Showing posts sorted by relevance for query imperialisme dan kolonialisme di indonesia. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query imperialisme dan kolonialisme di indonesia. Sort by date Show all posts
16 May 2017

Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia

Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia. Pengertian Kolonialisme dan Imperialisme, Fungsi Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia, Pengaruh Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia, dan Perbedaan antara Kolonialisme dan Imperialisme.

Pengertian Kolonialisme serta Imperialisme 

Sumber: 4shareips.blogspot.co.id
Secara etimologi, kolonialisme barasal dari kata colunus (colonia) yang memiliki arti menguasai. Jadi arti kolonialisme yaitu sebuah usaha yang dilakukan oleh sebuah bangsa untuk menguasai bangsa yang lain di luar dari wilayahnya sendiri.

Banyak maksud bangsa-bangsa barat melakukan kolonialisme, yakni mau mencari dominasi kapabilitas baik itu dari sisi ekonomi, sumber daya alam, sumber daya manusia, ataupun politik. Ditambah lagi, sebuah asumsi yang sudah sangat berkembang yang berasumsi kalau bangsa yang melakukan kolonisasi lebih baik dari bangsa yang dikolonikan.

Sedangkan imperialisme secara etimologi datang dari kata “imperare” yang memiliki arti memerintah. Oleh karenanya, pengertian dari imperialisme yakni sebuah usaha yang dilakukan oleh sebuah bangsa untuk memerintah bangsa lain di luar dari wilayahnya sendiri. Imperialisme digerakkan dengan penuh paksaan untuk mencapai maksud bangsa yang melakukannya.

Maka, antara kolonialisme serta imperialism mempunyai hubungan yang sangat erat. Bangsa-bangsa Barat datang ke Indonesia mau melakukan kolonialisme serta imperialisme cuma untuk mencapai maksud dari bangsa itu sendiri, tanpa mementingkan masyarakat pribumi.

Secara umum, kolonialisme serta imperialisme yang dilakukan bangsa Barat di Indonesia dilandasi oleh beberapa hal, yakni mencari kekayaan sebanyak mungkin (gold), menyebarkan paham atau agama mereka (gospel), serta mencari kejayaan serta kedaulatan (glory).

Dengan dasar itulah, bangsa-bangsa Barat melakukan aktivitas kolonialisme serta imperialismenya di seluruh penjuru dunia.

Proses Masuknya Kolonialisme serta Imperialisme di Indonesia 

Sumber: akce.eu
Revolusi industry yang terjadi di Eropa mendorong bangsa-bangsa Eropa untuk melakukan penjelajahan samudera dengan maksud mendapatkan bangsa jajahan. Pada awal kehadirannya, bangsa Eropa berteman dengan masyarakat pribumi dengan mengenalkan diri sebagai pedagang yang mau melakukan perdagangan di Indonesai secara bersama-sama dengan pedagang pribumi.

Akan tetapi, makin lama, beberapa pedagang Eropa sukses menguasai praktek perdagangan di Indonesia serta melakukan eksploitasi secara besar-besaran di Indonesia.

Latar Belakang Kehadiran Bangsa Barat di Indonesia 

Sumber: ardiyansarutobi.blogspot.co.id
Bangsa barat datang serta masuk ke Indonesia mempunyai beberapa latar belakang yang mendorong keinginan untuk merebut, menguasai, serta memerintah bangsa Indonesia. Salah satunya yaitu terjadinya Perang Salib pada tahun 1070-1291.

Perang ini melibatkan bangsa Eropa yang berlatar belakang beragama Kristen bertemu dengan kekhalifahan turki Utsmani yang beragama Islam. Akibat dari perang ini, pasukan dari Eropa mengalami kekalahan, hingga kota Konstantinopel (Byzantium) sukses diambil oleh pasukan muslim.

Yang menyebabkan Sultan Mahmud II yang menguasa Turki Utsmani pada saat itu menutup pelabuhan Konstantinopel untuk bangsa Eropa. Hal semacam itu menyebabkan beberapa orang Eropa ada problem untuk mendapatkan hasil alam berbentuk rempah-rempah.

Bersumber pada hal semacam itu, bangsa-bangsa Eropa melakukan perjalanan untuk ke seluruh penjuru dunia untuk menemukan daerah penghasil rempah-rempah. Indonesia yang notabene adalah daerah penghasil rempah-rempah, tidak luput dari invasi mereka.

Mereka juga membawa misi lain yakni gold, gospel, and glory di dalam perjalannya. Ditambah oleh karena adanya semangat reqonguesta yang memiliki arti semangat pembalasan pada golongan muslim di manapun berada. Semangat-semangat itu yang menjadikan bangsa Eropa berani melakukan kolonialisme serta imperialism di Indonesia.

Bangsa Eropa yang Melakukan Kolonialisme serta Imperialisme 

Sumber: pustakanasional.blogspot.co.id
Tercatat, ada 3 bangsa besar yang terlebih dulu melakukan aktivitas kolonialisme serta imperialism di Indonesia. Ketiga bangsa itu adalah Portugis, Spanyol, Inggris serta Belanda.

Bangsa portugis mengawali penjajahan dengan diadakannya perjalanan seorang Portugis yang bernama Bartholomeu Diaz (1450-1500), dia sukses mengarungi samudra sampai ke Benua Afrika (Tanjung Harapan) pada tahun 1486.

Kemudian, ada pula Vasco da Gama (1469-1524) yang sukses mendarat di Calkuta India pada 22 Mei 1498. Lantas, ada juga Alfonso d’ Albuquerque (1453-1515) yang sukses mendarat di Malaka serta merebutnya pada tahun 1511.

Tidak hanya bangsa portugis, ada juga bangsa Spanyol yang juga melakukan perjalanan ke seluruh penjuru dunia dengan maksud yang sama.

Bangsa Spanyol mengawali kolonialisme dari seorang Christopher Columbus (1451-1506), dia bersama dengan Amerigo Vespucci sukses menemukan Benua Amerika. Lantas, ada Ferdinand Magelhaens (1519-1521) yang melakukan ekspedisi sampai ke Kepulauan Filipina pada tahun 1920.

Selanjtnya ada juga Ferdinand Cortez yang sukses masuk serta merebut dan menempati Mexico tahun 1519 dengan mengalahkan suku Indian yakni Kerajaan Aztec serta suku Maya di Yucatan. Yang paling akhir, ada Pizzaro yang sukses mengalahkan kerajaan Indian di Peru yakni suku Inca pada tahun 1530.

Setelah bangsa Spanyol, diikuti dengan bangsa Inggris. Bangsa Inggris melakukan invasi ditandai dengan kehadiran beberapa tokoh penjajah berkebangsaan Inggris. Mereka adalah Sir Francis Drake (1577-1580) yang melakukan pelayaran keliling dunia sampai memborong rempah-rempah di Indonesia tepatnya di daerah Ternate.

Lantas, ada Pilgrim Fathers yang melakukan pelayaran pada tahun 1607 sampai mendarat di Amerika Utara. Setelah itu, ada Sir James Lancester yang sukses mendarat di Aceh serta Penang pada tahun 1591, dilanjutkan dengan invasi pada tahun 1602 ke Banten.

Lantas ada juga Sir Henry Middleton, pada tahun 1604 sukses mendarat di Ternate, Tidore, Ambon serta Banda.

William Dampier yang pada tahun 1688 sukses mendarat di Australia lantas meneruskan pelayaran dengan menelusuri pantai ke arah Utara. James Cook pada tahun 1770 sukses mendarat di Pantai Timur Australia hingga diklaim sebagai penemu Benua Australia.

Paling akhir, bangsa Eropa yang masuk ke Indonesia adalah bangsa Belanda yang ditandai dengan Barentz, pada tahun 1594 mencari daerah Timur (Asia) lewat jalur lain yakni ke Utara. Cornelis de Houtman, pada tahun 1596 sukses mendarat di Banten. Serta Jacob van Neck yang sukses mendarat di Banten pada 28 November 1598 serta sukses mendapatkan rempah-rempah yang banyak.

Belanda juga membentuk kongsi dagang yang bernama Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC). VOC dibentuk oleh pemerintah Belanda dengan maksud untuk memonopoli perdagangan di Indonesia, dan untuk menghindari perselisihan diantara pedagang dari Belanda sendiri. VOC mendapatkan beberapa hak istimewa yang didapatkan dari pemerintah Belanda. Hak-hak itu adalah:
  • The right of trade monopoly (hak memonopoli dagang) 
  • The right to haves armed forces and build forts (hak untuk mempunyai kemampuan tentara sendiri serta membangun benteng-benteng) 
  • The right to make agreements with local aothorities or kings (hak untuk membuat kesepakatan hubungan kerja langsung dengan kekuasaan di lokasi itu). 
  • The right to have its own currency (hak untuk mempunyai mata uang sendiri) 
Keempat hak istimewa yang didapatkan dari pemerintah Belanda ini membuat pedagang-pedagang Belanda di Indonesia mulai melakukan monopoli dan melakukan penjajahan pada pedagang atau masyarakat pribumi. Kehadiran dari pada VOC yang selalu menguat serta melakukan penguasaan di Indonesia membuat bangsa Portugis takluk serta pergi dari Indonesia.

Kebijakan Pemerintah Kolonial yang Berpengaruh Pada Kehidupan Rakyat Indonesia 

Sumber: azanulahyan.blogspot.co.id

Masa-masa Pemerintahan Herman Willem Daendels (1808-1811) 

Mulai sejak tahun 1906, Belanda diperintah oleh orang Perancis yang bernama Napoleon Bonaparte. Automatis, Belanda adalah sekutu dari Perancis. Di Eropa, Inggris adalah musuh besar untuk bangsa perancis.

Oleh karena itu, raja Napoleon Bonaparte menunjuk seorang Gubernur Jenderal untuk memerintah di Indonesia. Hal semacam ini, lantaran dengan dikuasainya lokasi Indonesia, lokasi kekuasaan perancis akan jadi bertambah kuat.

Dan, karenanya, Raja Napoleon memberi pekerjaan pada Herman Willem Daendels untuk memperkuat serta menpertahankan kekuasaan di Indonesai dari serangan Inggris, mengumpulkan uang sebanyak mungkin untuk biaya perang melawan Inggris, serta melakukan perbaikan keadaan keuangan pemerintah yang sudah kosong.

Dengan ditunjuknya Daendels, dia bergerak cepat dengan merekrut tentara, membangun benteng-benteng pertahanan, membangun pabrik mesiu/senjata di Semarang serta Surabaya, medirikan rumah sakit tentara, membuat jalan dari Anyer hingga ke Panarukan.

Yang keseluruhannya berjarak 1100 km, membangun pelabuhan di Anyer serta Ujung Kulon, dan mengubah sistem pemerintahan dari gaya kerajaan jadi sitem pemerintaha yang berlaku di Eropa, di mana Pulau Jawa dabgai jadi sembilan lokasi yang disebut dengan perfektur. Tiap perfektur dipimpin oleh seorang residen, yang mana satu orang residen membawahi beberapa orang bupati.

Di bawah kekuasaannya, Daendels berlaku sangat keras serta disiplin, hingga dia sangat dibenci baik itu oleh golongan pribumi ataupun penguasa yang ada di bawah pimpinannya. Ditambah dengan sistem kerja rodi yang diaplikasikan pada beberapa pekerja, membuat rencana perlawanan terhadapnya mulai bermunculan di beberapa lokasi di Indonesia.

Berita ini terdengar oleh Daendels, hingga ia membutuhkan banyak uang untuk melakukan perlawanan. Dengan strateginya yang menjual tanah Negara pada pihak swasta asing (pembelian tanah disertai penguasaan rakyat yang ada di atasnya), dia dipanggil kembali oleh raja napoleon Bonaparte serta digantikan oleh Jan Willem Jansnsen.

Masa-masa Pemerintahan Jan Willem Janssen (1811) 

Setelah masa-masa pemerintahan Herman Willem Daendels selesai serta diperintahkannya Jan Willem Janssen jadi Gubernur Jenderal di Indonesia, dampak Belanda serta Perancis perlahan mulai surut. Itu disebabkan pola pemerintahan pada mas ini kurang taktis serta amat lemah, hingga Jan Willem Janssen menyerah pada Inggris.

Hal semacam ini berawal ketika Inggris menyerang Indonesia, Jan Willem Janssen tidak bisa berbuat banyak. Maka diapun menyepakati kesepakatan yang diberi nama “perjanjian Kapitulasi Tuntang” pada tahun 1811. Isi kesepakatan ini salah satunya militer Belanda yang ada di Asia Timur jatuh ke tangan militer Inggris.

Lantas, utang pemerintah Belanda juga tidak disadari oleh Inggris. Ditambah dengan lokasi Pulau Jawa serta Madura dan seluruh pelabuhan punya Belanda di lokasi kekuasaannya jadi seutuhnya hak milik Inggris. oleh karena itu, Indonesia seutuhnya jatuh ke tangan penjajahan Inggris yang dipimpin oleh seorang Gubernur Jenderal bernama Thomas Stamford Raffless.

Masa-masa Pemerintahan Thomas Stamford Raffless 

Terjadi ketidaksamaan yang snagat mencolok di antara masa-masa pemerintahan yang dipimpin oleh Belanda dengan sistem pemerintahan yang di pimpin oleh Inggris. Pada masa-masa Thomas Stamford Raffless, dia menghapuskan beberapa kebijakan yang di buat oleh Daendel dalam sisi ekonomi. Di antara kebijakannya yakni:
  • Penghilangan sistem penyerahan beberapa hasil bumi pada masa-masa Belanda (contingenten) jadi sistem sewa tanah (landrente). 
  • Penghilangan sistem kerja rodi 
  • Penghilangan sistem monopoli 
  • Penghilangan pajak serta sistem wajib menyerahkan beberapa hasil bumi 
Dari sisi sistem pemerintahan, pada masa-masa Thomas Stamford Rffless tidak banyak mengalami perubahan dari masa-masa Daendels. Pulau Jawa tetap dibagi jadi 16 keresidenan yang dipimpin oleh para bupati. Namun, pada masa-masa Thomas, sudah dibentuk sistem pengadilan bersumber pada pengadilan di Inggris di setiap keresidenan.

Tetapi, menyerahnya Napoleon Bonaparte pada Inggris pada tahun 1814 membuat Belanda lepas dari Perancis. Karena itu, Belanda serta Inggris membuat satu kesepakatan berbentuk “Convention of London” yang berisi penyerahan kembali daerah kekuasaan Belanda yang dulunya pernah diambil oleh Inggris pada Belanda.

Termasuk satu diantaranya Indonesia. mulai sejak tanggal 19 Agustus 1816, terjadi penyerahan kekuasaan Hindia Belanda pada pemerintah Belanda di Batavia, di mana pihak Inggris diwakili oleh John Fendall serta Belanda oleh Mr. Ellout, van der Capellen, serta Buyskeys. Dengan dtekennya kesepakatan ini, secara resmi, lokasi Indonesia jatuh kembali pada tangan Belanda.

Masa-masa Pemerintahan Van Den Bosch 

Setelah pemerintah Belanda menguasai Indonesia, ditunjuklah Van Den Bosch sebagai Gubernur Jenderal di Indonesia oleh pemerintah Belanda. Van Den Bosch membuat beberapa kebijakan yang snagat merugikan Indonesia.

Dia membuat sistem tanam paksa, yakni kewajiban untuk tiap pemilik tempat untuk menanami tanaman yang laku di pasar internasional, seperti teh, kina, lada, dan sebagainya.

Sistem tanam paksa yang di buat didasarkan oleh keinginan mengejar pemasukan pendapatan sebanyak mungkin untuk menebus hutang dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Perintah untuk tanam paksa ini termuat di dalam Staatblat (lembaran Negara) no. 22 tahun 1834.

Tetapi di dalam pengerjaannya, sistem tanam paksa mendapatkan kritikan dari beragam pihak, baik dari rakyar pribumi, ataupun dari pihak Belanda sendiri, yakni pada pihak liberal serta humanis. Oleh karena itu, sistem tanam paksa perlahan mulai dihapuskan oleh pemerintah Belanda. Secara resmi, sistem tanam paksa dihapus pada tahun 1870 bersumber pada atas UU landreform (UU agraria).

Untuk mengganti sistem tanam paksa yang sudah dihapus, Belanda membuat sitem politik terbuka, yakni memberi hak pada beberapa pribumi untuk mempunyai tempat, akan tetapi, beberapa petani harus menyewakannya pada pemerintah. Serta pemerintah bakal menyewakannya pada beberapa pengusaha swasta dalam periode waktu minimum 75 tahun.

Perbedaan Pengaruh Kolonialisme serta Imperialisme di Indonesia 

Sumber: blog.radikal.com.tr
Sesuai sama keterangan yang sudah disampaikan di atas, kita bisa megetahui bersama sebenarnya ada sebagian ketidaksamaan yang dibawa pada kolonialisme serta imperialism di antara bangsa-bangsa Eropa itu sendiri. Ketidaksamaan itu didasarkan karena kebijakan-kebijakan yang di ambil sebaiknya bersumber pada kebijakan pemerintah pusat di Negara aslinya.

Di segi lain, kolonialisme serta imperialisme di beberapa daerah juga mengalami ketidaksamaan dari berbagai sisi, hal semacam ini dikarenakan ketidaksamaan sumber daya alam serta sumber daya manusia yang dipunyai oleh masing-masing lokasi, dan posisi strategis yang ditempati oleh lokasi itu.

Di Indonesia, Pulau Jawa adalah pusat pemerintahan kolonialisme serta imperialisme yang dilangsungkan oleh bangsa-bangsa Eropa.

Timbulnya Beragam Perlawanan Pada Kolonialisme 

Sumber: jadiberita.com
Banyak akibat yang diakibatkan dari sebuah politik kolonialisme serta imperialisme yang dilangsungkan oleh bangsa-bangsa Eropa di Indonesia. Pada ketika pertama kalinya masuk ke Indonesia, bangsa-bangsa itu memanglah mempunyai hubungan baik dengan masyarakat pribumi.

Namun, seiring waktu berjalan, mereka memainkan praktek monopoli di daerah jajahannya. Hal semacam ini dilakukan semata-mata hanya untuk mendapatkan kekuasaan serta kekayaan yang sebanyak mungkin. Oleh sebab itu, mulai nampaklah beragam perlawanan yang di buat oleh rakyat Indonesia pada penjajah. Hal semacam itu bisa dibuktikan dengan:

Perlawanan pada Portugis 

Perlawanan pada bangsa Portugis dimulai dengan diangkatnya senjata oleh Malaka serta Demak pada tahun 1512. Malaka yang ketika itu di pimpin oleh Pate Kadir, melangsungkan perlawanan sengit pada pemerintah Portugis. Selain itu, perlawanan juga dinampakkan oleh Demak yang dipimpin oleh Pati Unus.

Perlawanan oleh rakyat Aceh juga dimulai pada tahun 1513 untuk menyerang Portugis. Perlawanan rakyat Aceh lebib bertujuan pada keagamaan.

Hal semacam ini diperlihatkan dengan dimulainya pelayaran ke Timur tengah oleh kapal-kapal Aceh yang dilengkapi dengan meriam lengkap dan beberapa ribu prajurit. Aceh juga memohon bala bantuan pada Kerjaan Turki untuk membantu menumpaskan pengaruh Portugis.

Perlawanan oleh rakyat Tidore pada tahun 1529, meletuslah perlawanan dari rakyat Tidore yang dibantu oleh Spanyol pada Portugis, hal semacam ini berawal ketika Sultan Hairun (raja yang memerintah kerajaan Tiodre dikhinati olehg Portugis lantas dihukum mati). Oleh sebab itu, rakyat Tidore berjuang habis-habisan untuk mengusir Portugis dari tanah Maluku.

Perlawanan Pada VOC 

Oleh karena kebijakan-kebijakan kongsi dagang Belanda yang memonopoli perdagangan di lokasi Indonesia, maka dimulailah beragam perlawanan pada VOC di beberapa lokasi.

Perlawanan pada VOC diawali dari perlawanan rakyat Maluku. Lantas diikuti oleh perlawanan rakyat Makassar (kerajaan Gowa), serta paling akhir oleh pemberontakan Trunajaya yang dipimpin oleh Pangeran Adipati Anom.

Perlawanan pada Kolonial Belanda 

Rakyat Maluku kembali bergolak melihat tindakan sewenang-wenang yang dilakukan pada saat pemerintahan Belanda menguasai Indonesia. Sistem harus menyerahkan hasil bumi pada pemerintah, membuat Pattimura memimpin rakyat Saparua melakukan perlawanan pada pemerintah Belanda. Mereka membakar kapal-kapal punya Belanda di pelabuhan.

Tetapi, perlawanan ini tidak berjalan lama, lantaran Pattimura sukses di tangkap oleh Belanda serta dihukum gantung.

Di Sumatera Barat, pada tahun 1815-1837, kaum padri serta kaum adat bersama-sama melakukan perlawanan pada bangsa Belanda. Perlawanan dipimpin langsung oleh Tuanku Imam Bonjol yang dibantu oleh Sentot Alibasyah. Tetapi, Imam Bonjol sukses ditangkap serta diasingkan ke Cianjur.

Berikutnya, ada perang Diponegoro yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro pada tahun 1825-1830. Pasukan Diponegoro melakukan taktik gerilya, tetapi perlawanan ini sukses ditumpaskan oleh Belanda dengan mengaplikasikan siasat Benteng Stelsel.

Paling akhir, pada tahun 1849, perang Japarag ameletus di Bali. Perang ini berawal ketika kapal Belanda terjerat di Buleleng.

Sesuai sama hukum adat setempat, kapal yang masuk ke daerah itu mesti jadi hak milik kerajaan Buleleng. Tetapi, belanda menolak hal itu. Pada akhirnya meletuslah pertempuran antara Belanda dengan Kerajaan Buleleng yang dipimpin oleh Gusti Ketut Jelantik. Sayangnya, Belanda sukses memenangkan pertempuran.

Dan itulah pembahasan kami mengenai Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia, untuk berbagai informasi yang kami sajikan pada kesempatan ini, harapannya semoga Postingan kali ini mengenai Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia di atas sedikitnya dapat menambah pengetahuan tersendiri bagi anda para pembaca.

Khususnya bagi anda yang saat ini sedang mencari sumber pengetahuan untuk lebih memahami Segala Hal tentang Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia. Terima kasih atas kunjungannya dan salam sukses untuk sahabat semuanya.

Referensi:
  1. softilmu.com
15 September 2015

Pengaruh Keunggulan Lokasi terhadap Kolonialisme Barat di Indonesia

Keunggulan lokasi Indonesia menjadi salah satu pendorong terjadinya interaksi dan komunikasi dengan berbagai bangsa lain di dunia. Berbagai kekayaan alam Indonesia sangat dibutuhkan bangsa-bangsa di dunia. Selain itu, Indonesia juga merupakan salah satu daerah pemasaran berbagai komoditas bangsa-bangsa lain.

Kekayaan alam Indonesia itulah yang menjadi salah satu daya tarik kedatangan bangsa-bangsa asing ke Indonesia. Pedagang asing datang ke Indonesia untuk memperoleh berbagai komoditas yang akan dijual lagi kepada negeri lain. Ketertarikan pedagang bangsa asing terhadap kekayaan di Indonesia terjadi sejak masa lalu. Berbagai pengaruh keunggulan lokasi Indonesia menjadi sebab terhadap terjadinya imperialisme dan kolonialisme di Indonesia pada masa lalu.

1. Latar Belakang Penjajahan Bangsa Barat
Berbagai komoditas perdagangan yang dihasilkan bangsa Indonesia menjadi incaran bangsa-bangsa Barat. Berbagai hasil bumi Indonesia tidak hanya menjadi konsumsi bangsa-bangsa di wilayah Asia, tetapi juga menjadi salah satu incaran bangsa-bangsa Barat. Indonesia dan bangsa- bangsa di Eropa memiliki perbedaan kondisi alam. Pengaruh lokasi telah memberikan perbedaan iklim serta kondisi tanah di Indonesia dan Eropa. Hal ini mengakibatkan hasil bumi yang diperoleh juga berbeda. Bangsa Indonesia harus senantiasa bersyukur karena dianugerahi oleh Tuhan Yang Maha Esa hidup di daerah tropis.

Keberadaan musim hujan dan kemarau di Indonesia memungkinkan beragam tanaman mudah tumbuh dan berkembang di Indonesia. Untuk tanaman kebutuhan sehari-hari dapat ditanam dengan mudah di setiap waktu. Hal ini berbeda dengan bangsa-bangsa Eropa yang memiliki empat musim yakni musim panas, musim dingin, musim semi, dan musim gugur. Hasil bumi apa saja yang menjadi andalan bangsa Indonesia pada masa sekarang? biji coklat, kelapa sawit, karet, cengkeh, dan bahkan kayu diantaranya menempati urutan atas di dunia dari segi produksinya. (sumber: wikipedia)

Sudah sangat lama bangsa-bangsa Eropa mengetahui Nusantara (Indonesia) sebagai sumber rempah-rempah, bahkan sebelum masehi. Mengapa mereka tidak mencari sendiri ke Indonesia? Pada masa itu mereka masih kesulitan terutama masalah transportasi, kondisi politik, dan keamanan. Terjadinya revolusi industri di Eropa merupakan salah satu pendorong datangnya bangsa-bangsa Barat ke Indonesia. Apa yang dimaksud revolusi industri?

Revolusi industri merupakan pergantian atau perubahan secara menyeluruh dalam memproduksi barang yang dikejakan oleh tenaga manusia atau hewan menjadi tenaga mesin. Penggunaan mesin dalam kegiatan industri menjadikan produksi lebih efisien, ongkos produksi dapat ditekan, dan barang dapat diproduksi dalam jumlah besar dengan cepat. Berkembangnya revolusi industri menyebabkan bangsa-bangsa Barat memerlukan bahan baku yang lebih banyak lagi. Mereka juga memerlukan daerah pemasaran untuk hasil-hasil industrinya.

Salah satu pengaruh dari revolusi industri adalah dalam kegiatan transportasi. Penemuan mesin uap yang dapat dijadikan mesin penggerak perahu merupakan teknologi baru pada masa itu. Perahu dengan mesin uap merupakan penemuan sangat penting yang mendorong kedatangan bangsa-bangsa Barat ke Indonesia. Dengan mesin uap mereka dapat memperpendek waktu perjalanan. Selain penemuan mesin uap, revolusi industri didukung oleh berbagai penemuan lain, seperti kompas, mesin pemintal, dan sebagainya. Penemuan-penemuan tersebut menjadi modal dan pendorong keinginan bangsa-bangsa Eropa melakukan berbagai petualang.

Paham merkantilisme saatitu mendorong semangat bangsa-bangsa Eropa untuk mencari kekayaan sebanyak-banyaknya. Semangat mencari kekayaan tersebut beriringan dengan semangat mencapai kejayaan dan kesucian. Dalam melakukan perjalanannya ke Indonesia, bangsa-bangsa Barat menginginkan kejayaan (kemenangan) sekaligus kesucian, yaitu menyebarkan agama Kristen. Tiga semangat tersebut (kekayaan, kejayaan, dan kesucian) menjadi semboyan dari perjalanan bangsa-bangsa Eropa yang terkenal dengan 3G atau Gold (emas), Glory (kejayaan) dan Gospel (kesucian).

2. Kedatangan Bangsa-Bangsa Barat ke Indonesia
kedatangan bangsa barat
Perhatikan peta rute perjalanan kedatangan bangsa Belanda ke Indonesia di atas! Belanda adalah negara yang paling lama menjajah Indonesia. Selain Belanda, bangsa-bangsa Barat yang pernah datang ke Indonesia pada masa penjajahan adalah Portugis, Spanyol, dan Inggris.

Kedatangan bangsa-bangsa barat di Indonesia saat itu menjadi ancaman kerajaan-kerajaan di berbagai daerah di Indonesia. Karena itu, sejak awal kedatangan bangsa-bangsa Barat di Indonesia, terjadi berbagai perlawanan dari kerajaan-kerajaan di Indonesia.

3. Pengaruh Kebijakan Pemerintah Kolonial Terhadap Bangsa Indonesia
Pemerintah kolonial menerapkan kebijakan yang merugikan bangsa Indonesia. Akibatnya bangsa Indonesia berusaha melakukan perlawanan untuk mengusir penjajah. Untuk mengetahui bagaimana kebijakan pemerintah kolonial terhadap bangsa Indonesia, mari kita pelajari kajian berikut ini.

a. Monopoli dalam Perdagangan
Monopoli perdagangan yang dilakukan oleh Belanda jelas merugikan rakyat. Bisa kita bayangkan bagaimana perasaan para petani yang ingin menjual hasil pertanian, tetapi dipaksa hanya boleh menjual kepada VOC dengan daya tawar harga yang mereka dapatkan sangat rendah.

Pada awal kedatangan bangsa-bangsa Barat, rakyat Indonesia menerimanya dengan baik. Masyarakat nusantara di berbagai daerah memandang perdagangan merupakan hubungan baik kepada siapapun. Hubungan perdagangan tersebut kemudian selanjutnya berubah menjadi hubungan penguasaan atau penjajahan. VOC terus berusaha memperoleh kekuasaan yang lebih dari sekedar jual beli.

Pada awalnya VOC meminta keistimewaan hak-hak dagang. Lama-lama berkembang menjadi penguasaan pasar (monopoli). VOC menekan para raja untuk memberikan kebijakan perdagangan hanya dengan VOC. Akhirnya VOC bukan hanya menguasai daerah perdagangan, tetapi mereka juga ingin menguasai politik atau pemerintahan.

Apakah yang dimaksud dengan monopoli? Monopoli adalah penguasaan pasar yang dilakukan oleh satu atau sedikit perusahaan saja. Bagaimana dampak yang terjadi akibat monopoli? Bagi pelaku perusahaan monopoli sangat menguntungkan karena mereka dapat menentukan harga beli dan harga jual sekehendak mereka. Sebagai contoh pada saat VOC melakukan monopoli rempah-rempah di Indonesia, VOC membuat perjanjian dengan kerajaan-kerajaan di Indonesia. Setiap kerajaan hanya mengizinkan rakyat menjual hasil bumi kepada VOC, tidak boleh kepada yang lain. Nah, karena produsen sudah dikuasai VOC, maka pada saat rempah-rempah dijual harganya sangat melambung.

Kerajaan-kerajaan di Indonesia mengizinkan perdagangan monopoli VOC karena keterpaksaan. Belanda secara licik memaksa kerajaan-kerajaan di Indonesia untuk mengizinkan terjadinya monopoli dengan berbagai cara. Salah satu caranya adalah politik adu domba atau dikenal devide et impera. Adu domba yang dilakukan Belanda dapat terjadi terhadap kerajaan satu dengan kerajaan lain, atau antar pejabat di suatu kerajaan.

Belanda berharap akan terjadi permusuhan antar bangsa Indonesia, sehingga terjadi perang antar kerajaan. Belanda juga terlibat dalam konflik yang terjadi di dalam kerajaan. Pada saat terjadi perang antar kerajaan, Belanda selalu mendukung salah satu kerajaan yang berperang. Demikian jua saat terjadi konflik di dalam kerajaan, Belanda akan mendukung salah satu pihak. Setelah pihak yang didukungnya menang, Belanda akan meminta balas jasa.

Setelah selesai perang, Belanda biasanya meminta imbalan berupa monopoli perdagangan atau penguasaan atas beberapa lahan atau daerah. Akibat monopoli ini, rakyat Indonesia menjadi sangat menderita. Mengapa demikian? Dengan adanya monopoli, rakyat menjadi tidak memiliki kebebasan menjual hasil bumi mereka. Mereka terpaksa menjual hasil bumi hanya kepada VOC. VOC dengan kekuasaannya membeli hasil bumi rakyat Indonesia dengan harga yang sangat rendah, padahal jika rakyat menjual kepada pedagang lain, harganya bisa jauh lebih tinggi. Sekarang kita telah memahami bagaimana dampak monopoli dan adu domba VOC terhadap kerajaan-kerajaan dan rakyat Indonesia. Sekarang coba lakukan pencarian beberapa kegiatan monopoli dan politik adu domba yang dilakukan VOC terhadap bangsa Indonesia.

b. Kerja Paksa
Tentu saja bekerja karena terpaksa hasilnya tidak sebaik pekerjaan yang dilakukan dengan sukarela. Melakukan pekerjaan karena dipaksa juga akan membuat seseorang akan menderita. Hal itulah yang dialami bangsa Indonesia pada masa penjajahan dahulu. Pemerintah Belanda menginginkan keuntungan sebanyak-banyaknya dari bumi Indonesia sehingga menerapkan kebijakan kerja paksa yang tidak manusiawi.

Mendengar istilah kerja paksa tentu kita sudah dapat menebak, bahwa rakyat Indonesia bekerja tanpa fasilitas yang memadai. Rakyat tidak memperoleh penghasilan yang layak, tidak diperhatikan konsumsi makanannya, dan melakukan pekerjaan di luar batas-batas kemanusiaan,
Jalur Anyer-Panarukan memanjang lebih dari 1000 Km dari Cilegon (Banten), Jakarta, Bogor, Bandung, Cirebon, Semarang, Pati, Surabaya, Probolinggo, hingga Panarukan (Jawa Timur). Saat ini jalur tersebut merupakan salah satu jalur utama bagi masyarakat di pulau Jawa. Anyer Panarukan dibangun sekitar 200 tahun yang lalu oleh pemerintah Hindia Belanda. Jalan Raya Pos (Anyer-Panarukan) sangat penting bagi Pemerintah Kolonial Belanda karena menjadi sarana transportasi pemerintahan dan mengangkut berbagai hasil bumi, dan hingga sekarang manfaat jalan tersebut masih dapat dirasakan.

Pembangunan jalan tersebut merupakan kebijakan Herman Willem Daendels (Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang berkuasa sejak tahun 1808-1811). Belanda memandang penting pembangunan jalur Anyer-Panarukan, karena jalur tersebut merupakan penghubung kota-kota penting di pulau Jawa yang merupakan penghasil berbagai tanaman ekspor, dengan dibangunnya jalan Anyer-Panarukan maka proses distribusi barang dan jasa untuk kepentingan kolonial semakin cepat dan efisien.

Pembangunan jalur Anyer Panarukan sebagian besar dilakukan dengan tenaga manusia. Puluhan ribu penduduk dikerahkan untuk membangun jalan tersebut. Rakyat Indonesia dipaksa Belanda membangun jalan, tapi tidak digaji dan tidak menerima makanan yang layak, akibatnya ribuan penduduk meninggal baik karena kelaparan maupun penyakit yang diderita akibat pekerjaan tersebut. Pengerahan penduduk untuk mengerjakan berbagai proyek Belanda inilah yang disebut rodi atau kerja paksa. Kerja paksa pada masa Pemerintah Belanda banyak ditemukan di berbagai tempat. Banyak penduduk yang dipaksa menjadi budak dan dipekerjakan di berbagai perusahaan tambang maupun perkebunan. Kekejaman Belanda ini masih dapat dibuktikan dalam berbagai kisah yang ditulis dalam buku-buku sejarah dan novel.

c. Sistem Sewa Tanah Rafles
Selain Belanda dan Jepang, Inggris juga pernah menjajah Indonesia pada tahun 1811-1816. Penguasa Inggris di Indonesia pada masa tersebut adalah Letnan Gubernur Thomas Stanford Raffles. Salah satu kebijakan terkenal yang menyengsarakan rakyat pada masa Raffles adalah sistem sewa tanah atau landrent-system atau Landelijk Stelsel. Sistem tersebut memiliki ketentuan, antara lain sebagai berikut:
a. Petani harus menyewa tanah walaupun dia adalah pemilik tanah tersebut.
b. Harga sewa tanah tergantung kepada kondisi tanah.
c. Pembayaran sewa tanah harus dengan uang tunai.
d. Bagi petani yang tidak memiliki tanah dikenakan pajak kepala.

Sewa tanah tetap memberatkan rakyat, dan seakan-akan rakyat tidak memiliki tanah, padahal tanah tersebut adalah milik rakyat Indonesia. Hasil sewa tanah juga tidak seluruhnya digunakan untuk kemakmuran rakyat Indonesia. Hasil sewa tanah tersebut sebagian besar digunakan untuk kepentingan penjajah.

Kekuasaan Inggris selama 5 tahun di Indonesia menghadapi perlawanan rakyat Indonesia di berbagai daerah. Sebagai contoh adalah perlawanan sengit dari rakyat Kesultanan Palembang pada tahun 1812. Sultan Sultan Mahmud Baharuddin menolak untuk mengakui kekuasaan Inggris. Inggris kemudian mengirim pasukan dan menyerang kerajaan Palembang yang terletak di Sungai Musi. Perlawanan rakyat Palembang dapat dikalahkan oleh tentara Inggris, tetapi semangat juang mencapai kemerdekaan rakyat Palembang tetap membara.

Inggris juga menghadapi perlawanan dari kerajaan-kerajaan besar di Jawa yakni Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Namun Inggris berhasil meredam usaha perlawanan sebelum kedua kerajaan tersebut melakukan penyerangan.

d. Tanam Paksa
Van den Bosch menerapkan Sistem Tanam Paksa (Cultuur Stelsel) pada tahun 1830. Kebijakan ini diberlakukan karena Belanda menghadapi kesulitan keuangan akibat Perang Diponegoro (1825-1830), dan Perang Belgia (1830-1831).

Tanam Paksa yang diberlakukan oleh Belanda memiliki ketentuan yang sangat memberatkan masyarakat Indonesia. Apalagi pelaksanaan yang lebih berat karena penuh dengan penyelewengan sehingga semakin menambah penderitaan rakyat Indonesia. Banyak ketentuan yang diselewengkan baik oleh pegawai barat maupun pribumi. Praktik- praktik penekanan dan pemaksaan terhadap rakyat tersebut antara lain adalah :
  1. Ketentuan bahwa tanah yang digunakan untuk tanaman wajib hanya 1/5 bagian dari tanah yang dimiliki rakyat, kenyataanya selalu lebih bahkan sampai 1⁄2 bagian dari tanah yang dimiliki rakyat.
  2. Kelebihan hasil panen tanaman wajib tidak pernah dibayarkan.
  3. Waktu untuk kerja wajib lebih dari 66 hari tanpa imbalan yang memadai.
  4. Tanah yang digunakan para petani untuk tanaman wajib tetap dikenakan pajak.

4. Melawan Keserakahan Penjajah
Negeri Indonesia memiliki wilayah yang jauh lebih luas dibandingkan Belanda. Pada masa lalu Indonesia hanya dianggap sebagai sebuah provinsi bagi bangsa Belanda, Indonesia sebagai provinsi juga tidak diperlakukan sama dengan masyarakat Belanda di Eropa. Belanda hanya menguras kekayaan Indonesia untuk kemakmuran negerinya sendiri.

a. Perlawanan terhadap Persekutuan Dagang
Sultan Hasanuddin merupakan tokoh yang sangat ditakuti Belanda karena ketangguhannya dalam melawan Belanda, sehingga beliau disebut sebagai “ayam jantan dari timur”. Sultan Hasanuddin adalah raja dari kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan. Suatu ketika Kerajaan Gowa (Sultan Hasanuddin) dan Talo (Arung Palaka) berselisih paham. Peristiwa ini dimanfaatkan VOC dengan mengadu domba kedua kerajaan tersebut. VOC memberikan dukungan kepada Talo hingga berhasil menang saat perang dengan Gowa tahun 1666. Sultan Hassanuddin dipaksa menandatangani perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667.

Perjanjian Bongaya baru terlaksana pada tahun 1669 karena Sultan Hassanuddin masih melakukan perlawanan kembali. Akhirnya Makassar harus menyerahkan bentengnya kepada VOC. Sejak masa itu tidak ada lagi kekuatan besar yang mengancam kekuasaan VOC di Indonesia timur.

Perjanjian Bongaya telah menghancurkan kekuasaan kerajaan Gowa sebagai kerajaan terkuat di Sulawesi. Tinggal kerajaan-kerajaan kecil yang sulit melakukan perlawanan terhadap VOC.

Pada tahun 1799 terjadilah suatu peristiwa penting dalam sejarah kolonialisme dan imperialisme Barat di Indonesia. VOC dinyatakan bangkrut hingga akhirnya dibubarkan. Keberadaan VOC sebagai kongsi dagang yang menjalankan roda pemerintahan di negeri jajahan seperti di Indonesia tidak layak dilanjutkan lagi. VOC dinyatakan bubar Pada tanggal 31 Desember 1799. Semua utang piutang dan segala milik VOC diambil alih oleh pemerintah Belanda. Setelah VOC bubar, Indonesia berada langsung di bawah pemerintah Hindia Belanda.

b. Perlawanan terhadap Pemerintah Hindia Belanda
Bagi masyarakat Aceh, masjid Agung merupakan masjid bersejarah yang terkait erat dengan spirit perjuangan masyarakat Aceh. Selain sebagai tempat ibadah kebanggaan masyarakat, masjid Agung menjadi simbol perjuangan rakyat Aceh dalam menentang imperialisme Barat. Masjid tersebut menjadi salah satu benteng perjuangan rakyat Aceh melawan Belanda. Karena kegigihan rakyat Aceh tersebut, Belanda sangat kesulitan memadamkan perlawanan rakyat Aceh.

Perlawanan terhadap pemerintah Hindia Belanda terjadi di hampir semua daerah di Indonesia. Abad XIX merupakan puncak perlawanan rakyat Indonesia di berbagai daerah dalam menentang rezim Pemerintah Hindia Belanda. Kegigihan perlawanan rakyat Indonesia itu menyebabkan Belanda mengalami krisis keuangan untuk biaya perang. Perlawanan di berbagai daerah tersebut memang belum berhasil membuahkan kemerdekaan. Semua perlawanan dapat dipadamkan dan kerajaan-kerajaan di Indonesia pelan-pelan mengalami keruntuhan.

Jejak-jejak perlawanan tersebut masih terjaga dari berbagai peninggalan yang masih ada hingga sekarang. Bahkan di berbagai daerah didirikan berbagai museum untuk menjadi media pembelajaran masyarakat saat ini. Dengan mengunjungi berbagai museum dan berbagai tempat peninggalan perlawanan rakyat Indonesia melawan Belanda, akan dapat menggugah semangat kebangsaan.

Di Maluku, kalian dapat mencari jejak peninggalan perjuangan Pattimura, apabila kalian tinggal di Sulawesi kalian akan dapat mengunjungi Benteng Rotterdam. Demikian juga dengan daerah-daerah lain, pasti kalian dapat menemukan berbagai peninggalan pada masa perjuangan rakyat melawan kolonialisme Belanda. Peninggalan di Yogyakarta adalah Goa Selarong, di Sumatra Barat terdapat Benteng Fort de Kock, di Kalimantan jejak-jejak peninggalan pada masa perang Banjar masih dapat ditemukan.

Apakah kalian pernah mengunjungi salah satu peninggalan pada masa perlawanan terhadap Pemerintah Hindia Belanda di atas? Bagaimana sikap kalian terhadap peninggalan itu? Generasi sekarang harus merawat peninggalan tersebut agar supaya dapat belajar bagaimana perjuangan para pahlawan pada masa lalu. Dengan demikian kalian akan semakin bersemangat untuk giat belajar dan membangun bangsa Indonesia agar terus berjaya.

Perlawanan pada masa Pemerintah Hindia Belanda terjadi di berbagai wilayah Nusantara. Lokasi Indonesia pada masa lalu sulit dijangkau, sehingga perlawanan hanya bersifat lokal dan tidak dapat dilakukan secara serentak. Faktor inilah yang merupakan salah satu penyebab Belanda dapat melumpuhkan perlawanan Bangsa Indonesia pada masa lalu.
10 November 2016

Pengertian Nasionalisme :Faktor Dan Bentuk Nasionalisme

Pengertian Nasionalisme

Pengertian Nasionalisme Secara Sederhana adalah semangat kebangsaan, perasaan kebangsaan, yaitu semangat cinta atau perasaan cinta terhadap bangsa dan tanah air melebihi apapun juga. Sedangkan Secara Umum, Pengertian Nasionalisme adalah paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara yang memiliki tujuan atau cita-cita bersama untuk kepentingan nasional. Dengan praktek Nasionalisme tampak sebagai gerakan yang memperjuangkan atau mempertahankan kemerdekaan/kebebasan, kemakmuran atau kepentingan-kepentingan lainnya dari sesuatu bangasa. Penganut Nasionalisme disebut dengan Nasionalis. Kita sering juga mendengar/menjumpai istilah Negara Nasional yang dimaksudkannya adalah suatu negara yang kekuasaan pemerintahan meliputi dan diakui seluruh daerah negara.


Pengertian Nasionalisme Menurut Definisi Para Ahli 


  • Pengertian Nasionalisme menurut definisi Ir. Soerkano adalah pilar kekuatan bangsa-bangsa yang terjajah untuk memperoleh kemerdekaan. 
  • Pengertian Nasionalisme menurut definisi Anderson yang mengatakan bahwa pengertian Nasionalisme adalah kekuatan dan kontinuitas dari sentimen nasional dengan mementingkan nation. 
  • Pengertian Nasionalisme menurut definisi Lothrop Stoddard yang memandang Nasionalisme sebagai gejala Pengertian Nasionalisme psikologis yang mengatakan bahwa pengertian nasionalisme adalah suatu keadaan jiwa atau suatu kepercayaan yang dianut oleh sejumlah besar manusia sehingga mereka membentuk suatu kebangsaan. 
  • Pengertian Nasionalisme menurut definisi Joseph Ernest Rehan adalah kemauan untuk bersatu tanpa paksaan dalam semangat persamaan dan kewarganegaraan. 
  • Pengertian Nasionalisme menurut definisi H.Kohn yang mengatakan bahwa pengertian nasionalisme adalah suatu prinsip politik yang beranggapan bahwa unit nasional dan politik seharusnya seimbang.  
  • Pengertian Nasionalisme Menurut Prof. Dr. M. Dimyani Hartono. SH adalah rasa kecintaan terhadap negaranya yang tidak dapat dilepaskan dari rasa patriotisme. 
  • Pengertian Nasionalisme menurut Ernest Gellenervia, mengatakan bahwa pengertian nasionalisme adalah keseimbangan antara rasa nasional terhadap bangsa dengan 
Dengan praktek Nasionalisme terlihat sebagai gerakan yang memperjuangkan atau menjaga kemerdekaan/kebebasan, kemakmuran atau sebagian kepentingan yang lain dari sesuatu bangasa. Penganut Nasionalisme dimaksud dengan Nasionalis. Kita kerap juga mendengar/menjumpai arti Negara Nasional yang dimaksudkannya yaitu suatu negara yang kekuasaan pemerintahan mencakup serta diakui semua daerah negara.

Faktor-Faktor Kemunculan Nasionalisme - Dimulai dari abad ke 19 dan abad ke 20 mulai muncul benih-benih Nasionalisme pada bangsa-bangsa di Asia Afrika khususnya di Indonesia. Kemunculan paham nasionalisme pada masyarakat indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor-faktor yang dibagi atas dua yaitu faktor dari dalam (internal) dan faktor dari luar (ekternal).

  • Faktor dari Dalam (Internal)

Kenangan kejayaan masa lampau : Di masa lalu, bangsa Asia Afrika mengalami kejayaan sebelum masuknya paham imperialisme dan kolonialisme. Di indonesia sendiri pernah mengalami kejayaan pada masa kerajaan majapahit dan sriwijaya, yang dimana pada masa kerajaan majapahit yang kokoh di wilayah nusantara sedangkan sriwijaya tangguh dalam kemaritinannya.

Munculnya Golongan Cendekiawan : Perkembangan indonesia dari golongan-golongan cendekiawan atau pelajar yang menjadi penggerak dan pemimpin munculnya organisasi pergerakan nasional indonesia dalam melawan penjajah.

Perasaan yang sama dan sepenanggungan dari penderitaan dan kesengsaraan masa penjajahan : penderitaan dan kesengsaraan dari bentuk-bentuk penjajahan bangsa barat membuat banyak masyarakat memiliki tekat dengan menentang imperialisme barat.

Berkembangnya Paham Nasionalis dalam bidang sosial ekonomi, politik, kebudayaan : Dalam bidang politik yang menyuarakan aspirasi masyarakat pribumi dalam penderitaan dan kesengsaraan. Dalam bidang sosial ekonomi yang menyuarakan agar masyarakat hidup dengan sejahtera yang terlihat dari peran yang menghapuskan eksploitasi asing terhadap SDA di indonesia. Bidang kebudayaan yang melakukan aksi dengan melindungi, memperbaiki, dan mengembalikan budaya indonesia dari budaya asing.

  • Faktor dari Luar (Eksternal)

Munculnya Paham-Paham Baru : Munculnya berbagai paham-paham baru seperti nasionalisme, komunisme, imperialisme yang salah satunya pernah digunakan organisasi-organisasi dalam pergerakan nasional di indonesia.

Kemenangan Jepang atas Rusia : Kemenangan dalam peperangan jepang melawan rusia membuat semangat bangsa-bangsa Asia Afrika terpacu dalam melawan bangsa asing di negerinya atau penjajah.

Perkembangan Nasionalisme di berbagai negara : Banyaknya pergerakan-pergerakan nasionalisme membuat paham nasionalisme semakin berkembang dan menyebar di berbagai bangsa-bangsa Asia Afrika.


Bentuk-Bentuk Nasionalisme

Nasionalisme terdiri dari berbagai macam bentuk yang ada didunia. Macam-macam bentuk nasionalisme adalah sebagai berikut :

  • Nasionalisme kewarganegaraan (nasionalisme sipil),  adalah nasionalisme yang terjadi dimana negara memperoleh kebenaran politik dari partisipasi aktif rakyatnya. Keanggotaan suatu bangsa bersifat sukarela. Bentuk nasionalisme dibangun pertama-tama oleh Jean-Jacques Rousseau dan menjadi bahan tulisannya. Di antara tulisannya yang terkenal adalah buku yang berjudul Du Contract Social (kontrak sosial). 
  • Nasionalisme etnis atau etnonasionalisme, adalah nasionalisme yang terjadi dimana negara memperoleh kebenaran politik dari budaya asal atau etnis sebuah masyarakat. Keanggotan suatu bangsa bersifat secara turun temurun. Seperti joko merupakan orang dari jawa karena orang tua dan nenek moyangnya berasal dari suku Jawa. Joko menggunakan bahasa Jawa karena bahasa itu dipakai oleh orang tuanya dan orang-orang sebelumnya.  
  • Nasionalisme romantik, adalah bentuk nasionalisme etnis di mana negara memperoleh kebenaran politik sebagai suatu yang alamiah (organik) dan merupakan ekspresi dari bangsa atau ras. Nasionalisme romantik menitikberatkan pada budaya etnis yang sesuai dengan idealisme romantik. Contohnya adalah cerita rakyat (folklore) "Grimm Bersaudara" yang diambil dari tulisan Herder merupakan koleksi kisah-kisah yang berkaitan dengan etnis Jerman. 
  • Nasionalisme budaya, adalah nasionalisme di mana negara memperoleh kebenaran politik dari budaya bersama dan tidak bersifat turun temurun misalnya warna kulit atau ras atau bahasa. Contohnya adalah rakyat cina yang menganggap negara berdasarkan budaya bersama. Unsur ras telah dikesampingkan sehingga golongan minoritas telah dianggap sebagai rakyat Cina kesediaan Dinasti Qing untuk menggunakan adat istiadat Cina juga membuktikan keutuhan budaya Cina. 
  • Nasionalisme kenegaraan, merupakan variasi nasionalisme kewarganegaraan, yang sering dikombinasikan dengan nasionalisme etnis. Dalam nasionalisme kenegaraan, bangsa adalah suatu komunitas yang memberikan kontribus terhadap pemeliharaan dan kekuatan negara. Contoh nasionalisme kenegaraan adalah fasisme italia yang menganut slogan Mussolini: Tutto nello stato, niente al di fuori dello stato, nulla contro lo stato (semuanya di dalam negara, tidak ada satupun yang di luar negara, tidak ada satupun yang menentang negara). Tidaklah mengherankan jika nasionalisme ini bertentangan dengan cita-cita kebebasan individual dan prinsip demokrasi liberal. 
  • Nasionalisme agama, adalah nasionalisme dimana negara memperoleh legitimasi politik dari persamaan agama. Seperti semangat nasionalisme di Irlandia yang bersumber dari agama Hindu. Namun demikian, bagi kebanyakan kelompok nasionalis. agama hanya merupakan simbol dan bukanlah motivasi utama. 


23 July 2016

Perkembangan Ekonomi Masa Demokrasi Terpimpin

Seiring dengan perubahan politik menuju demokrasi terpimpin maka ekonomipun mengikuti ekonomi terpimpin. Sehingga ekonomi terpimpin merupakan bagian dari demokrasi terpimpin. Dimana semua aktivitas ekonomi disentralisasikan di pusat pemerintahan sementara daerah merupakan kepanjangan dari pusat. Demokrasi terpimpin adalah sebuah demokrasi yang sempat ada di Indonesia, yang seluruh keputusan serta pemikiran berpusat pada pemimpinnya saja.

1. Pembentukan Badan Perencana Pembangunan Nasional
Untuk melaksanakan pembangunan ekonomi di bawah Kabinet Karya maka dibentuklah Dewan Perancang Nasional (Depernas) pada tanggal 15 Agustus 1959 dipimpin oleh Moh. Yamin dengan anggota berjumlah 50 orang.mTugas Depernas antara lain :
  • Mempersiapkan rancangan Undang-undang Pembangunan Nasional yang berencana
  • Menilai Penyelenggaraan Pembangunan

Hasil yang dicapai, dalam waktu 1 tahun Depenas berhasil menyusun Rancangan Dasar Undang-undang Pembangunan Nasional Sementara Berencana tahapan tahun 1961-1969 yang disetujui oleh MPRS melalui Tap MPRS No. I/MPRS/1960 tanggal 26 Juli 1960 dan diresmikan pelaksanaanya oleh Presiden Soekarno pada tanggal 1 Januari 1961
Perkembangan Ekonomi Masa Demokrasi Terpimpin
Mengenai masalah pembangunan terutama mengenai perencanaan dan pembangunan proyek besar dalam bidang industri dan prasarana tidak dapat berjalan dengan lancar sesuai harapan. 1963 Dewan Perancang Nasional (Depernas) diganti dengan nama Badan Perancang Pembangunan Nasional (Bappenas) yang dipimpin oleh Presiden Sukarno.

2. Pemotongan Nilai Uang
Kebijakan sanering yang dilakukan pemerintah berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No. 2/1959 yang berlaku tanggal 25 Agustus 1959 pukul 06.00 pagi. Tujuan dilakukan sanering adalah :
  • Untuk membendung inflasi yang tetap tinggi
  • Untuk mengurangi jumlah uang yang beredar di masyarakat
  • Meningkatkan nilai rupiah sehingga rakyat kecil tidak dirugikan.

Pemerintah mengumumkan keputusannya mengenai pemotongan nilai uang, yaitu sebagai berikut.
  • Uang kertas pecahan bernilai Rp. 500 menjadi Rp. 50
  • Uang kertas pecahan bernilai Rp. 1.000 menjadi Rp. 100
  • Pembekuan semua simpanan di bank yang melebihi Rp. 25.000

Tetapi usaha pemerintah tersebut tetap tidak mampu mengatasi kemerosotan ekonomi yang semakin jauh, terutama perbaikan dalam bidang moneter. Para pengusaha daerah di seluruh Indonesia tidak mematuhi sepenuhnya ketentuan keuangan tersebut. Pada masa pemotongan nilai uang memang berdampak pada harga barang menjadi murah tetapi tetap saja tidak dapat dibeli oleh rakyat karena mereka tidak memiliki uang. Hal ini disebabkan karena :
  • Penghasilan negara berkurang karena adanya gangguan keamanan akibat pergolakan daerah yang menyebabkan ekspor menurun.
  • Pengambilalihan perusahaan  Belanda pada tahun 1958 yang tidak diimbangi oleh tenaga kerja manajemen yang cakap dan berpengalaman.
  • Pengeluaran biaya untuk penyelenggaraan Asian Games IV tahun 1962, RI sedang mengeluarkan kekuatan untuk membebaskan Irian Barat.

Kebijakan keuangan kemudian diakhiri dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No. 6/1959 yang isi pokoknya ialah ketentuan bahwa bagian uang lembaran Rp1000 dan Rp500 yang masih berlaku harus ditukar dengan uang kertas bank baru yang bernilai Rp100 dan Rp50 sebelum tanggal 1 Januari 1960.

3. Konsep Djuanda
Setelah keamanan nasional berhasil dipulihkan, kasus DI Jawa Barat dan pembebasan Irian Barat, pemerintah mulai memikirkan penderitaan rakyatnya dengan melakukan rehabilitasi ekonomi. Konsep rehabilitasi ekonomi disusun oleh tim yang dipimpin oleh Menteri Pertama Ir Djuanda dan hasilnya dikenal dengan sebutan Konsep Djuanda. Namun konsep ini mati sebelum lahir karena mendapat kritikan yang tajam dari PKI karena dianggap bekerja sama dengan negara revisionis, Amerika Serikat dan Yugoslavia.

4. Deklrasai Ekonomi
Deklarasi Ekonomi (Dekon) adalah Deklarasi yang disampaikan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 28 Maret 1963 di Jakarta, untuk menciptakan ekonomi nasional yang bersifat demokratis dan bebas dari imperialism dan system ekonomi berdikari (berdiri di atas kaki sendiri). Deklarasi Ekonomi (Dekon) sebagai strategi dasar ekonomi Indonesia dalam rangka pelaksanaan Ekonomi Terpimpin.

Strategi Ekonomi Terpimpin dalam Dekon terdiri dari beberapa tahap; Tahapan pertama, harus menciptakan suasana ekonomi yang bersifat nasional demokratis yang bersih dari sisa-sisa imperialisme dan kolonialisme. Tahapan ini merupakan persiapan menuju tahapan kedua yaitu tahap ekonomi sosialis. Beberapa peraturannya merupakan upaya mewujudkan stabilitas ekonomi nasional dengan menarik modal luar negeri serta merasionalkan ongkos produksi dan menghentikan subsidi.

Peraturan pelaksanaan Dekon tidak terlepas dari campur tangan politik yang memberi tafsir sendiri terhadap Dekon. PKI termasuk partai yang menolak melaksanakan Dekon, padahal Aidit terlibat di dalam penyusunannya, selama yang melaksanakannya bukan orang PKI. Empat belas peraturan pemerintah yang sudah ditetapkan dihantam habis-habisan oleh PKI. Djuanda dituduh PKI telah menyerah kepada kaum imperialis. Presiden Soekarno akhirnya menunda pelaksanaan peraturan pemerintah tersebut pada bulan September 1963 dengan alasan sedang berkonsentrasi pada konfrontasi dengan Malaysia.

5. Kenaikan Laju Inflasi
Kondisi ekonomi semakin memburuk karena anggaran belanja negara setiap tahunnya terus meningkat tanpa diimbangi dengan pendapatan negara yang memadai. Walaupun cadangan devisa menipis, Presiden Soekarno tetap pada pendiriannya untuk menghimpun dana revolusi, karena dana ini digunakan untuk membiayai proyek-proyek yang bersifat prestise politik atau mercusuar, dengan mengorbankan ekonomi dalam negeri. Latar Belakang meningkatnya laju inflasi :
  • Penghasilan negara berupa devisa dan penghasilan lainnya mengalami kemerosotan.
  • Nilai mata uang rupiah mengalami kemerosotan
  • Anggaran belanja mengalami defisit yang semakin besar.
  • Pinjaman luar negeri tidak mampu mengatasi masalah yang ada
  • Upaya likuidasi semua sektor pemerintah maupun swasta guna penghematan dan pengawasan terhadap pelaksanaan anggaran belanja tidak berhasil.
  • Penertiban administrasi dan manajemen perusahaan guna mencapai keseimbangan keuangan tak memberikan banyak pengaruh
  • Penyaluran kredit baru pada usaha-usaha yang dianggap penting bagi kesejahteraan rakyat dan pembangunan mengalami kegagalan.
Kegagalan-kegagalan tersebut disebabkan karena:
  • Pemerintah tidak mempunyai kemauan politik untuk menahan diri dalam melakukan pengeluaran.
  • Pemerintah menyelenggarakan proyek-proyek mercusuar seperti GANEFO (Games of the New Emerging Forces ) dan CONEFO (Conference of the New Emerging Forces) yang memaksa pemerintah untuk memperbesar pengeluarannya pada setiap tahunnya.

Dampaknya :
  • Inflasi semakin bertambah tinggi
  • Harga-harga semakin bertambah tinggi,  kenaikan barang mencapai 200-300% pada tahun 1965
  • Kehidupan masyarakat semakin terjepit
  • Indonesia pada tahun 1961 secara terus menerus harus membiayai kekurangan neraca pembayaran dari cadangan emas dan devisa
  • Ekspor semakin buruk dan pembatasan Impor karena lemahnya devisa.
  • Tahun 1965, cadangan emas dan devisa telah habis bahkan menunjukkan saldo
  • negatif sebesar US$ 3 juta sebagai dampak politik konfrontasi dengan  Malaysia dan negara-negara barat.
Kebijakan Pemerintah :
  • Keadaan defisit negara yang semakin meningkat ini diakhiri pemerintah dengan pencetakan uang baru tanpa perhitungan matang. Sehingga menambah berat angka inflasi.
  • Pada tanggal 13 Desember 1965 pemerintah mengambil langkah devaluasi dengan menjadikan uang senilai Rp. 1000 menjadi Rp. 1

Dampaknya dari kebijakan pemerintah tersebut :
  • Uang rupiah baru yang seharusnya bernilai 1000 kali lipat uang rupiah lama akan tetapi di masyarakat uang rupiah baru hanya dihargai sekitar 10 kali lipat lebih tinggi dari uang rupiah baru.
  • Tindakan moneter pemerintah untuk menekan angka inflasi malahan menyebabkan meningkatnya angka inflasi.

Tindakan penggantian uang lama dengan uang baru diikuti dengan pengumuman kenaikan harga bahan bakar yang mengakibatkan reaksi penolakan masyarakat. Hal inilah yang kemudian menyebabkan mahasiswa dan masyarakat turun ke jalan menyuarakan aksiaksi Tri Tuntutan Rakyat (Tritura).