Showing posts sorted by relevance for query perkembangan islam di indonesia. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query perkembangan islam di indonesia. Sort by date Show all posts

Pengertian Bank Syariah : Sejarah, Prinsip, Dan Produk Penghimpun Dana

Pengertian Bank Syariah

Sekarang ini banyak berkembang bank syariah. Bank syariah muncul di Indonesia pada awal tahun 1990-an. Pemrakarsa pendirian bank syariah di Indonesia dilakukan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tanggal 18 – 20 Agustus 1990.

Bank syariah adalah bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam, maksudnya adalah bank yang dalam operasinya mengikuti ketentuan-ketentuan syariah Islam, khususnya yang menyangkut tata cara bermuamalah secara Islam.

Falsafah dasar beroperasinya bank syariah yang menjiwai seluruh hubungan transaksinya adalah efesiensi, keadilan, dan kebersamaan. Efisiensi mengacu pada prinsip saling membantu secara sinergis untuk memperoleh keuntungan sebesar mungkin.

Keadilan mengacu pada hubungan yang tidak dicurangi, ikhlas, dengan persetujuan yang matang atas proporsi masukan dan keluarannya. Kebersamaan mengacu pada prinsip saling menawarkan bantuan dan nasihat untuk saling meningkatkan produktivitas.Kegiatan bank syariah dalam hal penentuan harga produknya sangat berbeda dengan bank konvensional.

Penentuan harga bagi bank syariah didasarkan pada kesepakatan antara bank dengan nasabah penyimpan dana sesuai dengan jenis simpanan dan jangka waktunya, yang akan menentukan besar kecilnya porsi bagi hasil yang akan diterima penyimpan.
Berikut ini prinsip-prinsip yang berlaku pada bank syariah :
  1. Pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah).
  2. Pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal (musharakah).
  3. Prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan (murabahah).
  4. Pembiayaan barang modal berdasarkan sewa murni tanpa pilihan (ijarah).
  5. Pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain (ijarah wa iqtina).
Dalam rangka menjalankan kegiatannya, bank syariah harus berlandaskan pada Alquran dan hadis. Bank syariah mengharamkan penggunaan harga produknya dengan bunga tertentu. Bagi bank syariah, bunga bank adalah riba.

Dalam perkembangannya kehadiran bank syariah ternyata tidak hanya dilakukan oleh masyarakat muslim, akan tetapi juga masyarakat nonmuslim. Saat ini bank syariah sudah tersebar di berbagai negara-negara muslim dan nonmuslim, baik di Benua Amerika, Australia, dan Eropa. Bahkan banyak perusahaan dunia yang telah membuka cabang berdasarkan prinsip syariah.

Perbankan Syariah yaitu segala sesuatu yang menyangkut bank syariah dan unit usaha syariah, mencakup kelembagaan, mencakup kegiatan usaha, serta tata cara dan proses di dalam melaksanakan kegiatan usahanya.

Bank Syariah adalah bank yang menjalankan kegiatan usahanya dengan didasarkan pada prisnsip syariah dan menurut jenisnya bank syariah terdiri dari BUS (Bank Umum Syariah), UUS (Unit Usaha Syariah) dan BPRS (Bank Pembiayaan Rakyat Syariah),

Bank Syariah merupakan bank yang kegiatannya mengacu pada hukum islam dan dalam kegiatannya tidak membebankan bunga maupun tidak membayar bunga kepada nasabah. Imbalan bank syariah yang diterima maupun yang dibayarkan pada nasabah tergantung dari akad dan perjanjian yang dilakukan oleh pihak nasabah dan pihak bank. Perjanjian (akad) yang terdapat di perbankan syariah harus tunduk pada syarat dan rukun akad sebagaimana diatur dalam syariat islam.

Bank Umum syariah yang berdiri sendiri sesuai dengan akta pendiriannya, maka bukan merupakan bagian dari bank konvensional. Beberapa contoh bank umum syariah yaitu Bank Syariah Mandiri, Bank Syariah Bukopin, Bank Muamalat Indonesia dan lain sebagainya.

Unit usaha syariah merupakan unit usaha yang masih di bawah pengelolaan bank konvensional. Unit usaha syariah (UUS) adalah unit kerja dari kantor pusat bank konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor atau unit yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah (islam), atau unit kerja di kantor cabang dari suatu bank yang berkedudukan di luar negeri yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor cabang pembantu syariah atau unit syariah.

Bank syariah memiliki sistem operasional yang berbeda dengan bank konvensional. Dalam bank syariah memberikan layanan bebas bunga kepada para nasabahnya. Dalam sistem operasional bank syariah, penarikan bunga dilarang dalam semua bentuk transaksi apapun. Bank syariah tidak mengenal yang namanya sistem bunga, baik itu bunga yang diperoleh dari nasabah yang meminjam uang atau bunga yang dibayar kepada penyimpan dana di bank syariah.

Sejarah Bank Syariah 

Berbicara mengenai sejarah bak syariah, bank syariah di Indonesia lahir sejak 1992. Bank syariah pertama di Indonesia ialah Bank Muamalat Indonesia. Perkembangan Bank Muamalat Indonesia masih tergolong stagnan pada tahun 1992 hingga 1999. Namun sejak adanya krisis moneter yang melanda Indonesia pada tahuan 1997 dan 1998, maka para bankir melihat banwa Bank Muamalat Indonesia (BMI) tidak terlalu terkena dampak krisis moneter. Para bankir berpikir bahwa BMI, satu-satunya bank syariah di Indonesia yang tahan terhadap krisis moneter. Pada tahuan 1999, berdirilah Bank Syariah Mandiri yang merupakan konversi dari Bank Susila Bakti. Bank Susila Bakti tersebut merupakan bank konvensional yang dibeli oleh Bank Dagang Negara, yang kemudian dikonversi jadi Bank Syariah Mandiri, bank syariah kedua Indonesia.

Pendirian Bank Syariah Mandiri (BSM) menjadi pertaruhan bagi bankir syariah. Bila Bank Syariah Mandiri berhasil, maka bank syariah di Indonesia dapat berkembang Sebaliknya, bila Bank Syariah Mandiri gagal maka besar kemungkinan bank syariah di Indonesia akan gagal. Hal ini disebabkan karena Bank Syariah Mandiri merupakan bank syariah yang didirikan oleh BUMN milik pemerintah. Ternyata Bank Syariah Mandiri dengan cepat mengalami perkembangan. Dengan pendirian Bank Syariah Mandiri ini kemudian diikuti oleh pendirian beberapa bank syariah atau unit usaha syariah lainnya.

Dalam bank syariah produk-produk penghimpunan dana dapat diterapkan berdasarkan prinsip masing-masing, yaitu:
  • Wadiah yaitu akad titipan dimana barang yang dititipkan dapat diambil sewaktu-waktu. Pihak yang menerima titipan dapat meminta jasa untuk keamanan dan pemeliharaan.
  • Mudharabah yaitu akad usaha dimana salah satu pihak memberikan modal (Sahibul Mal), sedangkan pihak lainnya memberikan keahlian (Mudharib) dengan nisbah yang disepakati dan apabila terjadi kerugian , maka pemilik modal menanggung kerugian tersebut.
Mudharabah dibagi menjadi 2 yaitu:
  1. Mudharabah mutlaqah (investasinya tidak terikat). Mudharabah mutlaqah adalah mudharabah di mana pemilik dana memberikan kebebasan kepada pengelola dana dalam pengelolaan investasinya
  2. Mudharabah muqayyadah: investasinya terikat (tertentu).  Mudharabah muqayyadah adalah mudharabah di mana pemilik dana memberikan batasan kepada pengelola dana mengenai tempat, cara, dan objek investasi.

Pengertian Syair : Ciri, Macam Dan Unsur Syair

Pengertian Syair

Syair merupakan salah satu puisi lama, syair berasal dari bahasa arab yaitu Syi'ir atau Syu'ur yang artinya perasaan yang mendalam. Awal mula syair berasal dari Persia dan masuk ke Indonesia bersama dengan agama Islam.

Perpuisian Indonesia telah berkembang sekitar abad 17 yang ditandai munculnya syair melayu. Tidak dapat dipungkiri perkembangan kesuasatraan nusantara dipengaruhi oleh masuknya Islam pada abad ke 10. Namun sejarah menyebutkan Islam baru tersebar luas abad ke 17 setelah bahasa melayu dijadikan lingua franca.

Menurut Hooykaas, syair merupakan jenis puisi lama yang berkembang di Indonesia hanya saja namanya merupakan serapan dari bahasa Arab. Pengaruh puisi Arab dan Parsi memainkan peranan yang penting dalam lahirnya syair Melayu Nusantara.

Walaupun berasal dari bahasa Arab namun syair berkembang di Indonesia, berbaur dengan kebudayaan Indonesia sehingga menemukan bentuk dan ciri-ciri tersendiri yang berbeda dengan syair Arab.

A. Teeuw berpendapat bahwa asal-usul syair di Indonesia ditandai oleh puisi/syair karya Hamzah Fansuri. Pendapat A. Teeuw tersebut juga didukung oleh Winstedt dan Brakel yang berpendapat bahwa syair Indonesia diperkenalkan oleh Hamzah Fansuri dalam tulisannya.

Kini syair mengalami banyak modifikasi seiring berkembangnya zaman sehingga menjadi khas melayu.

Ciri - Ciri Syair

• Tiap baitnya terdiri dari empat baris
• Tiap baris terdiri dari 8 sampai 14 suku kata
• Setiap bait memberi arti sebagai satu kesatuan
• Bersajak a-a-a-a
• Semua baris adalah isi
• Bahasa berbentuk kiasan
• Syair berisi tentang nasihat,petuah,dongeng/cerita

Jenis dan Contoh Syair 

1. Syair Panji

Syair panji adalah syair yang menceritakan peristiwa, kondisi, keadaan, situasi ataupun orang - orang yang hidup di dalam istana kerajaan
Syair Panji Karya Abdul Muluk
Berhentilah kisah raja Hindustan
Tersebutlah pula suatu perkataan
Abdul Hamid Syah paduka sultan
Duduklah baginda bersuka-sukaan
Abdul Muluk putra baginda
Besarlah sudah bangsawan muda
Cantik menjelis usulnya syahda
Tiga belas tahun umurnya ada
Parasnya elok amat sempurna
Petah menjelis bijak laksana
Memberi hati bimbang gulana
Kasih kepadanya mulia dan hina

2. Syair Kiasan

Syair kiasan adalah syair yang menceritakan tentang perumpamaan terhadap kejadian tertentu. Contohnya seperti : "bagai air di daun keladi" yang artinya adalah tentang kepribadian seseorang yang tidak memiliki pendirian atau prinsip sehingga hidupnya tidak menentu.
Syair Burung Nuri Karya Sultan Badaroedin
Paksi Simbangan konon namanya
Cantik dan manis sekalian lakunya
Matanya intan cemerlang cahayanya
Paruhnya gemala tiada taranya
Terbangnya Simbangan berperi-peri
Lintas di Kampung Bayan Johari
Terlihatlah kepada putrinya Nuri
Mukanya cemerlang manis berseri
Simbangan mengerling ke atas geta
Samalah sama berjumpa mata
Berkobaran arwah leburlah cinta
Letih dan lesu rasa anggauta

3. Syair Romantis

Syair romantis adalah syair yang berisi tentang percintaan, perasaan cinta dan kasih saying, ataupun kisah-kisah cinta.
Syair Bidadari Lahir
Dengarlah kisah suatu riwayat
Raja di desa negeri Kembayat
Dikarang fakir dijadikan hikayat
Dibuatkan syair serta berniat
Adalah raja sebuah negeri
Sultan Agus bijak bestari
Asalnya baginda raja yang bahari
Melimpahkan pada dagang biaperi
Kabarnya orang empunya termasa
Baginda itulah raja perkasa
Tiadalah ia merasa susah
Entahlah kepada esok dan lusa.

4. Syair Sejarah

Syair sejarah adalah syair yang ditulis berdasarkan suatu kejadian, tokoh, pemeran cerita ataupun tempat yang memiliki nilai sejarah, seperti peperangan, asal muasal daerah, nilai sejarah suatu patung atau candi, dan lain - lain.
Syair Negaradipa
Bermula kisah kita mulai
Zaman dahulu zaman bahari
Asal mulanya sebuah negeri
Timbulnya kerajaan Raja di Candi
Kerajaan bernama Negara Dipa
Raja pertama Empu Jatmika
Putra tunggal Mangkubumi dengan Sitira
Asal Negeri Keling di Tanah Jawa
Mangkubumi saudagar kaya
Kerabat raja yang bijaksana
Berputera seorang elok rupanya
Empu Jatmika konon namanya

5. Syair Agama

Pertama kali syair masuk ke Nusantara Indonesia yaitu bersamaan dengan masuknya agama Islam. Oleh karena itu, banyak syair agama berkembang oleh agama Islam.

Jenis-jenis syair agama yaitu :

• Syair Sufi
• Syair tentang ajaran Islam
• Syair riwayat cerita nabi
• Syair nasihat.
Syair Bertaubat
Janganlah engkau berbuat maksiat
Janganlah engkau berbuat jahat
Segeralah engkau bertaubat
Agar selamat dunia akhirat
Apabila engkau kesulitan
Dan menerima segala cobaan
Memohonlah kepada Tuhan
Pasti Tuhan mengabulkan
Jangan lupa kepadanya
Patuhilah perintahnya
Bertaubatlah kepadanya
Pasti Tuhan menerimanya

Unsur-Unsur Syair

a. Tema merupakan gagasan pokok yang dikemukakan oleh penyair. Tema merupakan landasan utama dalam mengekspresikan gagasan atau pikiran melalu ikata-kata.

b. Nada, yaitu sikap tertentu penyair terhadap pembaca. Apakah penyair bersikap menggurui, menasihati, mengejek, menyindir, atau berikap lugas apa adanya, hanya menceritakan sesuatu kepada pembaca.

c. Suasana adalah keadaan jiawa pembaca setelah membaca puisi. Suasana merupakan efek psikologis yang muncul setelah pembaca selesai membaca keseluruhan syair.

Jika berbicara tentang penyair kita akan berbicara tentang nada, sebaliknya jika berbicara tentang pembaca, kita akan berbicara tentang suasana hati pembaca.

Nada dan suasana saling berhubungan. Nada penyair menimbulkan suasana terhadap pembacanya. Nada duka yang diciptkan penyair dapat menimbulkan suasana iba pembaca.

d. Pesan atau amanat, yaitu tujuan yang hendak dimaksud penyair dalam menciptakan syairya. Pesan penyair dapat ditelaah setelah memahami tema, sada, dan suasana syair dengan membaca kesepuruhan syair. Amanat tersirat dibalik kata-kata yag disusun dan berada di balik tema yang diungkapkan

Pengertian Batik : Sejarah, Jenis Dan Proses Pembuatan Batik

Pengertian Batik

Batik merupakan budaya yang telah lama berkembang dan dikenal oleh masyarakat Indonesia. Kata batik mempunyai beberapa pengertian. Menurut Hamzuri dalam bukunya yang berjudul Batik Klasik, pengertian batik merupakan suatu cara untuk memberi hiasan pada kain dengan cara menutupi bagian-bagian tertentu dengan menggunakan perintang.

Zat perintang yang sering digunakan ialah lilin atau malam.kain yang sudah digambar dengan menggunakan malam kemudian diberi warna dengan cara pencelupan.setelah itu malam dihilangkan dengan cara merebus kain. Akhirnya dihasilkan sehelai kain yang disebut batik berupa beragam motif yang mempunyai sifat-sifat khusus.

Secara etimologi kata batik berasal dari bahasa Jawa, yaitu”tik” yang berarti titik / matik (kata kerja, membuat titik) yang kemudian berkembang menjadi istilah ”batik” (Indonesia Indah ”batik”, 1997, 14). Di samping itu mempunyai pengertian yang berhubungan dengan membuat titik atau meneteskan malam pada kain mori. Menurut KRT.DR. HC. Kalinggo Hanggopuro (2002, 1-2) dalam buku Bathik sebagai Busana Tatanan dan Tuntunan menuliskan bahwa, para penulis terdahulu menggunakan istilah batik yang sebenarnya tidak ditulis dengan kata”Batik” akan tetapi seharusnya”Bathik”.

Hal ini mengacu pada huruf Jawa ”tha” bukan ”ta” dan pemakaiaan bathik sebagai rangkaian dari titik adalah kurang tepat atau dikatakan salah. Berdasarkan etimologis tersebut sebenarnya batik identik dikaitkan dengan suatu teknik (proses) dari mulai penggambaran motif hingga pelorodan. Salah satu yang menjadi ciri khas dari batik adalah cara pengambaran motif pada kain ialah melalui proses pemalaman yaitu mengoreskan cairan lilin yang ditempatkan pada wadah yang bernama canting dan cap.

Sejarah Perkembangan Batik

Ditinjau dari perkembangan, batik telah mulai dikenal sejak jaman Majapahit dan masa penyebaran Islam. Batik pada mulanya hanya dibuat terbatas oleh kalangan keraton. Batik dikenakan oleh raja dan keluarga serta pengikutnya. Oleh para pengikutnya inilah kemudian batik dibawa keluar keraton dan berkembang di masyarakat hingga saat ini. Berdasarkan sejarahnya, periode perkembangannya batik dapat dikelompokkan sebagai berikut :

  • Jaman Kerajaan Majapahit

Berdasarkan sejarah perkembangannya, batik telah berkembang sejak jaman Majapahit. Mojokerto merupakan pusat kerajaan Majapahit dimana batik telah dikenal pada saat itu. Tulung Agung merupakan kota di Jawa Timur yang juga tercatat dalam sejarah perbatikan. Pada waktu itu, Tulung Agung masih berupa rawa-rawa yang dikenal dengan nama Bonorowo, dikuasai oleh Adipati Kalang yang tidak mau tunduk kepada Kerajaan Majapahit hingga terjadilah aksi polisionil yang dilancarkan oleh Majapahit. Adipati Kalang tewas dalam pertempuran di sekitar desa Kalangbret dan Tulung Agung berhasil dikuasai oleh Majapahit.

Kemudian banyak tentara yang tinggal di wilayah Bonorowo (Tulung Agung) dengan membawa budaya batik. Merekalah yang mengembangkan batik. Dalam perkembangannya, batik Mojokerto dan Tulung Agung banyak dipengaruhi oleh batik Yogyakarta. Hal ini terjadi karena pada waktu clash tentara kolonial Belanda dengan pasukan Pangeran Diponegoro, sebagian dari pasukan Kyai Mojo mengundurkan diri ke arah timur di daerah Majan. Oleh karena itu, ciri khas batik Kalangbret dari Mojokerto hampir sama dengan batik Yogyakarta, yaitu dasarnya putih dan warna coraknya coklat muda dan biru tua.

  • Jaman Penyebaran Islam


Batoro Katong seorang Raden keturunan kerajaan Majapahit membawa ajaran Islam ke Ponorogo, Jawa Timur. Dalam perkembangan Islam di Ponorogo terdapat sebuah pesantren yang berada di daerah Tegalsari yang diasuh Kyai Hasan Basri. Kyai Hasan Basri adalah menantu raja Kraton Solo. Batik yang kala itu masih terbatas dalam lingkungan kraton akhirnya membawa batik keluar dari kraton dan berkembang di Ponorogo. Pesantren Tegalsari mendidik anak didiknya untuk menguasai bidang-bidang kepamongan dan agama. Daerah perbatikan lama yang dapat dilihat sekarang adalah daerah Kauman yaitu Kepatihan Wetan meluas ke desa Ronowijoyo, Mangunsuman, Kertosari, Setono, Cokromenggalan, Kadipaten, Nologaten, Bangunsari, Cekok, Banyudono dan Ngunut.

  • Batik Solo dan Yogyakarta

Batik di daerah Yogyakarta dikenal sejak jaman Kerajaan Mataram ke-I pada masa raja Panembahan Senopati. Plered merupakan desa pembatikan pertama. Proses pembuatan batik pada masa itu masih terbatas dalam lingkungan keluarga kraton dan dikerjakan oleh wanita-wanita pengiring ratu. Pada saat upacara resmi kerajaan, keluarga kraton memakai pakaian kombinasi batik dan lurik. Melihat pakaian yang dikenakan keluarga kraton, rakyat tertarik dan meniru sehingga akhirnya batikan keluar dari tembok kraton dan meluas di kalangan rakyat biasa.

Ketika masa penjajahan Belanda, dimana sering terjadi peperangan yang menyebabkan keluarga kerajaan yang mengungsi dan menetap di daerah-daerah lain seperti Banyumas, Pekalongan, dan ke daerah timur Ponorogo, Tulung Agung dan sebagainya maka membuat batik semakin dikenal di kalangan luas.

  • Batik di Wilayah Lain

Perkembangan batik di Banyumas berpusat di daerah Sokaraja. Pada tahun 1830 setelah perang Diponegoro, batik dibawa oleh pengikut-pengikut Pangeran Diponegoro yang sebagian besar menetap di daerah Banyumas. Batik Banyumas dikenal dengan motif dan warna khusus dan dikenal dengan batik Banyumas. Selain ke Banyumas, pengikut Pangeran Diponegoro juga ada yang menetap di Pekalongan dan mengembangkan batik di daerah Buawaran, Pekajangan dan Wonopringgo.
Selain di daerah Jawa Tengah, batik juga berkembang di Jawa Barat. Hal ini terjadi karena masyarakat dari Jawa Tengah merantau ke kota seperti Ciamis dan Tasikmalaya. Daerah pembatikan di Tasikmalaya adalah Wurug, Sukapura, Mangunraja dan Manonjaya. Di daerah Cirebon batik mulai berkembang dari keraton dan mempunyai ciri khas tersendiri.

Berdasarkan cara pembuatannya, batik dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:

Batik tulis

Proses penggambaran lilin batik pada kain menggunakan canting.silahkan kunjungi proses pembuatan batik tulis untuk mengetahui lebih jelas tentang batik tulis

Batik cap

Proses penggambaran lilin batik pada kain menggunakan cap yang dibentuk sesuai dengan motif yang diinginkan.

Batik kombinasi cap tulis

Untuk memenuhi kebutuhan dan pasar yang sangat besar untuk bahan batik maka kini batik banyak di produksi secara masal,saat ini banyak beredar kain bermotif batik atau yang terkenal dengan nama batik print. Pembuatan batik print dilakukan dengan cara mencetak motif batik diatas kain yang kemudian disusul dengan pewarnaan sebagaimana proses sablon. Batik print jika mengacu pada pengertian batik secara umum jelas bukan merupakan batik karena pada proses pembuatannya tidak menggunakan metode rintang warna atau tidak mengaplikasikan lilin batik pada kain.

Pada perkembangan lebih lanjut, saat ini mulai dikenal suatu metode baru yang menghasilkan batik print malam. Batik print malam merupakan perpaduan antara sablon dan batik. Pada metode ini, materi yang dicetak ke atas kain bukan pasta sebagaimana pada teknik sablon tetapi berupa lilin batik. Selanjutnya kain tersebut mengalami proses pencelupan (pewarnaan) sebagaimana pada proses pembuatan batik tulis dan/atau batik cap. Jika ditinjau dari sisi definisi batik, maka batik print malam dapat dikategorikan sebagai batik sebagaimana batik tulis dan batik cap.

Jenis Batik

Berbagai macam batik dapat dijumpai di Indonesia. Apabila ditinjau dari cara atau teknik pembuatannya, batik dapat dibedakan menjadi batik tulis, batik cap dan batik printing (cetakan).

  1. Batik Tulis : Batik tulis adalah jenis batik yang dihasilkan melalui pemberian malam pada kain dengan menggunakan alat yang benama canting. Canting terbuat dari tembaga yang berbentuk seperti corong untuk menampung malam (lilin batik) dan mempunyai lubang pada salah satu sisinya yang berupa pipa kecil sebagai saluran keluarnya malam. Pada saat proses pembuatan batik, corong tersebut digoreskan pada kain untuk membentuk ragam hias batik pada permukaan kain. Canting tulis terdiri dari berbagai jenis dan ukuran yang disesuaikan dengan fungsinya. Karena batik ini ditulis maka bentuk gambar atau desain batik tulis tidak ada pengulangan yang jelas sehingga tampak luwes. Setiap potongan gambar yang diulang pada lembar kain biasanya tidak akan pernah sama bentuk dan ukurannya. Gambar batik tulis dapat dilihat pada kedua sisi kain (tembus bolak-balik). Dasar kain memiliki warna lebih muda dibandingkan dengan warna goresan motif.
  2. Batik Cap : Batik cap adalah batik yang dihasilkan dengan cara membasahi salah satu permukaan bagian cap dengan malam yang kemudian dicapkan pada kain. Cap tersebut membentuk rangkaian motif atau corak. Untuk membuat berbagai motif diperlukan pula berbagai macam cap. Motif atau corak batik cap selalu ada pengulangan yang jelas sehingga bentuknya sama. Garis motif mempunyai ukuran yang lebih besar dari batik tulis. Motif hanya kuat di salah satu sisi kain. Dasar kain memiliki warna lebih tua dari dibandinkan motifnya. Proses pembuatan batik cap lebih cepat dibandingkan dengan proses pembuatan batik tulis.
  3. Batik Printing (Cetakan) : Batik printing (cetakan) adalah tekstil atau kain yang dicetak bergambar/bermotif dengan warna menyerupai karya batik. Proses pembatan batik ini dilakukan dengan menggunakan mesin, sedangkan motif meniru motif batik yang sudah ada.

Berdasarkan motif atau polanya, batik dapat dibedakan menjadi batik klasik dan batik pesisir.


  1. Batik Klasik : Klasik berarti suatu karya (umumnya dari masa lampau) yang bernilai seni serta ilmiah tinggi berkadar keindahan dan tidak luntur sepanjang masa. Berdasarkan pengertian di atas maka batik klasik merupakan suatu karya seni yang bersifat kuno atau tradisi yang memiliki kadar keindahan tinggi. Batik klasik tidak luntur sepanjang masa karena bermakna filosofis yang berarti mengandung unsur-unsur ajaran hidup yang banyak digunakan khususnya oleh masyarakat Jawa. Batik klasik mempunyai 2 macam keindahan yaitu keindahan visual dan keindahan filosofi. Keindahan visual adalah rasa indah penglihatan panca indera yang diperoleh dari perpaduan atau harmoni berupa susunan bentuk dan warna. Sedangkan keindahan filosofi atau jiwa adalah rasa indah yang diperoleh karena susunan arti atau lambang yang membuat gambar sesuai dengan paham yang dimengerti. Contoh batik klasik adalah parang rusak, kawung, sidomuksi dan lain-lain.
  2. Batik Pesisir : memiliki motif atau pola yang tidak menganut pola tradisional melainkan memiliki kebebasan dan kemandiriaan dalam pengungkapan bentuk dan warna. Berbagai pilihan warna seperti merah, hijau, kuning dan sebagainya dapat diterapkan.

Batik dijumpai di berbagai wilayah Indonesia. Motif batik di daerah satu berbeda dengan motif di daerah lainnya. Masing-masing daerah mempunyai karakteristik yang berbeda tergantung dari daerah perkembangan batik. Berdasarkan daerah perkembangannya di pulau Jawa, batik dibedakan menjadi batik Yogyakarta, batik Solo, batik Banyumas, batik Pekalongan, batik Cirebon dan lain-lain.

12 Tempat Wisata di Kota Semarang yang Menarik Untuk Dikunjungi


12 Tempat Wisata di Kota Semarang yang Menarik Untuk Dikunjungi, Tempat Wisata Terindah - Pernah berkunjung ke Kota Semarang ? Kota Semarang adalah ibu kota dari Provinsi Jawa Tengah. Kota Semarang termasuk dalam salah satu kota besar di Indonesia. Kota Semarang terkenal dengan Simpang Limanya, dimana tempat ini sudah menjadi ikon Kota Semarang. Dalam dunia pendidikan Kota Semarang juga cukup diperhitungkan yaitu dengan keberadaan Universitas Diponegoro yang menjadi tujuan kuliah masyarakat di seluruh Indonesia.

Dalam dunia pariwisata sendiri Kota Semarang memiliki berbagai macam tempat wisata yang layak anda coba apabila sedang berkunjung ke Kota Semarang. Diantara Tempat wisata yang ada di Kota Semarang ini ada yag berupa wisata alam, wisata religi, wisata sejarah dan lainnya. Dalam pembahasan ini akan kami sampaikan 12 tempat wisata yang khusus berada di Kota Semarang. Sedangkan tempat wisata di Kabupaten Semarang kami bahas pada artikel tersendiri. Berikut adalah 12 Tempat Wisata di Kota Semarang yang Menarik Untuk Dikunjungi.
[1]


1. Lawang Sewu




Wisata Semarang Lawang Sewu adalah Ikon Wisata di Kota Semarang yang sangat bersejarah. Dinamakan Lawang Sewu karena bangunan kuno ini memiliki pintu dan jendela yang sangat banyak, sehingga masyarakat menyebutnya dengan Lawang Sewu, meskipun faktanya pintu di Lawang Sewu jumlahnya tidak mencapai seribu buah. Bangunan Lawang Sewu sempat masuk dalam sebuah acara misteri di sebuah televisi nasional, sehingg hal itu menambah ketenaran dari tempat wisata lawang sewu. Bangunan Lawang Sewu sendiri sebenarnya adalah kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS yang selesai dibangun pada tahun 1907. Setelah Indonesia Merdeka, bangunan ini difungsikan pemerintah RI sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Bangunan ini sempat terlantar, namun kemudian berhasil dipugar dan saat ini menjadi museum yang dikelola oleh PT. Kereta Api Indonesia.


2. Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT)




Tempat wisata di Semarang ini tergolong unik, meskipun bangunan ini sebenarnya berupa masjid untuk ibadah, namun juga dapat dijadikan sebagai tempat wisata. Hal itu karena di area ini pengunjung dapat melihat sebuah masjid yang megah dengan arsitektur yang sangat menawan. Luas area Masjid Agung Jawa Tengah adalah 10 hektar dimana luas bangunan inti yang berupa masjid adalah seluas 7669 meter persegi. Arsitektur masjid sendiri merupakan perpaduan antara gaya Jawa, dan Yunani. Jika anda berkunjung ke Masjid Agung Jawa Tengah ini maka selain dapat beribadah, anda dapat mengunjungi Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah yang terdapat di Tower Asmaul Husna. Di tower ini juga terdapat resto di lantai 18 dimana dari dalam resto ini anda dapat melihat keindahan Kota Semarang dari atas. Jika menginginkan menginap, anda juga dapat menginap di Hotel Graha Agung yang letaknya masih dalam satu kawasan dengan Masjid Agung Jawa Tengah.


3. Water Blaster Bukit Candi Golf




Destinasi wisata Water Blaster Bukit Candi Golf atau sering disebut dengan Water Blaster Semarang merupakan sebuah tempat wisata air yang banyak diminati untuk berwisata bersama keluarga. Di tempat ini menyediakan berbagai macam wahana permainan air yang tentunya sangat menyenangkan. Wahana permainan air yang terdapat di Water Blaster Semarang adalah sejumlah 8 unit. Salah satu wahana yang menjadi favorite disini adalah jalur meluncur sepanjang 230 meter dengan jalur memutar dan berkelok-kelok sehingga dapat memacu adrenalin. Tidak hanya permainan air saja yang disediakan di Water Blaster Semarang, namun juga tersedia flying fox dengan ketinggian 23 meter dan panjang 105 meter. Lokasi Water Blaster Semarang sendiri adalah di Jalan Bukit Candi Golf No. 1 Semarang.


4. Kebun Binatang Mangkang




Obyek wisata di Semarang yang satu ini juga menjadi salah satu unggulan pariwisata di Kota Semarang. Kebun Binatang Mangkang memilki berbagai macam nama, untuk nama resminya sendiri adalah Taman Marga Satwa Semarang, namun masyarakat lebih familiar dengan Kebun Binatang Semarang, Kebun Binatang Mangkang atau Bonbin Mangkang karena lokasinya di daerah Mangkang. Pada tahun 2014, Taman Marga Satwa Semarang tercatat memiliki 52 jenis satwa. Berwisata ke Kebun BInatang Mangkang ini menjadi salah satu alternatif wisata yang sangat baik karena kita dapat berekreasi sambil dapat memberikan edukasi kepada anak-anak kita tentang macam-macam binatang dan pentingnya menjaga kelestarian binatag-binatang tersebut.


5. PRPP






PRPP adalah singkatan dari Pekan Raya dan Promosi Pembangunan merupakan sebuah areal yang dibangun sebagai sarana untuk menunjukkan berbagai macam hasil pencapaian Pembangunan Provinsi Jawa Tengah. Di lokasi PRPP ini juga terdapat Puri Maerokoco, dimana Puri Maerokoco ini merupakan salah satu wisata edukasi yang sangat bagus untuk anak-anak usia sekolah. Di Puri Maerokoco ini pengunjung dapat menyaksikan berbagai macam anjungan dari berbagai kabupaten di Jawa Tengah. Tiap anjungan menampilkan kekhasan dari kabupaten masing-masing. Selain untuk rekreasi, PRPP juga dijadikan sebagai tempat penyelenggaraan Event-event pameran baik skala daerah, nasional ataupun internasional, Acara penting perusahaan (perayaan), Resepsi Perkawinan dll.


6. Wonderia




Wisata Semarang selanjutnya yang akan kita bahas adalah Taman rekreasi Wonderia Semarang. Wonderia Semarang menawarkan sebuah wisata keluarga dengan berbagai macam permainan yang sangat cocok untuk ana-anak, seperti Merry Go Round, Kiddy Boat, Super Rally, Boom Boom Car, Space Gyro, Ghost House, dan Typhoon Coaster dll. Pada saat musim liburan pastinya banyak keluarga dan rombongan yang mendatangi tempat ini karena selain harga tiketnya murah, juga permainan yang disediakan sangat menyenangkan. Apabila anda berminat untuk datang ke Wonderia Semarang ini, anda dapat datang ke alamat Taman Rekreasi Wonderia di Jalan Sriwijaya 29, Kota Semarang.


7. Pantai Maron




Kota Semarang merupakan salah satu kota yang terletak di tepi pantai Laut Jawa, yang menjadikan kota ini memiliki beberapa pantai yang dapat dimanfaatkan sebagai rekreasi bagi warga masyarakat sekitar. Salah satu pantai yang ada di Kota Semarang adalah Pantai Maron Pantai ini berdekatan dengan Bandara Ahmad Yani. Untuk mencapainya anda harus ekstra hati-hati karena di jalan menuju lokas wisata ini masih berupa tanah yang dipadatkan dan bergelombang. Hal ini menyebabkan kesulitan bagi pengunjung yang membawa mobil pribadi. Jadi saran kami apabila ingin berkunjung ke tempat ini mending menggunakan sepeda motor atau sepeda. Banyak dari warga Semarang yang pada hari libur bersepeda dan kemudian menikmati keindahan Pantai Maron di Kota Semarang ini.


8. Pantai Marina




Wisata Pantai di Semarang lainnya adalah Pantai Marina. Kalau Pantai Maron berdekatan dengan Bandara Ahmad Yani, Pantai Marina berdekatan dengan Kompleks PRPP. Selain menikmati keindahan alamnya, pengunjung juga dapat naik perahu mengelilingi area sekitar Pantai Marina serta dapat juga memancing ikan. Tempat WIsata Pantai Marina juga termasuk dalam salah satu alternatif wisata bagi warga Kota Semarang dan sekitarnya.


9. Kampung wisata Taman Lele




Destinasi wisata lainnya di Kota Semarang adalah Kampung WIsata Taman Lele. Taman Lele sebelumnya adalah kebun binatang yang awalnya terletak di Tegalwareng. Pada tahun 1985 kebun binatang ini dipindahkan di 2 lokasi yang berbeda, yaitu di Taman wisata Tinjomoyo dan Taman Lele yang sekarang. Kebun binatang yang di Tinjomoyo sendiri kemudian dipindah lagi ke Kebun Binatang Mangkang. Dinamakan Taman Lele karena pada zaman dahulu tempat tersebut terdapat sebuah pohon beringin yang sangat besar. Dibawah pohon ini terdapat mata air yang banyak ikan lelenya. Di lokasi Kampung Lele ini wisatawan dapat menikmati danau buatan yang dikelilingi dengan gazebo, kolam renang, kebun binatang mini dll.


10. Pagoda Buddhagaya Watugong




Wisata Semarang yang satu ini merupakan salah satu wisata yang unik yang ada di Kota Semarang yaitu Vihara Buddhagaya Watugong. Pada ddasarnya Vihara ini adalah tempat beribadah umat agama Budha. Namun selain untuk ibadah vihara ini juga dibka untuk masyarakat umum apabila berkenan melihatnya. Di Vihara ini terdapat Pagoda Avalokitesvara yang sudah jadi ikon Vihara ini. Pagoda Avalokitesvara di Vihara Buddhagaya Watugong Semarang telah ditetapkan oleh MURI sebagai Pagoda tertinggi di Indonesia denagn tinggi 45 meter serta memiliki 7 tingkat. Di dalam pagoda terdapat beberapa patung seperti Patung Dewi Kwan Im, Patung sang Buddha dll.


11. Klenteng Sam poo kong




Kelenteng Sam Po Kong atau juga dikenal dengan Gedung Batu merupaka tempat yang bersejarah. Di tempat ini dipercaya sebagai tempat pendaratan Laksamana terkenal dari China yaitu Laksamana Cheng Ho ketika mengunjungi Pulau Jawa pada tahun 1400 an. Peristiwa pendaratan Laksamana Cheng Ho ini selain diabadikan dalam bentuk Klenteng Sam Poo Kong juga diadakan sebuah perayaan yang diadakan dengan mengadakan arak-arakan yang dimulai di Kuil Tay Kak Sie di Gan Lombok kemudian dilanjutkan mengarak Patung Sam Poo Kong ke Gedong Batu.


12. Kota Lama Semarang




Tempat wisata di Kota Semarang terakhir yang akan kita bahas disini adalah Kota Lama Semarang. Di kawasan ini banyak sekali terdapat berbagai macam bangunan kuno peninggalan Pemerintah Kolonial Belanda. Keberadaan Kota Lama ini menunjukkan bahwa Kota Semarang sejak dulu sudah menjadi sentra perekonomian dan pusat pemerintahan. Beberapa bangunan kuo yang sampai sekarang masih berdiri kokoh adalah Bank Mandiri, Asuransi Jiwa Sraya, Pabrik Rokok Praoe Lajar, Stasiun Tawang, Gereja Blenduk dan Polder Air tawang. Untuk lebih menambah sensasi menikmati eksotisme Kota Lama Semarang ini, sekarang sudah tersedia Bus pariwisata yang siap mengantarkan anda berkeliling menikmati Kota Lama Semarang. Bus Pariwisata ini diberi nama Semarjawi, yang merupakan singkatan dari Semarang Jalan-jalan Wisata. Bus ini di operasikan sejak tanggal 28 Oktober 2014 oleh PT Telekomunikasi Selular dan telah diresmikan oleh Bapak Walikota Semarang Hendrar Prihadi.

Demikian tadi penjelasan singkat tentang tempat wisata yang ada di Kota Semarang. Kota Semarang yang memiliki sejarah yang panjang sangat layak untuk anda jadikan sebagai destinasi wisata anda bersama keluarga pada saat liburan tiba. Di tempat ini akan anda temui banyak sekali bangunan-bangunan yang sangat bersejarah yang memiliki nilai historis dan eksotisme yang sangat tinggi. Oh ya selain berkeliling di Kota Semarang anda dapat juga berkeliling berwisata ke Tempat wisata yang ada di Kabupaten Semarang[2].
(Baca : 12 Tempat Wisata Pilihan di Jawa Tengah[3] )




12 Tempat Wisata di Kota Semarang yang Menarik Untuk Dikunjungi

Rating: 4.5
Diposkan Oleh:
Diana Salsabila




References

  1. ^ 12 Tempat Wisata di Kota Semarang yang Menarik Untuk Dikunjungi (tempatwisatadaerah.blogspot.com)
  2. ^ Tempat wisata yang ada di Kabupaten Semarang (tempatwisatadaerah.blogspot.com)
  3. ^ 12 Tempat Wisata Pilihan di Jawa Tengah (tempatwisatadaerah.blogspot.com)

Pengertian Warga Negara : Kedudukan Dan Masalah Warga Negara




Salah satu unsur Negara adalah rakyat. Rakyat yang tinggal di wilayah Negara menjadi penduduk Negara yang bersangkutan. Warga Negara adalah bagian dari masyarakat sebuah Negara. Warga Negara memiliki jalinan dengan negarannya. Jalinan itu umum dikatakan sebagai kewarganegaraan. Kedudukannya sebagai Warga Negara membuat jalinan berbentuk status (identias), partisipasi, hak, serta keharusan yang berbentuk timbal balik (resiprokalitas).

PENGERTIAN WARGA NEGARA 

Secara umum Warga mengandung arti peserta atau anggota dari sebuah organisasi perkumpulan, jadi secara sederhana Warga Negara diartikan sebagai anggota dari sebuah Negara. Istilah Warga Negara merupaka terjemahan kata citizen (inggris). Kata citizen secara etimologis berasal dari bangsa romawi yang pada waktu itu berbahasa latin, yaitu kata “civis” atau “civitas” yang berarti anggota warga dari city-state. Berikutnya kata ini dalam bahasa Prancis diistilahkan “citoyen” yang bermakna warga dalam “cite” (kota yang memiliki hak-hak terbatas. Citoyen atau citien dengan demikian bermakna warga atau penghuni kota.

Sehingga bersumber pada penjelasan di atas, dapat dikemukakaan bahwa citizen adalah warga dari sebuah komunitas yang dilekati dengan sejumlah keistimewaan, memiliki kedudukan yang sederajat, memiliki loyalitas, berpartisipasi, serta mendapat perlindungan dari komunitasnya.

Oleh karena itu, pada dasarnya istiah citizen lebih tepat sebagai warga, tidak hanya warga sebuah Negara, tetapi lebih luas pada komune lain di samping Negara. Meskipun demikian, dalam perkembangan sekarang di mana Negara merupakan komunitas politik yang dianggap paling absah, citizen merujuk pada warga dari sebuah Negara atau disingkat Warga Negara. Istilah Warga Negara di Indonesia ini telah menjadi ide konsep yang lazim untuk istilah citizen.

Tidak hanya istilah Warga Negara, kita juga sering mendengar istilah lainnya seperti rakyat dan penduduk. Rakyat lebih memilih ide konsep politis dan menunjuk pada orang-orang yang berada dibawah satu pemerintahan dan tunduk pada pemerintahan itu. Istilah rakyat umunya dilawankan dengan penguasa. Sedangkan penduduk adalah orang-orang yang bertempat tinggal di sebuah wilayah Negara dalam kurun waktu tertentu. Orang berada di sebuah wilayah negara dapat dibedakan antara penduduk dan non-penduduk, lebih jauh lagi penduduk negara dapat dibedakan menjadi warga negara dan orang asing atau bukan warga negara.

PENGERTIAN KEWARGANEGARAAN 

Kewarganegaraan menunjuk pada seperangkat karakteristik seorang warga. Krakteristik atau atribut kewarganegaraan itu mencakup :

  • Perasaan akan identitas 
  • Pemilikkan hak-hak tertentu 
  • Pemenuhan bebrapa kewajiban yang sesuai 
  • Tingkat ketertarikan dan keterlibatan dalam masalah publik 
  • Penerimaan terhadap nilai-nilai sosial dasar 

Memiliki kewarganegaraan berarti seseorang itu memiliki identitas atau status dalam lingkup nasional. Memiliki kewargnegaraan berarti didapatkannya sejumlah hak dan kewajiban yang berlaku timbal balik dengan negara. Ia berhak dan berkewajiban atas negara, sebaliknya negara memilki hak dan kewajiban atas orang tersebut . Terkait dengan hak dan kewajiban ini sahabat, seseorang menjadikan ia turut terlibat atau berpartisipasi dalam kehidupan negaranya. Kewarganegaraan seseorang juga menjadikan orang tersebut berpartisipasi dengan warga negara lainnya sehingga tumbuh penerimaan atas nilai-nilai sosial bersama yang ada di negara tersebut .

Pendapat lain menyatakan kewarganegaraan adalah bentuk identias yang memungkinkan individu-individu merasakan makna kepemilikan, hak dan kewajiban sosial dalam komunitas politik (negara). Dalam kamus maya Wikipedia juga diutarakan bahwa Kewarganegaraan merupakan keanggotaan dalam komunitas politik (yang dalam sejarah perkembangannya diawali pada negara kota, namun sekarang ini telah berkembang pada keanggotaan sebuah negara) yang membawa implikasi pada kepemilikan hak untuk berpartisipasi dalam politik.

Pengertian Kewarganegaraan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu : 

  • Kewarganegaraan Dalam Arti Yuridis Dan Sosilogis 

Kewarganegaraan dalam arti yuridis ditandai dengan adanya ikatan hukum antara orang-orang dengan negara atau kewarganegaraan sebagai status legal. Dengan adanya ikatan hukum itu menimbulkan akibat-akibat hukum tertentu, bahwa orang tersebut berada dibawah kekuasaan negara yang bersangkutan. Tanda dari adanya ikatan hukum seperti akte kelahiran, surat pernyataan, bukti kewarganegaraan, dan lain-lain.

Kewarganegaraan dalam arti sosiologis tidak ditandai dengan adanya ikatan hukum, tetapi ikatan emosional seperti ikatan perasaan, ikatan keturunan, ikatan nasib, dan lain-lain. Dengan kata lain ikatan ini lahir dari penghayatan orang yang bersangkutan.

  • Kewarganegaran Dalam Arti Formal Dan Material 


Kewarganegaraan dalam arti formal menunjuk pada tempat kewarganegaraan dalam sistematika hukum. Masalah kewarganegaraan atau ha ikhwat mengenai warga negara berada pada hukum publik. Hal ini karena beberapa kaidah mengenai negara dan warga negara semata-mata bersifat publik.

Kewarganegaraan dalam arti material menujuk pada akibat dari status kewarganegaraan, yaitu adanya hak dan kewajiban serta partisipasi warga negara. Kedudukan seseorang sebagai warga negara akan berbeda dengan kedudukan seseorag sebagai orang asing.

Kewarganegaraan seseorang mengakibatkan orang tersebut memiliki pertalian hukum serta tunduk pada hukum negara yang bersangutan Orang yang sudah memiiki kewarganegaraan tidak jatuh pada kekuasaan atau kewenangan negara lain. Negara lain tidak berhak memperlakukan beberapa kaidah hukum pada orang yang bukan warga negaranya.

KEDUDUKAN WARGA NEGARA DALAM NEGARA 

Hubungan dan kedudukan warga negara ini bersifat khusus sebab hanya mereka yang menjadi warga negaralah yang memiliki hubungan timbal balik dengan negaranya. Orang-orang yang tinggal di wilayah negara, tetapi bukan hanya warga negara dari negara itu tidak memiliki hubungan timbal balik dengan negara tersebut .

PENENTUAN WARGA NEGARA 

Dalam menentukan kewarganegaraan seseorang, sebuah negara tidak boleh melanggar prinsip-prinsip internasional dalam hal penentuan kewarganegaraan. Asas-asas tersebut adalah :

  • Sebuah negara tidak boleh memasukkan orang-orang yang tidak ada hubungan sedikitpun dengan negaranya, misalnya Indonesia tidak bisa mengangkat orang-orang yang tinggal di kutub selatan sebagai warga negaranya. 


  • Sebuah negara tidak boleh menentukan kewarganegaraan bersumber pada unsur-unsur primordial yang dirasakan bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum umum. Misalnya, Indonesia tidak dapat menyatakan bahwa yang dapat menjadi warga negara Indonesia adalah orang-orang yang beragama islam saja, atau orang dari suku jawa saja.

Penentuan kewarganegaraan didasarkan pada sisi kelahiran di kenal dengan dua asas : 


  • Asas Ius Soli, yaitu asas yang menyatakan bahwa kewarganegaraan seseorang di tentukan dari tempat dimana orang tersebut dilahirkan. 
  • Asas Ius Sangunis, yaitu asas yang menyatakan bahwa kewarganegaraan seseorang ditentukan berdasar keturunan dari orang tersebut . (kewarganegaraan orang tua) 

Tidak hanya dari sisi kelahiran, penentuan kewarganegaraan dapat didasarkan pada aspek perkawinan yang mencakup asas kesatuan hukum dan asas persamaan derajat.

  • Asas Persamaan Hukum didasarkan pandangan bahwa suami istri merupakan sebuah ikatan yang tidak terpecah sebagai inti dari masyarakat. Bersumber pada asas ini diusahakan status kewarganegaraan suami dan istri adalah sama dan Satu. 
  • Asas persamaan derajat berasumsi bahwa sebuah perkawinan tidak menyebabkan perubahan status kewarganegaan suami atau istri. Keduanya memiliki hak yang sama untuk menentukan sendiri kewarganegaraan, jadi mereka dapat berbeda kewarganegaraan, seperti hanya ketika belum berkeluarga. 

MASALAH YANG TIMBUL DALAM PENENTUAN KEWARGANEGARAAN 

Masalah yang paling sering timbul dalam permasalahan kewarganegaraan ini adalah :

  • Apatride, yaitu istilah untuk orang-orang yang yang tidak memiliki kewarganegaraan. 
  • Bipatride, yaitu istilah untuk orang-orang yang memiliki dua kewarganegaraan. 
  • Ada juga istilah multipatride, yaitu istilah untuk orang-orang yang mempunyai melebihi dari dua kewarganegaraan. 


Cerita Banyumasan

Cerita Banyumasan

Menurut cerita, pada zaman dahulu sebelum ada nama banyumas, kota banyumas disebut orang “SELARONG”. Suatu ketika kota selarong kedatangan seorang tamu yang mengendarai kuda. Selama di kota selarong orang tersebut menjadi perhatian penduduk karena tingkah lakunya yang aneh, sehingga meresahkan masyarakat. Karena itu penguasa praja setempat segera mengamankan dan memasukkan orang asing itu kerumah tahanan.

Suatu ketika kota selarong dilanda kemarau panjang. Sumur penduduk banyak yang kering. Bahkan kali serayu juga airnya semakin surut. Untuk mendapatkan air orang harus bersusah payah membuat belik, yaitu menggali tanah di tepi kali. Itupun   harus bergantian. Seacara kebetulan saat orang asing tadi dipenjarakan nampak awan hitam di langit bergumpal-gumpal menyelimuti kota selarong. Tak lama kemudian hujan turun dengan lebatnya. Bukan main gembiranya penduduk kota selarong bagaikan mendapat emas. Karena gembiranya mereka berteriak-teriak “BANYU,BANYU,BANYU”. Dan yang lain mengatakan “EMAS,EMAS,EMAS”. Perkataan itu diucapkan secara serempak sehingga lama-kelamaan ucapan mereka terdengar BANYU-EMAS,BANYU-EMAS. Sejak saat itu orang lebih serring memnyebut kota itu Banyumas. Banyumas artinya air bagaikan emas.

Melihat keadaan masyarakat sudah tenang penguasa segera membebaskan orang itu dari tahanan. Orang asing tersebut berjalan ke barat menuju bukit di dukuh dawuhan. Di sana ia berguru kepada seorang sakti yang konon bernama Embah Galagamba. Iapun lama tinggal di padepokan dawuhan hingga akhir hayatnya. Di komplek pesarean dawuhan banyumas terdapat dua buah makam yang konon makam embah galagamba dan muridnya tadi.

BABAD AJIBARANG
Negeri Galuh Pakuan sedang dilanda cobaan berat. Musim kemarau yang berkepanjangan menimbulkan kesengsaraan rakyat. Wabah penyakit dan tindak kriminal meningkat. Sementara para punggawa dan hulubalang belum mampu menghadapinya. Arya Munding Wilis yang menjadi Adipati kala itu memang sedang diuji.

Belum selesai mengatasi kesulitan yang satu timbul masalah yang lain. dalam kesedihan menghadapi negeri yang sedang terancam itu, isterinya yang sedang hamil menginginkan daging kijang berkaki putih. Demi cintanya kepada Sang isteri, berangkatlah Sang Adipati Munding Wilis dengan Kuda Dawuk Ruyung kesayangannya. Hanya ditemani dua pengawalnya, berhari-hari Sang Adipati tak mengenal lelah dalam mencari buruannya itu. Namun sudah sampai sebulan belum juga nampak hasilnya.

Ketika mereka berburu kearah timur menyusuri Sungai Citandui sampailah Sang Adipati beserta dua pengawalnya di suatu grumbul. Ternyata Adipati beserta dua pengawalnya itu sampai di sebuah perkampungan para brandal yang sering mengacau di seluruh kadipatennya. Di Grumbul Gunung Mruyung tersebut sang adipati terpojok dan dirampok oleh dedengkot grumbul itu yaitu Abulawang. Seluruh bawaan bahkan kuda Sang Adipati dirampas dan sang dedengkot mengancam akan merampok dan menghancurkan kadipatennya. Adipati yang sedang kecewa karena tidak mendapat buruannya pulang dengan kesedihan yang lebi mendalam ke kadipatennya.

Sampainya di kadipaten, kesedihan sang Adipati terobati karena putera yang ditungu tungu sudah lahir kedunia. Semakin gembiralah ia setelah ditunjukkan adanya tanda hitam di lengan kiri bayi itu, yang konon merupakan “toh wisnu”. Artinya bayi ini kelak akan menjadi seorang yang besar yang berbudi luhur dan bijaksana.

Ternyata kegembiraan di Kadipaten itu tak berlangsung lama. Pada malam keempat kelahiran sang jabang bayi, perampok gerombolan dari Gunung Mruyung dedengkot Abulawang benar-benar datang dan menghancurkan Kadipaten. Prajurit dan pengawal tidak bisa melawan gerombolan tersebut, semua barang dirampok dan Kadipaten dibakar.

Untunglah sang Adipati dan Gusti putri selamat. Namun nasib bayi yang ditunggui oleh dua orang emban tidak demikian. Bayi itu dibawa oleh salah seorang perampok ke Gunung Mruyung tempat markas mereka. Adipati dan gusti putri lemas, bahkan gusti putri pingsan.

Suatu Ketika, Adipati Munding Wilis dan istrinya menyamar sebagai petani, pergi meninggalkan Kadipaten. Semula mereka bertekad ke Gunung Mruyung, tempat perkampungan para perampok  untuk mencari bayinya. Namun niatnya diurungkan karena terlalu bahaya, merekapun berjalan ke arah lain.

Bayi yang masih merah itu, sudah sampai di Gunung Mruyung. Bertahun-tahun bayi tersebut tumbuh menjadi pemuda gagah dan tampan, sifatnya baik berbeda dengan orang tua angkatnya yang perampok. Pemuda itu dinamai Jaka Mruyung. Karena tidak senang dengan sikap dan tingkah laku orang tuanya maka dia pergi meninggalkan Gunung Mruyung.

Jaka Mruyung pergi dengan Kuda Dawuk Ruyung, yang dimiliki orang tua angkatnya, kuda tersebut sebenarnya adalah kuda milik ayah kandungya Adipati Munding Wilis. Jaka Mruyung tiba disuatu kampung di kawasan “Dayeuhluhur” dan bertemu seorang kakek. Ternyata kakek tersebut bukan kakek sembarangan. Dia adalah Ki Meranggi, seorang mantan prajurit sakti Kerajaan Majapahit dan kini menjadi seorang Mranggi (pembuat rangka keris). Jaka mruyung mengabdi di rumah Ki Mranggi, dan selama pengabdiannya dia banyak mendapat pengalaman yaitu baca, tulis, membuat keris dan ilmu keprajuritan serta kedigdayaan. Semua ilmu tersebut dikuasainya dalam waktu empat tahun. Pada tahun ke enam, Jaka Mruyung seolah mendapat ilham agar meneruskan perjalan ke timur dan disana dia menemukan hutan yang ditumbuhi pohon Pakis Aji dan kelak hutan tersebut dibabat dan dijadikan perkampungan. Jaka Mruyung pun pamit dan berpesan pada Ki Mranggi agar pedukuhan ini sepeninggalnya kelak diberi nama Dukuh Penulisan karena ditempat inilah dia belajar menulis.

Setelah menempuh perjalanan jauh, sampailah dia di perbatasan Kadipaten Kutanegara. Ditempat itu iapun melepas lelahnya sambil memuji keagungan Tuhan ia menyaksikan keindahan alam di sekitarnya. Si Dawuk Ruyung, kudanya yang sudah tua itu makan rumput sekenyang-kenyangnya. Jaka Mruyung memandang rumput hijau itu bagaikan permadani yang Gumelar (digelar dalam bahasa Jawa). Tempat itu kemudian nantinya disebut Desa Gumelar. Di tempat ini dia bertemu dengan pemuda dari Dukuh Cilangkap. Dari pemuda ini dia akhirnya tahu letak Hutan Pakis Aji yang ada dalam ilhamnya. Setelah dia melakukan perjalanan dan singgah sejenak di Dukuh Cilangkap, dia terus melanjutkan perjalanan menuju Hutan Pakis Aji. Hutan tersebut ternyata berada di Selatan Kutanegara dan sebelah timur Dukuh Cilangkap.

Sementara itu, perjalanan Adipati Munding Wilis dan istrinya yang menyamar menjadi Ki Sandi dan Ni Sandi tiba di Dukuh Penulisan, Daerah Daeyuhluhur . Kebetulan keduanya singgah pula di rumah Ki Mranggi. Mereka bertukar pengalaman. Alangkah gembiranya kedua tamu tersebut demi mendengar cerita Ki Mranggi, mereka yakin apa yang diceritakan Ki Mranggi itu ciri-ciri anaknya( dengan Toh Wisnu di Tanggannya). Mereka semakin gembira karena Ki Mranggi juga mengatakan kemana arah peginya anak mereka Jaka Mruyung. Semenjak Pergi dari Negerinya Galuh Pakuan, Adipati Mundig Wilis dan istrinya memang selalu bedoa agar bisa dipertemukan dengan anaknya. Dan memang sudah digariskan bahwa mereka berdua pun sampai di Dukuh Cilangkap dan bertemu dengan orang tua Tlangkas ,pemuda yang pernah memberikan petunjuk kepada Jaka Mruyung.

Ki Sandi alias Adipati Wilis pun tambah gembira karena harapanya semakin dekat terkabul. Sedang Jaka Mruyung kini sudah sampai di kaki bukit sebelah barat Hutan Pakis Aji. Di situ ia terus ke selatan dan menyebarangi sungai yang airnya Racak-racak, sungai itu kemudian dinamai Kali Racak. Di pinggir bukit itu ia melihat pohon yang berbuah sangat banyak, lalu ia bertanya pada orang yang lewat, Apa nama buah itu, orang itu malah menjawab dengn basa sunda, “Ie mah Gondangamis” artinya ini buah gondang yang manis. Kelak tempat itu menjadi Grumbul Gondangamis.

Dari situ dia terus menyusuri pinggiran hutan ke timur, ternyata tempat yang disinggahinya banyak dihuni burung Jalak. Tempat itu nantinya diberi nama Pejalakan. Lalu dia sampai dibelokan kali datar, dia menemukan sebuah kedung, diatasnya banyak burung serwiti, Kedung itu kemudian di beri nama Kedung Serwiti. Setelah mengelilingi Hutan Pakis aji, sampailah dia dipinggiran utara, ia melihat orang-orang sedang membuat tambak ikan. Jaka Mruyung segera meminta bantuan orang-orang untuk bersama-sama membabat hutan Pakis Aji. Kelak Dusun itu menjadi Dusun Tambakan.

Di tengah hutan muncul ular raksasa, namun berhasil dibunuh oleh Jaka Mruyung dan orang-orangnya dan dibakar. Namun akibatnya hutan Pakis aji menjadi terbakar, kebakaran begitu hebatnya sehingga membuat resah kadipaten Kutanegara. Jaka Mruyung sang biang keladi pun ditangkap dan dihukum. Pada masa hukumannya itu ternyata Jaka Mruyung yang tampan, sopan dan baik hati di sukai oleh putri kedua sang Adipati yaitu Putri Pandanayu. Setelah beberapa lama,Jaka Mruyung pun dibebaskan.

Kemudian dia mengikuti sayembara di Kadipaten Kutanegara tersebut. Sayembara itu untuk mencari Senopati Utama yang baru. Jaka mruyung ikut sayembara, dengan kesaktiannya dia memenangkan banyak pertarungan dan pada akhirnya dia harus melawan musuh terkuat yaitu duta dari Kadipaten Kutaliman, bernaman Ki Kentol. Perseteruan antara Jaka Mruyung dan Ki Kentol yang berlarut-larut, nantinya menjadi momok yaitu siapa saja Pejabat yang datang ke Kutaliman pasti akan lengser. Jaka Mruyung yang memenangkan sayembara dijadikan Senopati Utama dan dinikahkan dengan putri kedua Adipati yaitu Pandanayu.

Berita tersebut ahirnya sampai ke Tlangkas dan orang tuanya dan kemudian sampai ke telinga tamu mereka Ki Sandi yang tak lain adalah Adipati Munding Wilis ayah Jaka MRuyung, Raja atau Adipati Besar dari Galuh Pakuan. Adipati lalu membuka jati dirinya dan menemui Adipati Kutanegara. Betapa senangnya Adipati Kutanegara, ternyata calon mantunya adalah anak Adipati Besar dari Galuh Pakuan.

Haru dan Bahagia pun berkecamuk diantara mereka. Acara Pernikahan segera dilakukan, namun di saat berlangsungnya pernikahan terjadi kehebohan. Hal ini kaerna putri pertama Adipati Kutanegara yaitu Dewi Pandansari minggat, karena malu telah dilangkahi. Dia bertapa disebuah kali, dia bertapa merendam, yang tentu saja tubuhnya yang indah itu tidak ditutupi oleh apapun. Tidak heran banyak lelaki berdatangan ingin melihat. Putri lalu berkata pada biyung embannya agar disampaikan ke ayahnya, supaya Kali tersebut dinamai Kali Luwih Laki, yang kemudian berubah menjadi Kali Wilaki. Dewi Pandansari itupun meninggal dikali dan dikuburkan disawah pinggir sungai tersebut. Kuburan itu terkenal dengan sebutan Kuburan Pandansari.

Bertahun-tahun dari peristiwa itu, Adipati Kutanegara, Adipati Nglangak itupun semakin lanjut usia. Jaka mruyung pun menggantikannya dan diangkat sebagai adipati Kutanegara. Namun Jaka Mruyung yang tinggal di Kadipaten Kutanegara itu tidak betah di Kadipaten Kutanegara. Dia Menginginkan pindah, lalu dia pun teringat ilham yang diperolehnya saat dia muda. Dia kemudian pindah ke hutan yang telah ia babat yaitu Hutan Pakis Aji. Maka ibukota Kadipaten Kutanegara dipindah ke Hutan Pakis Aji dan disebut AJIBARANG sehingga kadipaten berubah menjadi Kadipaten AJIBARANG.

BABAD PASIR LUHUR
Kisah ini menceritakan tentang perjuangan Raden Banyak Catra, putra Prabu Siliwangi Raja Pajajaran. Dikisahkan saat itu Raden Banyak Catra  dipersiapkan untuk menggantikan kedudukan ayahnya menjadi raja. Namun syarat untuk menjadi raja, Raden Banyak Catra harus memiliki istri terlebih dahulu. Akhirnya Raden Banyak catra pergi mengembara untuk mencari pendamping hidup.
Raden Banyak Catra menyamar sebagai rakyat jelata dan berganti nama menjadi Kamandaka. Kamandaka pergi ke Pasir Luhur, sebuah Kadipaten yang dipimpin oleh Adipati Kandhadhaha. Kedatanannya ke Pasirluhur adalah untuk menemui Dewi Ciptarasa, putri bungsu sang Adipati. Singkat cerita kemudian Kamandaka di angkat sebagai anak oleh Reksanata, Patih Pasir Luhur.

Hasrat Raden Kamandaka untuk melihat wajah Putri Dewi Ciptarasa dapat terkabul ketika Adipati Kandhadhaha mengadakan hiburan dengan mengadakan penangkapan ikan di sungai secara beramai-ramai.

Pertemuan Raden Kamandaka dengan Dewi Ciptarasa berlanjut dengan jalinan cinta. Suatui ketika Raden Kamandaka mengunjungi Dewi Ciptarasa di Kadipaten Pasirluhur. Namun pertemuan itu dipergoki oleh kakak Ciptarasa. Bagi sang Adipati Kandhadhaha, perbuatan Kamandaka telah mencoreng mukanya karena sebagai seorang rakyat jelata bercengkrama dengan Putri Dewi Ciptarasa. Kemudian Patih dipanggil oleh Adipati Kandhadhaha dan perintahkan untuk membunuh Kamandaka. Sebagai seorang ayah, Patih Reksananta bingung untuk melaksanakan tugas ini.

Raden Kamandaka dikekar-kejar oleh Prajurit Kadipaten, kemudian Raden Kamandaka terjun ke sungai dan bersembunyi dalam gua di sungai itu. Para Prajurit Kadipaten melempari batu ke tempat Raden Kamandaka menceburkan diri. Setela beberapa waktu tidak muncul, mereka mengira Raden Kamandaka telah tewas tenggelam di sungai itu. Apalagi mereka melihat usus  terapung di sungai, mereka mengira usus ayam yang terapung itu adalah ususnya Raden Kamandaka.

Para prajurit kemudian pulang untuk melaporkan kejadian itu kepada Sang Adipati. Sampai sekarang lubuk tempat Raden Kamandaka terjun dikenal dengan anama “Kedhung Petaunan” di sungai logawa, 3 Km sebelah Batrat Kota Purwokerto.
1.  Terhindar dari bahaya.
Raden Kamandaka bersembunyi di sebuah kedung terus menyusup ke gua dan akhirnya sampai di tempuran sungai logawa. Tempat tersebut sampai sekarang disebut “Surup lawang” yaitu pertemuan antara sungai Logawa dengan Sungai Serayu di sebelah selatan Purwokerto.

Dengan menyusuri sungai Logawa, samapailah Raden Kamandaka ke kadipaten Pasirluhur. Selanjutnya ia menumpang dirumas seorang janda yang tidak mempunyai anak yaitu Nyi Kartisara, yang pekerjaannya menjual daun pisang.

Raden Kamandaka memakai nama samaran “si Sulap”. Kegemarannya memelihara ayam jantan untuk di adu. Kemudian tempat tingal Si Sulap terkenal dengan nama “Kurung Ayam”. Ayam jago Si Sulap yang terbaik dinamakan “Mercu”. Sulap mendapatkan seorang kawan bernama Ki Reksajaya, berasal dari Losari, orang yang cacad jasmaninya. Tempat yang terkenal untuk menyabung ayam pada waktu itu adalah Pangebatan.   
  
 Semetara itu Prabu Siliwangi di Pajajaran merasa gerlisah demi menunggu Raden Kamandaka tidak kunjung pulang. Kemudian beliau memerintahklan putranya Raden Gagak Ngampar, adik Kamandaka, yang sedang bertapa untuk mecari kakaknya Raden Kamandaka.

Akhirnya Raden Banyak Ngampar pergi meninggalkan Pajajaran dengan memakai nama samaran Raden Silihwarni. Beliau sampai ke daerah Pasirluhur dan langsung menuju Kadipaten Pasirluhur untuk mengabdikan diri. Permohonan itu dikabulkan oleh Sang Adipati dan diangkat menjadi prajurit.

Selang beberapa waktu terdengar kabar bahwa Kamandaka masih hidup dan berada di suatu desa sebagai penyabung ayam. Adipati Kandadaha menjadi murka, akhirnya membuat sayembara untuk membunuh Kamandaka.

Raden Silihwarni menyatakan sanggup melaksanakan sayembara tersebut.  Raden Silihwarni sama sekali tidak tahu bahwa Kamandaka adalah Raden Banyak Catra, kakak kandungnya sendiri.

Raden Silihwarni datang ketempat sabung ayam dengan membawa ayam jago yang dikakinya sudah dipasangi Patrem (Keris kecil) pada taji jagonya. Pada saat berhadapan dengan Raden Kamandaka, Raden Silihwarni melemparkan jagonya ke arah Raden Kamandaka. Lambung kiri Kamandaka luka tersabet keris patrem yang berada di kaki jago. Raden Kamandaka marah sekali dan ayam jago yang melukai tadi langsung ditangkap dan dibanting hinga mati.

Pertengkaran terjadi dan Raden Silihwarni terkena tusukan keris di kkan lambung  hingga pingsan. Pengikut Raden Silihwarni yang bernama Ki Nitipraga tertusuk keris Raden Kamandaka sampai tewas. Kemudian Raden Kamandaka meninggalakan tempat sabung ayam itu dengan diikluti Ki Reksajaya.

Setelah peristiwa sabung ayam itu Raden Kamandaka dikejar-kejar oleh prajurit Pasirluhur dibawah pimpinan Raden Silihwarni. Raden Kamandaka dapat terkejar oleh Raden Silihwarni dan terjadilah perkelahian sengit antara kedua bersaudara yang masing-masing sudah tidak mengenal lagi. Tempat perkelahian tersebut dinamakan “Pejogol”. Pengejaran terus dilakukan bahkan dibantu oleh prajurit menantu Adipati Mersi. Raden Kamandaka lari ke arah timur menuju kota Purwokerto. Samapai di suatu tempat, Raden Kamandaka jatuh dan terluka. Tempat dimana dia jatuh akhirna dinamakan sungai “Bodas”.

Perjalanan terus dilakukan. Ketika samapai di sebuah sungai Raden Kamandaka membasuh lukanya, darah keluar dengan derasnya sehingga tempai itu dinamakan sungai “Bancaran” yang kemudian menjadi “Banjaran”. Untuk melihat datangnya musuh, Raden Kamandaka naik ke lereng sungai Banajaran. Tempat ini kemudian dinamakan “Sawangan” (Nyawang ; bahasa Jawa).

Raden Kamandaka melanjutkan perjalanan ke arah utara, kemudian be istirahat di suatu tempat, yang kemudian dinamakan “Kober” (Semapat : bahasa Jawa). Letak desa tersebut di dekat Stasiun Purwokerto. Kemudian melanjutkan perjalanan menembus hutan belukar hingga sulit diikuti oleh prajurit Pasirluhur. Desa tempat menerobos hutan belukar kemudian dinamakan “Bobosan” (nerobos/menyusup). Dengan kekuatan batin Raden Kamandaka mengetahui bahwa muhnya menggunakan anjing sebagai pelacak, sehingga dia juga melepas anjing untuk menangkap anjing pelacak. Anjing musuh dapat ditangkap dan dikurung di suatu daerah yang  dinamakan “Kurung anjing”, kemudian menjadi Karanganjing. Letaknya disebelah timur Bobosan, sekarang termasuk dalam Kelurahan Purwonerogo.

Para prajurit berjaga-jaga menantikan suara anjingnya menyalak, namun sampai pagi hari tidak terdengar suara anjing menyalak. Kemudian mereka mengetahui bahwa Raden Kamandaka telah menyeberangi sungi Banjaran menuju barat. Mereka mengejar Raden Kamandaka sampai disuatu daerah , karena kemarahannya seperi banteng ketaton, maka daerah itu dinamakan desa “Kedungbanteng”.

Di desa Kedunbanteng terdapat batu sebesar rumah yang dikenal dengan nama “Watu sinom”. Raden Kamandaka naik ke atas batu tersebut sambil menantang Raden Silihwarni yang tidak lain adalah Raden Gagak Ngampar, adik kandung Raden Kamandaka sendiri.

Raden Kamandaka  terkejut begitu melihat Raden Silihwarni  mengeluarkan keris Kyai Mojang Pamungkas yang merupakan pusaka Kerajaan Pajajaran. Saat itu terbongkar bahwa ternyata Raden Silihwarni adalah adik kandung Kamandaka.

Raden Silihwarni kemudian menceritakan maksud kedatangan ke Pasirluhur adalah atas perintah Ayahanda untuk mencarikan kakaknya yang akan dinobatkan menggantikan Ayahanda bertahta di Pajajaran.

Kemudian dibuat sekenario, Ki Reksajaya diperintahkan pergi ke Karanganjing untuk membunuh seekor anjing yang dikurung disana guna diambil hati dan darahnya untuk diserahkan ke Adipati Mersi sebagai bukti kematian Kamandaka. Kemudian Raden Kamandaka  dan adiknya pulang ke Pajajaran.

Berita tewasnya Raden Kamandaka  telah tersiar ke seluruh Kadipaten Pasirluhur. Adipati Pasirluhur merasa puas dan gembira setelah mendengar berita kematian Kamandaka yang disampaikan oleh Adipati Mersi. Namun sebaliknya, Puri Ciptarasa sangat bersedih skaligus ragu mendengar berita itu, karena sudah kedua kalinya Kamandaka diberitakan meninggal dunia.

1.  Tahta Kerajaan
Tidak lama kemudan Raden Kamandaka alias Banyak Catra dan Raden Silihwarni alisa Gagak Lampar telah sampai di Istana Pajajaran, diikuti oleh Ki Reksajaya. Menjelang peresmian pergantian tahta Kerajaan Pajajaran yang akan diberikan kepada Banyak Blabur (anak istri ke dua), yang menuntut janji Prabu Siliwangi kepada istri keduanya bahwa kelak putranya yang laki akan diberi kedudukan sebagai Putra Makhota.

Karena harus memilih salah seorang antara Banyak Catra dengan Banyak Blabur, maka Prabu Siliwangi membuat sayembara. Siapa yang dapat menemukan 40 orang putri kembar, maka dialah yang berhak naik tahta. Untuk mencari syarat tersebut, Banyak Blabur pergi kea rah barat ke aerah Banten, sementara Banyak Catra pergi ke arah timur yaitu ke Pasirluhur.

Banyak Catra diringi oleh 2 orang abdinya yaitu Ki Gede Kolot dan Ki Klantung. Setelah sampai di kaki Gunung Slamet kemudian mendirikan sebuah padepokan yang diberi nama Batur Agung.

Menurut wahyu yang diterima, Banyak Catra dianjurkan supaya bertapa di sebelah timur Pasiruhur, yaitu di dekat tempuran sungai Logawa dan Sungai Mengaji. Karena ketekunannya bertapa, Banyak cara memperoleh anugerah dari Dewa berua baju ajaib. Jika baju Tersebut dipakai, maka ia akan berubah menjadi seekor Lutung (kera).

Suatu ketika Raden Kamandaka menemui Dewi Ciptarasa dengan memakai pakaian Lutung. Akhirnya Dewi Ciptarasa tahu bahwa    lutung tersebut adalah si Kamandaka. Lutung itu kemudian dipelihara oleh Dewi Ciptarasa sebagai hewan kesayangan yang sewaktu-waktu bisa berubah wujud menjadi Raden Kamandaka.

Sementara itu Raden Pulebahas dari dari Nusakambangan berniat  melamar Dewi Ciptarasa. Dewi Ciptarasa bingung menerima lamaran itu. Kamandaka menyarankan agar Dewi Ciptarasa menerima lamaran dari Prabu Pulebahas tersebut dengan dua syarat. Syarat pertama, pada saat pernikahan, Prabu Pulebahas tidak boleh membawa senjata maupun prajurit. Syarat kedua, lutung yang mengiringi Dewi Ciptarasa tidak boleh diganggu. 
Syaratnya diterima Prabu Pulebahas dan pernikahan pun dilaksanakan pada waktu yang telah ditentukan. Saat kirab pengantin atau pertemuan pengantin, Lutung mendampingi Dewi Ciptarasa.

Saat Prabu Pulebahas berbasa basi akan menggendong si Lutung, Lutung tersebut menerkam prabu Pulebahas sehingga terjadi perkelahian yang sengit. Akhirnya prabu Pulebahas tewas.

Adipati Kandhadhaha gusar karena Si Lutung sudah mengganggu perhelatan di Kadipaten Pasirluhur. Namun pada saat itu sang  Lutung berubah wujud menjadi Pangeran Banyak Catra. Maka kagetlah sang adipati Kandhadhaha karena sang Lutung ternyata putra dari Prabu Silihwangi.

Akhirnya hubungan Dewi Ciptarasa dengan pangeran Banyak Catra direstui oleh Adipati Kandhadhaha hingga keduanya menikah dan hidup berbahagia.

TRAGEDI SABTU PAHING
Tragedi Sabtu Pahing ternyata menjadi awal berdirinya Kabupaten Banyumas, bahkan dalam perjalanan sejarah Banyumas sampai saat ini diyakini oleh sebagian warga Banyumas dan sekitarnya bahwa hari itu menjadi hari naas dan menghindari untuk bepergian jauh, mendirikan bangunan rumah, mbarang gawe (sunatan, mantu dan mbesan) juga keperluan besar lainnya seperti penyelenggaraan Pilkades dan sebagainya.

Tragedi yang sangat memilukan ini menimpa Adipati Warggohutomo I, sepulangnya dari Kasultanan Pajang. Tragedi ini menjadi ceremin  betapa seorang pemimpin harus berhati-hati dalam bertindak dan tidak hanya mendengar laporan sepihak.

Seandainya Sultan Pajang, Sultan Hadiwijaya mau melakukan konfirmasi lebih dulu atas penuturan Demang Banyureka perihal status Rara Sukartiyah, putri Adipati Wirasaba yang  dikatakan sudah bersuami dan tidak “suci” lagi, tentunya tidak akan terjadi peristiwa tragis seperti itu. Penuturan sepihak itulah yang akhirnya membawa petaka bagi Adipati Wirasaba. Sampai saat ini kejadian tersebut dikenal dengan “Tragedi Sabtu Pahing”. Bagi Orang Banyumas, peristiwa tragis tersebut sangat di perhatikan agar jangan sapai menimpa anak cucu dan generasi mendatang. Sebagian masyarakat juga bertindak arif untuk tidak terlalu terpaku dengan hari Sabtu Pahing sebagai hari naas, sejalan dengan penghayatan agama dan  pandangan bahwa “semua hari itu baik”. Inilah kisah tragis yang menimpa Adipati Wirasaba sepulang dari Kesultanan Pajang.

Adipati Wargautama beserta para pengiringnya dalam perjalanan pulang dari Kasultanan Pajang menempuh jalan pintas yang tidak bisa dilewati umum. Itulah makanya sulit sebenarnya para Tumenggung melacak perjalanannya. Lagi pula pada kesempatan yang baik ini, sang Adipati memerlukan singgah ke beberapa Demang  dan Lurah dari Kadipaten yang dilewatinya.
Disini Adipati banyak memperoleh pengalaman baru tentang  pemerintahan pedesaan yang adapat diterapkan di Kabupatennya. Para Demang dan Lurah yang disinggahinya merasa sangat senang dan bangga. Banyak diantaranya yang menyampaikan tanda penghormatan berupa cindeta mata hasil kerajinan setempat.

Sementara itu, perjalanan pulang KI Adipati telah menginjak hari ke tujuh, hari Sabtu Pahing, sampai di desa Bener Distrik Ambal Kabupaten Kebumen. Menjelang shalat dhuhur Ki Adipati beserta para Pengiringnya singgah dan beristirahat di rumah salah seorang sahabatnya yang rumahnya terdiri atas rumah induk dan balai yang tidak se arah dengan rumah induk yang biasa disebut dengan “Balai Malang” (Balebapang).

Kedatangan Ki Adipati diterima seisi rumah dengan sangat senang hati. Jamuan makan siang segera dihidangkan, salah satu lauknya yaitu “Pindang Banyak” (Daging angsa yang dimasak dengan buah pucung atau kluwak). Selagi Ki Adipati beserta para pengiringnya menikmati jamuan makan siang, tiba-tiba datanglah Tumengung utusan Kanjeng Sultan (Tumenggung pertama) yang mengemban tugas untuk membunuh Ki Adipati.

Melihat Ki Adipati sedang menikmati hidangan, Tumenggung pertama tidak sampai hati untuk membunuhnya. Kuda Dawukbang (merah campur putih) kesayangan Ki Adipati yang ditambatkan dibawah pohon sawo di sisi rumah merontaronta, seolah-olah mengetahui ada firasat buruk yang akan menimpa Ki Adipati.

Firasat buru juga telah dirasakan juga oleh Ki Adipati, karena ada hal-hal aneh yang menyelimuti sekelilingnya, lebih-lebih ada seorang Tumenggung yang menuju tempat ia beristirahat. Tumenggung pertama sabar menungu sampai Ki Adipati selesai makan. Sementara itu dari kejauhan tampak olehnya seorang kawan Tumengung (Tumenggung kedua) memacu kudanya dengan cepat menuju ke arahnya sambil melambai-lambaikan tangannya seraya berseru :”Jangan bunuh……”

Maka demi tugas Kanjeng Sultan, Ki Adipati Wargoutomo I yang sedang menikmati hidangan pindang banyak itu ditikam dengan keris Pusaka Kerato Pajang. Semuan yang ada di pendopo itu geger dan gugup. Ki Adipati yang naas itu terjatuh dengan darah segar mengalir dari dadanya. Para pengiring dan pengawal tidak bisa berbuat banyak. Jeritan dan isak tangis menggema di Balemalang itu. Mereka sadar bahwa Tumenggung pembunuh itu membawa amanat Kanjeng Sultan. Melawan Tumenggung berarti melawan Sang Prabu junjungannya.

Sementara Ki Adipati Menahan sakit, para pengiring dan se isi rumah berusaha menyelamatkannya, tibalah Tumenggung kedua. Menyaksikan peristiwa berdarah yang memilukan itu hampir saja Tumenggung kedua jatuh pingsan. Ia sangat berdosa karena gagal melaksanakan tugas, walaupun ia tidak bersalah. Bukankah Tumengung kedua telah memberi isyarat dan berteriak supaya Ki Adipati Wargohutomo I dibunuh ? Mengapa ia tidak memperhatikan isyarat itu ? Atau mengapa ia menyalah artikan isyarat itu ?

Kedua Tumenggung saling berpelukan menangis, terharu dana sedih. Kepada para pengiring dan segenap keluarga tuan rumah Kedua Tumenggung iru menjelaskan duduk persoalan peristiwa yang menyedihkan itu. Ki Adipati sebenarnya tidak bersalah.Pembunuhan itu menjadi tanggung jawab Kanjeng sultan Hadiwijaya sendiri.  

Sebelum menghembuskan nafas terakhir, dengan serak dan tersendat-sendat sempat meninggalkan pesan terakhir kepada  keluarga (keturunan) yang ditinggalkan. “Aku…aku…tidak tahu apa dosaku kepada Kanjeng Sultan….anak cucuku jangan sampai mengalami naas seperti aku…ingat-ingat..,jangan sampai ada diantara anak cucuku yang bepergian pada hari Sabtu Pahing, apalagi naik kuda Dawuk Bang. Juga jangan makan pindang banyak (angsa) serta jangan membangun atau bertempat tinggal di rumah “Bale Malang.

Sama sekarang, pesan ini oleh orang-orag yang bersasal dari Banyumas sekalipun bukan trah Ki Adipati Wargohutomo I, terutama oleh angkatan tua, pesan ini masih sangat dipatuhi. Kalau tidak merasa terpaksa sekali, mereka tidak akan bepergian pada hari Sabtu Pahing.

Menjelang dini hari tibalah rombongan usungan jenazah di suatu pegunungan yang sebagian besar masih berupa hutan. Mereka beristirahat sambil menyalakan api unggun sekedar untuk mengurangi rasa dingin dan untuk menerangi lingkungan sekitarnya. Menjelang subuh mereka bersiap-siap melanjutkan perjalanan yang penuh duka itu. Sebagai kenang-kenangan , tempat dimana mereka beristirahat ini diberi nama “Lawang Awu”(perbatasan antara Kabupaten Banjarnegara dengan Kebumen).

Lepas Dhuhur rombongan sudah sampai di Wirasaba yang disambut dengan isak tangis para putra, para sentana, dan para kerabat dekat almarhum. Rakyat Wirasaba menyambut dengn duka nestapa. Untuk beberapa jam jenazah disemayamkan di Pendopo Agung Kabupaten untuk memberi kesempatan para kerabat dan rakyatnya menyampaikan menyampaikan ucapan bela sungkawa kepada keluarga dan penghormatan terakhir kepada almarhum.

Berdasarkan keputusan musyawarah keluarga serta para pejabat Kabupaten, almarhumah dimakamkan di Dukuh Pekiringan, Desa Klampok Kabupaten Banjarnegara, disebelah selatan sungai Serayu. Di tembok (sebelah timur)  makam Ki Adipati, tertulis riwayat singkat wafatnya Ki Adipati dalam bahasa jawa sebagai berikut :”Ki Adipati Wargohutomo I Ing Wirasabane kaleres dinten Setu Pahing dipun sedani utusanipun Sultan Pajang (1548 – 1586), pinuju lenggah wonten Bale Malang ing Dsun Bener, Distrik Ambal (Kebumen) jalaran kadakwa kalepatan. Pandakwa wau saking seling serap.Ki Adpati kagantos putra mantu Joko Kaiman ngagem asma Wargohutomo II ketelah Ki Adipati Mrapat (Sumareh ng Dawuhan)”.

Maknanya dalam bahasa Indonesia :”KI Aipati Wargohutomo I, pada hari Sabtu Pahing dibunuh oleh utusan Stan Pajang (Sulatan Hadiwijaya) yang memerintah antara tahun 1548 -1586, ketika seang berada di Balemalang di desa Bener Kawedanan Ambal Kabupaten Kebumen, karena dituduh telah berbuat salah. Tuduhan itu karena salah paham. Ki Adupati diganti oleh putr menantunya Djoko Kaiman yang juga bernama Wargohutomo II, yang terkenal dengan sebutan Ki Adipati Mrapat (dimakamkan di Dawuhan).

Makam Ki Wargohutomo I kini telah dipugar oleh Pemda Kabupaten Banjarnegara dan para pencintanya, disekitarnya telah dajadikan pekuburan umum yang dikeramatkan banyak orang. Pada setiap malam Selasa dan Jumat Kliwon banyak pengunjung yang bersemedi (nyepi) di dalam makam dengan berbagai ragam permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Makam Ki Adipati Wargohutomo I di tatah Wirsaba, tetapi secara administratif Klampok, Kabupaten Banjarnegara, tapatnya di desa Pekiringan. Makam yang dikeramatkan ini juga banyak dikunjungi oleh pezairah yang ingin mendapakan berkan dan tujuan lain pada hari tertentu. Keramaian makam ini dapat dilihat dari mengunungnya kemenyan yang tekah dibakar.

Itulah cerita yang menjadi awal berdirinya Kabupaten Banyumas, semoga dapat bermanfat bagi para pembacanya, serta dijadikan pelajaran/hikmah dari peristiwa tersebut.

PENDAPA SI PANJI KAB. BANYUMAS
Masyarakat Banyumas sangat mengenal Si Panji, Pendapa Kabupaten yang sampai saat ini masih kokoh berdiri megah di kota Purwokerto dan menjadi ‘’ Pujer” (pusat) Pemerintahan Kabupaten Banyumas. Hingga ini Pendapa Si Panji masih dikeramatkan, khususnya pada salah satu tiang sebelah barat yaitu soko guru (tengah) selalu diberi sesaji agar semua kegiatan yang belangung di pendapa dapat berjalan lancer tanpa ada gangguan.

Kisah-kisah misteri sering terdengar dari pendapa yang diboyong dari kota Banyumas ke Purwokrto dengan memutar ke Pantura, tidak melewati (nglangkahi) Sungai Serayu.
Kabupataen Banyumas didirikan pada tahun 1852 ole Kyai Adipati Wargautama II yang juga disebut sebagai Bupati Banyumas I dan dikenal sebagai Kyai Adipati Mrapat. Dalam perjalanan sejarah, Adipati Yudongoro (Bupati Banyumas VII / 1708 – 1743) memindahkan pusat Kabupaten Banyumas  agak ke sebelah timur dengan sekaligus membangun rumah Kabupaten berikut pendapa yang dikenal dengan Pendapa Si Panji.

Dalam sejarahnya, pendapa yang legendaries ini sering memunculkan keanehan dan cerita mistis, misalnya pada tanggal 21-23 Februari 1861, kota Banyumas dilanda banjir banding (Blabur Banyumas)karena meluapnya Sungai Serayu. Puluhan pengunsi berusaha menyelamatkan diri dengan naik ke atas (atap) Pendapa Si Panji. Setelah air bah surut, ternyata pendapa ini tidak mengalami kerusakan atau perubahan sedikitpun pada keempat tiangnya (saka guru). Posisi pendapa juga tidak bergeser sedikitpun padahal bangunan disekitarnya roboh karena diterjang banjir setinggi lebih dari 3,5 meter.

Misteri lain, ketika pendapa itu akan dibangun, semua sesepuh dan atokoh masyarakay Banyumas supaya menyumbangkan calon saka guru pendapa maupun bahan bangnan yang lain. Semua tokoh masyarakat telah memenuhi permintaan sang Adipati, kecuali Ki Ageng Somawangi, sehinga ia dipangil untuk menghadap Adipati Yudonegoro II untuk diminai keterangannya. Ki Ageng Somawangi menghadap memenuhi pangilan sang Adipati. Untuk menebus kesalahannya, pada saat itu pula ia langsung menyerahkan saka guru pendapa yang ia ciptakan dari “tatal” dan pontongan-potongan nkayunyang berserakan disekitar komplek pembangunan itu. Hal itu tidak disambut baik oleh sang Adipati, bahkan diangap suatu perbuatan yang “pamer kadigdayan”. Akibatnya ia malah dituduh akan “menjongkeng kawibawan” (mengambl alih kekuasaan) Sang Adipati.

Atas tuduhan yang kurang adil itu, Ki Ageng Somawangi marah, segera meningalkan Kadipaten tanpa pamit. Sang Adipati sangat tersingung dan menyuruh prajuritnya untuk menangkap Ki Ageng Somawangi yang dianggap “ngungkak krama” (membangkang) itu. Namun karena kesaktiannya, ia dapat lolos dari upaya penangkapan. Konon tongkat saktinya ditancapkan di suatu tempat dan berubah wujud menyerupai Ki Ageng Somawangi. Sontak para prajurit menganiaya Ki Ageng Tiruan. Ki Ageng Somawangi melanjutakan pelarian menyimpang dari jalan raya, menerobos melalui jalan setapak menuju padepokannya yang sekarang dikenal dengan Desa Somawangi Kecamatan Mandiraja Kabpaten Banjarnegara. Desa dimana Ki geng Somawangi menerobos untuk menghindari kejaran Prajurit Banyumas, kenudian diberi nama “Panerusan”. Dengan ddemikian diketahui bahwa ada saaat awal pembangunan Pendopo Si Panji sempat menimbulkan ontranonran tokoh Banyumas itu.

SAKA  GURU  KERAMAT
Cerita lain dari cuplikan “Babad Banyumas” menyebutkan bawha salah satu tiang utama (saka guru) pendapa Si Panji yan dikeramatkan, berasal dari hutan belantara di hulu Sungai Serayu. Dari cerita yang berkembang, kayu yang telah digunakan sebagai ting itu ingin kebalilagi ke hutan yang sangat angker itu. Sampai saat ini saka guru yang masih kokoh itu katanya ada penunggunya berupa sosok ular dan seorang kakek berjenggot panjang.

Setelah ada pengabunyan Kabupaten Banyumas dengan Kabupaten Purwokerto tahun 1936 atau prakarsa Adipati Arya Sudjiman Gandasubrata (Bupai Banyumas XX), pada Bulan Janauari 1937 pendpa Si Panji dipndahkan dari Banumas ke Purwokerto. Berdasarkan uara gaib dan petunjuk dari para sesepuh Banyumas dan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, maka pemindahan pendapa I Panji yang keramat itu tidak melewati Sungai Serayu, tetapi melewati pantai utara Jawa (Pantura), Semarang ke barat, Bumiayu, Ajibarang, kemudian sampai ke Purwokerto.

Ada beberapa argumentasi mengapa pendopo Si Panji dipindah ke Purwokerto. Ada sasmita bahwa kelak kota Purwokerto akan maju pesat dan menjadi kota perdagangan dan pusat pemerintahan. Pemindahan pendopo sbagai symbol pengakuan betapa kota Banyumas sulit bekembang, karena dak ada jalur kereta api, lahan kota sempit, dan akses ke lar tidak berkembang. Maka saat itu pun kota Banumas sepi dan sulit berkembang.Hal ini membuktikan apa yang diprograkan oleh Bupati Sdjiman Gandasubrata itu benar.

Untuk mengenang kebesaran pendapa Si Panji, Pemda Kabpaten Banyumas telah membangun “dulpilkat” pendpa di bekas bersdirinya Pendapa Si Panji. Namun tidak sesuai dengn aslinya bahkan terkesan lebih mewah dari pendapa Si Panji yang ada di Purwokerto.

Dari rangkaian sejarah, ternyata sejak pebangunannya sudah ada aura mistis dan pertentangan tokoh, pernah menjadi pengungsian puluhan penduduk yang naik ke atas pendapa dan tidak ada kerusakan saat banjir banding. Perjalanan sejarah selanjutnya pendapa yang keramat ini tidak mau melewati Sungai Serayu dan di arak lewat Semarang (Pantura) smapai ke kota Purwokerto. Suatu hal aneh yang samapai saat ini belum terkuak adalah alas an mengapa pemindahanyya tidak boleh melewati Sungai Serayu, tetapi harus melewati ratusan kilometer memutar Jawa Tengah.    

BANJIR BANDANG MELANDA KOTA BANYUMAS
Masyarakat Banyumas yang kebetulan lewat dan singah di komplek Pondok Pesantren GUPPI Bayumas akan terkesima jika melihat “Prasasti” bani banding yang melanda Banyumas pata tanggal 21 – 23 Februari 1861. Prasasti yang ditempelkan di tembok bagian selatan gedung yang persis di pintu masuk kompleks mengunakan bahasa Belanda. Letaknya persis mengambarkan ketinggian air bah yang sampai ke langit-langit gedung tinginya sekitar 3,5 meter. Saat itu gedung masih dipakai untuk kantor Karesidenan Banyumas. Pasasti yang terbuat dari marmer tersebut menjadi saksi sejarah satu-satunya yang menerankan bahwa kota Banyumas pernah dlanda banjir besar. Bahkan para sesepuh kala itu sudah mendapat firasat yang digambarkan dengan sasmita, terkenal dengan nama sasmita “Bethik mangan manggar”.

Semula semua orang tidak dapat menafsirkan apa makna dibalik kata-kata itu. Sesudah bencana banjirterjadi, barulah orang mengetahui makna yang tersirat dalam ucapan simbolik itu. “Bethik” adalah nama jenis ikan air tawar yang banyak hidup si sungai Serayu, sedangkan “Manggar” adalah adalah bunga pohon kelapa.

Pohon kelapa yang sudah berumur  kurang lebih 7 tahun kira-kira tinginya sudah mencapai 3-4 meter, biasanya sudah bermanggar. Jadi “Bethik mangan manggar” (Ikan bethik makan manggar) memberi lambang bahwa ikan yang hidup di air sungai dapat mencpai manggar yang berarti puncak pohon kelapa. Itu menyiratkan bahwa akan terjadi banjir yang cukup besar.

Pasca terjadi banjir besar, Kanjeng Raden Adipati Cakranegara I berhasil mengatasi kesulitan rakyat akibat bencana banjir, sehingga mendapat anugerah berupa Bintang “Ridder Ode Eikken Kroon” dari pemerintah Belanda. Sjak saat itu beliau juga mendapat julukan Kanjeng Ridder.

Banjir atau blabur Banyumas yang menjadi rangkaian sejarah Banyumas tidak akan terulang lagi, jika masyarakatnya sadar akan pentingnya penghijauan dan pelestarian alam. Jika kita lihat konisi saat ini, sepertinya banji besar tiak akan terlang lagi karena factor perubahan alam. Sungai Serayu tidak garang lagi, ada bangunan bendungan dan irigasi yang bisa mengatur alian air.

Kejayaan kota Banyumas dapat dihidupkan kembali dengan mendirikan sekolah/perguruan tinggi, pusat perbelanjaan, taman budaya, serta perbaikan inra struktur. Program pembangunan tidak hanya dipusatkan di kota Purwokerto saja, tetapi kota Banyumas “disleberi” dana yang cukup dan para infestor mau menanamkan modalnya di kota yang bersejarah tersebut.   

KISAH  CURUG  CIPENDOK
Konon dahulu akala di lereng gunung Slamet yang indah terdapat sebuah pousat pemearintahan setingkat Kawedanan. Rakyatnya ahidup aman dan tenteram, disamping mempunyai jiwa gotong-royong yang tinggi sebagai ciri khas masyarakat Banyumas. Sang penguasa pusat pemerintahan tersebut bernama Dipakesuma. Karena kearifan dan kebijakan sang Wedana, dia disegani oleh para wedana tetangga dan masyarakat di daerah Ajibarang.

Suatu hari sang Wedana memanggil Hulubalang dan orang-orang kepercayaan nyanuntuk membicarakann keinginannya untuk menjadi Bupati Purbalingga atau sekitarnya. Setelah menyerahkan mandat penuh pemerintahan kepada wakilnya untauki semeantara, pergilah sang Wedana untuk bertapa agarb maksudny terkabul.

Pada suatu hari sang Wedana ditremui oleh makhluk halus sebagai pertanda dalam bertapa akan membuahkan hasil untuk mencapai cita-citanya. Banyak versi yang mentnyebutkan bahwa makhluk  halus itu berwujud peri menyerupai putri cantik sebagai perlambang dipenuhinya keinginan sang Wedana.

Dari pertemuan tersebut ada beberapa kejadian aneh yang menyelimuti sang Wedana, antara lain sering berbicara sendiri yang kemungkinan tengah terjadi komunikasi antara dirinya dengan Sang Peri. Bahkan para pengikut sang Wedana terheran-heran mengapa Sang Wedana kelihatan aneh.

Laku tapa sang wedana terus berlanjut . Setelah menempuh perjalanan ke utara ke arah di lereng gunung Slamet, tibalah dia di daerah Pekowen dekat curug. Sang Wedana bertapa di kawasan yang sepi dan penuh misteri itu. Karena kemantapan dan ketekunannya dlam bertapa, dia amendapat petunjuk dari dewata agar pindah lagi bertapa ke daerah Sudem.

Pada suatu hari Sang Wedana memangil Hulubalang  dan orang-orang kepercayaannya untuk menjadi penguasa yang lebih tinggi, sekaligus memohon doa restu kepada yang di undang.

Suatu hari Sang Wedana mendapat wangsit, kalo cita-citanya ingin terkabul ia harus menikahi Putri Peri cantik penguasa Cipendok. Tetapi antara Dipakesuma dan Putri Peri ini tidak bisa terjadi perkawinan, karena alam kedua insan ini berbeda. Maka satu-satunya jalan yang ditempuh, putri peri itu masuk/Mnjing ke raga Padange (tukang masak nasi). Sang Wedana menikah dengan Padange yang sudah dimasuki arweah Putri Peri dari Gunung Slamet.

Setelah menikah, Sang Wedana dapat menaiki tahta sebagai Bupati. Kisaqh cinta sang Wedana dengan Putri Peri dari Cipendok ini memang menarik, tetapi mungkin hanya dongeng  yang berkembang layaknya kisah-kisah misteri lainnya yang banyak terdapat di kawasan Gunung Slamet.

Legenda tersebut ternyata banyak versinya, tanpa menyinggung perasaan para leluhur dan trah sang Wedana. Itulah kenyataan cerita yang berkembang bahwa Sang Wedana menjalin asmara dengan Putri Peri yang rupawan. Apakah ini merupakan “sanepo”, kita belum mengetahui scara pasti, karena legenda ini berkembang dari mulut ke mulut dan turun temurun dari generasi ke generasi. 

Sampai saat ini belum diketahui secara pasti apa arti nama Cipendok, tetapi yang jelas disekitar kawasan ini banyak nama yang didahului kata “Ci” seperti Cilongok, Cihonje, Cidora, Cikaka, Cikembulan dan lain-lain. Kawasan Ciupendok kini makin dikenal dan menjadi salah satu obyek wisata Kabupaten Banyumas.

KESENIAN TRADISIONAL BEGALAN
Begalan atau rampok yang terdengar menyeramkan,  dalam kebudayaan tradisional Banyumasan hanyalah merupakan nama kesenian  yang bukan hanya menyajikan  hiburan semata, tetapi sudah menjadi “sesaji” ritual bagi masyarakat banuumas yang mempercayainya. Kesenian ini tumbuh di wilayah eks Karesidenan Banyumas (Banyumas, Purbalingga, Banjarnrgara, dan Cilacap). Masyarakat Banyumas yang kini nbermukim di Jakarta, Semarang, Surabaya, dan kota0kota besar lainnya masih mempercayai begalan sebagai pelengkap upacara pernikahan.

Begalan umumnya dilaksanakan oleh pihak orang tua Pengantin putri  yang baru pertama kali melaksanakan “mbarang gawe” (hajatan). Maka tidak heran jika group-grpu kesenian Begalan lebih sering pentas diluar Banyumas dari pada di wilayah Banyumas sendiri. Seni begalan sudah ada sejak ratusan tahun silam. Sejarah seni begalan yang berakar dari budaya Banyumasan telah mengalami pasang surut, bahkan generasi muda sekarang sudah banyak yang tidak mengerti atau buta sama sekali dwengan kesenian begalan.

Ada beberapa versi seni begalan namun yang banyak ditulis dalam sejarah dan riwayat Banyumas menyatakan bahwa saeni begalan ada sejak jaman Adipati Wirasaba yang ketika itu mengawinkan anak (putri) yang bernama Dewi Sukesi dengan putri sulung dari dari adipati Banyumas yang berbama Pangeran Tirtakencana, ada yang menyebut terjadi pada abad ke 19.

Dari perkembangan dan pasang surutnya seni begalan, diketahui bahwa begalan adalah suatu jenis kesenian yang merupakan rangkaian upacara perkawinan di daerah Banyumas dan sekitarnya. Biasanya dilakukan apabila pasangan pengantin terdiri dari anak bungsu dan anak sulung, terutama kalau yang bungsu atau sulung dari piohak perempuan. Menurut kepercayaan masyarakat banyumas, seni begalan merupakan syarat “krenah” yangh harus dilakukan apabila menjodohkan anaknya, merupkan syarat yang penting.

Sebagian masyarakat Banyumas juga ada yang berpendirian, tidak setiap mengawinkan anaknya harus menggelar seni begalan. Ada keyakinan begalan juga mirip ruwatan. Seni begalan bukan semata-mata merupakan suatu hiburan atau pertunjukan belaka sebab dalam aksi dan dialognya berisi ajaran atau tuntunan dan ular-ular yang ditujukan kepada mempelai berdua. Sarana begalan seperti ilir, ukusan, kendil, padi, serta berbagai peralatan dapur lainnya mengandung makna tertentu. Biasanya para pelaku begalan menjelaskan makna peralayan begalan satu-persatu, yang semuanya mengandung permohonan/doa kepada sang maha kuasa agar mempelai berdua dapat mengarungi bahtera rumah tangga dengan sakinah warohmah dan mawahdah yang dalam bahasa begalan disebut keluarga langgeng “Kaya Mimi lan Mintuna, nganti Kaken-kaken Ninen-ninen”.

Pada mulanya pelaku seni begalan tidak dibayar, bahkan lebih cenderung menolong, semata-mata merupakan tradisi ruwatan agar upacara pernikahan dapat berjalan lancar. Keturunan warga Banyumas yang ada diluar daerah bahkan harus bersusah payah mencari group begalan  yang berlualitas.. Dari kbiasaan ditanggap inilah yang kemudian seni begalan masuk ke rahan entertainment dan memasang tarif yang cukup besar dalam setiap pementasan.

Begalan bewrasala dari kata begal dan akhiran an, artinya perampasan atau tindak perampokan di tengah jalan. Maka kesenian begalan adalah suatu atraksi yang menggambarkan seseorang yang sedang membawa barang bawaan kebutuhan hidup, kemudian dirampok di tengah jalan. Dengan diiringi genhing-gendhing khas Banyumasan mereaka melakukan diaek serta pesan moral yang diselingi banyolan, sindiran, sekaligus petuah kepada para penontonnya. Gendhing yang dipilih biasanya bernada dinamis dana suasana riang untuk menghidupkan suasana.

Ketika suara genghing berhenti, mulailah para pembegal memperkenalkan diri dan terjadi dialog. Seperti layaknya tukang begal, maka ada adegan pertengkaran dan adu mulut, sambil menjelaskan arti dan makna barang bawaan yang semuanya dikemas dalam “brenong kepang”(semacam pikulan). Masyarakat yang mernonton biasanya mengharapkan momentum berebut benda yang ada di brenong kepang. Mereka percaya jika dapat merebut/mendapatkan benda-benda-begalan akan mendapat berkah.

Dalam perkembangannya seni begalan dianggap bertentangan dengan agama (Islam), karena jika tujuannya hanya untuk mengusir roh jahat makalebih afdol jika cukup dengan membaca doa bersama agar mempelai berdua dapat selamat dan bahagia.

Perkembangan lebih lanjut, begalansemakin surut peminatnya seiring dengan perubahan jaman. Untuk melestarikan seni tradisional ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata belum lama ini telahg menyelenggarakan seminar tentang begalan. Dinbudpar juga terus menggali, melestarikan, mengembangkan dan memberdayakan potensi pariwisata dan kebudayaan dalam rangka mewujudkan Banyumas sebagai kawasan cagar budaya, agar generasi muda dapat lebih tertarik memahami seni begalan, tidak hanya sebatas “krenah” dalam upacara pernikahan. 

KISAH BATURRADEN
Baturraden sudah dikenal sebagi tempat pariwiata dan tempat peristirahatan sejah tahun 1928. Pada waktu iatu banyak pejabat dn staf Pabrik Gula dari Puworejo, Kalibagor, Sumpiuh Purbalingga dan Klampok membangun rumah peristirahatan di kawasan Baturraden. Berdirinya komlek perumahan pribadi para Tuan Besar tersebu mendorong perkembangan Baturraden sebagai daerah wisata sekaligus tempat peristirahatan yang nyaman.

Satu peningalan yang masih utuh sampai sekarang adalah kompleks Induk Taman Ternak Baturraden (Sekarang dikenal BPTHMT) yang didirikan oleh warga Belanda, Tuan J.C Balgoy. Perkembangan sanjutnyalokasi tersebut kini bernama Balai Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak, terutama ternak sapi unggul milik Dirjen Peternakan, Departemen Pertanian.

Baturrraden sejak semula memang memiliki daya tarik. Walaupun pada masa revolusi baturaden telah di bumi hanguskan, tetapi kenangan sebagai tempat rekreasi tetap melekat di benak masyarakat Banyumas. Pada aat liburan sekolah, banyak anak-anak atang ke abaturaden untuk melihat Taman Ternak Baturraden yang sekitar tahun 1950 koleksinya masih lengkap dengan ternak sapi, domba gibas, ayam ras, babi dan sapi perah.

Karena daya tarik Baturraden yang menawan dan cocok untuk rekreasi, maka pada pahun 1952 timbul pemikiran dari Pemda Kabupaten Banyumas untuk menhidupkan Baturraden sebagai tempat brekreasi dan tempat peristirahatan. Perkembangan selanjutnya baru terwujud pada tahun 1967, diprakaarsai oleh Bupati Banyumas pada saat itu, Almarhum Soekarno Agung.

Pemda Kabupaten Banyumas pada saat itu mengumpulkan okoh-tokoh masyarakat dari berbagai bidang dan keahlian untuk ber rembug usaha menghidupkan daerah wisata Baturraden.
           
1. Gunung Slamet
Obyek wisata Baturraden yang merupakan tempat wisata pegunungan juga dikelilingi oleh hutan tropis yang masih asli dan terpelihara dengan baik. Lokasinga di lereng Gunung Slamet sebelah selatan. Gunung slamet tainginya kurang lebih 3.428 M membuat suhu Baaturraden sejuk yaitu antara 18 – 25 drajat celcius dengan curah hujan antara 5.000 mm – 8.000 mm.

Fasilitas yang tersedia saat ini meliputi tempat penginapan (hotel, villa, moel dan losmen), lapangan tennis, kolam renang, permainan anak, restaurant, rumah makan, tempat parkir, pemandian air hangat yang berkhasiat menyembuhkan penyakit kulit.

Fasilitas pendukung lainnya adalah kios cindera mata/souvenir, penjalan tanaman hias, angkutan wisata, biro perjalanan, tepepon umum/wartel, warnet, dan jalur hiking mengelilingi hutan wisata. Sebelah timur lokawisata tersedia tempat erkemahan Wana Wisata, yang dikelola oleh pihal Perhutani Banyumas.

Gunung Slamet merupakan gunung berapi yang masih aktif yang pada bulan April (2009) kemarin sempat ber akrtivitas dengan status Siaga namun belum membahayakan. Letaknya persis di tengah-tengah Pulai Jawa, oleh masuarakat Jawa Tengah diberi julukan “Pakunya” Pulau Jawa. Gunung Slamet  konon menyimpan banyak misteri, hutannya masih perawan dan kaya akan erbagai jenis flora dan fauna, serta merupakan sumber kehidupan dimana amengalirkan air untuk irigasi sawah di banyumas dan sekitarnya.-, sehingga dijadikan salah satu lambang Daerah Kabupaten Banyumas. Jika dikaitkan dengan tembang kroncong :Ditepinya sungai Serayu”, maka gunung Samet berkaitan erat dengan kemakmuran masyarakat Banyumas.

Para pencinta alam dan pendaki gunung tidak akan melewatkan untuk mendaki gunung Slamet sampai pada puncaknya. Karena dari puncak gunung inilah dapaat disaksikan hamaparan wilayah Banyumas sertra laut selatan/Samudra Indonesia.
           
2.  Asal usul Baturraden
Ada beberapa versi asal mula Baturraden. Namun akan di ambil kisah yang berkaitan dengan legenda Kadipaten Kutaliman, yang dulu terletak kurang lebih 5 Km sebelah Barat Daya Baturraden.

Dikisahkan jaman dulu kala Adipati Kutaliman mempunyai empat orang putri. Salah seorang putrinya ternyata jatuh cinta kepada seorang Gamel (pembantu)  yang bertugas mengurusi kudanya Sang Adipati. Mendengar berita cinta gelap yang tidak setara tersebut, murkalah Sang Adipati sehingga keduanya diusir dari Kadipaten tersebut. Mereka ahirnya mengembara.

Dalam pengmbaraan, Sang Putri melahirkan seorang bayi putra di tepi sebuah sungai, yang dikemudian sungai tersebut dinamakan “Kaliputra”, terletak 3 Km sebelah utara Desa Kutaliman. Dalam pengembnaraan selanjutnya mereka menemukan suatu tempat yang indah mempesona dan udaranya sejuk di lereng Gunung Slamet. Mereka menetap di kawasan tersebut dan mendiriklan sebuah padepokan yang diberi nama Batur Raden, dari perpaduan antara Batur (abdi yaitu Gamel) dan Raden (Sang Putri yang berdarah Bangsawan putrinya Adipati). Kemudian banyak yang menyebut “Baturaden” ataupun “baturraden” dengan dua huruf “r”.

Ada versi lain yang menarik sekitar nama baturraden yaitu kisah perjalanan Syeh Maulana Maghribi di kota Gresik (Jawa Timur). Pada suatu ketika Syeh maulana Maghribi melihat cahaya terang disebelah barat. Kemudian  beliau mengembara untuk mencari cahaya yersebut sambil menyebar agama Islam, ditemani sahabat karibnya yang bernama Haji Datuk. Dalam pengembaraannya, Syeh Maulana Maghribi berganti nama menjadi Mbah Atas Angin.

Yang memancarkan cahaya tadi ternyata seorang pertapa yang kemudian memeluk agama Islam dan menjadi pengikut Syeh Maulana Maghribi, dan diberi nama Syeh Djambukarang. Nama tersebut di ambil karena dalam bertapa ia bersandaran pohon jambu dan dikelilingi batu-batu karang. Dalam perjalanan waktu, Mbah Atas Angin kemudian menjadi menantu Syeh Jambukarang.

Pada suatu waktu konon Syeh Maulana Maghribi menderita penyakit gatal-gatal atau buduk yang tidak kunjung sembuh. Atas petunjuk wisik ia akan sembuh jika berendam di air panas yang mengalir dari Pancuran Pitu di Gunung Gora. Belakangan diketahui bahwa air panas tersebut bisa menyembuhkan karena mengandung belerang, zat penyembuh penyakit gatal.

Karena merasa bersyukur sembuh dari penyekit gatal itulah maka Gunung Gora alalu diganti nama menjadi Gunung Slamet. Samapaia sekarang pancuran pitu banyak dikunjungi orang untuk kepentingan berobat dari penyakit gatal.

Selama Syeh Maulana Maghribi melaksanakan pengobatan di pancuran pitu, Sahabat setianya, Haji Datuk dengan setia menunggu. Tempat itu lalu diberi nama “Rusuludi” yang berarti batur yang Adi, kemudian banyak yang menyebut Baturaden. Sampai sekarang tempat tersebut masih dikeramatkan dan banyak di zirahi orang khususnya pada malan Selasa dan Jumat Kliwon. Yang lebih unik lagi, banyak pasangan pengantin dari daerah utara (Bumiayu, Tegal dan sekitarnya), denganm masih mengenakan busana pengantin lengkap mengadakan kirab pesiar ke Baturraden.

Nama Baturraden lebih mencuat pada tahunn 1990, karena dijadikan ajang penyelenggaraan Pekan Pariwisata Jawa Tengah (PPJT) III/Tahun 1990. PPJT merupakan ajang untuk mepromosikan kepsariwisataan daerah Jawa Tengah dalam rangka menggali potensi emas merahguna mendukung pembangunan nasional umumnya dan pembangunan daerah Jawa Tengah Khususnya.

Bagi Kabupaten Banyumas, PPJT merupakan momen yang sangat baik dalam rangka memperkenalkan obyek wisata Banyumas, khususnya Baturraden agar lebih dikenal lagi. PPJT juga dijadikan titik awal pembangunan kawasan Baturraden dalam rangka menuju kawasan wisata yang menyenangkan dan berwawasan  lingkungan dengan tetap mempertahankan sebagai obyek wisata alam yang sangat menarik.   

MASKOT BAWOR
CERMIN WATAK ORANG BANYUMAS

Masyarakat wilayah eks Karesidenan Banyumas sangat mengenal sosok punakaaawan yang bernama Bawor, anak Ki Lurah Semar dalam cerita pewayangan. Diluar Banyumas sosok ini bernama Bagong.

Watak sosok Bawor dikenal cablaka (terus terang), jujur, lugu, saru, tapi sangat setia pada majikannya, sehingga sebagian besar Wong Banyumas senang dan cocok jika Bawor menjadi “Maskot” sekaligus mencerminkan simbol “Wong cilik” mesipun mempunyai sifat jelek yaitu “Clamit”(suka minta-minta) tetapi terus terang dan tidak munafik, kalau ya mengatakan ya dan kalau tidak mengatakan tidak.

Maskot (semacam azimat) tidak prlu dituangkan dalam Perda ATAU Surat Keputusan Bupati, karena ia lahir dari kemauan masyarakat Banyumas. Sosok Bawor juga menjadi logo resmi setiap kali ada event besar di Kabupaten Banyumas seperti pada kejuaraan KRAP (Kejuaraan Renang Antar Perkumpulan) tingkat Nasional pada tahun 1990, Klegiatan Seminar Tingkat Nasional sampai hiasan lampu besar di Purbalingga, menggunakan maskot Bawor.

Sosialisasi sosok Bawor sebagai maskot Kabupaten Banyumas bermula saat Bapak Joko Sudantoko menjabat Bupati tahun 1988 – 1998. Lewat otak-atik bagian Humas Protokoler Setda Kabupaten Banyumas yang secara iseng menyodorkan logo untuk spanduk dan penerbitan buku Hari Jadi Kabupaten Banyumas serta berbagai selebaran yang memasang gambar bawor.

Ternyata Bapak Joko Sudantoko berkenan dan sering mengkampanyekan sosok bawor yang cablaka cocok dengan watak Wong Banyumas. Sehingga sejak tahun 1989 setiap ada spanduk, penerbitan buku, atau selebaran selalu mencantumkan Bawor (pada saat itu belum di plot sebagai maskot), tetapi kemudian Pemda Banyumas dan masyarakat sering memakai sosok bawor dalam aneka kegiatan/ enent penting. Tetapi tidak ada SK atau Perda yang menetapkan bawor sebagai maskot Weong Banyumas. Jadi sekiranya ada yang keberatan mengapa harus bawor, Bagian Humas Setrda dengan enteng menjawab  itu bukan maskot resmi dan tidak ada dasar hukumnya, hanya spontanitas yang sudak memasyarakat.

Ada warga yang mengusulkan supata tokoh bawor diganti dengan Janoko (Arjuna) atau Bima (Werkudara) agar lebih pas dengan motto Banyumas yaitu SATRIYA. Itipun masih ada yang menyanggah karena sosok Janoko (Arjuna) mempunyai watak “thukmis” (mata keranjang)

Motto SATRIA
Sosok bawor yang sering memakai asesoris kalung dileher yang bertuliskan SATRIA, tidak ada hubungannya dengan filosofis Motto Sejahtera, Adil, Tertib, Rapi, Indah dan Aman. Masyarakat memaklumi itu hanya asesoris “iseng” yang tidak terkontrol pada saat gambar diluncurkan pertama kali. Karena sudah terlanjur memasyarakat, maka kepada pihak yang berwenang atau Bagian Humas Kabuapaten Banyumas untuk merefisi jika masih ada maskot bawor yang memakai kalung bertuliskan SATRIA.

Aspek filosofis SATRIA, merupakan perwujudan sikap mental seseorang yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Menurut kamus umum Bahasa Indonesia (WJS. Purwodarminto) terbitan Balai Pustaka 1961, disebutkan bahwa orang yang mempunyai watak Satria adalah orang yang punya sikap mental baik, jujur dan gagah berani. Sikap metal Satria dapat dijabarkan sebagai berikut :

  1. Baik hati, merupakan perasaan yang paling dalam dari seseorang yang digambarkan sering menyentuh sampai ke relung hati. Sifat baik hati merupakan perwujudan dari ketaqwaan terhadap Tuhan YME. Ia akan selalu berbuat baik walau tanpa ada orang lain   mengetahuinya.
  2. Jujur, setiap orang yang mempunyai budi pekerti luhur tentu akan selalu berbuat jujur. Orang yang berbudi pekerti luhur, disiplin dan bertanggung jawab akan selalu bertindak jujur dengan segala tindakannya.
  3. Gagah berani, hanya dimiliki oleh orang yang senantiasa bekerja keras dan tangguh dalam segala kondisi dan situasi apapun. Disamping itu juga memiliki jiwa kemandirian , cerdas dan trampil serta sehat jasmanim dan rohani.

 Sifat masyarakat Banyumas yang berani mengemukakan segala sesuatu sebagaiamana adanya, sering disebut sebagai CABLAKA yang artinya berani mengemukakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah, yang buruk itu buruk dan yang baik itu baik. Dengan demikian peningkatan kulitas warga Banyumas yang ingin dicapai adalah identik dengan sikap mental SATRIA. Manuisa yang berjiwa SATRIA adalah manausia yang berkulitas dan yang mempunyai semangat SATRIA.

Akhirnya terserah kepada Wong Banyumas dan para pengambil keputusan Pemda Banyumas, apakah sudah pas jika sosok Bawor mengenakan kalung berhuruf SATRIA. Pro kontra maskot Bawor tidak perlu diperpanjang karena sudah jelas bahwa maskot tersebut tidak ada dasar hukumnya.