Showing posts sorted by relevance for query komponen ekosistem. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query komponen ekosistem. Sort by date Show all posts

Pengertian, Komponen, dan Macam–Macam Ekosistem

Pengertian, Komponen, dan Macam–Macam Ekosistem. Pengertian Ekosistem, Komponen dari Sebuah Ekosistem, Macam-Macam Ekosistem, Ekosistem Darat, Ekosistem Laut. Istilah-Istilah dalam Ekosistem, Fungsi dari sebuah Ekosistem.

Pengertian Ekosistem 

Sumber: blingurah.com
Dalam sebuah daerah, lingkungan atau lokasi, umpamanya hutan, kolam, danau, waduk serta lain sebagainya sudah terjadinya hubungan antar komponen biotik (makhluk hidup) serta komponen abiotik (makhluk tidak hidup).

Misalnya satu tumbuhan membutuhkan tanah, unsur hara, sinar serta air untuk tumbuh. Lantas tumbuhan ini lantas dapat jadi sumber makanan untuk makhluk hidup yang lain seperti hewan ataupun manusia serta demikian selanjutnya.

Momen yang di atas tadi adalah sebuah system ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungan serta umumnya kita kenal dengan ekosistem.

Sebuah system ini terbagi dalam beragam komponen yang sama-sama melengkapi serta bekerja terus-menerus serta teratur sebagai satu kesatuan yang utuh.

Sedangkan ekologi yaitu pengetahuan sains yang mempelajari hubungan timbal balik antara organisme yang satu dengan tempat hidup atau habitatnya.

Jadi dapat di ambil kesimpulan kalau ekosistem yaitu sebuah tatanan kesatuan secara utuh serta menyeluruh antara seluruh komponen lingkungan hidup yang sama-sama berhubungan serta melengkapi hingga terbentuk kesatuan yang teratur.

Kesatuan yang utuh serta teratur ini ada pada bingkai keseimbangan yang miliki sifat dinamis. Arti dinamis di sini yaitu bisa saja sewaktu-waktu terjadi perubahan, baik besar ataupun kecil yang dikarenakan oleh tangan manusia.

Komponen Ekosistem 

Sumber: wikipedia.org
Ekosistem dapat berbagai jenis bentuknya sesuai sama bentangan maupun hamparan tempat ekosistem berada. Misalnya ekosistem hutan, rawa-rawa, waduk, danau, hutan hujan tropis serta lain sebagainya.

Walau demikian bila diurutkan bersumber pada komponen terbagi dalam komponen fisik atau tidak hidup (abiotik) serta hayati atau hidup (biotik).

Komponen fisik atau tidak hidup misalnya udara, angin, cahaya, air, tanah, curah hujan serta lain sebagainya. Seluruh bentuk materi ini berupa daya serta materi dalam ruang lingkup ekosistem.

Komponen abiotik atau hidup dilihat dari susunan trofiknya, terbagi dalam beberapa status sosial atau tingkatan, yaitu produsesm customer serta pengurai. Sedangkan dilihat dari manfaatnya terbagi dalam dua komponen besar yakni komponen autotrof serta heterotrof.

Produsen 

Produsen adalah sebuah bentuk organisme atau makhluk hidup yang dapat membentuk serta membuat makanannya sendiri dari beragam zat organik dengan lewat proses fotosintesis serta klorofil.

Bentuk organisme ini disebut dengan autotrof sebab dapat dan mampu membentuk serta membuat makanannya sendiri dan dapat juga membantu keperluan makhluk hidup yang lain.

Konsumen 

Konsumen adalah beberapa kumpulan atau beberapa kelompok makhluk hidup yang mengonsumsi produsen serta hewan yang lain. Bentuk kelompok ini tidak dapat membuat makanannya sendiri dari beberapa bahan anorganik. Hingga dia amat tergantung pada organisme produsen.

Komponen ini di kenal dengan heterotrof. Di dalam konsumen sendiri terdiri lagi beberapa tingkatan. Yaitu hewan yang mengonsumsi organisme produsen disebut dengan konsumen primer. Bentuk hewan ini terbagi dalam herbivora di dalam susunan trofik menempati tingkatan trofik kedua.

Lantas konsumen yang mengonsumsi organisme herbivora disebut dengan konsumen sekunder yang terbagi dalam hewan karnivora ataupun omnivora. Serta konsumen sekunder ini masuk ke dalam tingkatan trofik ketiga.

Biasanya hubungan antarkomponen biotik dalam sebuah system ekosistem umumnya saling terkait dalam system rantai makanan. Rantai makanan yang saling terkait akan membuat jaringan kehidupan yang baru.

Pengurai 

Pengurai adalah sebuah bentuk organisme yang tugasnya menguraikan sisa-sisa makhluk hidup yang lain yang sudah mati jadi beberapa zat organik. Lantas zat ini akan disimpan di dalam tanah lantas digunakan oleh tumbuhan sebagai bahan makanan (penyubur tanaman).

Contoh organisme pengurai yaitu bakteri serta jamur. Kehadiran organisme pengurai amat dibutuhkan untuk makhluk hidup.

Aliran Materi Serta Energi Dalam Ekosistem 

Produsen bersamaan dengan konsumen membuat rangkai makanan lantas dibantu dengan pengurai hingga terbentuklah daur materi. Satu ekosistem akan terbentuk dengan baik bila di dalamnya ada aliran materi serta energi.

Aliran materi akan mengalir dari mata rantai satu ke mata rantai lain dalam sebuah rantai makanan. Materi yaitu segala suatu hal yang mempunyai massa serta menempati ruang.

Massa di sini barmakna berat serta dapat ditimbang. Dalam momen makan memakan, maka akan terjadi perpindahan materi dari organisme yang dikonsumsi menuju ke organisme yang mengonsumsi.

Makanan yang dikonsumsi oleh organisme memiliki kandungan energi untuk menjalani kegiatan. Bersamaan dengan itu aliran materi juga ikut terbawa begitu halnya aliran energi.

Aliran energi yaitu rentetan berurut dari perpindahan bentuk energi ke bentuk energi yang lain serta diawali dari cahaya matahari sampai ke produsen, konsumen tingkat tinggi hingga ke pengurai (saprina) di dalam tanah.

Siklus atau daur hidup ini berlangsung dalam tatanan ekosistem. Jadi, daya tidak akan hilang akan tetapi akan beralih ke bentuk energi yang lain. Bila dalam pengetahuan fisika disebut dengan termodinamika. Yaitu hukum kekekalan energi.

Hukum Termodinamika I menyebutkan kalau energi dapat dirubah dari bentuk energi yang satu ke bentuk energi yang lain tetapi tidak bisa di ciptakan serta dimusnahkan.

Tetapi, Hukum Termodinamika II menyatakan kalau tidak ada sebuah proses pengubahan bentuk energi yang berjalan secara prima. Serta proses pengubahan ini senantiasa meninggalkan sisa yang tidak terpakai pada proses itu.

Jadi sisa energi yang tidak terpakai ini disebut dengan entropi. Atau dalam dunia industri disebut juga dengan limbah atau hasil pembuangan pabrik.

Sumber energi itu banyak macamnya. Tetapi sumber energi paling utama di dunia yaitu matahari. Lantaran semua komponen kehidupan memmbutuhkan serta memakai matahari dalam proses hidupnya.

Umpamanya saja tumbuhan memakai sinar matahari untuk proses fotosintesis serta organisme lain memerlukan cahaya matahari untuk merubah zat anorganik jadi organik atau disebut juga dengan kemoautotrof.

Interaksi Komponen Abiotik Dengan Komponen Biotik 

Dalam persoalan ini komponen biotik sebagian besar di pengaruhi oleh komponen abiotik. Contoh, sebatang tumbuhan amat tergantung dengan kehadiran serta petumbuhannya dari komponen abiotik, seumpamanya tanah, air, udara, cahaya.

Mengenai beberapa bentuk tanaman cuma dapat tumbuh serta berkembang hanya di tanah tertentu saja. Demikian halnya perihal persebaran tanaman di pengaruhi juga oleh aspek cuaca serta iklim. Umpamanya, tanaman kelapa bisa tumbuh subur serta berbuah lebat cuma di daerah pesisir pantai akan tetapi tidak untuk daerah pegunungan.

Interaksi Antarorganisme 

Pada intinya tiap organis berhubungan dengan antarorganisme maupun dengan bentuk lain. Tetapi interaksi antarorganisme ini bisa dibedakan jadi 5 diantaranya:

Netral 

Netral yaitu hubungan atau hubungan tidak sama-sama mengganggu antarorganisme dalam satu habitat yang sama serta miliki sifat menguntungkan dan tidak merugikan kedua belah pihak.

Predasi 

Predasi yaitu interaksi atau hubungan antarorganisme mangsa serta pemangsa (predator). Artinya seekor pemangsa dalam soal ini hewan tidak dapat hidup jika tidak ada yang dimangsa.

Parasitisme 

Parasitime yaitu hubungan atau hubungan antarorganisme yang berbeda spesies serta miliki sifat merugikan dari masing-masing spesies yang berbeda.

Komensalisme 

Komensalisme yaitu interaksi atau hubungan pada dua organisme yang masing-masing berbeda spesies, spesies yang pertama diuntungkan serta spesies yang lain tidak dirugikan.

Mutualisme 

Mutualisme yaitu interaksi atau hubungan antar dua organisme atau lebih yang berbeda bentuk atau spesies serta sama-sama menguntungkan antar kedua belah pihak.

Interaksi Antarpopulasi 

Biasanya interaksi antarpopulasi terjadi cuma pada populasi yang satu dengan yang lain. Dan bersifat alelopati ataupun kompetisi. Adapun interaksi alelopti yaitu hubungan yang terjadi antar populasi yang terjadi jika populasi yang pertama menghasilkan zat yang dapat menghalangi tumbunya populasi lain.

Interaksi Antarkomunitas 

Komunitas adalah kumpulan populasi yang berbeda serta sama-sama berhubungan di dalam sebuah lokasi yang sama. Contoh, daerah padang rumput yang ditempati oleh hewan pemakan rumput yakni kuda, banteng, kelinci, rusa serta lain sebagainya.

Beberapa Jenis Ekosistem (Bioma) 

Nama lain dari ekosistem yaitu bioma. Meskipun kelihatannya bioma adalah bagian dari ekosistem akan tetapi dalam dunia biologi kerapkali juga menyamai ekosistem dengan bioma. Bioma yaitu komune satuan di dalam ekosistem sebagai hasil interaksi atau hubungan iklim regional atau lokasi dengan biota (makhluk hidup) serta substratnya.

Jadi iklim maupun cuaca amat menentukan bentuk biota yang hidup di sebuah wilayah atau lokasi itu. Umpamanya, lokasi padang rumput tumbuh di daerah yang mempunyai curah hujan yang stabil.

Bersumber pada jenis atau macam-macamnya ekosistem dibedakan jadi 2 bentuk yaitu ekosistem darat serta ekosistem perairan (ekosistem darat serta ekosistem air laut).

Ekosistem Darat 

Ekosistem darat yaitu lingkungan atau lokasi fisik yang berbentuk daratan. Dalam ekosistem ada beberapa kumpulan atau beberapa bioma. Seperti yang sudah dijelaskan di atas bioma sama dengan ekosistem, oleh karena itu kita mengistilahkan beberapa ekosistem darat dengan bioma, salah satunya:

Bioma Gurun 
Sumber: satujam.com
Bioma gurun yaitu sebuah bentuk ekosistem yang cuma ada pada daerah dengan curah hujan kurang dari 25 cm/tahun serta mempunyai suhu yang tinggi pada siang hari yaitu 45 derajat C serta suhu rendah saat malam hari yaitu 0 derajat C. Bioma gurun ada di sepanjang garis balik utara serta selatan dengan keadaan udara yang mengalami subsidensi (turun), hingga terjadi penempatan udara.

Bioma Padang Rumput 
Sumber: renunganhariankristen.net
Bioma Padang Rumput yaitu bentuk ekosistem yang mempunyai curah hujan terbatas yaitu 25 cm – 30 cm/tahun. Hingga bentuk ekosistem ini tidak dapat membentuk hutan. Bioma padang rumput bisa ditemui di daerah atau lokasi tropis serta sub tropis. Misalnya negara-negara Asia Tenggara serta beberapa negara Asia Utara.

Bioma Hutan Basah 
Sumber: widrializa.blogspot.co.id
Bioma Hutan Basah yaitu bentuk ekosistem dengan curah hujan yang cukup lebat atau tinggi yaitu 200 cm – 225 cm/tahun. Jenis ekosistem ini dapat dijumpai di lokasi tropis serta sub tropis.

Bioma Hutan Gugur 
Sumber: geographyeducation.wordpress.com
Bioma Hutan Gugur yaitu bentuk ekosistem yang mempunyai iklim sedang atau lokasi yang beriklim 4 musim. Ciri bioma hutan gugur yaitu mempunyai curah hujan yang merata setiap tahun, pohon yang tumbuh tidak serapat dengan tumbuhan di bioma hutan basah.

Bioma Taiga 
Sumber: emaze.com
Bioma Taiga yaitu bentuk ekosistem yang mempunyai ciri berdaun jarum (kolifer). Jika kita melirik di bagian selatan dari Tundra akan didapati bentuk kelompok tanaman pohon jarum. Batas antara dua bentuk ekosistem Tundra serta Taiga disebut dengan batas pohon lantaran lokasi ini masih memungkinkan tumbuhnya pohon-pohon maupun tidak.

Bioma Tundra 
Sumber: bioexpedition.com
Bioma tundra yaitu bentuk ekosistem dengan lokasi yang tidak mempunyai pohon-pohon. Lokasi ini dapat diketemukan di dearah kutub yang amat dingin.

Serta bentuk tumbuhan yang dapat bertahan di ekosistem ini cuma gulam serta lumut kerak serta tumbuhan yang dominan yaitu Sphagnum, liken, tumbuhan biji semusim, tumbuhan kayu dengan batang pendek dan rumput.

Ekosistem Air Tawar 

Ekosistem air tawar adalah bentuk ekosistem yang mempunyai ciri diantaranya macam suhu yang tidak menyolok, penetrasi sinar kurang serta di pengaruhi oleh iklim serta cuaca.

Pada ekosistem air tawar umumnya tanaman yang tumbuh serta seringkali ditemui yaitu ganggang serta tumbuhan biji.

Ekosistem air tawar bisa digolongkan berdasarkan sifatnya jadi dua bentuk yaitu air tenang serta air mengalir. Danau dan rawa masuk ke dalam kelompok ekosistem air tenang sedangkan sungai masuk ke dalam kelompok ekosistem air mengalir.

Ekosistem Air Tawar

Danau 
Sumber: fairyterritory.blogspot.co.id
Danau adalah kumpulan air yang menggenang di atas lokasi depresi atau cekungan yang luasnya dari mulai beberapa meter persegi sampai beberapa ratus meter persegi.

Keadaan danau bila dilihat dari kedalaman memliki ketidaksamaan yang menyolok. Danau dengan kedalaman spesifik akan hidup tumbuhan serta hewan spesifik juga.

Oleh karena itu danau dibedakan lagi jadi 4 daerah yang berbeda yakni: 
  1. Daerah Litorial, Daerah litorial yaitu sisi danau dengan kedalaman yang dangkal hingga sinar matahari dapat menembus hingga ke dasar danau secara maksimal. 
  2. Daerah Limnetik, Berbeda dengan daerah litorial, daerah limnetik yaitu daerah yang masih tetap dapat ditembus oleh cahaya matahari. Bentuk hewan yang dapat diketemukan di sini yaitu fitoplankton. Serta fitoplankton dimangsa oleh udang kecil. 
  3. Daerah Profundal, Daerah profundal yaitu daerah yang ditempati oleh hewan seperti cacing serta mikroba. Bentuk daerah ini dapat kerap disebut juga dengan daerah afotik danau. 
  4. Daerah Bentik, Daerah bentik yaitu daerah dasar danau yang ditempati oleh bentuk organisme mati serta bentos. 
Ekosistem Air Tawar Bersumber pada Produksi Materi Organik 

Tidak hanya dibedakan berdasarkan kedalaman serta jarak, danau dapat juga dibedakan bersumber pada produksi materi organiknya, diantaranya:
  1. Danau Oligotropik, Danau Oligotropik yaitu bentuk danau yang di dalamnya ada bentuk hewan fitoplanklon tetapi tidak produktif hingga kekurangan nutrisi. Keunikan danau ini yaitu airnya yang amat jernih, organisme yang hidup amat sedikit serta ada oksigen yang cukup sepanjang tahun. 
  2. Danau Eutropik, Danau Eutropik yaitu danau dangkal tetapi mempunyai fitoplankton yang banyak serta produktif hingga kaya akan nutrisi. Tetapi sayangnya danau ini mempunyai air yang keruh, bermacam bentuk organisme serta cukup oksigen. 
Ekosistem Air Tawar

Sungai 
Sumber: dhemasdewata.blogspot.co.id
Sungai adalah bentuk ekosistem air tawar yang mempunyai daerah yang cukup besar. Tidak sama dengan danau yang airnya cenderung diam. Air sungai mengalir dari tempat tinggi ke permukaan yang rendah.

Hingga tidak mensupport adanya hewan plankton di lokasi ini. Tetapi, tumbuhan seperti ganggang tetap dapat berkembang oleh karena adanya cahaya matahari hingga membantu proses potosintesis serta rantai makanan.

Belakangan ini ekosistem sungai mulai mengalami masalah lantaran pembangunan bendungan maupun waduk. Kehadiran waduk bisa memutus rantai makanan beberapa ikan yang bergerak dari hulu ke hilir untuk bertelur.

Oleh karena itu, banyak spesies ikan hilang dari alirang sungai. Misalnya yaitu ikan sidat serta ikan pelus. Kedua ikan ini keberadaannya nyaris punah. Sebab untuk bertelur ikan pelus menempatkan telurnya di laut serta untuk mencari makanan di sungai.

Ekosistem Air Laut 

Sama seperti dengan darat, ekosistem air laut dibedakan jadi 4 diantaranya:

Laut 
Sumber: search.yahoo.co.jp
Seperti di ketahui kalau 2/3 dari bumi yaitu laut. Air laut mempunyai kandungan garam atau NaCl yang amat tinggi terlebih laut merah. Air laut mempunyai sahu yang beragam. Di daerah beriklim tropis, suhu air laut beragam yaitu mencapai 25 derajat C serta suhu di atas serta di bawah permukaan mempunyai perbedan yang cukup besar.

Bagian antara susunan air hangat yang ada pada bagian atas dengan yang dingin pada bagian bawah diberi nama batas termoklin. Ekosistem air laut bersumber pada letak kedalamannya dibedakan jadi 4 lokasi yaitu:
  1. Lokasi Pasang (Littoral), Lokasi pasang atau littoral adalah sisi dari dasar laut yang kering bila terjadi surut. Jadi, ikan tidak dapat hidup di lokasi ini tetapi beberapa bentuk binatang darat dapat ditemui di lokasi ini. 
  2. Lokasi Laut Dangkal (Neritic), Lokasi laut dangkal atau neritic yaitu lokasi dengan kandungan airnya sedikit hingga masih tetap memungkinkan cahaya matahari tembus ke permukaan dasar laut. Indoensia sendiri mempunyai beberapa lokasi laut yang dangkal. Misalnya Laut Jawa, Natuna, Kepulaun Riau, Selat Malaka yang kerap disebut juga landas kontinen sunda. Serta Laut Arufu yang disebut juga landas kontinen sahul. 
  3. Lokasi Lautan Dalam (Bathyal), Lokasi lautan dalam yaitu lokasi laut yang ada pada kedalaman antara 150 – 800 meter. Jadi amat susah untuk cahaya matahari yang tembus ke dasar laut seperti pada lokasi laut dangkal. 
  4. Lokasi Laut Amat Dalam (Abyssal), Lokasi laut amat dalam yaitu lokasi dengan kedalaman di bawah 800 meter. Dengan kedalaman nyaris 1 km itu amat susah untuk tanaman agar bisa hidup ataupun bertahan lantaran sumber sinar tidak dapat menembusnya. Hingga jumlah hewan ataupun tumbuhan amat terbatas terkecuali beberapa jenis hewan yang dapat bertahan di lingkungan itu. 
Pantai 
Sumber: pantai-indah.com
Pantai yaitu sisi ekosistem laut yang terdapat di antara 2 ekosistem yakni ekosistem darat serta laut. Bersumber pada tata letaknya, ekosistem pantai berbatasan dengan ekosistem darat, laut ataupun daerah gunakan surut.

Estuari 
Sumber: thinglink.com
Estuari yaitu tempat bertemunya antara sungai dengan laut atau umum disebut juga dengan muara. Sehinngga nutrisi yang dibawa bersamaan dengan proes erosi dapat memperkaya sungai ataupun daratan.

Adapun salinitas di estuari di pengaruhi oleh siklus harian dengan pasang surut air. Di saat pasang, air laut akan masuk ke tubuh sungai untuk meningkatkan salinitasnya.

Terumbu Karang 
Sumber: blogs.uajy.ac.id
Terumbu karang yaitu bentuk ekosistem yang bisa ditemui di daerah beriklim tropis dengan ciri airnya jernih, hingga amat gampang untuk cahaya matahari untuk masuk atau menembus ke permukaan laut hingga amat gampang untuk terjadinya proses fotosintesis.

Lokasi ini didominasi oleh karang atau koral yang masuk ke dalam kelompok Cnidaria. Terumbu karang populer dengan beragam macamnya. Salah satunya ikan hias yang bernilai tinggi. Tetapi banyak dilihat lantaran ulah tangan jahil manusia keadaan terumbu karang saat ini amat memprihatinkan.

Dan itulah pembahasan kami mengenai Pengertian, Komponen, dan Macam–Macam Ekosistem, untuk berbagai informasi yang kami sajikan pada kesempatan ini, harapannya semoga Postingan kali ini mengenai Macam–Macam Ekosistem di atas sedikitnya dapat menambah pengetahuan tersendiri bagi anda para pembaca.

Khususnya bagi anda yang saat ini sedang mencari sumber pengetahuan untuk lebih memahami Segala Hal tentang Ekosistem. Terima kasih atas kunjungannya dan salam sukses untuk sahabat semuanya.

Referensi:
  1. berkahkhair.com 

Pengertian Ekosistem

Pengertian Ekosistem



Ekosistem merupakan suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara tamu dengan lingkungan. Ekosistem dapat dianggap sebagai suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara semua elemen lingkungan yang mempengaruhi satu sama lain.

Dalam ekosistem, organisme berkembang di masyarakat bersama-sama dengan lingkungan fisik sebagai suatu sistem. Organisme akan beradaptasi dengan lingkungan fisik, sebaliknya organisme juga mempengaruhi lingkungan fisik untuk hidup. Ide ini didasarkan pada Hipotesis Gaia, yaitu: “organisme, dalam mikroorganisme tertentu, bersama-sama dengan lingkungan fisik menghasilkan suatu sistem kontrol yang menjaga negara di bumi cocok untuk kehidupan”.

Komponen pembentuk



Abiotik
Abiotik atau komponen tak hidup adalah komponen fisik dan kimia yang substrat atau di mana kelangsungan hidup, atau lingkungan di mana untuk hidup. Sebagian besar komponen abiotik bervariasi dalam ruang dan waktu. Komponen abiotik dapat berupa bahan organik, senyawa anorganik, dan faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi organisme, yaitu:

Suhu
Proses biologis dipengaruhi oleh suhu. Mamalia dan burung membutuhkan energi untuk mengatur suhu di dalam tubuh.

Air
Ketersediaan air mempengaruhi distribusi organisme. Organisme di gurun beradaptasi dengan ketersediaan air di padang pasir.
Garam, Konsentrasi garam mempengaruhi keseimbangan air dalam organisme melalui osmosis. Beberapa organisme terestrial beradaptasi dengan lingkungan dengan kandungan garam tinggi.

Sinar matahari 
Intensitas dan kualitas cahaya mempengaruhi proses fotosintesis. Air dapat menyerap cahaya sehingga lingkungan air, fotosintesis terjadi di sekitar permukaan matahari yang terjangkau. Di padang pasir, intensitas cahaya yang besar membuat peningkatan suhu sehingga hewan dan tumbuhan mengalami depresi.
Tanah dan batu, Beberapa karakteristik meliputi struktur fisik tanah, pH dan komposisi mineral membatasi penyebaran organisme berdasarkan pada isi sumber makanan mereka di tanah.

Iklim
kondisi cuaca untuk waktu yang lama di daerah. Iklim makro meliputi iklim global, regional dan lokal. Iklim mikro termasuk iklim di daerah yang dihuni oleh komunitas tertentu.

Biotik
Biotik adalah istilah yang biasanya digunakan untuk merujuk kepada sesuatu yang hidup (organisme). Komponen biotik adalah komponen yang membentuk suatu ekosistem selain komponen abiotik (tak bernyawa). Berdasarkan peran dan fungsi makhluk hidup dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu:

Heterotrof / Konsumen
Komponen heterotrofik terdiri dari organisme yang memanfaatkan bahan-bahan organik yang disediakan oleh organisme lain sebagai makanan. Komponen heterotrofik disebut konsumen makro (fagotrof) karena makanan dimakan lebih kecil. Diklasifikasikan manusia heterotrofik, hewan, jamur, dan mikroba.

Pengurai / dekomposer
Pengurai pengurai adalah organisme yang menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme mati. Pengurai konsumen juga disebut makro (sapotrof) karena makanan dimakan dalam ukuran yang lebih besar. Organisme pengurai menyerap sebagian dekomposisi dan melepaskan bahan sederhana yang dapat digunakan kembali oleh produsen. Diklasifikasikan sebagai pengurai adalah bakteri dan jamur. Ada juga pengurai disebut detritivor, hewan yaitu yang memakan membusuk sisa-sisa bahan organik, misalnya, adalah kutu kayu. Ada tiga jenis dekomposisi, yaitu:

Aerobik: oksigen adalah akseptor elektron / oksidan
Anaerobik: oksigen tidak terlibat. Bahan organik sebagai akseptor elektron / oksidan
fermentasi: oksidasi anaerobik bahan organik tetapi juga sebagai akseptor elektron. komponen ini di satu tempat dan berinteraksi membentuk suatu ekosistem yang teratur. Misalnya, dalam suatu ekosistem akuarium, ekosistem ini terdiri dari ikan sebagai komponen heterotrofik, tanaman air sebagai komponen autotrof, plankton mengambang di air sebagai komponen pengurai, sedangkan termasuk komponen abiotik adalah air, pasir, batu, mineral dan oksigen yang terlarut dalam air.
Ketergantungan

Rantai makanan
perpindahan materi dan energi melalui proses makan dan dimakan oleh urutan tertentu. Setiap tingkat dari rantai makanan disebut tingkat trofi atau tingkat trofi. Karena organisme pertama yang mampu menghasilkan zat makanan nabati, tingkat trofi pertama selalu diduduki oleh tanaman hijau sebagai produsen.

Antar komponen biotik dan abiotik


siklus karbon
siklus air
siklus nitrogen
siklus sulfur

Tipe-tipe Ekosistem


Ekosistem air tawar
Ekosistem laut
Ekosistem estuari
Estuari (muara)
Ekosistem pantai
Ekosistem sungai
Ekosistem terumbu karang
Ekosistem laut 
Ekosistem lamun

Terestrial (darat)
Penentuan zona dalam ekosistem terestrial ditentukan oleh temperatur dan curah hujan. Ekosistem darat dapat dikontrol oleh iklim dan gangguan. Iklim sangat penting untuk menentukan mengapa ekosistem terestrial berada pada tempat tertentu. Pola ekosistem dapat berubah akibat gangguan seperti petir, kebakaran, atau aktivitas manusia.

Hutan hujan tropis
Hutan hujan tropis berada di daerah tropis dan subtropis. Karakteristik adalah 200-225 cm curah hujan per tahun. Relatif banyak spesies pohon, spesies berbeda satu sama lain tergantung pada geografi. Tinggi pohon utama antara 20-40 m, cabang-cabang pohon tinggi dan berdaun untuk membentuk hood (kanopi).

Sabana
Sabana tropis berada di daerah dengan curah hujan 40-60 inci per tahun, tapi temepratur dan kelembaban masih tergantung pada musim. Sabana adalah terluas di dunia adalah di Afrika; tetapi di Australia juga ada savana yang luas.

Padang rumput
Padang rumput di daerah yang membentang dari daerah tropis ke subtropis. Ciri-ciri padang rumput adalah sekitar 25-30 cm dari curah hujan per tahun, curah hujan tidak teratur, porositas (penyerapan air) tinggi, dan drainase (aliran air) cepat.

Gurun
Gurun yang terletak di daerah tropis yang berbatasan padang rumput. Ciri-ciri ekosistem gurun gersang dan curah hujan rendah (25 cm / tahun). Perbedaan suhu antara siang dan malam sangat besar.

Hutan gugur.
Apakah hutan gugur di daerah beriklim yang memiliki empat musim, karakteristik curah hujan merata sepanjang tahun. Spesies pohon kecil (10 s / d 20) dan tidak terlalu ketat.

Taiga
Taiga yang terkandung di belahan bumi utara dan di pegunungan tropis, fitur-fiturnya adalah suhu rendah di musim dingin. Hutan Taiga biasanya terdiri dari satu spesies seperti konifer, pinus, dan sejenisnya.

Tundra
Tundra di belahan bumi utara di Lingkaran Arktik dan ditemukan di puncak gunung yang tinggi. Pertumbuhan tanaman di daerah ini hanya 60 hari.

Karst (batu gamping /gua)
Kawasan karst berasal dari nama batu kapur di wilayah Yugoslavia. Kawasan karst di Indonesia rata-rata memiliki karakter yang sama, yaitu, tanah yang kurang subur untuk pertanian, sensitif terhadap erosi, erosi, rentan terhadap pori aerasi rendah, gaya permeabilitas lambat dan didominasi oleh pori-pori mikro.

Buatan
Ekosistem buatan adalah ekosistem yang diciptakan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan mereka. Subsidi energi, manfaat ekosistem buatan dari luar, tanaman atau hewan peliharaan didominasi oleh pengaruh manusia, dan memiliki keanekaragaman rendah. Contoh ekosistem buatan adalah:

bendungan
produksi tanaman seperti hutan jati dan pinus
bentuk agroekosistem dari tadah hujan
sawah irigasi
Perkebunan kelapa
ekosistem seperti pemukiman pedesaan dan perkotaan
ruang ekosistem

Pengertian Ekologi : Bentuk Piramida Dan Manfaat Ekologi

Pengertian Ekologi

Pengertian Ekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan saling ketergantungan dan hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungan tak hidup dalam satu ekosistem. Istilah Ekologi berasal dari kata yunani yaitu Oikos yang berarti habitat, dan logos yang berarti ilmu. Secara harfiah, Pengertian Ekologi adalah ilmu mengenai interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem merupakan suatu sistem yang terjadi hubungan (interaksi) dengan saling ketergantungan antara komponen-komponen di dalamnya, baik makhluk hidup maupun tidak hidup.

Setiap komponen ekosistem memiliki makna yang khusus bagi komponen yang lain dengan sangat terorganisir dan berlangsung secara dinamis untuk terbentuk suatu 'keseimbangan lingkungan'. Ekologi pertama kali digunakan oleh seorang ilmuwan yang bernama Ernst Haeckel (1834-1914) dalam pertengahan tahun 1960. Ekologi berkaitan dengan ekosistem dengan komponen-komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik komponennya adalah air, cahaya, suhu, kelembaban dan topografi. Sedangkan pada faktor biotik komponennya adalah tumbuhan, hewan, manusia dan mikroba.

Pengertian Ekologi Menurut Definisi Para Ahli 

Selain definisi umum mengenai pengertian ekologi, ada pula pengertian ekologi yang dikemukakan menurut para ahli. Pengertian ekologi menurut definisi para ahli adalah sebagai berikut :

  • Miller (1975) : Menurut definisi Miller mengenai pengertian ekologi yang menyatakan bahwa ekologi adalah ilmu tentang hubungan timbal balik antara organisme dan sesamanya serta dengan lingkungan tempat tinggalnya
  • Otto Soemarwoto : Menurut Otto Soemarwoto, pengertian ekologi adalah ilmu tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya
  • C. Elton : Menurut pendapat C. Elton, ekologi adalah ilmu yang mengkaji sejarah alam atau perkehidupan alam secara ilmiah
  • Resosoedarmo : Menurut definisi Resosoedarmo yang menyatakan bahwa pengertian ekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya
  • Andrewartha : Menurut Andrewartha, pengertian ekologi adalah ilmu yang membahas penyebaran dan kemelimpahan organisme
  • Krebs : Menurut Krebs, pengertian ekologi adalah ilmu pengetahuan yang mengkaji interaksi-interaksi yang menentukan penyebaran dan kemelimpahan organisme 
  • Eugene P. Odum : Menurut Odum, ekologi adalah kajian terstruktur dan fungsi alam, tentang struktur dan interaksi antara sesama organisme dan lingkungannya.  

Bentuk Piramida Ekologi 

Struktur trofik pada ekosistem dapat disajikan dalam bentuk piramida ekologi. Ada tiga jenis piramida ekologi, yaitu piramida jumlah, piramida biomassa, dan piramida energi. Berikut penjelasan dari tiga jenis piramida ekologi :

  • Piramida Jumlah  

Komposisi organisme, tergolong dalam tingkat trofik yang disajikan dalam piramida jumlah. Piramida jumlah adalah piramida yang menunjukkan jumlah organisme pada setiap tingkatan trofik. Organisme di tingkat trofik pertama biasanya melimpah, sedangkan tingkat trofik kedua, ketiga dan selanjutnya semakin berkurang. Komunitas yang kebanyakan memiliki jumlah normal adalah tumbuhan yang lebih banyak daripada organisme herbivor. Demikian pula, pada jumlah herbivor yang selalu lebih banyak daripada jumlah karnivor tingkat I. Karnivor tingkat I juga selalu lebih banyak dari pada karnivor tingkat II dan seterusnya.

  • Piramida Biomassa

Piramida biomassa adalah piramida yang menggambarkan berat atau massa kering total organisme hidup dari masing-masing tingkat trofiknya pada suatu ekosistem dalam kuran waktu tertentu. Piramida biomassa memiliki penggambaran yang lebih realistik dari pada piramida jumlah. Fungsi piramida biomassa adalah menggambarkan perpaduan massa seluruh organisme di habitat tertentu, dan dinyatakan dalam gram.  Untuk menghindari kerusakan habitat, maka biasanya pengukuran menggunakan metode sampel. Sampel diukur, kemudian total seluruh biomassa yang dihitung dengan perbandingan yang tertentu. Pengkuran tersebut, menghasilkan informasi yang lebih akurat mengenai ekosistem.

  • Piramida Energi 

Piramida energi adalah piramida yang menggambarkan terjadinya penurunan energi pada tiap tahap tingkatan trofik. Piramida energi dibuat berdasarkan pada observasi dalam waktu yang lama. Piramida energi memberikan gambaran paling akuran mengenai aliran energi dalam ekosistem dari pada piramida jumlah, dan piramida biomassa. Pada piramida energi terjadi penurunan jumlah energi secara berturut-turut dari tingkat trofik yang paling rendah ke tingkat trofik yang paling tinggi. Berkurangnya energi pada setiap tingkat trofik terjadi karena hal-hal berikut :

  1. Hanya sebagian pada makanan yang ditangkap dan dimakan oleh tigkat trofik selanjutnya
  2. Makanan yang dimakan tidak akan bisa seluruhnya dicerna dan ada yang dikeluarkan sebagai sampah
  3. Hanya pada sebagian makanan yang dicerna menjadi bagian dari tubuh organisme, sedangkan pada sisanya digunakan sebagai sumber energi.

Dari ketiga tipe piramida ekologi, piramida energi yang dianggap model piramida terbaik. Alasan piramida energi dianggap paling terbaik adalah sebagai berikut :

  1. Tidak dipengaruhi dari ukuran organisme dan kecepatan metabolisme organisme
  2. Menunjukkan efisiensi ekologi atau produktivitas ekosistem
  3. Memberikan gambaran berkaitan dengan sifat fungsional suatu ekosistem

Manfaat Ekologi bagi Manusia dan Lingkungan Hidup

  • Mengenal lebih banyak keanekaragaman hayati

Makhluk hidup tersebar dari dasar samudera terdalam hingga pegunungan tertinggi. Tentu saja, keanekaragaman hayati ini harus dieksplorasi oleh manusia. Selain untuk menginventarisasi jenis-jenis makhluk hidup tersebut dan memperkaya pengetahuan manusia akan spesies makhluk hidup, cara hidup makhluk hidup dan lingkungannya teresebut dapat dipelajari untuk kemudian dapat dimanfaatkan manusia.

Sebagai contohnya adalah :

  1. Ikan di sekitar kutub utara mampu hidup di kondisi air yang membeku, mekanisme ini dapat digunakan manusia untuk mendapatkan protein anti beku yang digunakan dalam proses industri.
  2. Parasit yang hidup di tubuh manusia sebagai inangnya dapat diberantas apabila kita tahu bagaimana ia hidup dan berinteraksi dengan lingkungannya dengan cara memutus rantai perkembangbiakannya.

Secara lebih detail, pengaplikasian dan manfaat ekologi dalam berbagai bidang dapat dilihat pada beberapa poin di bawah ini.

  • Mengenal lebih jauh makhluk hidup

Biologi perilaku merupakan salah satu cabang dari ilmu ekologi. Hal ini terjadi karena perilaku makhluk hidup, terutama hewan, berperilaku tergantung pada kondisi lingkungannya. Perilaku satwa ini dapat dimanfaatkan oleh manusia sebagai berikut.


  1. Hewan seperti lumba-lumba dan dan kelelawar memiliki suatu kemampuan penentuan lokasi tanpa penglihatan yang dikenal sebagai ekolokasi (ecolocation). Mekanisme ini ditiru sebagai sonar bagi manusia.
  2. Hewan seperti ayam, sapi, anjing, dan kucing dahulunya adalah hewan liar. Dengan proses domestikasi, hewan-hewan tersebut dapat dijadikan ternak ataupun peliharaan.
  3. Kadang hewan memiliki indra yang tajam semisal di India, gajah-gajah secara otomatis pergi ke tempat yang tinggi sesaat sebelum tsunami terjadi. Hal ini dapat dijadikan peringatan dini oleh manusia sebelum terjadinya bencana.

  • Membantu mengetahui dampak terhadap lingkungan

Ingatkah kita akan penggunaan DDT pada sekitar tahun 1970-1980an? Untuk memberantas hama maka ditemukanlah suatu pestisida yang dinamakan DDT. DDT ini sangat ampuh memberantas hama serangga secara global dalam watu yang lama. Namun setelah bertahun-tahun digunakan, dampak ekologis mulai terasa.

Setelah penggunaan jangka panjang, maka serangga menjadi resisten dan bahkan DDT dapat ditemukan di mana saja hingga dalam air susu manusia. Rachel Carson, seorang penulis akhirnya membuat buku berjudul Silent Spring yang menggarisbawahi tak terdengarnya burung-burung di musim semi. Ternyata hal ini disebabkan oleh DDT yang merusak telur burung. Akhirnya DDT diberhentikan penggunaanya setelah dampak ekologis menjadi global.

Sebenarnya, permasalahan ini dapat dicegah apabila ilmu ekologi dipakai dalam perencanaan suatu kegiatan yang memiliki kemungkinan dampak lingkungan. Kini, setiap kegiatan harus memiliki studi ekologi untuk meminimalisasi kemungkinan buruk seperti contoh di atas.

  • Membantu memecahkan masalah pangan

Manusia sebagai makhluk omnivora merupakan tingkatan tertinggi dalam jaring-jaring makanan. Seperti yang kita ketahui bahwa seluruh materi di muka bumi ini ada dalam satu siklus. Dalam ilmu ekologi dijelaskan bahwa makanan yang kita konsumsi merupakan untaian materi dari makhluk hidup lain mulai dari produsen, konsumen primer, hingga konsumen sekunder atau tersier.

Semakin tinggi tingkatan tropik maka akan semakin sedikit energi yang diserap. Artinya semakin banyak jumlah makhluk hidup dalam tingkatan tropik di bawahnya untuk memenuhi kebutuhan makhuk hidup dengan tingkat tropik atas.

Dengan demikian, manusia yang vegetarian akan memerlukan lebih sedikit sumber daya alam dibandingkan dengan manusia yang non-vegetarian. Hal ini karena vegetarian memerlukan lebih sedikit sumber daya semisal lahan untuk peternakan, air, dan pakan ternak sehingga meminimalisasi kesulitan sumber pangan.

  • Membantu memecahkan masalah pertanian


Kesuburan tanah tidak hanya terjadi begitu saja melainkan ada sangkut pautnya dengan makhluk biologis yang terkandung di dalamnya. Sebagian besar tanaman termasuk tanaman pertanian begantung pada interaksi antara mikroorganisme dan tanaman itu sendiri karena tanaman mebutuhkan nitrat dan ammonium yang tidak dapat ia sintesis sendiri. Senyawa tersebut dapat diperoleh oleh tanaman dengan interkasi mikroba sebagai berikut.

  1. Ammonium : merupakan hasil dari proses amonifikasi oleh bakteri dari nitrogen di udara. Tanaman pada umumnya tidak memfiksasi nitrogen padahal mereka membutuhkannya. Maka dengan interaksi antara bakteri dan tanaman, defisiensi nitrogen dapat dihindari.
  2. Nitrat : nitrat merupakan produk oksidasi ammonium dengan bantuan AOB (ammonium oxidising bacteria) dan NOB (nitrite oxidising bacteria). Nitrogen dalam bentuk nitrat lebih dibutuhkan oleh tanaman untuk tumbuh.

Dengan demikian, setelah mengetahui ilmu ekologi, penggunaan bakteriosidal pada tanah sekitar tanaman seharusnya dapat dihindari. Hal ini karena penggunaan bakteriosidal dapat membunuh bakteri yang sebenarnya berguna bagi pertumbuhan tanaman.

  • Membantu memecahkan masalah energi

Sampai saat ini manusia masih bergantung pada bahan bakar fosil sebagai sumber energi utama mereka, namun tahukah kita sebenarnya sumber energi terbesar kita adalah matahari?

Energi matahari dikonversi oleh tanaman menjadi energi kimia melalui proses fotosintetis. Sumber energi kimia ini sebenarnya dapat kita manfaatkan untuk membuat bahan bakar yang dapat diperbaharui yaitu biofuel. Biofuel terdiri dari beberapa generasi yaitu:

  1. Generasi pertama – biofuel dari tanaman konsumsi (Jagung, jarak)
  2. Generasi kedua – biofuel dari sisa produk tanaman (Molase, ampas tebu)
  3. Generasi ketiga – biofuel dari alga

Ilmu ekologi di sini sangat berperan penting. Selain mempelajari bagaimana komunitas mikroorganisme memproses bahan baku menjadi biofuel (aplikasi di industri), ekologi juga menawarkan pengetahuan tentang bagaimana memanfaatkan produk tersebut agar terjadi keseimbangan atas kebutuhan manusia akan energi dan materi konsumsi dengan kelestarian alam.

  • Membantu memecahkan masalah kesehatan

Banyak masalah kesehatan yang merupakan penyakit menular berasal dari interaksi antara manusia dengan hewan. Hal ini tentu saja dapat dihindari atau diatasi bila kita mengetahui konsep ilmu ekologi tentang bagaimana makhluk idup berinterkasi dengan lingkungannya. Berikut adapah contoh manfaat ekologi dalam bidang kesehatan.

  1. Demam berdarah : jelas kita ketahui bahwa demam berdarah disebab kan oleh virus Dengue dan disebarkan oleh nyamuk Aedes aygepti. Nyamuk ini memeiliki habitat air bersih yang menggenang untuk bertelur. Kita dapat memutus persebaran penyakit ini misalnya dengan mencegah agar nyamuk tidak dapat bertelur dengan menutup atau memberi insektisida pada bak.
  2. AIDS : salah satu konsep asal muasal AIDS adalah transfer HIV dari simpanse tehadap manusia. Hal ini dapat terjadi karena di Afrika sana, manusia dan simpanse hidup berdekatan. Dengan adanya ilmu ekologi seharusnya transmisi ini dapat dicegah dengan membatasi interaski antara populasi manusia dengan simpanse.

  • Membuat proses indutri yang lebih maju

Makhluk hidup baik hewan, tumbuhan, dan mikroba ternyata sangat berguna untuk diaplikasikan dalam proses industri. Pengeksplorasian ini tentu akan menghasilkan organisme baru yang memiliki kemapuan khusus sesuai habitatnya. Hal ini membuka kesempatan kita untuk memanfaatkannya di bidang industri. Selain itu komunitas suatu organisme dapat dimanfaatkan dalam suatu proses industri.

Berikut adalah beberapa contoh pengaplikasian ekologi di bidang industri.

  1. Bioteknologi : Dalam industri bioteknologi dikenal suatu prosedur PCR. PCR ini tak akan dapat dilakukan tanpa enzim tahan panas yang berasal dari organisme Thermus aquaticus. Organisme ini berhabitat asli di kawah gunung berapi dasar laut. Karena itulah enzim dari orgnisme ini menjadi tahan panas dan dapat digunakan dalam industri.
  2. Fermentasi : Proses pembuatan wine, keju, bahkan tapai membutuhkan komunitas mikroorganisme yang beinteraksi sinergisme dalam proses fermentasi. Dengan mempelajari ilmu ekologi, kita dapat menentukan mikroorganisme apa saja yang berperan dan komposisinya.

  • Mengenal kesetimbangan dalam kehidupan

Tanpa sadar sebenarnya ilmu ekologi membahas kegiatan manusia di bumi ini karena manusia di bumi ini berkegiatan sebagai populasi. Populasi terus meningkat sedangkan sumber daya alam dan area di muka bumi tak dapat ditambah. Bila populasi manusia terlalu banyak maka kemampuan daya sangga ekosistem akan terlampaui akibatnya akan terjadi kemunduran dalam populasi manusia bahkan kepunahan.

Oleh karena itu melalui ilmu ekologi, kita sebagai manusia harus bijak dalam menggunakan sumber daya alam dan membatasi pertumbuhan populasi agar daya sangga ekosistem tidak terlampaui.

Pengertian dan Jenis Pelapukan

Pengertian dan Jenis Pelapukan. Pengertian Pelapukan, Jenis-Jenis Pelapukan, Faktor yang Memperngaruhi Terjadinya Pelapukan, dan Proses Terjadinya Pelapukan.

Jenis-Jenis Pelapukan dan Penjelasannya

Sumber: ebiologi.com
Bumi yaitu tempat di mana beragam makhluk hidup dan menjalani aktifitasnya sehari-hari. ada beragam jenis komponen yang akan kita temukan di Bumi. Komponen-komponen yang ada di Bumi itu tidak cuma komponen yang hidup saja, tetapi juga komponen yang tidak hidup.

Komponen-komponen yang hidup serta tidak hidup ini sama-sama berdampingan serta saling melengkapi antara satu dengan yang lain. Komponen hidup kerap disebut juga dengan komponen biotik, serta komponen yang mati kerap juga disebut juga dengan komponen abiotik.

Komponen hidup abiotik misalnya yaitu manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan ataupun beragam jenis mikroorganisme. Sementara komponen abiotik salah satunya yaitu elemen- elemen seperti tanah, udara, sinar matahari, kelembapan, batuan, dan lain sebagainya.

Sebagai penghuni Bumi, banyak sekali peristiwa atau momen yang dialami oleh beragam makhluk penghuni Bumi ini. Sangat banyak siklus yang bisa kita temui di Bumi. Satu diantara siklus yang dihadapi oleh komponen Bumi yaitu batuan.

Batuan bisa berubah bentuk jadi tanah setelah sekian lama serta lantaran beberapa hal spesifik. Hal semacam ini dinamakan dengan pelapukan. Pelapukan nyaris terjadi di banyak komponen, tidak cuma batuan saja. Bahkan juga kita, manusia akan mengalami pelapukan.

Seluruh makhluk hidup (manusia, binatang, serta tumbuhan) jika sudah mati, akan mengalami pelapukan pada jasadnya. Jasad manusia jika sudah dikubur dalam periode waktu spesifik akan melebur jadi tanah.

Demikian halnya dengan binatang serta tumbuh-tumbuhan. Tidak hanya makhluk hidup, ada beberapa benda mati yang juga mengalami pelapukan. Tetapi kata pelapukan ini sesungguhnya memang cuma dipakai untuk menguraikan umur batuan.

Pengertian Pelapukan

Sumber: thinglink.com
Kita sudah mengulas tentang pelapukan di awal. Lantas, apakah itu pelapukan? Bicara tentang pelapukan rasa-rasanya tidak lengkap tanpa mengerti arti pelapukan yang sesungguhnya. Yang dinamakan pelapukan yaitu momen penghancuran massa batuan, baik secara fisika, kimiawi, ataupun secara biologis.

Tidak hanya pengertian itu, pelapukan dapat juga diterangkan sebagai proses perubahan komposisi serta pemecahan batuan atau material- material yang lain yang terjadi di atas permukaan Bumi akibat adanya proses secara fisika, kimia, ataupun biologi.

Pelapukan ini adalah proses alami yang bekerja menghancurkan batuan jadi tanah. Pengertian lain mmengenai pelapukan yaitu proses alterasi serta fragsinasi batuan serta material tanah pada atau dekat dengan permukaan Bumi yang disebabkan oleh proses fisika, kimia, ataupun biologi.

Mengenai proses pelapukan ini terjadi dalam tempo yang sangat lama. Tidak hanya sangat di pengaruhi oleh waktu, adanya pelapukan batuan ini juga di pengaruhi beragam jenis aspek yang lain.

Jenis-jenis Pelapukan 

Pelapukan adalah proses berubahnya batuan jadi tanah secara alamiah lewat proses kimia, fisika atau biologi. Pelapukan yang terjadi secara alami ini terdiri atas beragam macam bentuk.

Secara umum, jenis-jenis pelapukan ini terdiri atas 3 macam, yakni pelapukan fisika, kimia, serta biologi atau organik. Keterangan tentang masing-masing bentuk pelapukan ini yaitu sebagai berikut: 

Pelapukan Fisika

Sumber: ebiologi.com
Bentuk pelapukan yang pertama yaitu pelapukan fisika. Pelapukan fisika adalah pelapukan yang kerap disebut sebagai pelapukan mekanik.

Pelapukan fisika yaitu proses pelapukan dari batuan yang disebabkan oleh adanya pengaruh aspek fisik pada batuan. Ada faktor utama yang paling berperan dalam pelapukan ini. Aspek yang paling dominan tersebut yaitu suhu udara, tekanan, serta kristalisasi garam.

Pelapukan fisika ini dikenal juga sebagai pelapukan yang disebabkan oleh adanya perubahan suhu atau iklim.

Bentuk pelapukan fisika ini cuma dapat diketemukan di daerah yang memiliki iklim ekstrim, seperti sub tropis, gurun, pesisir pantai, serta daerah-daerah yang memiliki topografi yang curam. Mengenai beberapa contoh pelapukan fisika ini diantaranya yaitu sebagai berikut ini:

Melapuknya batuan di daerah gurun akibat adanya perubahan cuaca harian secara ekstrim. Suhu udara tinggi pada siang hari akan membuat batuan memuai, lantas saat malam hari suhu udara akan turun serta membuat batuan jadi mengkerut.

Lantaran proses ini berjalan secara berulang-ulang, maka akan memungkinkan ikatan mineral dalam batuan mengalami pelemahan hingga selanjutnya batuan akan hancur menjadi beberapa sisi.

Kristalisasi air garam yang terjadi pada batuan di pantai. Kristalisasi garam yang terjadi pada pori batuan di sekitar ekosistem pantai akan menghimpit batuan secara endogen hingga akan menimbulkan kemungkinan batuan akan pecah.

Pelapukan Kimia

Sumber: softilmu.com
Bentuk pelapukan yang berikutnya yaitu pelapukan kimia. Pelapukan kimia adalah proses pelapukan yang disebabkan oleh perubahan susunan kimiawi yang ada pada batuan lewat reaksi spesifik. Dalam pelapukan kimia ini, reaksi yang terjadi pada proses pelapukan dibedakan jadi tiga jenis.

3 jenis reaksi yang terjadi pada pelapukan kimia ini diantaranya yaitu solution, hidrolisis, serta oksidasi. Mengenai beberapa contoh pelapukan kimia ini diantaranya yaitu sebagai berikut ini:

Hidrolisis air hujan yang akan menyebabkan naiknya tingkat keasaman di sekitar batuan. Ion H+ yang keluar akan memungkinkan terjadinya korosi pada batuan.

Oksidasi yang terjadi pada batuan yang kaya mineral besi akan memungkinkan ikatan mineral di permukaan batuan jadi lemah serta pada akhirnya mengalami pelapukan.

Proses pelarutan batuan kapur mudah akibat reaksinya pada air. Bicara tentang pelapukan kimia, kita akan mengetahui ada 4 proses yang termasuk juga ke dalam pelapukan kimia. Mengenai 4 proses itu diantaranya yaitu:
  1. Hidrasi, yakni proses batuan yang mengikat batuan di atas permukaan saja. 
  2. Hidrolisa, yakni peroses penguraian air atas unsur-unsurnya jadi ion-ion yang miliki sifat positif serta negatif. 
  3. Oksidasi, yakni proses pengkaratan besi. 
  4. Karbonasi, yakni pelapukan batuan yang disebabkan karena karbondioksida. 
Itulah beberapa proses yang akan kita dapatkan dalam pelapukan batuan secara kimiawi. Proses itu cuma akan kita temui pada pelapukan yang miliki sifat kimiawi saja.

Pelapukan Biologi atau Organik 

Sumber: ikasmansa87.com
Bentuk pelapukan yang berikutnya yaitu pelapukan biologi atau pelapukan organik. Pelapukan biologi adalah bentuk pelapukan batuan yang dikerjakan oleh organisme lewat aktivitasnya di sekitar lingkungan batuan itu ada.

Dengan kata lain pelapukan biologi ini terjadi lantaran disebabkan oleh makhluk hidup. Pelapukan ini terjadi lantaran adanya fungsi organisme-organisme spesifik.

Mengenai organisme-organisme yang bertindak dalam pelapukan ini diantaranya berbentuk binatang, tumbuhan, jamur, bakteri, atau bahkan juga manusia.

Proses pelapukan biologi atau organik ini melibatkan 2 langkah, yakni langkah biokimia serta langkah mekanis. Mengenai contoh pelapukan secara biologi atau organik ini diantaranya yaitu:

Penetrasi akar tumbuhan ke dalam sela-sela batuan akan menghimpit batuan itu, hingga akan mengalami perpecahan. Adanya lumut di atas batuan. Tumbuhnya lumut di permukaan batuan memungkinkan batuan mengalami degradasi.

Kelembaban di permukaan batuan akibat adanya proses penyerapan akar disertai dengan tingginya pH di kurang lebih permukaan batuan akan membuat permukaan batuan itu mengalami korosi.

Itulah beberapa bentuk dari pelapukan batuan yang terdiri atas pelapukan kimiawi, pelapukan fisika serta pelapukan boilogi atau organik. Dari uraian di atas kita bisa memahami kalau pelapukan batuan dapat terjadi dengan beberapa cara yang berbeda-beda.

Aspek-aspek yang Mempengaruhi Terjadinya Pelapukan

Sumber: crossword14.blogspot.co.id
Seperti yang sudah dikatakan di awal, bahwasannya pelapukan terjadi lantaran adanya beragam jenis aspek. Setidaknya ada beberapa aspek yang bisa memengaruhi terjadinya pelapukan, diantaranya yaitu sebagai berikut ini:

Waktu 

Aspek yang sangat erat serta sangat identik dengan momen pelapukan yaitu waktu. Seringkali orang-orang menyampaikan bahwasannya pelapukan ini terjadi lantaran satu batuan udah sangat lama atau sangat tua, sampai pada akhirnya batuan itu mengalami pelapukan.

Bahkan juga waktu adalah aspek pertama yang akan dipakai sebagai argumen kenapa pelapukan itu terjadi.

Memang benar, satu batuan akan mengalami pelapukan setelah batuan itu berusia lama atau tua. Hal semacam ini akan mengakibatkan tingkat kepadatan batuan jadi menurun serta batuan itu akan mengalami pelapukan sampai pada akhirnya jadi tanah.

Bentuk batuan serta susunan batuan itu sendiri

Aspek berikutnya yang memengaruhi terjadinya pelapukan batuan yaitu bentuk batuan serta strukturnya. Sudah kita pahami bersama bahwasannya batuan di dunia ini mempunyai beragam jenis bentuk batuan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain.

Lantas mengenai susunan batuan, yakni karakter fisik serta karakter kimia yang dipunyai oleh batuan itu sendiri. Karakter fisik batuan mencakup warna batuan.

Lalu sifat kimia batuan yaitu unsur-unsur kimia yang terdapat di dalam batuan itu. Karakter kimia serta karakter fisika yang dipunyai oleh batuan inilah yang mengakibatkan adanya ketidaksamaan daya tahan batuan pada pelapukan.

Mengenai bentuk batuan yang gampang lapuk salah satunya yaitu batu lempeng atau batuan sedimen. Lalu batuan yang susah lapuk umpamanya yaitu batuan beku.

Topografi 

Aspek berikutnya yang memengaruhi pelapukan yaitu topografi. Kondisi topografi muka Bumi juga memengaruhi proses terjadinya pelapukan batuan.

Batuan-batuan yang ada di lereng yang curam cenderung akan lebih gampang untuk mengalami pelapukan dibanding dengan batuan yang ada di tempat yang landai.

Kenapa demikian? Hal semacam ini lantaran pada lereng yang curam, batuan akan amat gampang terkikis atau lapuk, lantaran akan langsung bersetuhan dengan cuaca di sekitar batuan itu berada.

Namun pada lereng yang landai atau rata, batuan akan diselimuti oleh beragam jenis endapan yang pada akhirnya akan memperlambat proses pelapukan batuan itu.

Organisme 

Aspek berikutnya yang akan memengaruhi proses pelapukan yaitu terdapatnya organisme. Organisme marupakan hal yang cukup penting dalam proses pelapukan, seperti halnya dengan proses penguraian tumbuh-tumbuhan secara alami.

Iklim serta cuaca 

Aspek berikutnya yang amat kuat hubungannya dengan pelapukan yaitu mengenai cuaca serta iklim. Unsur- unsur cuaca serta iklim yang akan memengaruhi proses pelapukan diantaranya yaitu suhu udara, curah hujan, cahaya matahari, angin, serta lain sebagainya.

Di daerah yang mempunyai iklim lembab serta panas, batuan akan cepat mengalami proses pelapukan. Tidak hanya itu perubahan antara siang serta malam yang dingin akan makin membuat pelapukan gampang terjadi, jika hal ini dibandingkan dengan daerah yang mempunyai iklim dingin.

Kondisi vegetasi 

Aspek berikutnya yang memengaruhi adanya pelapukan yaitu kondisi vegetasi. Vegetasi atau tumbuh-tumbuhan juga merupakan hal yang amat memengaruhi proses pelapukan. Hal semacam ini dikarenakan akar-akar tumbuhan itu bisa menembus celah-celah batuan.

Jika akar-akar itu makin membesar kekuatannya akan makin besar juga dalam menerobos batuan. Tidak hanya akar-akar, serat dedaunan yang gugur akan membantu mempercepat batuan melapuk.

Hal semacam ini disebabkan karena serat batuan memiliki kandungan zat-zat asam arang serta humus yang bisa merusak kemampuan pada batuan.

Dan itulah pembahasan kami mengenai Pengertian dan Jenis Pelapukan, untuk berbagai informasi yang kami sajikan pada kesempatan ini, harapannya semoga Postingan kali ini mengenai Pengertian dan Jenis Pelapukan di atas sedikitnya dapat menambah pengetahuan tersendiri bagi anda para pembaca.

Khususnya bagi anda yang saat ini sedang mencari sumber pengetahuan untuk lebih memahami Segala Hal tentang Pelapukan. Terima kasih atas kunjungannya dan salam sukses untuk sahabat semuanya.

Referensi:
  1. ilmugeografi.com

Pengertian Lingkungan : Konsep, Faktor, Dan Kelembagaan Lingkungan


Sebagai makhluk hidup, pastinya Anda sudah tidak asing lagi jika mendengar kata lingkungan. Lingkungan memang memiliki keterikatan yang kuat dengan tempat hidup semua makhluk hidup yang ada di dunia ini. Meskipun merupakan kata yang biasa dijumpai di masyarakat, masih saja ada sebagian orang yang belum memahami pengertian lingkungan dengan benar dan jelas. Mereka hanya mengetahui jika lingkungan memiliki keterikatan dengan tempat tinggal mereka. Padahal jika mereka mengetahui pengertian akan lingkungan dengan baik, mereka pasti akan lebih menghargai lingkungan tempat tinggal mereka. Mulai dari kebersihan hingga kesehatan lingkungan tempat tinggal mereka.

Jika ditelisik lebih jauh, ada beberapa ahli yang memberikan pengertian akan lingkungan. Seperti Emil Salim yang berpendapat jika lingkungan merupakan kondisi dan keadaan di dalam suatu ruang yang dapat mempengaruhi kelangsungan hidup manusia seperti faktor ekonomi, keadaan alam dan sosial. Sedangkan pengertian lingkungan menurut Soedjono didefinisikan sebagai tempat hidup berupa lingkungan fisik yang ada di alam. Dengan kata lain, lingkungan fisik merupakan makhluk yang ada di dunia, yaitu manusia, hewan beserta tumbuh-tumbuhan. Selain kedua ahli tersebut, ada ahli lainnya yang membahas akan lingkungan yaitu Munadjat Danusaputro yang mengatakan lingkungan terdiri dari lingkungan budaya dan fisik. Pendapat lainnya juga dikemukaan oleh Otto Soemarwoto. Ia berpendapat jika lingkungan merupakan hal yang berada di sekitar kita yang keberadaannya dapat mempengaruhi kehidupan manusia di berbagai aspek kehidupan.

Konsep lingkungan di Indonesia

Lingkungan, di Indonesia sering juga disebut “lingkungan”. Misalnya UU no. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, definisi Lingkungan adalah kesatuan dengan segala sesuatu ruang, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia, dan perilaku, yang mempengaruhi kelangsungan mata pencaharian dan kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lainnya. AFA Memahami lingkungan dapat digambarkan sebagai segala sesuatu yang ada di sekitar makhluk manusia atau hidup yang memiliki hubungan timbal balik dan interaksi kompleks antara komponen dengan komponen lainnya.

Pada lingkungan, ada dua komponen penting pembentukannya, menciptakan ekosistem yang merupakan komponen dari komponen biotik dan abiotik. Komponen biotik lingkungan meliputi semua makhluk hidup di dalamnya, yaitu, hewan, manusia, tumbuhan, jamur dan makhluk hidup lainnya. sementara komponen abiotik adalah benda mati yang bermanfaat bagi kelangsungan makhluk hidup di lingkungan yang meliputi tanah, air, api, batu, udara, dan sebaiganya lainnya.

Memahami lingkungan lebih dalam Nomor 23 tahun 2007 adalah kesatuan dengan semua hal ruang atau kesatuan makhluk hidup termasuk manusia dan semua perilaku oleh-mata pencaharian dan kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lain di sekitarnya.

Kerusakan lingkungan hidup

Kerusakan lingkungan akibat dua faktor Fator baik secara alami atau karena tangan jahil manusia. Pentingnya lingkungan terawat terkadang dilupakan oleh manusia, dan dapat membuat ekosistem dan bukan maksimum hidup di lingkungan itu.

Berikut adalah beberapa faktor yang membuat kerusakan lingkungan yang mendalam.

  • Faktor alami
Jumlah bencana alam dan cuaca tak terduga ke dalam penyebab kerusakan lingkungan. Ini bisa menjadi bencana alam banjir, tanah longsor, tsunami, tornado, badai, letusan gunung berapi, gempa bumi atau. Selain berbahaya bagi manusia dan makhluk lainnya, bencana ini akan menciptakan kerusakan lingkungan.

  • Faktor buatan

Manusia sebagai makhluk yang cerdas dan memiliki kemampuan tinggi dibandingkan dengan makhluk lain akan terus berkembang dari gaya hidup sederhana yang mengarah ke kehidupan modern. Dengan perkembangan kehidupan, tentu saja, juga perlu sangat diperluas, termasuk eksploitasi sumber daya alam perlu berlebihan.

Kerusakan lingkungan akibat faktor manusia dapat menjadi penenbangan liar yang menyebabkan banjir atau tanah longsor, dan pembuangan limbah di tempat terutama aliran sungai dan laut akan membuat pencemaran.

Upaya pelestarian


  1. Penanaman kembali hutan gundul
  2. Pencegahan limbah dan sampah di sembarang tempat
  3. Sanksi tegas terhadap pelaku pencemar lingkungan
  4. Menghentikan eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan
  5. Peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian tanah, air, udara dan lingkungan

Kelembagaan

Secara kelembagaan di Indonesia, instansi yang mengatur masalah lingkungan adalah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (sebelumnya: Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup) dan di daerah atau provinsi adalah Bapedal. Sementara di Amerika Serikat adalah EPA (Environmental Protection Agency). Selain itu, Pada tanggal 31 Agustus 2013, pada saat Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono melalui Keputusan Presiden Nomor 62/2013 membentuk Badan usaha REDD + (Pengurangan Emisi dan Deforestasi dan Degradasi Hutan.

Pengertian Populasi : Pencemaran Lingkungan Dan Terbatasnya Ruang Gerak

Pengertian Populasi

Pengertian Populasi adalah kumpulan individu yang sejenis dan hidup di suatu daerah dengan waktu tertentu. Contoh suatu populasi adalah sebuah kola terdama ikan, teratai, dll. Populasi pohon kepala dikelurahan tegakan di tahun 1989 berjumlah 2552 batang.

Ukuran populasi berubah setiap waktu. Perubahan ukuran populasi dinamakan dinamika populasi. Perubahan yang dihitung menggunakan rumus perubahan jumlah dibagi waktu. Hasilnya adalah kecepatan perubahan dalam populasi. Contohnya di tahun 1980 populasi pinus di tawangmangu ada 700 batang. Kemudian di tahun 1990 dihitung lagi ada 500 batang pohon Pinus. Faktanya, selama 10 tahun terjadi pengurangan pohon Pinus sebanyak 200 batang pohon. Untuk mengetahui kecepatan perubahan maka kita membagi jumlah batang pohon yang berkurang dengan lamanya waktu perubahan terjadi.

Pengertian Komunitas adalah kumpulan berbagai populasi yang hidup di suatu waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan memengaruhi satu sama lain. Dalam derajat keterpaduan komunitas, lebih kompleks jika dibandingkan dengan individu dan populasi. Semua organisasi merupakan bagian dari komunitas dan dari komponennya saling terhubung dengan keragaman interaksinya. Contoh yang termasuk komunitas adalah populasi ganggang, populasi ikan, dan populasi hewan di sekitarnya yang membetuk suatu komunitas terumbu karang.

Pengertian Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Antara komunitas dan lingkungannya saling berinteraksi yang menciptakan kesatuan ekologi yang disebut dengan ekosistem. Komponen penyusun dari ekosistem adalah produsen (tumbuhan hijau), konsumen (herbivora, karnivora, dan omnivora) dan dekomposer/pengurangi (mikroorganisme).

Pengaruh Meningkatnya Populasi Penduduk terhadap Lingkungan.

Meningkatnya populasi penduduk mengakibatkan meningkatnya kebutuhan perumahan, sehingga menyebabkan bertambahnya kebutuhan kayu dan banyak terjadi penebangan hutan secara liar. Adanya penebangan hutan secara liar dapat mengakibatkan erosi dan banjir. Pertambahan jumlah penduduk mengakibatkan pula bertambahnya penggunaan bahan bakar, hal tersebut dikhawatirkan menyebabkan persediaan sumber daya alam semakin menipis dan mengakibatkan pencemaran lingkungan.

Pencemaran lingkungan merupakan dampak negative yang ditimbulkan oleh kepadatan populasi manusia serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, misalnya dalam bidang pertanian, penggunaan buatan dan obat-obat anti hama, ternyata dapat menimbulkan pencemaran air dan tanah.

Peningkatan populasi penduduk yang tidak terkendali juga dapat merusak lingkungan:

  1. Terjadinya penebangan hutan untuk arel permukiman maupun areal pertanian. Penebangan hutan yang tidak terkendali dapat menyebabkan bencana seperti banjir dan tanah longsor. Disamping itu kekayaan atau sumber daya hayati di hutan itu akan hilang akibat habitatnya terganggu.
  2. Meningkatnya jumlah populasi menyebabkan peningkatan jumlah kebutuhan pangan sehingga dibukalah arel pertanian untuk mencukupi kebutuhan pangan. Di samping itu tanah atau lahan pertanian dipaksa untuk menghasilkan jumlah pangan yang dapat mencukupi kebutuhan penduduk. Akibatnya tanah sering dipupuk untuk memperoleh hasil yang cukup. Pemupukan yang tidak terkendali dapat menyebabkan tanah menjadi rusak karena terpolusi oleh pupuk buatan, sehingga lama-kelamaan tanah tidak dapat ditanami kembali karena bersifat asam.
  3. Penggunaan pestisida secara berlebihan. Pestisida yang seharusnya menghilangkan atau mematikan hama tanaman, teryata juga memusnahkan organisme-organisme lain yang merupakan mata rantai dari jarring-jaring makanan.
  4. Sampah rumah tangga meningkat, sedangkan tempat pembuangan terbatas sehingga sampah menjadi bertumpuk. Sampah yang bertumpuk merupakan pusat penyebaran penyakit tertentu, misalnya tifus, kolera, dan disentri. Selain itu, sisa deterjen yang tidak dapat dihancurkan atau diuraikan oleh mikroorganisme dapat mencemari air sungai.
  5. Jumlah kendaraan bermotor yang semakin meningkat akan menyebabkan pencemaran udara yang dapat mengganggu pernapasan.
  6. Perkembangan industri yang semakin pesat guna mengimbangi kebutuhan penduduk dapat menimbulkan masalah pencemaran udara dan air. Pencemaran udara disebabkan pembuangan zat-zat sisa dari hasil pembakaran yang tidak sempurna, seperti SO2 dan NOx. Pencemaran air terjadi karena limbah padat sering dibuang ke sungai sehingga mengancam kesehatan penduduk sekitar.

Untuk memperbaiki keadaan lingkungan, penduduk dihimbau untuk melakukan usaha-usaha berikut:

  1. Menanam tanaman di sekitar rumah agar oksigen yang dihasilkan tumbuhan melalui proses fotosintesis bertambah dan udara menjadi segar.
  2. Meningkatkan kesadaran pada diri masyarakat agar mencintai lingkungannya.
  3. Membuat penampung kotoran yang tertutup agar tidak mencemari lingkungan.
  4. Tidak membuat rumah disekitar daerah industri.
  5. Memanfaatkan sampah untuk pupuk kompos atau didaur ulang untuk dijadikan benda lain yang bermanfaat.

Pencemaran Lingkungan 

Peningkatan jumlah penduduk diikuti dengan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi. Hal itu menyebabkan kebutuhan akan barang,jasa, dan tempat tinggal meningkat tajam dan menuntut tambahan sarana dan prasarana untuk melayani keperluan masyarakat. Akan tetapi, alam memiliki daya dukung lingkungan yang terbatas. Kebutuhan yang terus-menerus meningkat tersebut pada gilirannya akan menyebabkan penggunaan sumber daya alam sulit dikontrol. Pengurasan sumber daya alam yang tidak terkendali tersebut mengakibatkan kerusakan lingkungan.
Hasil gambar untuk pencemaran lingkungan

Aktivitas manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sering menimbulkan dampak buruk pada lingkungan. Misalnya untuk memenuhi kebutuhan bahan bangunan dan kertas, maka kayu di hutan ditebang. Untuk memenuhi kebutuhan lahan pertanian, maka hutan dibuka dan rawa/lahan gambut dikeringkan. Untuk memenuhi kebutuhan sandang, didirikan pabrik tekstil. Untuk mempercepat transportasi, diciptakan berbagai jenis kendaraan bermotor. Apabila tidak dilakukan dengan benar, aktivitas seperti contoh tersebut lambat laun dapat menimbulkan pencemaran lingkungan dan kerusakan ekosistem. Misalnya penebangan hutan yang tidak terkendali dapat mengakibatkan berbagai bencana seperti banjir dan tanah longsor, serta dapat melenyapkan kekayaan keanekaragaman hayati di hutan tersebut. Apabila daya dukung lingkungan terbatas, maka pemenuhan kebutuhan penduduk selanjutnya menjadi tidak terjamin.

Di daerah yang padat, karena terbatasnya tempat penampungan sampah, seringkali sampah dibuang di tempat yang tidak semestinya, misalnya di sungai. Akibatnya timbul pencemaran air dan tanah. kebutuhan transportasi juga bertambah sehingga jumlah kendaraan bermotor meningkat. Hal ini akan menimbulkan pencemaran udara dan suara. Jadi kepadatan penduduk yang tinggi dapat mengakibatkan timbulnya berbagai pencemaran lingkungan dan kerusakan ekosistem.

Terbatasnya Ruang Gerak

Hasil gambar untuk hubungan kepadatan populasi penduduk terhadap keterbatasan ruang gerak individuSuatu daerah dengan kepadatan penduduk yang tinggi kalau tidak memperhatikan kesehatan lingkungan (sanitasi) dengan baik maka keadaan lingkungan menjadi tidak nyaman bagi penduduknya. Di daerah dengan kepadatan penduduk yang tinggi, umumnya rumah-rumah penduduk saling berdekatan atau berhimpitan. Keadaan yang demikian menyebabkan terbatasnya ruang gerak. Akibatnya, dapat memberikan dampak negatif pada kesehatan penduduk. Misalnya penduduk mudah terjangkit penyakit menular, kebutuhan udara bersih tidak terpenuhi, atau banyaknya sampah rumah tangga yang tidak dibuang pada tempatnya.