Showing posts with label Drama. Show all posts
Showing posts with label Drama. Show all posts
06 June 2016

Pengertian Drama, Sejarah Dan Jenis Jenis Drama

Pengertian Drama, Sejarah Dan Jenis Jenis Drama 


Drama datang dari kata Yunani, draomai yang berarti berbuat, bertindak, bereaksi, dan sebagainya. Jadi, kata drama bisa disimpulkan sebagai perbuatan atau tindakan. Seraca umum, pengertian drama adalah karya sastra yang ditulis dalam bentuk dialog dengan maksud dipertunjukkan oleh aktor. Pementasan naskah drama dikenal dengan makna teater. Dapat dijelaskan kalau drama berupa cerita yang diperagakan beberapa pemain di panggung. Setelah itu, dalam artian kita saat ini, yang dimaksud drama yakni cerita yang diperagakan di panggung berdasar pada naskah. Umumnya, drama mempunyai dua arti, yaitu drama dalam arti luas dan drama dalam arti sempit. Dalam arti luas, pengertian drama yaitu semua bentuk tontonan yang mengandung narasi yang ditampilkan di depan orang banyak. Dalam arti sempit, pengertian drama yakni cerita hidup manusia dalam masyarakat yang diproyeksikan ke atas panggung. 

Sejarah drama sebagai tontonan sudah ada sejak jaman dahulu. Nenek moyang kita sudah memainkan drama sejak ribuan tahun yang lalu. Bukti tertulis yang dapat dipertanggung jawabkan mengungkapkan bahwa drama sudah ada sejak abad ke-5 SM. Hal ini didasarkan temuan naskah drama kuno di Yunani. Penulisnya Aeschylus yang hidup antara tahun 525-456 SM. Isi lakonnya berupa persembahan untuk memohon kepada dewa-dewa. Sejarah lahirnya drama di Indonesia tidak jauh berbeda dengan kelahiran drama di Yunani. Kehadiran drama di negara kita juga diawali dengan adanya upacara keagamaan yang diselenggarakan oleh para pemuka agama. Intinya, mereka mengucapkan mantra serta doa. 

Ada beberapa jenis drama tergantung dasar yang digunakannya. Dalam pembagian jenis drama, biasanya digunakan tiga dasar, yaitu : berdasarkan penyajian lakon drama, berdasarkan fasilitas, serta berdasarkan kehadiran naskah drama. Berdasarkan penyajian lakon, drama dapat dibedakan menjadi delapan jenis, yakni : 
  • Tragedi : drama yang penuh dengan kesedihan 
  • Komedi : drama penggeli hati yang penuh dengan kelucuan. 
  • Tragekomedi : perpaduan antara drama tragedi dan komedi. 
  • Opera : drama yang dialognya dinyanyikan dengan diiringi musik. 
  • Melodrama : drama yang dialognya diucapkan dengan diiringi melodi/musik. 
  • Farce : drama yang menyerupai dagelan, tetapi tidak sepenuhnya dagelan. 
  • Tablo : jenis drama yang mengutamakan gerak, para pemainnya tidak mengucapkan dialog, tetapi hanya melakukan gerakan-gerakan. 
  • Sendratari : gabungan antara seni drama dan seni tari. 
Berdasarkan sarana pementasannya, pembagian jenis jenis drama dibagi antara lain : 
  • Drama Panggung : drama yang dimainkan oleh para aktor dipanggung. 
  • Drama Radio : drama radio tidak dapat di lihat dan diraba, tetapi hanya dapat didengarkan oleh penikmat. 
  • Drama Televisi : hampir sama dengan drama panggung, hanya bedanya drama televisi tidak dapat diraba. 
  • Drama Film : drama film menggunakan layar lebar dan biasanya dipertunjukkan di bioskop. 
  • Drama Wayang : drama yang diiringi pegelaran wayang. 
  • Drama Boneka : para tokoh drama digambarkan dengan boneka yang dimainkan oleh beberapa orang. 
Jenis drama selanjutnya yaitu, berdasarkan ada atau tidaknya naskah drama. Pembagian jenis drama berdasarkan ini, diantaranya : 
  •  Drama Tradisional : tontonan drama yang tidak menggunakan naskah. 
  •  Drama Modern : tontonan drama menggunakan naskah.
17 May 2015
Pengertian Resensi dan Penjelasan Lengkap

Pengertian Resensi dan Penjelasan Lengkap

Pengertian Resensi dan Penjelasan Lengkap - Resensi merupakan kata yang berasal dari bahasa Belanda yaitu “resentie” dan juga bahasa Latin recensio yang berarti mengulas kembali. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), resensi adalah mempertimbangkan, pengulasan, penilaian sebuah buku. Seorang ahli bahasa, Gorys Keraf mendefinisikan resensi sebagai tulisan yang berisi tentang ulasan atau penilaian terhadap suatu karya tulis atau buku Oleh karena itu, resensi lebih dikenal dengan istilah ulasan atau bedah buku. Hal ini karena memang dalam resensi senantiasa mengulas sebuah buku baik buku fiksi atau nonfiksi, dari sudut pandang penilai (pembuat resensi) dengan berbagai norma-norma atau nilai – nilai yang ada. Resensi termasuk tulisan ilmiah yang memaparkan baik (keunggulan) dan buruk (kelemahan) suatu buku. Melalui resensi para pembaca dapat mengetahui isi suatu buku secara umum. Sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi pembaca untuk mengacu bacaan. Penulisan resensi dilakukan oleh orang yang mengerti tentang hal-hal yang terkait dengan isi buku tersebut serta paham dengan nilai- nilai atau norma- norma kebenaran yang ada. 

Seperti halnya menulis karya tulis, menulis resensi memiliki tujuan, manfaat, dan aturan- aturan. Berikut uraiannya.

1. Tujuan Menulis Resensi


Menurut Gorys Keraf, penulisan resensi bertujuan untuk menginformasikan kepada masyarakat mengenai suatu karya tulis ditinjau dari segi keunggulan serta kelemahan. 
Dengan demikian masyarakat (pembaca) akan mengetahui isi buku tersebut dan akan mengambil keputusan untuk mengapresiasikannya atau tidak. Sedangkan menurut Daniel Samad, menulis resensi bertujuan untuk:

a. Mengungkapkan informasi mengenai isi buku
b. Mengajak masyarakat (pembaca) untuk terlibat dalam menilai, merenungkan, memikirkan problematika yang ada di dalam buku
c. Memberikan pandangan kepada pembaca mengenai isi buku sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan dan dapat menjawab pertanyaan – pertanyaan yang muncul mengenai buku tersebut

2. Manfaat Penulisan Resensi


Menulis resensi dapatmemberikan banyak manfaat terutama bagi pembaca. Manfaat yang dapat diberikan antara lain:

a. Menjadi bahan pertimbangan para pembaca yang sedang membutuhkanbuku tersebut
b. Bagi penulis resensi dapat menjadi tambahan nilai ekonomi karena biasanya yang diminta untuk membuat resensi buku bukan sembarang orang, dan tentunya akan mendapat imbalan yang sesuai.
c. Bagi penulis buku, resensi dapat menjadi sarana promosi buku tersebut serta menjadi sarana  pengembang kreativitas penulis untuk menghasilkan karya –karya yang lebih baik lagi. 

Resensi dibuat untuk mengulas sebuah buku baik fiksi ataupun nonfiksi. Melalui resensi maka kita dapat mengetahui apakah buku tersebut layak atau tidak mendapat sambutan bagi pembaca. Selain itu, resensi dapat dijadikan ajang memperkenalkan buku atau karya tulis yang baru diterbitkan. Hanya orang tertentu saja yang dapat melakukan ulasan sebuah buku. Brotowijoyo menungkapkan bahwa terdapat tiga syarat utama bagi seseorang yang dapat mengulas resensi, antara lain:

1. Memiliki pengetahuan dari sudut bidang buku yang di tulis

Seorang yang diminta meresensi buku adalah ia yang ahli dibidangnya. Misal, seorang diminta untuk merensi buku biologi terbaru maka ahli biologilah yang harusnya mengulas buku tersebut. Begitu juga apabila seseorang diminta untuk mengulas buku fiksi seperti novel, maka ia memiliki pengetahuan yang cukup mengenai bidang sastra. Resensi merupakan ulasan mengenai suatu karya, oleh karena itu harus dibuat oleh orang – orang yang mengerti di bidangnya. 

Advertisement
2. Memiliki kemampuan analisis

Kemampuan analisis juga perlu dimiliki oleh peresensi buku. Pengulasan unsur- unsur yang terdapat pada karya fiksi dinilai patut atau tidak untuk dibaca, apa yang terkandung di dalamnya dan lain- lain. 

3. Mengetahui karya sejenis

Seorang yang memang dikenal mahir dalam bidangnya tentu mengetahui perkembangan karya tulis. Sehingga ketika diminta menjadi untuk meresensi buku akan dnegan mudahnya mengulas buku tersebt dan membandingkan dengan karya- karya terdahuu yang sejenis. 

Karena resensi adalah tulisan ilmiah, maka terdapat beberapa aturan/ sistematika penulisan yang mana memiliki unsur- unsur berikut:

1. Judul resensi 

Menggambarkan isi ulasan buku secara umum. Pemberian judul cukup dengan kata atau kalimat yang lugas, singkat, dan tidak menimbulkan makna ganda yang memicu salah penafsiran.

2. Identitas buku, 

Pada bagian mengungkapkan identitas buku, meliputi judul buku, penulis, penerbit, edisi, ketebalan, dan lainnya. 

3. Ikhtisar buku

Menguraikan peride pokok pada tiap-tiap bab secara umum. Dapat diartikan bahwa bagian ini merupakan bagian ringkasan buku.

4. Kepengarangan

Bagian ini mengungkapkan tentang si pengarang atau penulis, mulai dari karya apa saja yang telah dibuat, prestasi dan lain –lain.

5. Kelemahan dan keunggulan

Di ending tulisan resensi mengungkapkan keungulan dan kelemahan buku dilihat dari berbagai aspek seperti kontent, missconseption, unsur – unsur instrinsik –ekstrinsik (buku fiksi ) dan lainnya. Dibagian ini merupakan bagian penting, karena penulis akan membuat keputusan yang dapat dijdikn acuan mengenai buku tersebut layak atau tidak mendapat sambutan para pembaca. 
03 May 2015
Unsur-Unsur Drama (Intrinsik dan Ekstrinsik) Lengkap

Unsur-Unsur Drama (Intrinsik dan Ekstrinsik) Lengkap

Unsur-Unsur Drama (Intrinsik dan Ekstrinsik) - Drama merupakan seni pertunjukkan yang mementaskan aksi peran baik di atas panggung (live) atau dapat pula non panggung (melalui media televisi, bioskop, dan lain- lain). Perkembangan dunia seni peran kian semakin beragam seiring dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Drama disajikan bertujuan untuk menghibur penonton serta memberikan nasehat-nasehat atau contoh moral yang disampaikan melalui serangkaian adegan demi adegan dari sebuah drama. Drama yang dimainkan dapat merupakan suatu kisah masa lalu (sejarah) yang sengaja dimainkan biasaya untuk mengenang suatu peristiwa penting di masa lalu. Selain itu, drama dapat berupa cerita fiksi atau cerita yang tidak nyata, buah hasil pemikir dari si pengarang cerita atau sutradara. Untuk menciptakan suatu pertunjukkan yang apik, ada unsur- unsur penting yang harus diperhatikan dalam drama. Hal ini bertujuan untuk menciptakan suatu cerita yang apik, yang mampu membawa penonton larut dalam setiap scene yang dimainkan oleh aktor – aktrisnya. Unsur- unsur yang harus diperhatikan dalam drama yaitu:

 

1. Unsur intrinsik


Unsur instrinsik ialah unsur yang membangun suatu drama. Dapat dikatakan, unsur ini ialah komponen yang terdapat di dalam suatu drama. Bagan- bagian yang membangun suatu drama.

Adapun komponen- komponen yang membangun suatu drama yang dikatakan sebagai unsur instrinsik ialah:

a. Judul

Judul merupakan nama suatu drama, atau hal apapun. Dalam karya seni, judul memiliki peranan penting yang dapat menunjukkan isi cerita secara singkat. Selain itu, dengan melihat judul, kita akan mengetahui beberapa hal atau jalan cerita dari suatu drama. Judul dapat menunjukkan siapa tokoh utama dalam drama tersebut, alur cerita, dan sebagainya.

Sebagai contoh suatu drama berjudul “si manis jembatan ancol”, dari judul drama tersebut kita dapat mengetahui tokoh utama dalam tersebut ialah “si manis” penghuni jembatan ancol.

Setidaknya, dari judul mampu  membuat penasaran (red: rasa ketertarikan) penonton meningkat. Oleh karena itu, judul merupakan unsur kunci dalam suatu drama atau seni ainnya (buku, novel, dan lain-lain).

b. Tema

Tema merupakan keseluruhan dari cerita yang dibuat tema adalah ide pokok yang menjadi dasar atau pokok utama dari drama. Dapat dikatakan tema sebagai “akar” pada suatu drama. Dengan bertolakkan dari tema, unsur-unsur instrinsik drama dikembangkan dan dikarang sedemikian rupa mengikuti tema yang telah ditentukan, seperti alur, pertokohan, latar, gaya bahasa, judul, dan lainya.

c. Plot

Plot atau Alur disebut juga sebagai jalan cerita yang disusun sedemikian rupa dari tahapan-tahaapan peristiwa sehingga membentuk rangkaian cerita. Tahapan-tahapan dalam alur meliputi

- tahapan awal, pada tahapan awal ini merupakan tahapan pengenalan tokoh- tokoh cerita serta perwatakan, latar, dan lain sebaginya.
- pemunculan konflik, tahap selanjutnya penonton diajak pada pengenalan konflik. Pada tahap ini, konflik yang merupakan bumbu agar suatu drama lebih menarik akan terjadi. Konflik- konflik ini tentunya melibatkan semua pemain (tokoh). Dalam tahap ini pula penonton akan mengenal alur dari cerita yang dibuat.
- komplikasi, tahap komplikasi atau tahap peningkatan konflik, semaki banyak insiden-insiden terjadi. Beberapa konflik pendukung akan terjadi untuk menguatkan konflik utama pada alur cerita.
- Klimaks, merupakan tahapan puncak dari konflik yang ada. Ditahapan ini merupakan tahap puncak dari ketegangan yang terjadi mulai dari awal cerita.
- Resolusi, merupakan tahap yang menujukan jalan keluar dari setiap konflik yang ada. Teka teki pada setiap konflik yang terjadi pada awal- awal cerita akan terungkap pada tahap ini. Sering kali, perwatakan yang aseli dari setiap tokoh akan muncul di tahapan ini. 
- Akhir, pada tahap ini adalahbagian the ending of the story, dalam tahap ini semua konfiks telah terpecahkan dan merupakan akhir dari cerita.

Macam-macam plot dalam suatu cerita yaitu:

- Alur maju (prograsif), set cerita berjalan maju, mulai dari masa kini ke masa yang akan datang.
- Alur mundur (regreasif), kebalikan dari alur progresif. Set cerita berjalan mundur, yang mana masa kini adalah sebuah hasil dari konflik-konflik yang terjadi pada masa lalu.
- Alur campuran, alur cerita yang mencampurkan masa kini dengan masa lalu dan juga dengan masa depan. Di sebut juga alur bolak- balik. Cerita dengan alur ini mengungkakpakn konflik yang belum selesai dari masa lalu, masa sekarang, dan penyelesaian di masa depan. Saling terkait satu sama lain.

Advertisement
d. Tokoh cerita/ perwatakan

Tokoh cerita meriupakan individu- individuyang memainkan peran, terlibat dalam cerita atau konflik pada sebuah drma. Macam-macam tokoh dalam sebuah cerita:

- Berdasarkan peran: tokoh utama (central) merupakan tokoh yang dikuatkan atau tokoh utama dalam sebuah cerita atau drama. Sedangkan tokoh tambahan (figuran) merupakan tokoh yang membantu atau mendukung cerita. Dalam cerita, dapat memiliki beberapa tokoh utama, yang dapat dikenali dengan sering munculnya dalam cerita. Sedangkan tokoh figuran hanya muncul beberapa scene, kehadirannya hanya untuk menunjang cerita dari tokoh utama.
- Berdasarkan watak, tokoh antagonis adalah tokoh yang digambarkan sebagai sosok yang penuh keliciikan, jahat dan penyebab munculnya suatu konflik. Sedangkan tokoh protagonis, merupakan tokoh yang mengalami konflik bersama tokoh antagonis.
- Berdasarkan perkembangan, tokoh statis yaitu tokoh yang relative tetp tidak megalami perubahan dari mulai cerita sampai akhir. Sedangkan tokoh yang berkembang ialah tokoh yang mengalami perubahan seiring dengan konflik- konflik yang terjadi pada alur cerita.

e. Dialog

Dialog merupakan serangkaian percakapan dalam cerita. Teknik dialog amat penting bagi sebuah cerita. Masign-masing tokoh sangat dikuatkan denga dialog yang diucapkan serta gaya atau mimik wajah.

f. Konflik

Konflik merupakan masalah, pertikaian, pertentangan yang terjadi pada suatu drama. Konflik ini dialami oleh tokoh utama dengan dibantu oleh tokoh-tokoh penunjang. Setiap drama atau cerita memliki konflik yang berbeda- beda. Konflik sebuah drama akan menambah ketertarikan para penonton. Bahkan sebaiknya mampu mengajak penonton seolah-olah larut dalam pertikaian yang terjadi antar tokoh (red: merasakan). Konflik antar tokoh menyimpan teka-teki yang membuat penonton semakin pensaran dengan kelanjutan cerita dan bagaimana endingnya.

g. Latar atau setting

Merupakan tempat terjadinya setiap peristiwa yang berlangsung dalam alur cerita. Tak hanya itu, latar mencakup peralatan, waktu, pakaian, budaya, serta yang berhubungan dengan kehidupan para tokoh dalam cerita. 

h. Amanat

Tentu dalam sebuah cerita ingin menyampaikan sebuah pesan-pesan moral kepada penonton. Amanat ini disampaikan secara tersirat artinya tidak tertulis dalam naskah namun dapat diambil hikmah dari alur, konflik cerita. Ini merupakan bagian amat penting dan tidak boleh dilupakan dalam sebuah drama.

i. Bahasa

Bahasa yang digunakan dalam sebuah drama memiliki kekhasan yang mengacu pada budaya, kehidupan sehari-hari, sosial budaya, serta pendidikan. Bahasa digunakan untuk menghidupkan cerita, agar cerita senantiasa komunikatif.

 

2. Unsur ekstrinsik


Merupakan unsur yang datang dari luar namun mempengaruhi sebuah cerita yang disajikan. Artinya, unsur-unsur ekstrinsik tidak terlibat pada jalannya certa, namun keberadaan unsur ini sangat mempengaruhi perkembangan sebuah cerita. Oleh karena itu, dapat dijumpai kasus sebuah drama yang terbengkalai dikarenakan oleh faktor ini. Yang termasuk unsur ekstrinsik sebuah drama yaitu:

- Faktor ekonomi,
- Faktor politik
- Faktor sosial- budaya
- Faktor pendidikan
- Faktor kesehatan
- Faktor psikologis pemain dan kru
- Kebijakan pemerintah, dan lain sebagainya.