Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia

Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia
Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia
Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia. Pengertian Kolonialisme dan Imperialisme, Fungsi Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia, Pengaruh Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia, dan Perbedaan antara Kolonialisme dan Imperialisme.

Pengertian Kolonialisme serta Imperialisme 

Sumber: 4shareips.blogspot.co.id
Secara etimologi, kolonialisme barasal dari kata colunus (colonia) yang memiliki arti menguasai. Jadi arti kolonialisme yaitu sebuah usaha yang dilakukan oleh sebuah bangsa untuk menguasai bangsa yang lain di luar dari wilayahnya sendiri.

Banyak maksud bangsa-bangsa barat melakukan kolonialisme, yakni mau mencari dominasi kapabilitas baik itu dari sisi ekonomi, sumber daya alam, sumber daya manusia, ataupun politik. Ditambah lagi, sebuah asumsi yang sudah sangat berkembang yang berasumsi kalau bangsa yang melakukan kolonisasi lebih baik dari bangsa yang dikolonikan.

Sedangkan imperialisme secara etimologi datang dari kata “imperare” yang memiliki arti memerintah. Oleh karenanya, pengertian dari imperialisme yakni sebuah usaha yang dilakukan oleh sebuah bangsa untuk memerintah bangsa lain di luar dari wilayahnya sendiri. Imperialisme digerakkan dengan penuh paksaan untuk mencapai maksud bangsa yang melakukannya.

Maka, antara kolonialisme serta imperialism mempunyai hubungan yang sangat erat. Bangsa-bangsa Barat datang ke Indonesia mau melakukan kolonialisme serta imperialisme cuma untuk mencapai maksud dari bangsa itu sendiri, tanpa mementingkan masyarakat pribumi.

Secara umum, kolonialisme serta imperialisme yang dilakukan bangsa Barat di Indonesia dilandasi oleh beberapa hal, yakni mencari kekayaan sebanyak mungkin (gold), menyebarkan paham atau agama mereka (gospel), serta mencari kejayaan serta kedaulatan (glory).

Dengan dasar itulah, bangsa-bangsa Barat melakukan aktivitas kolonialisme serta imperialismenya di seluruh penjuru dunia.

Proses Masuknya Kolonialisme serta Imperialisme di Indonesia 

Sumber: akce.eu
Revolusi industry yang terjadi di Eropa mendorong bangsa-bangsa Eropa untuk melakukan penjelajahan samudera dengan maksud mendapatkan bangsa jajahan. Pada awal kehadirannya, bangsa Eropa berteman dengan masyarakat pribumi dengan mengenalkan diri sebagai pedagang yang mau melakukan perdagangan di Indonesai secara bersama-sama dengan pedagang pribumi.

Akan tetapi, makin lama, beberapa pedagang Eropa sukses menguasai praktek perdagangan di Indonesia serta melakukan eksploitasi secara besar-besaran di Indonesia.

Latar Belakang Kehadiran Bangsa Barat di Indonesia 

Sumber: ardiyansarutobi.blogspot.co.id
Bangsa barat datang serta masuk ke Indonesia mempunyai beberapa latar belakang yang mendorong keinginan untuk merebut, menguasai, serta memerintah bangsa Indonesia. Salah satunya yaitu terjadinya Perang Salib pada tahun 1070-1291.

Perang ini melibatkan bangsa Eropa yang berlatar belakang beragama Kristen bertemu dengan kekhalifahan turki Utsmani yang beragama Islam. Akibat dari perang ini, pasukan dari Eropa mengalami kekalahan, hingga kota Konstantinopel (Byzantium) sukses diambil oleh pasukan muslim.

Yang menyebabkan Sultan Mahmud II yang menguasa Turki Utsmani pada saat itu menutup pelabuhan Konstantinopel untuk bangsa Eropa. Hal semacam itu menyebabkan beberapa orang Eropa ada problem untuk mendapatkan hasil alam berbentuk rempah-rempah.

Bersumber pada hal semacam itu, bangsa-bangsa Eropa melakukan perjalanan untuk ke seluruh penjuru dunia untuk menemukan daerah penghasil rempah-rempah. Indonesia yang notabene adalah daerah penghasil rempah-rempah, tidak luput dari invasi mereka.

Mereka juga membawa misi lain yakni gold, gospel, and glory di dalam perjalannya. Ditambah oleh karena adanya semangat reqonguesta yang memiliki arti semangat pembalasan pada golongan muslim di manapun berada. Semangat-semangat itu yang menjadikan bangsa Eropa berani melakukan kolonialisme serta imperialism di Indonesia.

Bangsa Eropa yang Melakukan Kolonialisme serta Imperialisme 

Sumber: pustakanasional.blogspot.co.id
Tercatat, ada 3 bangsa besar yang terlebih dulu melakukan aktivitas kolonialisme serta imperialism di Indonesia. Ketiga bangsa itu adalah Portugis, Spanyol, Inggris serta Belanda.

Bangsa portugis mengawali penjajahan dengan diadakannya perjalanan seorang Portugis yang bernama Bartholomeu Diaz (1450-1500), dia sukses mengarungi samudra sampai ke Benua Afrika (Tanjung Harapan) pada tahun 1486.

Kemudian, ada pula Vasco da Gama (1469-1524) yang sukses mendarat di Calkuta India pada 22 Mei 1498. Lantas, ada juga Alfonso d’ Albuquerque (1453-1515) yang sukses mendarat di Malaka serta merebutnya pada tahun 1511.

Tidak hanya bangsa portugis, ada juga bangsa Spanyol yang juga melakukan perjalanan ke seluruh penjuru dunia dengan maksud yang sama.

Bangsa Spanyol mengawali kolonialisme dari seorang Christopher Columbus (1451-1506), dia bersama dengan Amerigo Vespucci sukses menemukan Benua Amerika. Lantas, ada Ferdinand Magelhaens (1519-1521) yang melakukan ekspedisi sampai ke Kepulauan Filipina pada tahun 1920.

Selanjtnya ada juga Ferdinand Cortez yang sukses masuk serta merebut dan menempati Mexico tahun 1519 dengan mengalahkan suku Indian yakni Kerajaan Aztec serta suku Maya di Yucatan. Yang paling akhir, ada Pizzaro yang sukses mengalahkan kerajaan Indian di Peru yakni suku Inca pada tahun 1530.

Setelah bangsa Spanyol, diikuti dengan bangsa Inggris. Bangsa Inggris melakukan invasi ditandai dengan kehadiran beberapa tokoh penjajah berkebangsaan Inggris. Mereka adalah Sir Francis Drake (1577-1580) yang melakukan pelayaran keliling dunia sampai memborong rempah-rempah di Indonesia tepatnya di daerah Ternate.

Lantas, ada Pilgrim Fathers yang melakukan pelayaran pada tahun 1607 sampai mendarat di Amerika Utara. Setelah itu, ada Sir James Lancester yang sukses mendarat di Aceh serta Penang pada tahun 1591, dilanjutkan dengan invasi pada tahun 1602 ke Banten.

Lantas ada juga Sir Henry Middleton, pada tahun 1604 sukses mendarat di Ternate, Tidore, Ambon serta Banda.

William Dampier yang pada tahun 1688 sukses mendarat di Australia lantas meneruskan pelayaran dengan menelusuri pantai ke arah Utara. James Cook pada tahun 1770 sukses mendarat di Pantai Timur Australia hingga diklaim sebagai penemu Benua Australia.

Paling akhir, bangsa Eropa yang masuk ke Indonesia adalah bangsa Belanda yang ditandai dengan Barentz, pada tahun 1594 mencari daerah Timur (Asia) lewat jalur lain yakni ke Utara. Cornelis de Houtman, pada tahun 1596 sukses mendarat di Banten. Serta Jacob van Neck yang sukses mendarat di Banten pada 28 November 1598 serta sukses mendapatkan rempah-rempah yang banyak.

Belanda juga membentuk kongsi dagang yang bernama Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC). VOC dibentuk oleh pemerintah Belanda dengan maksud untuk memonopoli perdagangan di Indonesia, dan untuk menghindari perselisihan diantara pedagang dari Belanda sendiri. VOC mendapatkan beberapa hak istimewa yang didapatkan dari pemerintah Belanda. Hak-hak itu adalah:
  • The right of trade monopoly (hak memonopoli dagang) 
  • The right to haves armed forces and build forts (hak untuk mempunyai kemampuan tentara sendiri serta membangun benteng-benteng) 
  • The right to make agreements with local aothorities or kings (hak untuk membuat kesepakatan hubungan kerja langsung dengan kekuasaan di lokasi itu). 
  • The right to have its own currency (hak untuk mempunyai mata uang sendiri) 
Keempat hak istimewa yang didapatkan dari pemerintah Belanda ini membuat pedagang-pedagang Belanda di Indonesia mulai melakukan monopoli dan melakukan penjajahan pada pedagang atau masyarakat pribumi. Kehadiran dari pada VOC yang selalu menguat serta melakukan penguasaan di Indonesia membuat bangsa Portugis takluk serta pergi dari Indonesia.

Kebijakan Pemerintah Kolonial yang Berpengaruh Pada Kehidupan Rakyat Indonesia 

Sumber: azanulahyan.blogspot.co.id

Masa-masa Pemerintahan Herman Willem Daendels (1808-1811) 

Mulai sejak tahun 1906, Belanda diperintah oleh orang Perancis yang bernama Napoleon Bonaparte. Automatis, Belanda adalah sekutu dari Perancis. Di Eropa, Inggris adalah musuh besar untuk bangsa perancis.

Oleh karena itu, raja Napoleon Bonaparte menunjuk seorang Gubernur Jenderal untuk memerintah di Indonesia. Hal semacam ini, lantaran dengan dikuasainya lokasi Indonesia, lokasi kekuasaan perancis akan jadi bertambah kuat.

Dan, karenanya, Raja Napoleon memberi pekerjaan pada Herman Willem Daendels untuk memperkuat serta menpertahankan kekuasaan di Indonesai dari serangan Inggris, mengumpulkan uang sebanyak mungkin untuk biaya perang melawan Inggris, serta melakukan perbaikan keadaan keuangan pemerintah yang sudah kosong.

Dengan ditunjuknya Daendels, dia bergerak cepat dengan merekrut tentara, membangun benteng-benteng pertahanan, membangun pabrik mesiu/senjata di Semarang serta Surabaya, medirikan rumah sakit tentara, membuat jalan dari Anyer hingga ke Panarukan.

Yang keseluruhannya berjarak 1100 km, membangun pelabuhan di Anyer serta Ujung Kulon, dan mengubah sistem pemerintahan dari gaya kerajaan jadi sitem pemerintaha yang berlaku di Eropa, di mana Pulau Jawa dabgai jadi sembilan lokasi yang disebut dengan perfektur. Tiap perfektur dipimpin oleh seorang residen, yang mana satu orang residen membawahi beberapa orang bupati.

Di bawah kekuasaannya, Daendels berlaku sangat keras serta disiplin, hingga dia sangat dibenci baik itu oleh golongan pribumi ataupun penguasa yang ada di bawah pimpinannya. Ditambah dengan sistem kerja rodi yang diaplikasikan pada beberapa pekerja, membuat rencana perlawanan terhadapnya mulai bermunculan di beberapa lokasi di Indonesia.

Berita ini terdengar oleh Daendels, hingga ia membutuhkan banyak uang untuk melakukan perlawanan. Dengan strateginya yang menjual tanah Negara pada pihak swasta asing (pembelian tanah disertai penguasaan rakyat yang ada di atasnya), dia dipanggil kembali oleh raja napoleon Bonaparte serta digantikan oleh Jan Willem Jansnsen.

Masa-masa Pemerintahan Jan Willem Janssen (1811) 

Setelah masa-masa pemerintahan Herman Willem Daendels selesai serta diperintahkannya Jan Willem Janssen jadi Gubernur Jenderal di Indonesia, dampak Belanda serta Perancis perlahan mulai surut. Itu disebabkan pola pemerintahan pada mas ini kurang taktis serta amat lemah, hingga Jan Willem Janssen menyerah pada Inggris.

Hal semacam ini berawal ketika Inggris menyerang Indonesia, Jan Willem Janssen tidak bisa berbuat banyak. Maka diapun menyepakati kesepakatan yang diberi nama “perjanjian Kapitulasi Tuntang” pada tahun 1811. Isi kesepakatan ini salah satunya militer Belanda yang ada di Asia Timur jatuh ke tangan militer Inggris.

Lantas, utang pemerintah Belanda juga tidak disadari oleh Inggris. Ditambah dengan lokasi Pulau Jawa serta Madura dan seluruh pelabuhan punya Belanda di lokasi kekuasaannya jadi seutuhnya hak milik Inggris. oleh karena itu, Indonesia seutuhnya jatuh ke tangan penjajahan Inggris yang dipimpin oleh seorang Gubernur Jenderal bernama Thomas Stamford Raffless.

Masa-masa Pemerintahan Thomas Stamford Raffless 

Terjadi ketidaksamaan yang snagat mencolok di antara masa-masa pemerintahan yang dipimpin oleh Belanda dengan sistem pemerintahan yang di pimpin oleh Inggris. Pada masa-masa Thomas Stamford Raffless, dia menghapuskan beberapa kebijakan yang di buat oleh Daendel dalam sisi ekonomi. Di antara kebijakannya yakni:
  • Penghilangan sistem penyerahan beberapa hasil bumi pada masa-masa Belanda (contingenten) jadi sistem sewa tanah (landrente). 
  • Penghilangan sistem kerja rodi 
  • Penghilangan sistem monopoli 
  • Penghilangan pajak serta sistem wajib menyerahkan beberapa hasil bumi 
Dari sisi sistem pemerintahan, pada masa-masa Thomas Stamford Rffless tidak banyak mengalami perubahan dari masa-masa Daendels. Pulau Jawa tetap dibagi jadi 16 keresidenan yang dipimpin oleh para bupati. Namun, pada masa-masa Thomas, sudah dibentuk sistem pengadilan bersumber pada pengadilan di Inggris di setiap keresidenan.

Tetapi, menyerahnya Napoleon Bonaparte pada Inggris pada tahun 1814 membuat Belanda lepas dari Perancis. Karena itu, Belanda serta Inggris membuat satu kesepakatan berbentuk “Convention of London” yang berisi penyerahan kembali daerah kekuasaan Belanda yang dulunya pernah diambil oleh Inggris pada Belanda.

Termasuk satu diantaranya Indonesia. mulai sejak tanggal 19 Agustus 1816, terjadi penyerahan kekuasaan Hindia Belanda pada pemerintah Belanda di Batavia, di mana pihak Inggris diwakili oleh John Fendall serta Belanda oleh Mr. Ellout, van der Capellen, serta Buyskeys. Dengan dtekennya kesepakatan ini, secara resmi, lokasi Indonesia jatuh kembali pada tangan Belanda.

Masa-masa Pemerintahan Van Den Bosch 

Setelah pemerintah Belanda menguasai Indonesia, ditunjuklah Van Den Bosch sebagai Gubernur Jenderal di Indonesia oleh pemerintah Belanda. Van Den Bosch membuat beberapa kebijakan yang snagat merugikan Indonesia.

Dia membuat sistem tanam paksa, yakni kewajiban untuk tiap pemilik tempat untuk menanami tanaman yang laku di pasar internasional, seperti teh, kina, lada, dan sebagainya.

Sistem tanam paksa yang di buat didasarkan oleh keinginan mengejar pemasukan pendapatan sebanyak mungkin untuk menebus hutang dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Perintah untuk tanam paksa ini termuat di dalam Staatblat (lembaran Negara) no. 22 tahun 1834.

Tetapi di dalam pengerjaannya, sistem tanam paksa mendapatkan kritikan dari beragam pihak, baik dari rakyar pribumi, ataupun dari pihak Belanda sendiri, yakni pada pihak liberal serta humanis. Oleh karena itu, sistem tanam paksa perlahan mulai dihapuskan oleh pemerintah Belanda. Secara resmi, sistem tanam paksa dihapus pada tahun 1870 bersumber pada atas UU landreform (UU agraria).

Untuk mengganti sistem tanam paksa yang sudah dihapus, Belanda membuat sitem politik terbuka, yakni memberi hak pada beberapa pribumi untuk mempunyai tempat, akan tetapi, beberapa petani harus menyewakannya pada pemerintah. Serta pemerintah bakal menyewakannya pada beberapa pengusaha swasta dalam periode waktu minimum 75 tahun.

Perbedaan Pengaruh Kolonialisme serta Imperialisme di Indonesia 

Sumber: blog.radikal.com.tr
Sesuai sama keterangan yang sudah disampaikan di atas, kita bisa megetahui bersama sebenarnya ada sebagian ketidaksamaan yang dibawa pada kolonialisme serta imperialism di antara bangsa-bangsa Eropa itu sendiri. Ketidaksamaan itu didasarkan karena kebijakan-kebijakan yang di ambil sebaiknya bersumber pada kebijakan pemerintah pusat di Negara aslinya.

Di segi lain, kolonialisme serta imperialisme di beberapa daerah juga mengalami ketidaksamaan dari berbagai sisi, hal semacam ini dikarenakan ketidaksamaan sumber daya alam serta sumber daya manusia yang dipunyai oleh masing-masing lokasi, dan posisi strategis yang ditempati oleh lokasi itu.

Di Indonesia, Pulau Jawa adalah pusat pemerintahan kolonialisme serta imperialisme yang dilangsungkan oleh bangsa-bangsa Eropa.

Timbulnya Beragam Perlawanan Pada Kolonialisme 

Sumber: jadiberita.com
Banyak akibat yang diakibatkan dari sebuah politik kolonialisme serta imperialisme yang dilangsungkan oleh bangsa-bangsa Eropa di Indonesia. Pada ketika pertama kalinya masuk ke Indonesia, bangsa-bangsa itu memanglah mempunyai hubungan baik dengan masyarakat pribumi.

Namun, seiring waktu berjalan, mereka memainkan praktek monopoli di daerah jajahannya. Hal semacam ini dilakukan semata-mata hanya untuk mendapatkan kekuasaan serta kekayaan yang sebanyak mungkin. Oleh sebab itu, mulai nampaklah beragam perlawanan yang di buat oleh rakyat Indonesia pada penjajah. Hal semacam itu bisa dibuktikan dengan:

Perlawanan pada Portugis 

Perlawanan pada bangsa Portugis dimulai dengan diangkatnya senjata oleh Malaka serta Demak pada tahun 1512. Malaka yang ketika itu di pimpin oleh Pate Kadir, melangsungkan perlawanan sengit pada pemerintah Portugis. Selain itu, perlawanan juga dinampakkan oleh Demak yang dipimpin oleh Pati Unus.

Perlawanan oleh rakyat Aceh juga dimulai pada tahun 1513 untuk menyerang Portugis. Perlawanan rakyat Aceh lebib bertujuan pada keagamaan.

Hal semacam ini diperlihatkan dengan dimulainya pelayaran ke Timur tengah oleh kapal-kapal Aceh yang dilengkapi dengan meriam lengkap dan beberapa ribu prajurit. Aceh juga memohon bala bantuan pada Kerjaan Turki untuk membantu menumpaskan pengaruh Portugis.

Perlawanan oleh rakyat Tidore pada tahun 1529, meletuslah perlawanan dari rakyat Tidore yang dibantu oleh Spanyol pada Portugis, hal semacam ini berawal ketika Sultan Hairun (raja yang memerintah kerajaan Tiodre dikhinati olehg Portugis lantas dihukum mati). Oleh sebab itu, rakyat Tidore berjuang habis-habisan untuk mengusir Portugis dari tanah Maluku.

Perlawanan Pada VOC 

Oleh karena kebijakan-kebijakan kongsi dagang Belanda yang memonopoli perdagangan di lokasi Indonesia, maka dimulailah beragam perlawanan pada VOC di beberapa lokasi.

Perlawanan pada VOC diawali dari perlawanan rakyat Maluku. Lantas diikuti oleh perlawanan rakyat Makassar (kerajaan Gowa), serta paling akhir oleh pemberontakan Trunajaya yang dipimpin oleh Pangeran Adipati Anom.

Perlawanan pada Kolonial Belanda 

Rakyat Maluku kembali bergolak melihat tindakan sewenang-wenang yang dilakukan pada saat pemerintahan Belanda menguasai Indonesia. Sistem harus menyerahkan hasil bumi pada pemerintah, membuat Pattimura memimpin rakyat Saparua melakukan perlawanan pada pemerintah Belanda. Mereka membakar kapal-kapal punya Belanda di pelabuhan.

Tetapi, perlawanan ini tidak berjalan lama, lantaran Pattimura sukses di tangkap oleh Belanda serta dihukum gantung.

Di Sumatera Barat, pada tahun 1815-1837, kaum padri serta kaum adat bersama-sama melakukan perlawanan pada bangsa Belanda. Perlawanan dipimpin langsung oleh Tuanku Imam Bonjol yang dibantu oleh Sentot Alibasyah. Tetapi, Imam Bonjol sukses ditangkap serta diasingkan ke Cianjur.

Berikutnya, ada perang Diponegoro yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro pada tahun 1825-1830. Pasukan Diponegoro melakukan taktik gerilya, tetapi perlawanan ini sukses ditumpaskan oleh Belanda dengan mengaplikasikan siasat Benteng Stelsel.

Paling akhir, pada tahun 1849, perang Japarag ameletus di Bali. Perang ini berawal ketika kapal Belanda terjerat di Buleleng.

Sesuai sama hukum adat setempat, kapal yang masuk ke daerah itu mesti jadi hak milik kerajaan Buleleng. Tetapi, belanda menolak hal itu. Pada akhirnya meletuslah pertempuran antara Belanda dengan Kerajaan Buleleng yang dipimpin oleh Gusti Ketut Jelantik. Sayangnya, Belanda sukses memenangkan pertempuran.

Dan itulah pembahasan kami mengenai Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia, untuk berbagai informasi yang kami sajikan pada kesempatan ini, harapannya semoga Postingan kali ini mengenai Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia di atas sedikitnya dapat menambah pengetahuan tersendiri bagi anda para pembaca.

Khususnya bagi anda yang saat ini sedang mencari sumber pengetahuan untuk lebih memahami Segala Hal tentang Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia. Terima kasih atas kunjungannya dan salam sukses untuk sahabat semuanya.

Referensi:
  1. softilmu.com
Advertisement