Showing posts with label Agama. Show all posts
Showing posts with label Agama. Show all posts
09 February 2017

Pengertian Hadits: Struktur, Klasifikasi, dan Jenis Hadits

Pengertian Hadits: Struktur, Klasifikasi, dan Jenis Hadits. Assalamu’alaikum, Wr. Wb.
Pada kesempatan kali ini, kami akan membahas mengenai Pengertian Hadits: Struktur, Klasifikasi, dan Jenis Hadits. Langsung saja kita masuk ke dalam pembahasan kali ini, ya.

Pengertian Hadits

Sumber: hadits-albukhari.blogspot.co.id/
Hadits secara harfiah memiliki arti "bicara", "perkataan" atau "percakapan". Dalam terminologi Islam arti hadits memiliki arti melaporkan, mencatat satu pernyataan serta perilaku dari Nabi Muhammad S.A.W.

Menurut istilah ulama ahli hadits, hadits yakni apa yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad S.A.W, baik berbentuk perkataan, perbuatan, ketetapannya (Arab:taqrîr), pembawaan jasmani atau pembawaan akhlak, perjalanan setelah diangkat sebagai Nabi (Arab:bi'tsah) serta terkadang juga sebelumnya, hingga arti hadits di sini semakna dengan sunnah.

Kata hadits yang mengalami perluasan arti hingga disinonimkan dengan sunnah, pada saat ini dapat memiliki arti semua perkataan (sabda), perbuatan, ketentuan ataupun persetujuan dari Nabi Muhammad S.A.W yang dijadikan ketentuan maupun hukum. Kata hadits tersebut yaitu bukanlah kata infinitif, kata itu yaitu kata benda.

Struktur hadits 

Secara struktur hadits terdiri atas dua komponen paling utama yaitu sanad/isnad (rantai penutur) serta matan (redaksi).

Contoh: Musaddad mengabari kalau Yahya mengemukakan sebagaimana dikabarkan oleh Syu'bah, dari Qatadah dari Anas dari Rasulullah S.A.W kalau dia bersabda: "Tidak sempurna iman seseorang diantara kalian sehingga ia cinta untuk saudaranya apa yang ia cinta untuk dirinya sendiri" (hadits riwayat Bukhari)

Sanad 

Sanad adalah rantai penutur/rawi (periwayat) hadits. Rawi yaitu masing-masing orang yang mengemukakan hadits itu (dalam contoh diatas: Bukhari, Musaddad, Yahya, Syu'bah, Qatadah serta Anas).

Awal sanad adalah orang yang mencatat hadits itu dalam bukunya (kitab hadits); orang ini disebut dengan mudawwin atau mukharrij. Sanad adalah rangkaian seluruh penutur itu dari mulai mudawwin sampai mencapai Rasulullah.

Sanad memberikan deskripsi keaslian sebuah riwayat. Bila di ambil dari contoh sebelumnya sanad hadits bersangkutan adalah:

Al-Bukhari -- Musaddad -- Yahya -- Syu’bah -- Qatadah -- Anas -- Nabi Muhammad S.A.W 

Satu hadits bisa mempunyai beberapa sanad dengan jumlah penutur/rawi yang beragam dalam susunan sanadnya; susunan dalam sanad disebut juga thabaqah.

Signifikansi jumlah sanad serta penutur dalam setiap thabaqah sanad bakal menentukan derajat hadits itu, hal semacam ini dijelaskan lebih jauh pada klasifikasi hadits.

Jadi yang butuh diamati dalam memahami hadits berkaitan dengan sanadnya adalah: 
  1. Keutuhan sanadnya 
  2. Jumlahnya 
  3. Perawi akhirnya 
Sesungguhnya, pemakaian sanad udah di kenal mulai sejak sebelum datangnya Islam. Hal semacam ini diaplikasikan didalam mengutip berbagai buku serta ilmu dan pengetahuan yang lain. Akan tetapi sebagian besar penerapan sanad dipakai dalam mengutip hadits-hadits nabawi.

Rawi 

Rawi yaitu beberapa orang yang mengemukakan sebuah hadits. Sifat-sifat rawi yang ideal yaitu:
  1. Bukanlah pendusta atau tidak dituduh sebagai pendusta 
  2. Tidak banyak salahnya 
  3. Teliti 
  4. Tidak fasik 
  5. Tidak di kenal sebagai orang yang beberapa ragu (peragu) 
  6. Bukanlah pakar bid'ah 
  7. Kuat ingatannya (hafalannya) 
  8. Tidak sering bertentangan dengan rawi-rawi yang kuat 
  9. Sekurangnya di kenal oleh dua orang ahli hadits pada zamannya. 
Sifat-sifat beberapa rawi ini sudah dicatat dari jaman ke jaman oleh bebrapa ahli hadits yang semasa, serta disalin serta dipelajari oleh bebrapa ahli hadits pada beberapa masa yang selanjutnya sampai ke masa-masa saat ini.

Rawi yang tidak ada catatannya diberi nama maj'hul, serta hadits yang diriwayatkannya tidak bisa di terima.

Matan 

Matan adalah redaksi dari hadits, dari contoh sebelumnya matan hadits bersangkutan adalah:

"Tidak sempurna iman seseorang diantara kalian sehingga ia cinta untuk saudaranya apa yang ia cinta untuk dirinya sendiri"

Berkaitan dengan matan atau redaksi, yang butuh diamati dalam mamahami hadits adalah:

Ujung sanad sebagai sumber redaksi, apakah berujung pada Nabi Muhammad atau bukan,
Matan hadits tersebut dalam hubungannya dengan hadits lain yang lebih kuat sanadnya (adakah yang melemahkan atau memperkuat) serta selanjutnya dengan ayat dalam Al Quran (adakah yang bertolak belakang).

Klasifikasi hadits 

Hadits bisa diklasifikasikan berdasarkan beberapa persyaratan yaitu berawalnya ujung sanad, keutuhan rantai sanad, jumlah penutur (rawi) dan tingkat keaslian hadits (bisa di terima atau tidaknya hadits bersangkutan).

Bersumber pada ujung sanad 

Bersumber pada klasifikasi ini hadits dibagi jadi 3 kelompok yaitu marfu’ (terangkat), mauquf (terhenti) serta maqthu’:
  1. Hadits Marfu’ yaitu hadits yang sanadnya berujung langsung pada Nabi Muhammad S.A.W (contoh: hadits diatas) 
  2. Hadits Mauquf yaitu hadits yang sanadnya terhenti pada beberapa sahabat nabi tanpa ada tanda tanda baik secara perkataan ataupun perbuatan yang memperlihatkan derajat marfu'. Contoh: Al Bukhari dalam kitab Al-Fara'id (hukum waris) mengemukakan kalau Abu Bakar, Ibnu Abbas serta Ibnu Al-Zubair menyampaikan: "Kakek yaitu (diperlakukan seperti) ayah". Pernyataan dalam contoh itu tidak jelas, apakah datang dari Nabi atau sebatas pendapat beberapa sahabat. Tetapi bila ekspresi yang dipakai sahabat yaitu seperti "Kami diperintahkan..", "Kami dilarang untuk...", "Kami terbiasa... bila sedang bersama Rasulullah", derajat hadits itu tidak lagi mauquf tetapi setara dengan marfu'. 
  3. Hadits Maqthu’ yaitu hadits yang sanadnya berujung pada para tabi'in (penerus) atau sebawahnya. Contoh hadits ini yaitu: Imam Muslim meriwayatkan dalam pembukaan sahihnya kalau Ibnu Sirin menyampaikan: "Pengetahuan ini (hadits) yaitu agama, berhati-hatilah kamu dari mana kamu mengambil agamamu". 
Keaslian hadits yang terbagi atas kelompok ini amat tergantung pada beberapa aspek lain seperti kondisi rantai sanad ataupun penuturnya.

Tetapi klasifikasi ini tetap amat penting mengingat klasifikasi ini membedakan perkataan serta tindakan Rasulullah S.A.W dari perkataan beberapa sahabat ataupun tabi'in dimana hal semacam ini amat membantu dalam daerah perkembangan dalam fikih (Suhaib Hasan, Science of Hadits).

Bersumber pada keutuhan rantai/lapisan sanad 

Bersumber pada klasifikasi ini hadits terbagi jadi beberapa kelompok yaitu Musnad, Mursal, Munqathi’, Mu’allaq, Mu’dlal serta Mudallas. Keutuhan rantai sanad tujuannya adalah tiap penutur pada setiap tingkatan dimungkinkan secara waktu serta keadaan untuk mendengar dari penutur di atasnya.

Ilustrasi sanad: Pencatat hadits Penutur 5 Penutur 4 Penutur 3 (tabi'ut tabi'in) Penutur 2 (tabi'in) Penutur 1 (para shahabi) Rasulullah Hadits Musnad.

Satu hadits termasuk musnad jika urutan sanad yang dipunyai hadits itu tidak terpotong di bagian spesifik.

Urut-urutan penutur memungkinkan terjadinya penyampaian hadits bersumber pada waktu serta keadaan, yaitu rawi-rawi itu memanglah dipercaya sudah saling bertemu serta menyampaikan hadits. Hadits ini dapat diberi nama muttashilus sanad atau maushul.
  1. Hadits Mursal, apabila penutur 1 tidak dijumpai atau mungkin dengan kata lain seseorang tabi'in menisbatkan langsung pada Rasulullah S.A.W (contoh: seseorang tabi'in (penutur 2) menyampaikan "Rasulullah berkata..." tanpa ia menerangkan adanya sahabat yang menjelaskan padanya). 
  2. Hadits Munqathi’, apabila sanad putus pada satu diantara penutur, atau pada dua penutur yang tidak berturutan, selain shahabi. 
  3. Hadits Mu’dlal, apabila sanad terputus pada dua generasi penutur berturut-turut.
  4. Hadits Mu’allaq, apabila sanad terputus pada penutur 5 sampai penutur 1, dengan kata lain tidak ada sanadnya. Contoh: "Seseorang pencatat hadits menyampaikan, telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah menyampaikan...." tanpa ia menerangkan sanad antara dirinya hingga Rasulullah.   
  5. Hadits Mudallas, apabila satu diantara rawi menyampaikan ".. si A berkata.." atau "Hadits ini dari si A.." tanpa ada kejelasan ".. pada saya.."; yaitu tidak tegas memperlihatkan kalau hadits itu di sampaikan padanya secara langsung. Mungkin saja antara rawi itu dengan si A ada rawi lain yang tidak terkenal, yang tidak dijelaskan dalam sanad. Hadits ini disebut juga dengan hadits yang disembunyikan cacatnya lantaran diriwayatkan lewat sanad yang memberikan kesan seolah-olah tidak ada cacatnya, walau sebenarnya ada, atau hadits yang ditutup-tutupi kekurangan sanadnya. 

Bersumber pada jumlah penutur 

Jumlah penutur yang dimaksud yaitu jumlah penutur dalam setiap tingkatan dari sanad, atau ketersediaan beberapa jalur berbeda yang menjadi sanad hadits itu. Bersumber pada klasifikasi ini hadits dibagi atas hadits mutawatir serta hadits ahad.

Hadits Mutawatir, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh sekumpulan orang dari beberapa sanad serta tidak ada peluang kalau mereka semua setuju untuk berdusta bersama akan hal semacam itu.

Jadi hadits mutawatir mempunyai beberapa sanad serta jumlah penutur pada setiap lapisan generasi (thaqabah) berimbang.

Beberapa ulama berbeda pendapat tentang jumlah sanad minimal hadits mutawatir (beberapa menentukan 20 serta 40 orang pada setiap lapisan sanad).

Hadits mutawatir sendiri bisa dibedakan antara dua bentuk yaitu mutawatir lafzhy (lafaz redaksional sama pada setiap riwayat) serta ma’nawy (pada redaksional terdapat ketidaksamaan tetapi makna sama pada setiap riwayat)

Hadits Ahad, hadits yang diriwayatkan oleh sekumpulan orang tetapi tidak meraih tingkatan mutawatir. Hadits ahad lantas dibedakan atas tiga bentuk diantaranya: 
  1. Gharib, apabila cuma ada satu jalur sanad (pada satu diantara lapisan ada hanya satu penutur, walaupun pada lapisan lain mungkin saja ada banyak penutur) 
  2. Aziz, apabila ada dua jalur sanad (dua penutur pada satu diantara lapisan, pada lapisan lain lebih banyak) 
  3. Masyhur, apabila ada lebih dari dua jalur sanad (tiga atau lebih penutur pada satu diantara lapisan, serta pada lapisan lain lebih banyak) tetapi tidak mencapai derajat mutawatir. Dinamakan juga hadits mustafidl. 
Bersumber pada tingkat keaslian hadits
Kategorisasi tingkat keaslian hadits yaitu klasifikasi yang paling penting serta merupakan rangkuman pada tingkat penerimaan atau penolakan pada hadits itu.

Tingkatan hadits pada klasifikasi ini terbagi jadi 4 tingkat yaitu shahih, hasan, dla'if serta maudlu'.

Hadits Sahih, yaitu tingkatan paling tinggi penerimaan pada sebuah hadits. Hadits shahih memenuhi kriteria sebagai berikut ini: 
  1. Sanadnya bersambung; 
  2. Diriwayatkan oleh para penutur/rawi yang adil, mempunyai pembawaan istiqomah, berakhlak baik, tidak fasik, terjaga muruah (kehormatan) -nya, serta kuat ingatannya. 
  3. Pada saat menerima hadits, masing-masing rawi sudah cukup usia (baligh) serta beragama Islam. 
  4. Matannya tidak mengandung kejanggalan/bertentangan (syadz) dan tidak ada sebab tersembunyi atau tidak nyata yang mencacatkan hadits (’illat). 
  5. Hadits Hasan, apabila hadits yang itu sanadnya bersambung, tetapi ada sedikit kekurangan pada rawi (-rawi) nya; contohnya diriwayatkan oleh rawi yang adil tetapi tidak sempurna ingatannya. Tetapi matannya tidak syadz atau cacat. 
  6. Hadits Dhaif (lemah), adalah hadits yang sanadnya tidak bersambung (bisa berwujud hadits mauquf, maqthu’, mursal, mu’allaq, mudallas, munqathi’ atau mu’dlal), atau diriwayatkan oleh orang yang tidak adil atau tidak kuat ingatannya, atau mengandung kejanggalan atau cacat. 
  7. Hadits Maudlu’, apabila hadits dicurigai palsu atau buatan lantaran dalam rantai sanadnya didapati penutur yang di kenal sebagai pendusta. 

Jenis-jenis lain 

Adapun beberapa bentuk hadits yang lain yang tidak dijelaskan dari klasifikasi diatas diantaranya: 
  1. Hadits Matruk, yang memiliki arti hadits yang ditinggalkan yakni hadits yang cuma diriwayatkan oleh seorang rawi saja serta rawi itu dituduh berdusta. 
  2. Hadits Mungkar, yakni hadits yang cuma diriwayatkan oleh seorang rawi yang lemah yang bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang tepercaya/jujur. 
  3. Hadits Mu'allal, artinya hadits yang dinilai sakit atau cacat yakni hadits yang di dalamnya ada cacat yang tersembunyi (’illat). Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani kalau hadits Mu'allal adalah hadits yang kelihatannya baik namun setelah diselidiki nyatanya ada cacatnya. Hadits ini umum juga disebut dengan hadits Ma'lul (yang dicacati) serta disebut dengan hadits Mu'tal (hadits sakit atau cacat). 
  4. Hadits Mudlthorib, artinya hadits yang kacau yakni hadits yang diriwayatkan oleh seorang rawi lewat beberapa sanad dengan matan (isi) kacau atau tidak sama atau bahkan juga kontradiksi dengan yang dikompromikan 
  5. Hadits Maqlub, yaitu hadits yang terbalik yakni hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang dalamnya tertukar dengan mendahulukan yang belakang atau demikian sebaliknya, baik dalam soal matan (isi) atau sanad (silsilah) 
  6. Hadits Gholia, yakni hadits yang terbalik beberapa lafalnya sampai pengertiannya berubah 
  7. Hadits Mudraj, yakni hadits yang mengalami penambahan isi oleh rawi, contohnya sebagian keterangan yang bukanlah datang dari Nabi S.A.W 
  8. Hadits Syadz, hadits yang jarang yakni hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang tepercaya tetapi bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan dari rawi-rawi yang lain. Hadits syadz mungkin saja berderajat shahih, akan tetapi berlawanan isi dengan hadits shahih yang lebih kuat sanadnya. Hadits yang lebih kuat sanadnya ini diberi nama Hadits Mahfuzh. 
  9. Hadits Qudsi 
  10. Hadits qudsi adalah hadits yang berisi perkataan Rasulullah S.A.W tentang firman Allah yang diwahyukan secara langsung. Arti hadits ini datang dari Allah, akan tetapi—berbeda dengan Alquran--, kata-katanya yaitu kata-kata Rasulullah. Hadits qudsi ini, beberapa, kemudian di sampaikan pada beberapa sahabat Rasul yang spesifik. Karena itu, tingkat kesahihan hadits qudsi ini sama dengan hadits yang lain-lain, serta diukur lewat cara yang sama juga di atas. 

Penulis hadits 

Sumber: elmuntaqa.wordpress.com
Yaitu beberapa pakar hadits yang menyatukan, mendaftar, menyeleksi serta menuliskan hadits-hadits dalam sebuah kitab hadits. Di kenal sebagai mudawwin atau mukharrij.

Periwayat umat Syi'ah 

Umat Syi'ah cuma mempercayai hadits yang diriwayatkan oleh keturunan Muhammad S. A. W, melalui Fatimah az-Zahra, atau oleh pemeluk Islam awal yang memihak Ali bin Abi Thalib.

Syi'ah tidak memakai hadits yang berasal atau diriwayatkan oleh mereka yang menurut golongan Syi'ah diklaim memusuhi Ali, seperti Aisyah, yang melawan Ali pada Perang Jamal.

Ada beberapa sekte dalam Syi'ah, namun beberapa memakai: 
  1. Ushul al-Kafi 
  2. Al-Istibshar 
  3. Al-Tahdzib 
  4. Man La Yahduruhu al-Faqih 
Rata-rata hadits-hadits itu meriwayatkan perkataan Ja'far ash-Shadiq dengan pentahrifan sanad. Kitab-kitab hadits Syiah tidak beredar secara umum di Indonesia.

Beberapa istilah dalam pengetahuan hadits 

Bersumber pada siapa yang meriwayatkan, ada beberapa istilah yang didapati pada pengetahuan hadits diantaranya:
  1. Muttafaq Alaih (disepakati atasnya) yakni hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari serta Imam Muslim dari sumber sahabat yang sama, di kenal dengan hadits Bukhari serta Muslim
  2. As-Sab'ah memiliki arti tujuh perawi yakni: Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Turmudzi, Imam Nasa'i serta Imam Ibnu Majah 
  3. As-Sittah tujuannya enam perawi yaitu mereka yang tersebut diatas tidak hanya Ahmad bin Hambal (Imam Ibnu Majah) 
  4. Al-Khamsah tujuannya lima perawi yakni mereka yang tersebut diatas tidak hanya Imam Bukhari serta Imam Muslim 
  5. Al-Arba'ah tujuannya empat perawi yakni mereka yang tersebut diatas tidak hanya Ahmad, Imam Bukhari serta Imam Muslim 
  6. Ats-Tsalatsah tujuannya tiga perawi yakni mereka yang tersebut diatas tidak hanya Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim serta Ibnu Majah. 

Pembentukan serta Sejarahnya 

Hadits sebagai kitab berisi berita mengenai sabda, perbuatan serta sikap Nabi Muhammad sebagai Rasul. Berita itu didapat dari beberapa sahabat pada ketika bergaul dengan Nabi.

Berita itu berikutnya di sampaikan pada sahabat lain yang tidak mengetahui berita itu, atau di sampaikan pada murid-muridnya serta diteruskan pada murid-murid berikutnya lagi hingga sampai pada pembuku hadits. Itulah pembentukan hadits.

Masa-masa pembentukan hadits 

Masa-masa pembentukan hadits tidak ada lain masa-masa kerasulan Nabi Muhammad itu sendiri, adalah kurang lebih 23 tahun. Pada masa-masa ini hadits belum ditulis, serta cuma ada dalam benak atau hafalan beberapa sahabat saja.

Periode ini disebut dengan al wahyu wa at takwin. Pada saat ini Nabi Muhammad pernah melarang penulisan hadits supaya tidak tercampur dengan periwayatan Al Qur'an, tetapi setelah beberapa waktu.

Dia Shalallahu alaihi wassallam membolehkan penulisan hadits dari beberapa orang sahabat yang mulia, seperti Abdullah bin Mas'ud, Abu Bakar, Umar, Abu Hurairah, Zaid bin Tsabit, dllnya. Periode ini diawali mulai sejak Muhammad diangkat sebagai nabi serta rasul sampai wafatnya (610M-632M)

Masa-masa Penggalian 

Masa-masa ini yaitu masa-masa pada sahabat besar serta tabi'in, diawali sejak wafatnya Nabi Muhammad pada tahun 11 H atau 632 M.

Pada masa-masa ini hadits belum ditulis maupun dibukukan, terkecuali yang dikerjakan oleh beberapa sahabat seperti Abu Hurairah, Abu Bakar, Umar bin Khattab, Abdullah bin Mas'ud, dllnya.

Bersamaan dengan perkembangan dakwah, mulailah bermunculan masalah baru umat Islam yang mendorong beberapa sahabat saling bertukar hadits serta menggali dari sumber-sumber utamanya.

Masa-masa penghimpunan 

Masa-masa ini ditandai dengan sikap beberapa sahabat serta tabi'in yang mulai menampik menerima hadits baru, seiring terjadinya tragedi perebutan kedudukan kekhalifahan yang berubah ke bagian syari'at serta 'aqidah dengan timbulnya hadits palsu.

Beberapa sahabat serta tabi'in ini amat mengenal betul pihak-pihak yang melibatkan diri serta yang ikut serta dalam permusuhan itu, hingga bila ada hadits baru yang belum pernah dimiliki sebelumnya di teliti secermat-cermatnya siapa-siapa yang menjadi sumber serta pembawa hadits itu.

Pada masa-masa pemerintahan Khalifah 'Umar bin 'Abdul 'Aziz sekaligus sebagai salah seorang tabi'in memerintahkan penghimpunan hadits. Masa-masa ini terjadi pada abad 2 H, serta hadits yang terhimpun belum dipisahkan mana yang merupakan hadits marfu' serta mana yang mauquf serta mana yang maqthu'.

Masa-masa pendiwanan serta penyusunan 

Abad 3 H adalah masa-masa pendiwanan (pembukuan) serta penyusunan hadits. Guna menghindari salah paham untuk umat Islam dalam memahami hadits sebagai perilaku Nabi Muhammad, beberapa ulama mulai mengelompokkan hadits serta memisahkan kumpulan hadits yang termasuk juga marfu' (yang berisi tingkah laku Nabi Muhammad)

Mana yang mauquf (berisi perilaku sahabat) serta mana yang maqthu' (berisi perilaku tabi'in). Usaha pembukuan hadits pada masa-masa ini tidak hanya sudah digolongkan (sebagaimana disebut diatas) juga dilakukan riset Sanad serta Rawi-rawi pembawa beritanya sebagai bentuk tash-hih (koreksi/verifikasi) atas hadits yang ada ataupun yang dihafal.

Berikutnya pada abad 4 H, usaha pembukuan hadits terus dilanjutkan sampai dinyatakannya kalau pada masa-masa ini sudah selesai melakukan pembinaan maghligai hadits.

Sedangkan abad 5 hijriyah dan seterusnya yaitu masa-masa memperbaiki susunan kitab hadits seperti mengumpulkan yang terserakan atau mengumpulkan untuk memudahkan mempelajarinya dengan sumber utamanya kitab-kitab hadits abad ke-4 Hijriyah.

Alhamdulillah, sampailah kita di akhir pembahasan kali ini, yang mengupas tuntas mengenai Pengertian Hadits: Struktur, Klasifikasi, dan Jenis Hadits, insya Allah ilmu yang kami bagikan, dapat bermanfaat untuk sahabat yang telah meluangkan waktu untuk membaca.

Terima kasih, dan jangan pernah berhenti membaca, sebab dengan membaca, yang samar akan menjadi jelas, dan tak lagi perlu untuk diterka.

Wassalamu’alaikum. Wr. Wb.

Referensi:
  1. wikipedia.org
07 February 2017

Pengertian Ijtihad: Fungsi, Contoh serta Manfaatnya

Pengertian Ijtihad: Fungsi, Contoh serta Manfaatnya. Assalamu’alaikum, Wr. Wb.
Pada kesempatan kali ini, kami akan membahas mengenai Pengertian Ijtihad: Fungsi, Contoh serta Manfaatnya. Jadi, tanpa perlu buang waktu, langsung saja kita masuk ke dalam pembahasan kali ini, ya.

Sumber: generasisalaf.wordpress.com
Al Quran sebagai dasar hidup para muslim, tidak menjelaskan secara detail beragam faktor kehidupan. Hal semacam ini lantas dijelaskan lebih lanjut oleh hadis.

Tetapi, nyatanya ada beberapa hal yang dapat ditafsirkan berbagai macam, bahkan juga sampai saat ini masih tetap ada beberapa hal yang tidak dijelaskan secara tegas oleh kedua sumber hukum Islam itu sendiri (Al Quran serta hadis) hingga menyebabkan ketidaksamaan pendapat di antara para muslim.

Sesungguhnya, ketidaksamaan pendapat yang muncul di antara para muslim merupakan hal lumrah serta menjadi sunatullah, bahkan juga ketidaksamaan pendapat adalah rahmat lantaran dari ketidaksamaan itu tiap para muslim diberikan kesempatan untuk berpikir memakai akalnya hingga mendapatkan kebenaran.

Memakai pertimbangan akal dalam hukum agama atau undang-undang memegang fungsi penting dalam ajaran Islam. Al Quran menyerukan supaya umat manusia memakai akal fikirannya lantaran karenanya ada akal pikiran manusia akan mendekatkan diri pada Allah swt.

Orang yang tidak memakai akal pikirannya dalam Al Quran di umpamakan sebagai binatang yang bisu, tuli, serta tidak memahami.

Firman Allah swt. Dalam surah A’raf: 179, menjelaskan sebagai berikut ini:
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat- ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tiada dipergunakannya untuk melihat (tanda tanda kekuasaan Allah)

Dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (QS Al A’raf: 179).

Al Quran mencemooh orang yang tidak memakai akalnya seperti yang digambarkan dalam surah Ali Imran Ayat 190 – 191 sebagai berikut ini:
190“Sesungguhnya dalam penciptaan lahgit serta bumi serta silih bergantinya malam serta siang ada tanda tanda untuk orang-orang yang berakal.

191 (yakni) orang-orang yang mengingat Allah sembari berdiri atau duduk atau dalam kondisi berbaring serta mereka pikirkan mengenai penciptaan langit serta bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali Imran: 190-191).

Pengertian Ijtihad

Sumber: pelajaransekolahonline.com
Ijtihad datang dari kata ijtahada yajtahidu ijtihadan artinya mengerahkan kekuatan dalam memikul beban. Pengertian Ijtihad terbagi atas 2 yakni pengertian ijtihad menurut bahasa serta pengertian ijtihad menurut istilah.

Pengertian ijtihad menurut bahasa yaitu bersungguh-sungguh dalam mencurahkan pikiran. sedangkan pengertian ijtihad menurut istilah yaitu mencurahkan semua tenaga serta pikiran dengan sungguh-sungguh dalam menentukan hukum syariat.

Jadi, Ijtihad bisa terjadi bila pekerjaan yang dikerjakan terdapat unsur-unsur kesusahan.

Pengertian Ijtihad secara termologis yaitu mencurahkan semua kekuatan dalam mencari syariat dengan cara-cara spesifik.

Ijtihad termasuk juga sebagai sumber-sumber hukum islam yang ketiga sesudah Al-Qu'an, Hadist, yang mempunyai manfaat dalam menentukan sebuah hukum dalam islam. Orang yang menjalankan ijtihad disebut juga mujtahid.

Pengertian Ijtihad secara umum yaitu satu usaha yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh untuk menentukan sebuah perkara yang tidak dikaji dalam Al-Qur'an serta Hadist dengan ketentuan memakai akal sehat serta pertimbangan yang matang.

Tujuan Ijtihad yaitu memenuhi kepentingan umat manusia dalam melaksanakan ibadah pada Allah di tempat serta waktu spesifik. sedangkan Peranan Ijtihad yaitu untuk mendapatkan pemecahan hukum, bila ada sebuah permasalahan yang perlu diterapkan hukumnya, tetapi tidak ditemui pada Al-Qur'an serta Hadist.

Peranan Ijtihad amat penting lantaran sudah diakui kedudukan serta legalitasnya dalam islam, tetapi tidak semua orang bisa menjalankan ijtihad, cuma dengan orang-orang spesifik yang bisa memenuhi kriteria jadi mujtahid seperti yang ada berikut ini:

Sebagian Syarat Jadi Ijtihad (Mujtahid) 

Sumber: cinta-islam.com
Dalam berijtihad tidak sembarangan orang dapat mengerjakannya. Tidak juga langsung di ambil berijtihad dalam menentukan hukum tanpa melihat dahulu dalam Al Qur'an atapun hadist.

Ingat hukum paling utama yaitu Al qur'an lantas hadist, bila sebuah hukum udah ada pada Al qur'an serta hadist tidak ada ijtihad dalam hukum itu.  Adapun syarat – syarat untuk menjadi Ijtihad (Mujtahid) adalah sebagai berikut:
  1. Memahami ayat serta sunnah yang terkait dengan hukum. 
  2. Memahami beberapa masalah yang sudah di ijma’kan oleh para ahlinya 
  3. Memahami Nasikh serta Mansukh. 
  4. Memahami bahasa arab serta ilmu-ilmunya dengan sempurna. 
  5. Memahami ushul fiqh 
  6. Memahami dengan jelas rahasia-rahasia tasyrie’ (Asrarusyayari’ah). 
  7. Memahami beberapa aturan ushul fiqh 
  8. Memahami seluk beluk qiyas. 

Syarat - Syarat lainnya untuk menjadi ijtihad (Mujtahid) 

  • Adil serta taqwa dan Menguasai bahasa Arab 
Ulama Ushul sudah setuju, kalau mujtahid disyaratkan mesti menguasai bahasa Arab, lantaran al-Quran di turunkan – sebagai sumber syari’at – dalam bahasa Arab. Demikian juga dengan Sunnah yang berperan sebagai penjelas dari al-Quran, juga tersusun dengan bahasa Arab.

Imam Ghazali memberikan kriteri penguasaan bahasa Arab oleh seorang mujtahid, dengan menyampaikan: seorang mujtahid mesti dapat mengerti perkataan orang Arab serta beberapa tradisi yang berlaku dalam penggunaan bahasa Arab di kelompok mereka.

Hingga ia dapat membedakan antara perkataan yang sharih, zhahir, serta mujmal; hakekat serta majaz; yang umum yang khusus; muhkam serta mutasyabih; muthlaq serta muqayad, nash dan mudah atau tidaknya dalam pemahaman.
  • Memahami nasakh serta mansukh 
Syarat ini sudah ditetapkan oleh imam Syafi’i dalam kitabnya ar-Risalah, seperti ia mensyaratkan kekuatan berbahasa Arab. Persyaratan ini didasarkan pada kedudukan serta nilai al-Quran sebagai dasar serta sumber paling utama syari’at yang miliki sifat kekal hingga hari qiamat.

Lantaran pengetahuan yang terdapat di dalamnya demikian luas, beberapa hingga Ibnu Umar menyampaikan kalau “Barang siapa menguasai al-Quran, sebenarnya ia sudah membawa missi kenabian (nubuwwah).

Beberapa ulama memiliki pendapat kalau seorang mujtahid mesti memahami secara mendalam ayat-ayat yang mengulas mengenai hukum yang ada dalam al-Quran yang jumlahnya kurang lebih ada 500 ayat.

Pengetahuannya pada ayat-ayat itu mesti mendalam hingga pada yang khas serta ‘am dan takhshish yang datang dari as-Sunah. Demikian pula mesti memahami ayat-ayat yang dinasakh hukumnya bersumber pada teori kalau pada ayat-ayat al-Quran itu ada ayat yang menasakh serta yang dinasakh.

Dengan menguasai ayat-ayat hukum itu, seorang mujtahid harus juga memahami walaupun secara global isi ayat-ayat yang lain adalah sebuah kesatuan yang utuh yang tidak dapat dipisah-pisahkan satu begaian dengan sisi yang lain. Seperti ditegaskan oleh Imam Asnawi:

Sebenarnya untun memahami ketidaksamaan antara ayat-ayat hukum dengan ayat yang lain mesti memahami keseluruhannya.”
  • Memahami Sunnah (Hadits) 
Syarat ini sudah disetujui secara bulat oleh beberapa ulama, kalau seorang mujtahid mesti paham benar mengenai sunnah, baik qauliyah (pengucapan), fi’liyah (perbuatan), ataupun taqririyah (ketentuan), minimal pada tiap pokok permasalahan (bagian) menurut pendapat kalau ijtihad itu dapat dibagi pembidangannya.

Menurut pendapat yang menampik adanya pembidangan dalam ijtihad, seorang mujtahid mesti menguasai semua Sunnah yang mengandung hukum taklifi, dengan mengerti isinya dan menangkap maksud hadits serta keadaan yang melatar belakangi datangnya sebuah hadits.

Mujtahid harus juga memahami nasakh serta mansukh dalam Sunnah, ‘am serta khasnya, muthlaq serta muqayadnya, takhshish serta yang umum. Demikian pula mesti memahami alur kisah serta sanad hadits, kemampuan perawi Hadits, dalam arti memahami sifat serta kondisi perawi Hadits yang mengemukakan Hadits-hadits Rasulullah s. a. w.
  • Memahami letak ijma’ serta khilaf 
Dengan memahami letak ijma’ yang sudah disetujui para ulama salaf, seorang mujtahid diwajibkan juga memahami ikhtilaf (ketidaksamaan pendapat) yang terjadi di antara fuqaha, contohnya ketidaksamaan pendapat dan sistem antara ulama Fiqh di Madinah serta Ulama Fiqh di Irak.

Dengan hal tersebut, mujtahid secara rasional bakal mampu membeda-bedakan antara pendapat yang shahih dengan yang tidak shahih, kaitan dekat atau jauhnya dengan sumber al-Quran serta hadits. Imam Syafi’i mewajibkan seorang mujtahid mempunyai kekuatan demikian, seperti dijelaskan dalam kitabnya ar-Risalah.
  • Memahami Qiyas 
Imam syafi’i menyampaikan, kalau ijtihad itu sebenarnya yaitu memahami jalan-jalan qiyas. Bahkan juga, dia juga menyampaikan kalau ijtihad itu yaitu qiyas itu sendiri. Oleh karena itu, seorang mujtahid mesti memahami tentang qiyas yang benar.

Maka dari itu, dia mesti mengatahui hukum-hukum asal yang ditetapkan berdasarkan nash-nash sebagai sumber hukum itu, yang memungkinkan seorang mujtahid menentukan hukum asal yang lebih dekat dengan obyek yang menjadi tujuan ijtihadnya.

Pengetahuan mengenai qiyas demikian membutuhkan mujtahid memahami tiga hal, yakni:
  1. Memahami semua nash sebagai dasar hukum asal beserta ‘illatnya agar bisa menghubungkan dengan hukum furu’ (Cabang). 
  2. Memahami ketentuan – ketentuan qiyas serta batas-batasnya, seperti tidak bisa mengqiyaskan dengan suatu hal yang tidak dapat meluas hukumnya, dan beberapa sifat ‘illatnya sebagai dasar qiyas serta aspek yang menghubungkan dengan furu’. 
  3. Memahami cara yang digunakan oleh ulama salaf yang shalih dalam memahami ‘illat-‘illat hukum serta beberapa sifat yang dilihat sebagai prinsip penetapan serta penggalian hukum fiqh. 

Beberapa Jenis Ijtihad 

  • Ijma' (kesepakatan):
Pengertian ijma yaitu kesepakatan para ulama untuk menentukan hukum agama bersumber pada Al-Qur'an serta Hadist dalam perkara yang terjadi. Hasil dari Ijma berbentuk Fatwa artinya keputuan yang di ambil secara bersama para ulama serta pakar agama yang berwenang untuk diikuti oleh semua umat.

Contoh ijma: beberapa sahabat yaitu menyatukan lembaran - lembaran ayat Al qur'an hingga jadi satu kitab suci Al qur'an yang dapat kita miliki pada jaman sekarang.
  • Qiyas:
Pengertian qiyas yaitu memadukan atau menyamakan artinya mengambil keputusan hukum dalam sebuah perkara baru yang belum pernah dilakukan di masa-masa sebelumnya tetapi mempunyai persamaan seperti sebab, manfaat, bahaya serta berbagai faktor dalam perkara sebelumnya hingga dihukumi sama.

Ijma serta Qiyas yaitu sifat darurat di mana ada yang belum diputuskan sebelumnya.
Contoh Qiyas yaitu haramnya minuman keras yang memabukan, narkoba. Hal itu sama juga dengan hukum khamr dalam Al qur'an.

Allah berfirman:
Terjemahannya:

Wahai orang - orang yang beriman! sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala yaitu perbuatan keji dan termasuk perbuatan syetan jauhilah (perbuatan - perbuatan) itu agar kamu beruntung. (Q. S Al Maidah ayat 90).
  • Maslahah Mursalah:
Maslahah mursalah yaitu sebuah ijtihad yang mengambil keputusan hukum berdasarkan memprioritaskan pada kemanfaatan sebuah perbuatan serta maksud hakiki universal terhadap syariat islam.

Contohnya: Keharusan menggati rugi barang yang rusak di antara konsumen serta penjual yang sebelumnya di luar kesepakatan.
  • Sududz Dzariah:
Pengertian sududz dzariah yaitu mengambil keputusan suatu yang mubah makruh atau haram untuk kebutuhan umat.
  • Istishab:
Pengertian istishab yaitu tindakan dalam mengambil keputusan sebuah ketentuan hingga ada argumen yang mengubahnya.
  • Urf:
Pengertian urf yaitu tindakan dalam menentukan masih tetap bolehkah adat-istiadat serta kebebasan orang-orang setempat bisa berjalan sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan prinsipal Al-Qur'an serta Hadist.
  • Istihsan:
Pengertian istihsan yaitu tindakan dengan meninggalkan satu hukum pada hukum yang lain dikarenakan adanya sebuah dalil syara’ yang mengharuskan untuk meninggalkannya.
  • Zara’i 
Zara’i menurut lugat (bahasa) memiliki arti wasilah, yakni pekerjaan-pekerjaan sebagai jalan untuk mencapai maslahah atau jalan untuk menyingkirkan mudarat.

Ijtihad itu udah diawali mulai sejak zaman Rasulullah lantaran orang tidak mungkin saja menyerahkan masing-masing perkara pada Rasulullah saw.

Sesudah Rasulullah meninggal dunia, ijtihad iebih luas lagi pengaruhnva. Pada jaman kekhalifahan, iibentuk dewan penasihat ang tugasnya mengurus semua masalah penting di mana keputusannya di ambil dengan suara paling banyak serta di terima oleh khalifah dan para muslim.

Contoh Ijtihad 

Penentuan I Syawal, Beberapa ulama berkumpul untuk berdiskusi mengeluarkan alasannya untuk menentukan 1 Syawal, juga penentuan awal Ramadhan. Tiap ulama mempunyai dasar hukum serta langkah dalam penghitungannya, bila sudah ketemu muncullah perjanjian dalam penentuan 1 Syawal.

Kedudukan serta Peranan Ijtihad 

Muhammad Ma’ruf Ad Dawalibi menyimpulkan Rasulullah saw. meletakkan ijtihad sebagai sumber hukum ketiga dalam ajaran Islam setelah Al Quran serta sunah.

Kedudukan ijtihad demikian penting dalam ajaran Islam lantaran ijtihad sudah bisa dibuktikan kemampuannya dalam merampungkan semua masalah yang dihadapi umat Islam dari mulai jaman Nabi Muhammad saw. hingga saat ini.

Lewat ijtihad, beberapa masalah baru yang tidak diterangkan oleh Al Quran ataupun sunah bisa dipecahkan. Lewat ijtihad, ajaran Islam sudah berkembang sedemikian rupal menuju kesempurnaannya, bahkan juga ijtihad adalah daya gerak perkembangan umat Islam. Artinya ijtihad adalah kunci dinamika ajaran Islam.

Saat ijtihad itu udah ada, ijtihad ini seperti di katakan sebelumnya di atas berpungsi sebagai landasan hukum yang ketiga sesudah Al Qur'an serta Hadist.

Hal semacam ini sebagai mana sabda Nabi Muhammad SAW berikut ini:
Terjemahannya:

"Dari Mu'az, bahwa nabi Muhammad SAW, ketika mengutus ke Yaman ia bersabda: " Bagaimana engkau memutuskan suatu perkara yang di bawa orang kepadamu?"

Muaz berkata: "Saya akan memutuskan berdsarkan kitabulloh (al qur'an)."

Lalau nabi berkata: "Dan jika di dalam kitabulloh engkau tidak menemukan masalah perkara tersebut?"

Muaz menjawab: "Jika begitu saya akan memutuskan berdasarkan sunnah Rosululloh saw."

Lantas nabi bertanya lagi: "Dan jika engkau tidak menemukan perkara tersebut dalam sunnah?"

Muaz menjawab: "Saya akan mempergunakan pertimbangan akal pikiran sendiri (ijtihada bi ra'yi) tanpa bimbang sedikitpun."

Lantas nabi bersabda: "Maha Suci Alloh swt yang telah memberikan bimbingan kepada utusan RosulNya dengan suatu sikap yang disetujui Rosul-Nya." (HR Dharami).

Begitulah kedudukan serta urutan pemanfaatan ijtihad dalam hukum islam. Adapun ijtihad mempunyai beberapa manfaat salah satunya sebagai berikut ini:
  1. Ijtihad adalah sumber hukum Islam yang ketiga sesudah Al Quran serta hadis. 
  2. Ijtihad adalah fasilitas untuk merampungkan beberapa masalah baru yang muncul dengan tetap berpedoman pada Al Quran serta sunah. 
  3. Ijtihad bermanfaat sebagai sebuah langkah yang disyariatkan untuk menyesuaikan perubahan - perubahan sosial dengan ajaran-ajaran Islam. 
  4. Ijtihad bermanfaat sebagai wadah pencurahan pemikiran para muslim dalam mencari jawaban dari beberapa masalah seperti berikut ini: 
  5. Permasalahan asasi yakni beberapa hal yang terkait dengan ajaran Islam seperti beberapa masalah di bagian akidah serta muamalat. 
  6. Permasalahan esensial contohnya tentang program pembangunan negara serta bangsa. 
  7. Permasalahan insidental contohnya mengenai beberapa isu yang berkembang dalam masyarakat. 

Pahala Orang yang Ber-Ijtihad 

Sumber: infoyunik.com
Rosululloh selalin menyampaikan susunan pemakaian ijtihad dalam hukum Rosululloh pun menyampaikan orang yang menjalankan ijtihad sesuai sama kemampuan serta ilmunya,

bila ijtihadnya itu benar mendapatkan dua pahala apabila ijtihadnya salah mendapatkan satu pahala.
Hal itu sebagai mana sabda Nabi sebagai berikut ini:
Terjemahannya:

Dari Amr bi As, sesungguhnya Rosululloh SAW bersabda, apabila seorang hakim ber ijtihad dalam memutuskan suatu persoalan, ternyata ijtihadnya benar, ia mendapatkan dua pahala, dan apabila dia ber ijtihad kemudian ijtihadnya salah, ia mendapat satu pahala (HR Bukhari dan Muslim).

Alhamdulillah, sampailah kita di akhir pembahasan kali ini, yang mengupas tuntas mengenai Pengertian Ijtihad: Fungsi, Contoh serta Manfaatnya, insya Allah ilmu yang kami bagikan, dapat bermanfaat untuk sahabat yang telah meluangkan waktu untuk membaca.

Terima kasih, dan jangan pernah berhenti membaca, sebab dengan membaca, yang samar akan menjadi jelas, dan tak lagi perlu untuk diterka.

Wassalamu’alaikum. Wr. Wb.

Referensi:

  1. artikelsiana.com 
  2. pelajaransekolahonline.com 
  3. masrozak.com 
  4. fathimatuzzuhria 

Pengertian Tauhid: Ilmu dan Macam Tauhid


Pengertian Tauhid: Ilmu dan Macam Tauhid. Assalamu’alaikum, Wr. Wb. Pada kesempatan kali ini, kami akan membahas mengenai Pengertian Tauhid, lengkap dengan ilmu dan macam – macam Tauhid itu sendiri. Langsung saja kita masuk ke dalam pembahasan kali ini, ya.

Pengertian Tauhid

sumber: slideshare.net
Dalam bahasa Arab tauhid adalah mashdar yang merupakan kata benda yang datang dari kata wahdana. Jika yang dimaksud yaitu Wahdana Syai’a mempunyai arti sesuatu itu satu. Sedangkan bila dikaji menurut pengetahuan syariat, Tauhid mempunyai arti mempercayai ke-Esa-an Allah.

Yang disebut sebagai pengetahuan Tauhid yaitu pengetahuan yang di dalamnya mengulas perihal akidah atau keyakinan pada Allah dengan didasarkan pada dalil-dalil yang benar. Berikut ini adalah dalil yang terkait dengan pengetahuan tauhid.

“Dia yaitu Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan, dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan pula, dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu.

Tidak ada sesuatu yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS 42: 11)

Dari arti ayat di atas, dapat dikatakan kalau seluruh alam semesta ini diciptkan oleh Allah, serta tidak ada pelaku yang bertindak sendiri serta merdeka seutuhnya selain Allah. Jadi sangat tidak mungkin bila ada yang menyamakan ke-Esa-an-Nya.

Tauhid adalah satu kata yang ada dalam beberapa hadist Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti yang ada di dalam hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu,

“Kamu akan datangi suatu kaum ahli kitab, jadikanlah materi dalam dakwah yang akan kamu sampaikan pertama kali yaitu agar mereka mentauhidkan terhadap Allah”.

Demikian halnya dalam perkataan beberapa sahabat Nabi yang mengatakan, “Rasulullah membaca tahlil dengan tauhid”. Dalam pengucapan beliau labbaika Allahumma labbaika, labbaika laa syariika laka labbaika, ucapan talbiyah yang dilantunkan ketika mengawali ibadah haji. “

Beberapa ulama membagi pemaham tauhid jadi 3 sisi, yakni tauhid berupa rububiyah, uluhiyah, serta asma’ wa shifat. Pembagian itu terkumpul dalam firman atau sabda Allah di dalam Al Qur’an: QS. Maryam ayat 65, yang artinya:

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيّاً

“Rabb (Penguasa) langit dan bumi serta segala sesuatu yang berada di antara keduanya, maka sembahlah dia dan teguhkan hati dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu tahu bahwa ada seorang yang sama dengan Dia (yang berhak disembah)?" (Maryam: 65)

Berikut adalah pemahaman dari ayat di atas:
  1. Dalam firman-Nya (رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ) (Rabb yang menguasai langit dan bumi) merupakan ketetapan tauhid rububiyah.
  2. Dalam firman-Nya (فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ) (maka sembahlah Dia serta berteguh hatilah ketika dalam beribadah kepada-Nya) merupakan ketetapan tauhid uluhiyah.
  3. Dan dalam firman-Nya (هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيّاً) (Apakah kamu mengetahuinya bahwa ada seorang yang sama dengan Dia?) merupakan ketetapan tauhid asma’ wa shifat. 

Tauhid Rububiyah. 

sumber: muttaqi89.com
Tauhid Rububiyah yakni mengesakan Allah dalam semua perbuatan-Nya, dengan mempercayai kalau Dia sendiri yang menciptakan seluruh makhluk-Nya. Serta alam semesta ini diatur oleh Mudabbir (Pengelola), Pengendali Tunggal, Tidak disekutui oleh siapa dan apa pun dalam pengelolaan-Nya.

Allah menciptakan seluruh makhluk-Nya diatas fitrah pengakuan pada rububiyah-Nya. Bahkan juga orang-orang musrik yang menyekutukan Allah dalam ibadahnya juga mengakui keesaan rububiyah-Nya.

Jadi bentuk tauhid ini diakui semua orang. Bahkan juga hati manusia udah difitrahkan untuk mengakui-Nya, melebihi fitrah pengakuan pada yang lainnya. Adapun orang yang paling di kenal pengingkarannya yaitu Fir’aun. Akan tetapi di hatinya masihlah tetap meyakini-Nya.

Alam semesta serta fitrahnya tunduk serta taat pada Allah. Sebenarnya alam semesta ini (langit, bumi, planet, bintang, hewan, pohon-pohon, daratan, lautan, malaikat, dan manusia) semuanya tunduk serta taat akan kekuasaan Allah.

Tidak satupun makhluk yang memungkiri-Nya. Semua menjalani pekerjaan serta perannya masing-masing, dan berjalan menurut ketentuan yang amat sempurna. Penciptanya sekalipun tidak memiliki sifat kurang, lemah, serta cacat.

Tidak satupun dari makhluk ini yang keluar dari kehendak, takdir, serta qadha’-Nya. Tidak ada daya serta upaya terkecuali atas izin Allah. Dia yaitu Pencipta serta Penguasa alam, semua adalah milik-Nya. Semua adalah ciptaan-Nya, diatur, diciptakan, diberi fitrah, membutuhkan, serta dikendalikan-Nya.

Allah Ta’ala berfirman

“Segala puji untuk Allah, Rabb semesta alam” (Q. S. Al-Fatihah: 1)

Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Engkau adalah Rabb di langit dan di bumi” (Mutafaqqun ‘Alaih)

Tauhid Rububiyah mengharuskan adanya Tauhid Uluhiyah. Hal semacam ini memiliki arti siapa yang mengakui tauhid rububiyah untuk Allah, dengan mengimani tidak ada pencipta, pemberi rizki, serta pengatur alam terkecuali Allah.

Ia mesti mengakui kalau tidak ada yang memiliki hak menerima ibadah dengan segala jenisnya terkecuali Allah.

Dan itulah yang disebut dengan Tauhid Uluhiyah.

Jadi tauhid rububiyah yaitu bukti wajibnya tauhid uluhiyah. Jalan fitri untuk menetapkan tauhid uluhiyah yaitu berdasarkan tauhid rububiyah. tauhid rububiyah yaitu pintu gerbang dari tauhid uluhiyah.

Tauhid Uluhiyah. 

sumber: alqudus.wordpress.com
Tauhid Uluhiyah yakni ibadah. Tauhid Uluhiyah yaitu mengesakan Allah dengan perbuatan para hamba berdasarkan niat taqarrub yang disyariatkan seperti doa, nadzar, kurban, raja’ (pengharapan), takut, tawakal, raghbah (senang), rahbah (takut), serta inabah (kembali atau taubat).

Dan bentuk tauhid ini yaitu inti dakwah para rasul.

Disebut dengan demikian, lantaran tauhid uluhiyah yaitu sifat Allah yang diperlihatkan oleh nama-Nya, “Allah” yang artinya dzul uluhiyah (yang memiliki uluhiyah), dan juga lantaran tauhid uluhiyah adalah pondasi serta azas tempat dibangunnya semua amal.

Juga disebut sebagai tauhid ibadah lantaran ubudiyah yaitu sifat ‘abd (makhluknya) yang wajib menyembah Allah secara ikhlas, lantaran ketergantungan mereka kepada-Nya.

Allah Ta’ala berfirman

“Dan Tuhanmu yaitu Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (Q. S. Al-Baqarah: 163)

Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Maka hendaklah apa yang kamu dakwahkan kepada mereka pertama kali adalah syahadat bahwa tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah” (Mutafaqqun ‘Alaih). Dalam riwayat Imam Bukhari, “Sampai mereka mentauhidkan Allah”.

Manusia ditetapkan oleh tingkatan din. Din sendiri memiliki arti ketaatan. Berikut ini yaitu tingkatan din: 

  • Islam 

Islam menurut bahasa yaitu masuk dalam kedamaian. Sedangkan menurut syara’, Islam memiliki arti pasrah pada Allah, bertauhid serta tunduk kepada-Nya, patuh, serta membebaskan diri dari syirik serta pengikutnya.
  • Iman 
Iman menurut bahasa memiliki arti membenarkan disertai percaya serta amanah. Sedangkan menurut syara’, iman memiliki arti pernyataan dengan lisan, kepercayaan dalam hati, serta perbuatan dengan anggota tubuh.
  • Ihsan 
Ihsan menurut bahasa memiliki arti kebaikan, yaitu segala suatu hal yang menyenangkan serta terpuji. Sedangkan menurut syara’ yaitu sebagaimana yang dijelaskan oleh baginda Nabi yang artinya “Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya.

Jika engkau tidak bisa melihat-Nya sesungguhnya Dia melihatmu”. Syaikh Ibnu Taimiyah berkata “Ihsan itu mengandung kesempurnaan ikhlas pada Allah serta perbuatan baik yang dicintai oleh Allah”.

Rasulullah menjadikan din itu adalah Islam, Iman, serta Ihsan. jelaslah kalau din itu bertingkat, serta beberapa tingkatannya lebih tinggi dari yang lain. Tingkatan yang pertama yaitu Islam, tingkatan yang kedua yaitu Iman, serta tingkatan yang paling tinggi yaitu Ihsan.

Tauhid Asma’ Wa Sifat. 

sumber: beranidakwah.com
Tauhid Asma’ Wa Sifat yakni beriman pada nama-nama Allah serta sifat-sifat-Nya, sebagaimana yang diterangkan dalam Al Qur’an serta Sunah Rasul-Nya.

Barang siapa yang mengingkari nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya atau menamai Allah dan menyifati-Nya dengan nama-nama dan beberapa sifat makhluk-Nya atau menakwilkan dari maknanya yang benar, dia telah berbicara tentang Allah tanpa ilmu dan berdusta terhadap Allah dan Rasulnya.

Allah Ta’ala berfirman

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Q. S. Asy-Syuura: 11)

Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Allah tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia pada setiap malam” (Mutafaqqun ‘Alaih). Di sini turunnya Allah tidak sama dengan turunnya makhluk-Nya, namun turunnya Allah sesuai dengan kebesaran dan keagungan dzat Allah.

Sifat-sifat Allah dibagi jadi dua sisi, yakni: 

  • Sifat Dzatiyah 
Sifat Dzatiyah yakni sifat yang selalu melekat dengan-Nya. Sifat ini berpisah dengan dzat-Nya. Seperti berilmu, kuasa atau mampu, mendengar, bijaksana, melihat, dan lain-lain.
  • Sifat Fi’liyah 
Sifat Fi’liyah yaitu sifat yang Dia perbuat bila berkehendak. Seperti bersemayam di atas ‘Arasy, turun ke langit dunia saat tinggal sepertiga akhir malam, serta datang pada Hari Kiamat.

Tauhid asma’ wa sifat ini juga punya pengaruh dalam bermuamalah dengan Allah. Berikut ini contoh-contohnya:

  • Bila seseorang memahami asma’ serta sifat-Nya, juga memahami arti serta tujuannya secara benar yang demikian itu bakal memperkenalkannya dengan Rabbnya beserta keagungan-Nya. Hingga ia tunduk, taat, serta khusyu’ kepada-Nya, takut serta mengharapkan-Nya, dan bertawassul kepada-Nya. 
  • Bila ia memahami jika Rabbnya amat dahsyat azab-Nya hal semacam itu bakal membuatnya merasa senantiasa diawasi Allah, takut, serta menjauhi maksiat terhadap-Nya. 
  • Bila ia memahami bahwa Allah Maha Pengampun, Penyayang, serta Bijaksana hal semacam itu bakal membawanya pada taubat dan istighfar, juga membuatnya berprasangka baik pada Rabbnya serta tidak bakal berputus asa dari rahmat-Nya. 
  • Manusia bakal mencari apa yang ada di sisi-Nya serta bakal berbuat baik pada sesamanya. 

Keterkaitan antara Tauhid Rubbiyah dan Tauhid Uluhiyah 

Antara Tauhid Rubbiyah dan Tauhid Uluhiyah mempunyai hubungan yang tidak bisa dipisahkan, lantaran pada Tauhid Rububiyah adalah mengkonsekuensikan tauhid Uluhiyah. Yang artinya pengakuan seseorang pada tauhid Rububiyah yang mengharuskan pengakuannya pada tauhid uluhiyah.

Jadi, bila seseorang udah memahami kalau Allah yaitu Tuhan yang menciptakan Alam Semesta serta mengatur semua urusannya, ia juga wajib untuk beribadah hanya pada Allah serta tidak ada sekutu bagi-Nya.

Sedangkan pada Tauhid Uluhiyah mengandung sisi dari Tauhid Rububiyah, yakni barang siapa yang melakukan ibadah kepada Allah serta tidak menyekutukan-Nya ia meyakini kalau Allah lah Tuhan serta pencipta Alam Semesta. Seperti yang pernah di katakan oleh Nabi Ibrahi a. s dalam QS. Asy- Syu’araa ayat 75-82.

قَالَ أَفَرَءَيْتُم مَّاكُنتُمْ تَعْبُدُونَ {75} أَنتُمْ وَءَابَآؤُكُمُ اْلأَقْدَمُونَ {76} فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِّي إِلاَّرَبَّ الْعَالَمِينَ {77} الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ {78} وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ {79} وَإِذَامَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ {80} وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ {81} وَالَّذِي أَطْمَعُ أَن يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ {82}

“Ibrahim Berkata: “Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah (75), kamu dan nenek moyang kamu yang terdahulu? (76), karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu ialah musuhku, kecuali Tuhan Semesta Alam (77),

(Yaitu Tuhan) yang telah menciptakan aku, maka dialah yang memberikan petunjuk kepadaku (78), dan Tuhanku, dia yang memberi makanan dan minuman kepadaku (79), dan apabila aku sedang sakit, Dialah yang dapat menyembuhkanku (80),

dan yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali) (81), dan yang amat aku inginkan akan mengampuni kesalahanku di hari kiamat (82)” (Asy – Syu’Araa’: 75-82)”.

Lantaran itulah antara keduanya mempunyai keterkaitan dan terkadang dalam ayat maupun hadis artinya dijelaskan secara bersamaan.

Kalau ada orang tidak meyakini ke-Esa-an Allah atau memungkiri perkara-perkara yang menjadi dasar pengetahuan tauhid, orang itu dikatagorikan bukanlah muslim serta digelari kafir. Demikian juga halnya, kalau seorang muslim menukar kepercayaannya dari meyakini ke-Esa-an Allah, kedudukannya juga sama yaitu kafir.

Perkara dasar yang harus dipercayai dalam pengetahuan tauhid adalah perkara yang dalilnya atau buktinya cukup jelas serta kuat yang ada di dalam Al Quran atau Hadis yang shahih. Perkara ini tidak bisa dita’wil atau diganti maknanya yang asli dengan makna yang lain.

Mengenai perkara yang dibicarakan dalam pengetahuan tauhid yaitu dzat Allah diliat dari sisi apa yang wajib (harus) bagi Allah serta Rasul Nya, apa yang mustahil serta apa yang jaiz (boleh atau tidak boleh).

Jelasnya, pengetahuan Tauhid terdiri dari tiga sisi: 

  • Wajib 
  • Mustahil
  • Jaiz (Mungkin) 

Wajib 

Wajib dalam ilmu Tauhid memiliki arti menentukan sebuah hukum dengan mempergunakan akal kalau suatu hal itu wajib (mutlak) atau tidak boleh tidak harus demikian hukumnya. Hukum wajib dalam pengetahuan tauhid ini ditetapkan oleh akal tanpa lebih dulu membutuhkan penyelidikan atau memakai dalil.

Contoh yang ringan, duit seribu 1000 rupiah yaitu lebih banyak dari 500 rupiah. Artinya akal atau logika kita bisa memahami atau menghukum kalau 1000 rupiah itu lebih banyak dari 500 rupiah.

Tidak boleh tidak, mesti demikian hukumnya. Contoh yang lain, seseorang bapak usianya mesti lebih tua dari umur anaknya.

Artinya secara akal kalau si bapak wajib atau mesti lebih tua dari si anak
Ada lagi hukum wajib yang bisa ditetapkan bukanlah dengan akal tapi harus membutuhkan penyelidikan yang rapi serta cukup teliti.

Misalnya, Bumi itu bulat. Saat sebelum akal bisa memastikan kalau bumi itu bulat, wajib atau mesti diadakan dulu penyelidikan serta mencari bukti kalau bumi itu betul betul bulat. Jadi akal tidak dapat menerima begitu saja tanpa penyelidikan lebih dulu.

Mustahil 

Mustahil dalam pengetahuan tauhid yaitu kebalikan dari wajib. Mustahil dalam pengetahuan tauhid memiliki arti akal mustahil dapat menentukan serta mustahil dapat menghukum kalau suatu hal itu mesti demikian.

Hukum mustahil dalam pengetahuan tauhid ini dapat ditetapkan oleh akal tanpa lebih dulu membutuhkan penyelidikan atau memakai dalil.

Misalnya, duit 500 rupiah mustahil lebih banyak dari 1000 rupiah. Artinya akal atau logika kita bisa memahami atau menghukum kalau 500 rupiah itu mustahil akan lebih banyak dari1000 rupiah.

Contoh yang lain, umur seseorang anak mustahil lebih tua dari ayahnya. Artinya secara akal kalau seseorang anak mustahil lebih tua dari ayahnya.

Seperti hukum wajib dalam Pengetahuan Tauhid, hukum mustahil ada juga yang ditetapkan dengan membutuhkan penyelidikan yang rapi serta cukup teliti.

Misalnya: Mustahil bumi ini berupa tiga sisi. Jadi saat sebelum akal bisa menghukum kalau mustahil bumi ini berupa sisi tiga, perkara itu mesti diselidik dengan teliti yang bersenderkan pada dalil kuat.

Jaiz (Mungkin)

Apa arti Jaiz (mungkin) dalam pengetahuan Tauhid? Jaiz (mungkin) dalam pengetahuan tauhid adalah akal kita bisa memastikan atau menghukum kalau sesuatu benda atau sesuatu dzat itu bisa demikian kondisinya atau bisa juga tidak demikian. Atau dalam arti lainnya mungkin demikian atau mungkin tidak.

Misalnya: penyakit seseorang itu mungkin dapat pulih atau barangkali saja tidak dapat pulih. Seseorang yaitu dzat dan pulih atau tidaknya yaitu hukum jaiz (mungkin). Hukum jaiz (Mungkin) di sini, tidak membutuhkan hujjah atau dalil.

Contoh lainya: apabila langit mendung, mungkin saja bakal turun hujan lebat, mungkin saja turun hujan rintik rintik, atau mungkin saja tidak turun hujan sekalipun. Langit mendung serta hujan yaitu dzat, sementara lebat, rintik rintik atau tidak turun hujan yaitu Hukum jaiz (Mungkin).

Seperti hukum wajib serta mustahil, hukum jaiz (mungkin) juga terkadang membutuhkan bukti atau dalil. Misalnya manusia mungkin saja dapat hidup beberapa ratus tahun tanpa makan serta minum seperti terjadi pada cerita Ashabul Kahfi yang tertera dalam surat al-Kahfi.

Peristiwa manusia dapat hidup beberapa ratus tahun tanpa makan serta minum mungkin saja terjadi namun kita membutuhkan dalil yang kuat di ambil dari al-Qur’an.

Sifat - Sifat Allah 

Wajib untuk tiap muslim mukallaf yakni yang mempunyai akal yang sehat serta udah masuk usia dewasa untuk meyakini kalau ada beberapa sifat kesempurnaan yang tidak terhingga bagi Allah. Sifat-sifat Allah itu sangat banyak serta tidak terhitung.

Kalau air laut dijadikan tinta untuk untuk menulis sifat sifat Allah jelas kita tidak bakal dapat mencatatnya. Maka dari itu Abu Manshur Al-Maturidi membatasi 20 sifat yang wajib (artinya mesti ada) pada Allah.

Bila tidak mempunyai sifat itu, berarti dia bukanlah Allah.

Jadi, minimum kita mesti mengerti serta mempercayai 20 sifat itu supaya tidak tersesat. Kemudian kita dapat mempelajari sifat Allah lainnya yang banyak.

Seperti wajib dipercayai akan sifat Allah yang dua puluh butuh diketahui juga sifat yang mustahil bagi Allah. Sifat yang mustahil bagi Allah adalah lawan dari sifat wajib.

20 Sifat-sifat Allah yang wajib di ketahui oleh seorang muslim mukallaf (akil baligh) yang terdapat di dalam al-Quran juga termasuk beberapa sifat Mustahil yang wajib diketahui. Untuk memudahkan mempelajarinya terlampir berikut ini ringkasan sifat sifat Allah yang wajib serta mustahil.

Sifat-sifat itu adalah sebagai berikut: 

Wujud 

Wujud (ada) yaitu sifat Nafsiyyah artinya sesungguhnya Allah itu ada serta kehadiran Nya itu pasti tidak diragukan lagi. Sifat ini dapat menyatakan di mana Allah jadi tidak ada tanpa adanya sifat itu.
Wujud artinya ada serta sifat mustahilnya ‘Adam artinya tidak ada.

Untuk menunjukkan kalau Allah itu ada bukan hal yang gampang, terkecuali untuk beberapa orang yang mempunyai keimanan yang mulia. Memanglah kita tidak bisa melihat wujud Allah secara langsung, namun dengan memakai akal, kita bisa melihat ciptaan-Nya.

Dari mana alam semesta ini berasal? Pastinya ada yang menciptakannya. Tidak mungkin saja alam semesta ini jadi dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan.

Contoh, pernah seorang Badui (Arab dari pegunungan) ditanya, ”Dari mana kau mengetahui kalau Allah itu ada?”. Kebetulan di muka orang Badui tadi ada kotoran unta. Ia menjawab ”Apakah kau lihat kotoran unta ini? Tiap ada kotoran unta pasti ada untanya. Tidak mungkin saja kotoran unta itu ada dengan sendirinya”

Sedangkan untuk kita yang hidup di era serba mutakhir dan modern cara membuktikannya juga berbeda. Jelas kita lihat pesawat terbang, kereta api, mobil, computer dan lain-lainnya, suatu hal yang tidak masuk akal bila semua itu terjadi dengan sendirinya.

Ya udah pasti ada pembuatnya. Bahkan juga hingga benda-benda yang sederhana saja seperti jarum ada yang membuatnya, tidak mungkin saja jarum itu jadi dengan sendirinya.

Meskipun kita tidak dapat melihat Allah, bukanlah berarti Allah itu tidak ada. Allah ada. Mesikpun kita tidak dapat melihat-Nya, namun kita dapat merasakan ciptaannya.

Pernyataan kalau Allah itu tidak ada cuma karena panca indera manusia yang amat terbatas, lantaran Dia tidak dapat diraba serta tidak dapat dipandang, maka dari itu kita tidak dapat mengetahui keberadaan Allah terkecuali dengan bukti - bukti ciptaan Nya.

إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَمَاوَاتِ وَٱلأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ يُغْشِي ٱلْلَّيْلَ ٱلنَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثاً وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلاَ لَهُ ٱلْخَلْقُ وَٱلأَمْرُ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy.

Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”. (Al-A’râf: 54).

Qidam

القدم : هو صفة سلبية لأنها سلبت و نفت أولية الوجود ، و معناه في حقه سبحانه و تعالى انه قديم لا أول لوجوده قال الله تعالى هُوَ ٱلأَوَّلُ وَٱلآخِرُ وَٱلظَّاهِرُ وَٱلْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ } والدليل العقلي على ذلك انه لو لم يكن قديما لكان حادثا و لو كان حادثا لافتقر الى محدث و يفتقر محدثه الى محدث ايضا و لوكان كذلك للزم الدور أو التسلسل و كل واحد منهما مستحيل فالله سبحانه و تعالى قديم لا أول لوجوده و يستحيل عليه الحدوث

Allah itu berada tanpa adanya permulaan. Sebagai Dzat yang menciptakan seluruh alam, Allah pasti lebih dulu sebelum ciptaan-Nya. Kebalikannya adalah huduts (Baru) yaitu mustahil Allah itu baru dan memiliki permulaan. Allah itu dahulu tanpa awal, tidak berasal dari ”tidak ada” kemudian menjadi ”ada”.

هُوَ ٱلأَوَّلُ وَٱلآخِرُ وَٱلظَّاهِرُ وَٱلْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Allah berfirman: “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (Al Hadiid: 3)

Allah yaitu Pencipta segala suatu hal. Allah yang menciptakan langit, bumi, dan semua isinya termasuk juga tumbuhan, binatang, serta manusia.

Allah adalah awal. Dia udah ada saat sebelum langit, bumi, tumbuhan, binatang, serta manusia yang lain ada. Tidak mungkin saja Allah itu baru ada atau lahir setelah makhluk yang lain ada.

Hikmah & Atsar: 

Seorang Atheist (kafir) datang pada Imam Abu Hanifah lantas menanyakan: “Tahun berapa Allah itu ada? 
Abu Hanifah menjawab: “Allah ada saat sebelum adanya tahun, tidak berawal dalam wujud-Nya. ”
Orang kafir itu menanyakan lagi: “Berikan pada kami contoh” 
Beliau menjawab: “Angka berapakah sebelum empat?


Ia berkata: “Tiga”
 Abu Hanifah menanyakan lagi : “Angka berapakah sebelum tiga? ”
Ia menjawab : “Dua”
 Abu Hanifah menanyakan lagi: “Angka berapakah sebelum dua? ”
Ia menjawab: “Satu”
 Abu Hanifah bertanya lagi: “Angka berapakah sebelum satu?”


Ia berkata: “Tidak ada suatu hal sebelum angka satu”
 Lalu Abu Hanifah berkata: “Kalau tidak ada suatu hal sebelum satu. Allah itu Esa tidak ada yg mengawali dalam wujudnya.”

Lantas orang kafir itu menanyakan lagi pertanyaan kedua: “Ke mana Allah itu berpaling?” 
Abu Hanifah menjawab: “Kalau anda menyalahkan pelita di tempat yang gelap, kemana sinar pelita itu berpaling? 
Ia menjawab: “Ke tiap penjuru”


Abu Hanifah berkata: “Kalau sinar pelita berpaling ke tiap penjuru, bagaimana perihalnya dengan cahaya Allah, pencipta langit serta bumi.”

Lantas orang kafir itu menanyakan lagi dengan pertanyaan ketiga: “Terangkan pada kami mengenai dzat Allah. Apakah Ia jamad seperti batu, atau cair seperti air, atau Ia berbentuk gas?”
 Abu Hanifah menjawab: “Apakah anda pernah duduk di muka orang yang tengah sakarat?”


Ia menjawab: “Pernah” Abu Hanifah menanyakan: “Apakah ia dapat bercakap sesudah mati?” Ia menjawab: “Tidak bisa” 
Lalu beliau menanyakan lagi: “Apakah ia dapat bicara saat sebelum mati?” Ia menjawab: “Bisa”


Lalu abu Hanifah menanyakan lagi: “Apa yang dapat merobahnya hingga ia mati? ” Ia menjawab: “Keluarnya ruh dari jasadnya” Abu Hanifah mejelaskan: “Oh bila demikian keluarnya ruh dari jasadnya membuatnya ia tidak dapat bicara? 
Ia menjawab: “Betul”


Abu Hanifah menanyakan: “Sekarang, terangkan pada saya bagaimana sifatya ruh, apakah ia jamad seperti batu, atau cair seperti air, atau ia seperti gas? 
Ia menjawab: “Kami tidak tahu sama sekali”


Abu Hanifah menjawab: “Jika ruh sebagai makhluk kamu tidak dapat mensifatkanya, bagaimana kamu mau aku mensifatkan pada kamu zdatnya Allah.

Baqa

البقاء : صفة سلبية لأنها سلبت و نفت الفناء و معناه عدم الآخرية للوجود و معناه في حقه تعالى أنه موجود وجودا مستمرا لا آخر له ، قال الله تعالى { كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلاَّ وَجْهَهُ } و الديل العقلي على ذلك انه لو لم يكن باقيا لجاز عليه العدم و لو جاز عليه العدم لكان حادثا و كونه حادثا محال لأنه قديم و ما ثبت قدمه استحال عدمه فيستحيل عليه ضده و هو الفناء

Baqa’ (kekal) adalah sifat Salbiyah artinya sifat yang mencabut atau menolak adanya kebinasaan wujud Allah. Dalam arti lain bahwa keberadaan Allah itu kekal, berlanjut tidak binasa atau rusak.
Allah adalah Dzat yang Maha Mengatur alam semesta.

Dia selalu ada selama-lamanya dan tidak akan binasa untuk mengatur ciptaan-Nya itu. Hanya kepada-Nya seluruh kehidupan ini akan kembali.

Firman Allah:

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلاَّ وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Al-Qashash: 88).

Adapun sifat mustahilnya Fana, artinya rusak. Seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini, baik itu manusia, binatang, tumbuhan, matahari, bulan, bintang, dan lain-lain, suatu ketika bakal mengalami kerusakan serta kehancuran.

Manusia, betapa pun gagahnya, suatu ketika tentu mati. Tiap orang pastinya akan mati serta hancur dimakan tanah. Hukum kehancuran berlaku cuma untuk manusia, benda serta meteri. Sedangkan Allah bukanlah manusia, benda atau materi.

Dia yaitu Dzat yang tidak terkena hukum kehancuran atau kerusakan. Dia abadi kekal untuk selama lamanya, tidak dapat meninggal dunia atau dibunuh. Bila ada Allah yang dapat meninggal dunia atau dibunuh, itu bukanlah Allah namun manusia biasa.

Sungguh, betapa hina serta lemahnya manusia ini di hadapan Allah. Maka dari itu tidak layak bila ia berbangga diri atau sombong dengan kehebatannya, lantaran segala kehebatan itu pada akhirnya bakal berlalu, yang tersisa hanya amal kebaikan. Sebab segalanya hanyalah titipan.

Alhamdulillah, sampailah kita di akhir pembahasan kali ini, yang mengupas tuntas mengenai Pengertian Tauhid, lengkap dengan ilmu dan macam – macamnya, insya Allah ilmu yang kami bagikan, dapat bermanfaat untuk sahabat yang telah meluangkan waktu untuk membaca.

Terima kasih, dan jangan pernah berhenti membaca, sebab dengan membaca, yang samar akan menjadi jelas, dan tak lagi perlu untuk diterka.

Wassalamu’alaikum. Wr. Wb.

Referensi:
  1. ayundi1456.wordpress.com
  2. pelajaransekolahonline.com
  3. gusdayat.com
29 September 2016

Apa Itu Agama ?


Pengertian Agama. Menurut bahasa Indonesia, agama adalah sebuah sistem yang mengatur keimanan atau kepercayaan dan peribadahan terhadap Tuhan serta kaidah yang berkaitan dengan lingkungan dan pergaulan manusia. Agama bersumber dari bahasa sansekerta yang maknanya “Tradisi”.

Kata lain yang menyatakan konsep ini adalah religi yang bersumber dari bahasa latin yakni religio dan berakar terhadap kata kerja re-ligare yang maknanya adalah “Mengikat kembali.” Artinya bahwa dengan bereligi, maka mengikat dirinya terhadap tuhan.

Definisi Agama

Definisi mengenai agama dipilih dari yang paling sederhana dan yang meliputi. Maksudnya adalah definisi tersebut diharapkan tidak terlalu longgar dan juga tidak terlalu sempit, tetapi bisa dikenakan terhadap agama-agama yang telah di kenal selama ini melalui penyebutan nama-nama tersebut.

Oleh karena itu untuk mengenal sebagai agama-agama maka butuh dicari titik-titik kesamaan dan perbedaannya. Manusia mempunyai kekuatan atau kemampua yang ada batasannya, pengakuan dan kesadaran atas keterbatasan menjadikan keyakinan bahwa terdapat suatu hal yang luar biasa dari luar dirinya.

Sesuatu yang luar biasa tentunya bersumber dari hal yang juga luar biasa. Sumber yang luar biasa tersebut beragam, tergantung pada bahasa manusia itu sendiri. Contohnya, Tuhan, Dewa, Syang-ti, God, Kami-Sama dan lain sebagainya.

Hal tersebut bisa juga menyebutkan sifatnya saja seperti Yang Maha Kuasa, De Weldadige, Ingkang Murbeng Dumadi dan lain sebagainya.

Keyakinan tersebut mengantar manusia untuk mendekat kepada Tuhan dengan menghambakan dirinya, yakni:

Menerima seluruh ketetapan atau kepastian yang menimpa dirinya dan lingkungannya bersumber dari Tuhan.Taat atas segala ketetapan, hukum, aturan dan lainnya yang diyakini bersumber dari Tuhan.

Dengan seperti itu di dapatlah keterangan atau pengertia yang jelas bahwasanya agama adalah penghambaan manusia terhadap Tuhannya. Di dalam pengertian agama ada tiga unsur, yakni manusia, penghambaan dan Tuhan. Oleh karena itu suatu paham maupun ajaran yang merupakan ketiga unsur pokok tersebut bisa disebut agama.

Definisi Agama Menurut Para Ahli

Para ahli membedakan agama baik sebagai agama universal yang mencari penerimaan di penjuru dunia dan aktif mencari anggota yang baru, agama atau etnis dimaknai sebagai kelompok etnis tertentu dan tanpa mencari orang baru untuk bertaubat dari agamanya.

Selain itu menolak perbedaan, menunjukkan bahwa setiap praktek agama apapun mereka haruslah berfilosofi.

Pad abad ke 19 dan ke 20, praktek akademik dari perbandingan sebuah agama membagi keyakinan agama ke kategori yang dimaknai secara filosofis disebut “Agama-agama dunia”. Akan tetapi para sarjana akhir-akhir ini berpendapat bahwa tidaklah setiap agama harus dipisahkan oleh eksklusif dan filosofis.

Terlebih lagi bahwa utilitas menganggap praktek untuk filsafat tertentu, bahkan merujuk kapada praktek-praktek agama tertentu. Sosial di alam dan tidak budaya, politik, yang terbatas.

Berikut akademis yang mengajarkan tentang subjek yang membagi agama atas tiga kategori:

  • Agama-agama dunia, yakni istilah yang mengarah pada suatu yang transkultural.
  • Agama pribumi, yakni istilah yang mengarah kepada sesuatu yang lebih kecil, budaya atau kelompok agama tertentu. 

Gerakan keagamaan baru, yakni sesuatu yang mengacu pada agama yang baru dikembangkan.

Fungsi Agama Terhadap Kehidupan

Terdapat beberapa sebab mengapa agama sangat penting terhadap kehidupan manusia, diantaranya sebagai berikut:

  • Karena agama termasuk pokok atau dasar moral.
  • Karena agama termasuk petunjuk sebuah kebenaran.
  • Karena agama termasuk dasar informasi mengenai masalah metafisika.
  • Karena agama adalah suatu bimbingan ruh terhadap manusia baik suka maupun duka.

Semenjak manusia lahir ke dunia dalam keadaan tak berdaya dan lemah serta tidak tahu apapun. (Q.S. An Nahl: 78)

Allah mengeluarkan manusia dari rahim ibunya dalam kondisi tidak mengetahui suatu apapun. Dia menciptakan untukmu penglihatan, pendengaran serta hati. Akan tetapi tidak banyak diantara mereka yang bersyukur.

Dalam kondisi seperti itu, manusia selalu dipengaruhi berbagai macam rayuan serta godaan, rayuan tersebut datang dari dalam maupun dari luar diri manusia. Terdapat dua bentuk rayuan pada manusia, yakni:

Rayuan yang mengantarkan manusia ke dalam sebuah kebaikan. Hal ini sesuai dengan istilah Al Ghazali di dalam bukunya Ihya Ulumuddin atau disebut dengan malak Al Hidayah, yakni energi yang menyeret atau menarik manusia kepada suatu hidayah.

Rayuan yang mengantarkan manusia kepada sebuah kejahatan, dalam bukunya Al Ghazali disebut dengan Malak Al Ghiwayah, yakni energi yang berusaha mengantarkan manusia ke sebuah kejahatan. Maka dari sinilah tata letak fungsi agama dalam suatu kehidupan manusia. Kesimpulnya adalah membawa manusia ke jalan kebaikan dan menghindarkan dari jalan keburukan.