa perkembangan Islam (mulai era ke-15 Masehi dan sebagainya lewat kerajaan-kerajaan Islam). 
Ada beragam pendapat juga tentang negeri asal pembawa agama dan kebudayaan Islam ke Indonesia. Ada yang mengatakan kalau kebudayaan serta agama Islam datang dari Arab, Persia, serta India (Gujarat serta Benggala).

Akan tetapi, beberapa pakar mengutamakan kalau kelompok pembawa Islam ke Indonesia datang dari Gujarat (India Barat). Hal semacam itu diperkuat dengan bukti-bukti sejarah berbentuk nisan makam, tata kehidupan masyarakat, serta budaya Islam di Indonesia yang banyak mempunyai kesamaan dengan Islam di Gujarat.

Pembawanya yaitu beberapa pedagang, mubalig, serta kelompok pakar tasawuf. Saat Islam masuk lewat jalur perdagangan, pusat-pusat perdagangan serta pelayaran di sepanjang pantai dikuasai oleh raja-raja daerah, beberapa bangsawan, serta penguasa yang lain, contohnya raja atau adipati Aceh, Johor, Jambi, Surabaya, serta Gresik.

Mereka berkuasa mengatur jalan raya perdagangan serta memastikan harga barang yang diperdagangkan. Mereka itu yang awal mula melakukan hubungan dagang dengan beberapa pedagang muslim.

Lebih-lebih setelah situasi politik di pusat Kerajaan Majapahit mengalami kekacauan, raja-raja daerah serta beberapa adipati di pesisir mau melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit. Oleh sebab itu, hubungan serta kerja sama dengan pedagang-pedagang muslim semakin erat.

Dalam situasi demikian, banyak raja daerah serta adipati pesisir yang masuk Islam. Hal semacam itu ditambah dengan support dari pedagang-pedagang Islam hingga dapat melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit.

Setelah raja-raja daerah, adipati pesisir, beberapa bangsawan, serta penguasa pelabuhan masuk Islam rakyat di daerah itu pun masuk Islam, misalnya Demak (era ke-15), Ternate (era ke-15), Gowa (era ke-16), serta Banjar (era ke-16).

Proses masuk serta mengembangnya agama serta kebudayaan Islam di Indonesia berjalan secara bertahap serta dilakukan secara damai hingga tidak menyebabkan kemelut sosial. Cara penyebaran agama serta kebudayaan Islam di Indonesia melalui berbagai saluran berikut ini:

Saluran Perdagangan 

Sumber: kisahasalusul.blogspot.com
Saluran yang dipakai dalam proses islamisasi di Indonesia awal mulanya lewat perdagangan. Hal semacam itu sesuai sama perkembangan lalu lintas pelayaran serta perdagangan dunia yang ramai mulai era ke-7 sampai dengan era ke- 16, antara Eropa, Timur Tengah, India, Asia Tenggara, serta Cina.

Proses islamisasi lewat saluran perdagangan ini dipercepat oleh kondisi politik beberapa kerajaan Hindu pada saat itu, yakni adipati-adipati pesisir berupaya melepaskan diri dari kekuasaan pemerintah pusat di Majapahit. Pedagang-pedagang muslim itu banyak menetap di kota-kota pelabuhan serta membentuk perkampungan muslim. Satu diantara misalnya yaitu Pekojan.

Saluran Perkawinan 

Sumber: pendidikan60detik.blogspot.co.id
Kedudukan ekonomi serta sosial beberapa pedagang yang udah menetap semakin baik. Beberapa pedagang itu jadi kaya serta terhormat, namun keluarganya tidak dibawa dan. Beberapa pedagang itu lantas menikah dengan gadis-gadis setempat dengan syarat mereka mesti masuk Islam.

Cara tersebut juga tidak mengalami kesulitan. Saluran islamisasi lewat perkawinan ini lebih menguntungkan lagi jika beberapa saudagar atau ulama Islam sukses menikah dengan anak raja atau adipati. Bila raja atau adipati udah masuk Islam, rakyatnya juga akan mudah diajak masuk Islam.

Contohnya, perkawinan Maulana Iskhak dengan putri Raja Blambangan yang melahirkan Sunan Giri; perkawinan Raden Rahmat (Sunan Ngampel) dengan Nyai Gede Manila.

Putri Tumenggung Wilatikta; perkawinan putri Kawunganten dengan Sunan Gunung Jati di Cirebon; perkawinan putri Adipati Tuban (R. A. Teja) dengan Syekh Ngabdurahman (muslim Arab) yang melahirkan Syekh Jali (Jaleluddin).

Saluran Tasawuf 

Sumber: lutfisayonk.blogspot.co.id
Tasawuf yaitu ajaran ketuhanan yang sudah bercampur dengan mistik serta beberapa hal magis. Oleh sebab itu, beberapa pakar tasawuf umumnya mahir dalam beberapa soal magis serta memiliki kemampuan menyembuhkan.

Kehadiran pakar tasawuf ke Indonesia diprediksikan mulai sejak era ke-13, yakni masa-masa perubahan serta penyebaran bebrapa pakar tasawuf dari Persia serta India yang udah beragama Islam.

Bersamaan dengan perkembangan tasawuf, beberapa ulama dalam mengajarkan agama Islam di Indonesia menyesuaikan dengan pola pikir orang-orang yang masih tetap berorientasi pada agama Hindu serta Buddha hingga mudah dipahami.

Itulah penyebabnya, orang Jawa sangat mudah menerima agama Islam. Tokoh-tokoh tasawuf yang terkenal, diantaranya Hamzah Fansyuri, Syamsuddin as Sumatrani, Nur al Din al Raniri, Abdul al Rauf, Sunan Bonang, Syekh Siti Jenar, serta Sunan Panggung.

Saluran Pendidikan 

Sumber: semuatentangsejarah.blogspot.co.id
Instansi pendidikan Islam yang paling tua yaitu pesantren. Murid-muridnya (santri) berada di dalam pondok atau asrama dalam periode waktu spesifik, menurut tingkatan kelasnya. Pengajarnya yaitu beberapa guru agama (kiai atau ulama).

Beberapa santri itu bila udah tamat belajar, pulang ke daerah asal serta memiliki kewajiban mengajarkan kembali ilmunya pada orang-orang di kurang lebih. Dengan cara tersebut, Islam terus berkembang memasuki beberapa daerah terpencil.

Pesantren yang sudah berdiri pada masa-masa perkembangan Islam di Jawa, diantaranya Pesantren Sunan Ampel di Surabaya yang didirikan oleh Raden Rahmat (Sunan Ampel) serta Pesantren Sunan Giri yang santrinya banyak datang dari Maluku (daerah Hitu).

Raja-raja serta keluarganya dan golongan bangsawan umumnya mendatangkan kiai atau ulama untuk jadi guru serta penasihat agama. Contohnya, Kiai Ageng Selo yaitu guru Jaka Tingkir; Kiai Dukuh yaitu guru Maulana Yusuf di Banten ; Maulana Yusuf yaitu penasihat agama Sultan Ageng Tirtayasa.

Saluran Seni Budaya 

Sumber: kisahasalusul.blogspot.com
Berkembangnya agama Islam bisa lewat seni budaya, contohnya seni bangunan (masjid), seni pahat (ukir), seni tari, seni musik, serta seni sastra. Seni bangunan masjid, mimbar, serta ukir-ukirannya masih tetap memperlihatkan seni tradisional bermotifkan budaya Indonesia–Hindu, seperti yang ada pada candi-candi Hindu atau Buddha.

Hal semacam itu bisa ditemui di Masjid Agung Demak, Masjid Sendang Duwur Tuban, Masjid Agung Kasepuhan Cirebon, Masjid Agung Banten, Masjid Baiturrahman Aceh, serta Masjid Ternate. Pintu gerbang pada kerajaan Islam atau makam beberapa orang yang dianggap keramat memperlihatkan bentuk candi bentar serta kori agung.

Demikian halnya, nisan-nisan makam kuno di Demak, Kudus, Cirebon, Tuban, serta Madura memperlihatkan budaya saat sebelum Islam.

Hal semacam itu ditujukan untuk memperlihatkan kalau Islam tidak meninggalkan seni budaya masyarakat yang sudah ada, namun malah turut memeliharanya. Seni budaya yang tetap dipelihara dalam rencana proses islamisasi itu banyak sekali, diantaranya perayaan Garebek Maulud (Sekaten) di Yogyakarta, Surakarta, serta Cirebon.

Islamisasi juga dilakukan lewat pertunjukkan wayang yang sudah dipoles dengan unsur-unsur Islam. Menurut cerita, Sunan Kalijaga juga pintar memainkan wayang. Islamisasi lewat sastra ditempuh lewat cara menyadur buku-buku tasawuf, hikayat, serta babad ke dalam bahasa pergaulan (Melayu).

Saluran Dakwah 

Sumber: islamiccenterkaltim.or.id
Gerakan penyebaran Islam di Jawa tidak bisa dipisahkan dengan fungsi Wali Songo. Istilah wali yaitu sebutan untuk beberapa orang yang udah mencapai tingkat pengetahuan serta penghayatan agama Islam yang amat dalam serta mampu berjuang untuk kepentingan agama itu.

Oleh sebab itu, beberapa wali jadi amat dekat dengan Allah hingga mendapatkan gelar Waliullah (orang yang amat dikasihi Allah). Sesuai sama jamannya, wali-wali itu juga mempunyai kemampuan magis lantaran beberapa wali juga merupakan pakar tasawuf.

Beberapa Wali Songo yang berjuang dalam penyebaran agama Islam di beberapa daerah di Pulau Jawa yaitu sebagai berikut ini:
Sumber: belajarislam1437.blogspot.co.id
  1. Maulana Malik Ibrahim 
  2. Sunan Ampel 
  3. Sunan Drajad 
  4. Sunan Bonang 
  5. Sunan Giri 
  6. Sunan Kalijaga 
  7. Sunan Kudus 
  8. Sunan Muria 
  9. Sunan Gunung Jati
Dan itulah pembahasan kami mengenai Perkembangan Islam di Indonesia, untuk berbagai informasi yang kami sajikan pada kesempatan ini, harapannya semoga Postingan kali ini mengenai Perkembangan Islam di Indonesia di atas sedikitnya dapat menambah pengetahuan tersendiri bagi anda para pembaca.

Khususnya bagi anda yang saat ini sedang mencari sumber pengetahuan untuk lebih memahami Segala Hal tentang Perkembangan Islam di Indonesia. Terima kasih atas kunjungannya dan salam sukses untuk sahabat semuanya.

Referensi:
  1. softilmu.com
Back To Top